“Anakku jalan sendiri di trotoar karena diperintah ibunya,
tahu-tahu hilang. Keesokannya, aku mencarinya, saat saya pulang ganti istri
saya yang hilang.”
![]() |
| "Jadikan sabar dan shalat menjadi penolongku menghadapi fakta-fakta kehidupan, terlebih di Indonesia yang tengah carut-marut paradigmanya." |
“Bro, percaya atau tidak, bisa jadi kehidupan kita sepuluh tahun
lagi atau dua puluh tahun lagi, akan dipenuhi kriminal-kriminal.” Kataku sambil
menyetir APV biru kepada teman sebelahku, Said. “Kok bisa?”
Pertanyaan yang ditujukan padaku oleh temanku itu sangat naif
sekali. “Fakta sudah terpampang di depan
mata, bro. Kamu lihat orang-orang di usia kita begini, angka pengangguran
tinggi, moralitas rendah. Kemiskinan di masa depan bisa sangat tajam, dan
artinya, budaya menjarah, mencuri, menculik, dan membunuh dapat terjadi di negara
ini. Masuk akal, bukan?”
“Kalau sekarang saja mereka lebih memilih, ngepunk,
jalan-jalan di jalan raya, kalau ada truk lewat numpang naik, gak sekolah,
gak kerja, gak mau belajar, apalagi membaca atas kemauan sendiri,
ya jelas madesu, masa depan suram.” Kataku dengan nada pesimis. Temanku
paham dengan maksudku.
Yang ekstrem sekali, kataku kepada teman di sebelahku yang sedari
tadi hanya memandangi keluar mobil dari kaca sebelah kirinya. “Gimana kalau
suatu saat nanti, anak kita jalan di trotoar sendiri karena disuruh ibunya,
tahu-tahu hilang. Keesokan-harinya, kita mencari anak kita, saat pulang,
tahu-tahu istri kita yang hilang. Hahahahaha.....!” Kami tertawa terbahak. Di
sela tawa, aku berbisik, “ngeri juga ya?
Yaa Allah, jangan Engkau buat mimpi buruk kami ini menjadi kenyataan,
amien.”
Aku tidak habis pikir, apa jadinya negeri ini jika orang-orang yang
segenerasi denganku pada malas memerjuangkan hidup. Berjuang untuk
kesejahteraan diri sendiri. Setidaknya, lahirnya sudah selamat kan lebih dari
lumayan. Lebih sempurna jika batin disempurnakan dengan mencari Guru sejati (Guru
Wasithah) yang mampu menunjukkan jati dirinya sendiri yang asal-usulnya
dari fitrah Allah sendiri.
| Orang tua saja memerjuangkan masa depannya, kenapa generasi era 90-an pada mlempem? Maksudnya, sedikit sekali yang sukses. Lebih banyak yang main judi, mabuk, trek-trekan, main, dan malas bekerja. |
Beruntungnya aku berada di tengah umat yang tengah menyatakan niat
dan tekadnya untuk dapatnya kembali kepada Tuhan. Tentunya dengan melalui
persaksian atas wakil-Nya di muka bumi Allah yang tidak pernah terputus hingga yaumul
kiyamah.
Jauh sebelum obrolanku mengarah seperti di atas, sudah banyak yang aku
bicarakan. Aku sempat bertanya-tanya, “kenapa ya orang-orang Indonesia itu
sulit maju? Indikatornya, kalau diajak ngobrol serius, tentang sains, usaha,
atau tentang hal-hal serius lainnya memiliki kecenderungan malas. Apalagi membahas
pure teori, pasti mereka skeptis.” Kataku memulai.
Awal mengapa aku mengatakan itu sebenarnya karena saat aku baru
berangkat dari pondok ̶ Pomosda ̶ aku
melihat ada truk yang sedang menggiling gabah di halaman kecil depan rumah di
pinggir jalan raya umum. Setengah bagian truk tersebut memakan jalan raya ̶ kan bahaya sekali untuk pengguna jalan
lainnya. Aku tidak setuju dengan tindakan seperti itu. Mengapa orang-orang
demikian sangat egois, mementingkan diri sendiri dan tidak menghiraukan
keselamatan pengguna jalan yang lain.
“Lha iya, pokoknya tempatku ya tempatku, terserah. Orang lain ya
terserah, yang penting aku mau giling gabah, toh ini kan halaman rumahku
sendiri, kenapa yang lain repot mengurusi aku?” Kata Said menanggapi
kata-kataku sebelumnya. Ternyata temanku ini memiliki pemikiran yang sama
denganku.
Aih, membicarakan hal semacam ini tidak ada habisnya. Rata, di
semua wilayah nusantara, apalagi di desa. Belum genap lima menit mobil yang ku
kendarai melaju, dan saya yakin belum ada satu kilo perpindahan mobilku dari
tempat “truk menggiling gabah yang setengah badannya memakan jalan raya umum”
tadi, mobil yang aku kendarai dihentikan oleh sekelompok anak-anak dan santri
ponpes yang ada di Pule, Tanjunganom, Nganjuk.
Mereka ̶ para santrinya ̶
menyeberang jalan sembrangan, tidak disiplin sama sekali. Terpaksa,
kami harus berhenti sekitar sepuluh menitan. Dari dua arah, harus rela berhenti
untuk menunggu mereka menyeberang dengan sangat tidak tertib sekali. “Arrgh!
Mereka sungguh membuatku kesal.” Ujarku. Said menggeleng kepala, tanda dia pun
heran bagaimana bisa ada hal seperti yang di depan mata kami ini terjadi
terus-menerus di negeri ini. “Padahal ini udah era teknologi informasi ya, bro?
Era kita bisa mengakses informasi hanya dari layar kecil monitor handphone kita
masing-masing. Kok bisa ya pikiran konservatif seperti ini masih terpelihara?”
Katanya dengan nada lebih pesimis dan kesal melebihi kata-kataku sebelumnya.
Bukan kami merasa lebih dari mereka, kami hanya turut prihatin atas
semua yang ada di negeri ini ̶ haha cie cie, sok patriotis ̶ bagi
kami, seharusnya paradigma konservatif seperti itu sudah lama ditinggalkan dan
dibuang jauh-jauh. Aku membayangkan negara-negara di Eropa dan Asia Timur. Mindset
mereka jauh lebih maju ketimbang negeri ini. Maju menurutku, penduduknya
memiliki rasa empat, kepedulian, respek terhadap sesama yang besar. Kalimat terakhir adalah pendapatku dengan menggunakan pendekatan non-spiritual.
Biar bagaimanapun, aku harus tetap bangga dengan bangsaku dan
negaraku sendiri. Aku yakin, nusantara ini akan bangkit seiring usaha Guruku ̶ Bapak
Kyai Tanjung ̶ dan semua murid-murid beliau yang setiap hari
bahkan setiap saat berikhtiar untuk memperjuangkan hak-hak Allah dan junjungan
para Nabi dan Rasul. Bukan saklek tentang agama, tapi masif. Konsep dan
praktik beragama, paradigma bersosial, budaya, dan semua pemikiran-pemikiran
tentang bagaimana cara hidup akan dirombak total. Pangestu Guru Wasithah,
amin.
Sekarang, sudah pukul 01.00 WIB hari Rabu tanggal 01 Pebruari 2017.
Mataku sudah berat, seperti menyangga beban lima kilogram. Saatnya tidur.
Semoga ceritaku ini dapat menambah atau mungkin sekadar menghibur Anda. Selamat
pagi dan selamat membaca artikel-artikelku yang lain ya....


0 komentar:
Posting Komentar