image1 image2 image3

HELLO I'M MUHAMMAD ARIF|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|WRITING 'N LEARNING IS MY PASSION|I'M PROFESSIONAL WRITER

Masa Depan Penuh Kriminal, Indonesia


“Anakku jalan sendiri di trotoar karena diperintah ibunya, tahu-tahu hilang. Keesokannya, aku mencarinya, saat saya pulang ganti istri saya yang hilang.”

"Jadikan sabar dan shalat menjadi penolongku menghadapi fakta-fakta kehidupan, terlebih di Indonesia yang tengah carut-marut paradigmanya."

“Bro, percaya atau tidak, bisa jadi kehidupan kita sepuluh tahun lagi atau dua puluh tahun lagi, akan dipenuhi kriminal-kriminal.” Kataku sambil menyetir APV biru kepada teman sebelahku, Said. “Kok bisa?”

Pertanyaan yang ditujukan padaku oleh temanku itu sangat naif sekali.  “Fakta sudah terpampang di depan mata, bro. Kamu lihat orang-orang di usia kita begini, angka pengangguran tinggi, moralitas rendah. Kemiskinan di masa depan bisa sangat tajam, dan artinya, budaya menjarah, mencuri, menculik, dan membunuh dapat terjadi di negara ini. Masuk akal, bukan?”

“Kalau sekarang saja mereka lebih memilih, ngepunk, jalan-jalan di jalan raya, kalau ada truk lewat numpang naik, gak sekolah, gak kerja, gak mau belajar, apalagi membaca atas kemauan sendiri, ya jelas madesu, masa depan suram.” Kataku dengan nada pesimis. Temanku paham dengan maksudku.

Yang ekstrem sekali, kataku kepada teman di sebelahku yang sedari tadi hanya memandangi keluar mobil dari kaca sebelah kirinya. “Gimana kalau suatu saat nanti, anak kita jalan di trotoar sendiri karena disuruh ibunya, tahu-tahu hilang. Keesokan-harinya, kita mencari anak kita, saat pulang, tahu-tahu istri kita yang hilang. Hahahahaha.....!” Kami tertawa terbahak. Di sela tawa,  aku berbisik, “ngeri juga ya? Yaa Allah, jangan Engkau buat mimpi buruk kami ini menjadi kenyataan, amien.”

Aku tidak habis pikir, apa jadinya negeri ini jika orang-orang yang segenerasi denganku pada malas memerjuangkan hidup. Berjuang untuk kesejahteraan diri sendiri. Setidaknya, lahirnya sudah selamat kan lebih dari lumayan. Lebih sempurna jika batin disempurnakan dengan mencari Guru sejati (Guru Wasithah) yang mampu menunjukkan jati dirinya sendiri yang asal-usulnya dari fitrah Allah sendiri.

Orang tua saja memerjuangkan masa depannya, kenapa generasi era 90-an pada mlempem? Maksudnya, sedikit sekali yang sukses. Lebih banyak yang main judi, mabuk, trek-trekan, main, dan malas bekerja.

Beruntungnya aku berada di tengah umat yang tengah menyatakan niat dan tekadnya untuk dapatnya kembali kepada Tuhan. Tentunya dengan melalui persaksian atas wakil-Nya di muka bumi Allah yang tidak pernah terputus hingga yaumul kiyamah.

Jauh sebelum obrolanku mengarah seperti di atas, sudah banyak yang aku bicarakan. Aku sempat bertanya-tanya, “kenapa ya orang-orang Indonesia itu sulit maju? Indikatornya, kalau diajak ngobrol serius, tentang sains, usaha, atau tentang hal-hal serius lainnya memiliki kecenderungan malas. Apalagi membahas pure teori, pasti mereka skeptis.” Kataku memulai.

Awal mengapa aku mengatakan itu sebenarnya karena saat aku baru berangkat dari pondok  ̶  Pomosda  ̶  aku melihat ada truk yang sedang menggiling gabah di halaman kecil depan rumah di pinggir jalan raya umum. Setengah bagian truk tersebut memakan jalan raya ̶  kan bahaya sekali untuk pengguna jalan lainnya. Aku tidak setuju dengan tindakan seperti itu. Mengapa orang-orang demikian sangat egois, mementingkan diri sendiri dan tidak menghiraukan keselamatan pengguna jalan yang lain.

“Lha iya, pokoknya tempatku ya tempatku, terserah. Orang lain ya terserah, yang penting aku mau giling gabah, toh ini kan halaman rumahku sendiri, kenapa yang lain repot mengurusi aku?” Kata Said menanggapi kata-kataku sebelumnya. Ternyata temanku ini memiliki pemikiran yang sama denganku.

Aih, membicarakan hal semacam ini tidak ada habisnya. Rata, di semua wilayah nusantara, apalagi di desa. Belum genap lima menit mobil yang ku kendarai melaju, dan saya yakin belum ada satu kilo perpindahan mobilku dari tempat “truk menggiling gabah yang setengah badannya memakan jalan raya umum” tadi, mobil yang aku kendarai dihentikan oleh sekelompok anak-anak dan santri ponpes yang ada di Pule, Tanjunganom, Nganjuk.

Mereka  ̶  para santrinya  ̶  menyeberang jalan sembrangan, tidak disiplin sama sekali. Terpaksa, kami harus berhenti sekitar sepuluh menitan. Dari dua arah, harus rela berhenti untuk menunggu mereka menyeberang dengan sangat tidak tertib sekali. “Arrgh! Mereka sungguh membuatku kesal.” Ujarku. Said menggeleng kepala, tanda dia pun heran bagaimana bisa ada hal seperti yang di depan mata kami ini terjadi terus-menerus di negeri ini. “Padahal ini udah era teknologi informasi ya, bro? Era kita bisa mengakses informasi hanya dari layar kecil monitor handphone kita masing-masing. Kok bisa ya pikiran konservatif seperti ini masih terpelihara?” Katanya dengan nada lebih pesimis dan kesal melebihi kata-kataku sebelumnya.

Bukan kami merasa lebih dari mereka, kami hanya turut prihatin atas semua yang ada di negeri ini  ̶  haha cie cie, sok patriotis  ̶  bagi kami, seharusnya paradigma konservatif seperti itu sudah lama ditinggalkan dan dibuang jauh-jauh. Aku membayangkan negara-negara di Eropa dan Asia Timur. Mindset mereka jauh lebih maju ketimbang negeri ini. Maju menurutku, penduduknya memiliki rasa empat, kepedulian, respek terhadap sesama yang besar. Kalimat terakhir adalah pendapatku dengan menggunakan pendekatan non-spiritual.

Biar bagaimanapun, aku harus tetap bangga dengan bangsaku dan negaraku sendiri. Aku yakin, nusantara ini akan bangkit seiring usaha Guruku  ̶  Bapak Kyai Tanjung  ̶  dan semua murid-murid beliau yang setiap hari bahkan setiap saat berikhtiar untuk memperjuangkan hak-hak Allah dan junjungan para Nabi dan Rasul. Bukan saklek tentang agama, tapi masif. Konsep dan praktik beragama, paradigma bersosial, budaya, dan semua pemikiran-pemikiran tentang bagaimana cara hidup akan dirombak total. Pangestu Guru Wasithah, amin.


Sekarang, sudah pukul 01.00 WIB hari Rabu tanggal 01 Pebruari 2017. Mataku sudah berat, seperti menyangga beban lima kilogram. Saatnya tidur. Semoga ceritaku ini dapat menambah atau mungkin sekadar menghibur Anda. Selamat pagi dan selamat membaca artikel-artikelku yang lain ya....

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar