| Pak Phillip sedang memaparkan materi |
“Dhawuh Pak Kyai Tanjung, rezeki yang halal dan suci bukan lah uang semata, tapi mendapatkan air kala kita haus, itu sudah rezeki.”
Dering HP-ku membangunkanku. Tertulis di HP nama Jepri. Otakku
segera menyadari maksud dia meneleponku pukul 04.07 WIB, hari Sabtu, 25
Pebruari 2017. “Gimana Mas? Jadi berangkat nggak nih? Maaf, aku ketiduran,
harusnya tadi kita bangun jam 02.00, terus ini gimana Mas? Kira-kira kita
sampai di Surabaya jam berapa?” Tanpa pikir panjang, aku jawab pertanyaan
temanku itu, “yuk, sekarang berangkat!” “Oke!”
Secepat kilat, aku bangun, mandi, packing barang, jangan
sampai ada yang terlupa. Tiba-tiba, “Krucuuuk!” Ah, perutku tidak bisa
diajak kompromi. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.30 WIB. Aku harus cepat
bergerak. Tapi, aku punya ide, kali ini aku harus menyiapkan makanan untuk
sarapan di perjalanan menuju Surabaya. Roti, Martabak Manis, dan jajanan ringan
aku masukkan ke dalam tas. Jepri sudah menunggu di depan pintu. “Yok Jep!”
Dua temanku mengantarku sampai ke halte Baron, Nganjuk. Saat itu,
pukul 04.45 WIB. Hawa dingin menusuk tulang. Jalan raya basah tersentuh
bintik-bintik hujan yang baru saja turun mengguyur. Bapak-bapak di seberang
jalan memasukkan becaknya supaya tidak kehujanan. Ada satu ibu-ibu bersama
suaminya menunggu di trotoar, tak pedulikan hujan sama sekali. Batin saya, “Perjuangan
ibu satu ini hebat, hujan pun bukan penghalang untuk mendapatkan bus.”
Satu bus datang, sayangnya di seberang jalan yang mengarah ke Solo,
bukan ke Surabaya. Sial! Sudah 30 menit berdiri menenteng dua tas, satu tas
besar satu tas kamera, bahu sudah mulai protes minta istirahat sejenak, bus
belum datang juga.
Angin berdesir lebih pelan dari sebelumnya, suara genting halte dari
seng semakin mengindahkan suasana kala itu. Pantulan lampu di genangan air
jalan raya yang hitam, menampakkan rona yang berwarna-warni dalam hati. Sejam berlalu.
Tapi masih juga tidak ada bus lewat.
Sampai ada mobil berhenti di depan kami. Seseorang berpakaian rapi
memberitahu kepada kami bahwa di sebelah barat, tepatnya di daerah Saradan
terjadi kecelakaan, sehingga terjadi kemacetan dahsyat. Bus-bus terjebak macet.
Ibu-ibu yang rela berkorban di tengah guyuran hujan mulai putus asa, ia kembali
pulang lagi ke rumah diantar suaminya. Aku dan Jepri juga mulai putus asa.
“Bagaimana Mas? Apakah dilanjut? Hari ini juga ada mujahadah
rutin pahing lo Mas, enaknya gimana?” Keputusanku, kalau sampai lima menit
lagi tidak ada satu bus pun yang datang, maka kita pulang lagi saja. Sepuluh
menit berlalu, dan bus belum datang juga. “Sudah Jep, telpon Alkaf, kita pulang
lagi saja. Minta tolong Alkaf jemput kita pakai mobil apa terserah, soalnya ini
sedang hujan.” “Oke Mas!”
| Taman Surabaya |
Jepri menelepon Alkaf, sementara aku menelepon temanku, Auliya,
yang sudah di Surabaya mendampingi santri-santriku (peserta didik program
Vocassional Skill Jurnalistik SMA Pomosda) sejak sehari yang lalu. “Ul, maaf,
bilang ke adik-adik aku tidak bisa ikut mendampingi mereka, kasih tahu, kalau
sedang ada kecelakaan di Saradan, hingga sampai dua jam aku menunggu bus gak
ada yang datang.” Auliya menjawab, “oh iya tenang aja Mas, ini sudah
terkondisikan kok, nanti perihal kegiatan Ampura (Asosiasi Mahasiswa dan Pemuda
Nusantara) biar aku kondisikan juga dengan Daus (teman Ampura).”
“Gimana Mas?” Tanya Jepri. “Sudah, clear, kita cancel ke
Surabaya.” Jawabku. Tapi keberuntungan tidak lari ke mana, tiba-tiba
saja, banyak bus yang lewat di depan kami. Sepertinya, kemacetan sudah terurai.
Satu bus, “Sumber Selamat” berhenti tepat di depan kami. Tanpa pikir panjang, “Masuk
Jep!”
Kami akhirnya duduk dengan tenang di dalam bus. Meskipun sudah
pukul 05.30 WIB, aku yakin akan sampai di Surabaya tidak lebih dari pukul 09.00
WIB. Dan ternyata benar. Kami sampai di Surabaya pukul 08.30 WIB. Sampai di
terminal Purabaya, kami naik bus kota menuju gedung Perpustakaan BI Surabaya,
tempat kegiatan “Surabaya Bebas Sampah 2020” yang diselenggarakan teman-teman
Sahabat Bumi bersama dengan Ampura.
Baru menginjakkan kaki, teman sejawat Ampura Surabaya menyambutku
dan Jepri. Hanan, teman satu sekolahku semasa SMP hingga SMA, dan kini meskipun
ia bekerja di Bandara Juanda dan aku melanjutkan studiku di STT Pomosda, kami
tetap lah sejawat, sejawat Ampura. Karena kami memiliki ideologi yang sama, yaitu
nderek Bapak Kyai Tanjung.
| Suasana Surabaya pagi itu. |
Perut kami lapar, tidak ada penjual makanan murah di stan bazar.
Akhirnya kami berjalan mencari penjual makanan murah. Tampak, bapak-bapak di
seberang jalan sedang membungkus makanan. “Nah, mantab tuh! Jep, ayo nyebrang
jalan, makan di situ aja!” Ajakku. Jepri mengangguk setuju.
| Jepri memesan nasi bungkus. |
Aku pesan nasi bungkus dengan lauk lele. Begitu juga Jepri. “Mas,
enggak di Surabaya, enggak di Nganjuk, makanan kita ya gini-gini aja ya?” Kata
Jepri, aku tertawa. Justru menurutku makanan yang sederhana adalah makanan yang
paling enak. Dibandingkan makanan restoran, atau makanan resep impor, aku lebih
suka makanan pribumi asli. Lebih cocok di lidah. Pun itung-itung menolong
sesama saudara.
Surabaya di hari itu tidak begitu panas, awan mendung, angin
sepoi-sepoi, membuat momen hari itu sempurna buatku. Meskipun jalan raya masih
ramai ̶
tidak mungkin pernah sepi ̶ tak jadi masalah.
***
| Mbak Wulan (memegang mic) |
“Ke mana nih jalannya ke ruang workshop-nya?” Hanan menunjukkan
jalannya kepada kami. “Silakan isi daftar hadir dulu, baru ambil kursi di
belakang Mas, silakan pilih tempat mana yang paling nyaman menurut Mas Ari.” “Terima
kasih ya Nan!”
Aku dan Jepri duduk di sudur belakang ruangan. Workshop ini
menurutku spesial, karena di workshop ini, salah satu saudara Jatayu (Jamaah
Tatanan Wahyu) akan mengisi menjadi narasumber, Pak Agus Kurniawan (praktisi
sekaligus ahli pertanian PTSA). Pun Narasumber yang lain juga hebat, ada Pak
Phillip, ahli Mirkobakteria. Sesi pertama diisi oleh Pak Phillip.
| Para Peserta mengecek Felita Box |
Beliau menerangkan tentang solusi sampah yang menumpuk. Beliau
adalah pencetus teknologi pengolah sampah organik, yaitu Felita. “Sisa makanan
bukan lah sampah, tapi jika dibuang akan mubazir. Makanya, kita harus
memikirkan solusi yang tepat dan tidak menimbulkan masalah baru lagi.” Kata Pak
Philip.
| Pak Phillip dengan Felita Box |
Aku berpindah tempat duduk, yang semula di belakang, maju ke paling
depan agar dapat mendengar suara Pak Philip dan mendapatkan foto beliau dengan
jelas. Banyak hal yang membuatku terhenyak dari materi yang disampaikan Pak
Phillip.
Pertama, Pak Phillip menayangkan sebuah video dokumenter berkenaan
dengan dampak membuang sampah sembarangan terhadap ekosistem, utamanya
burung-burung di laut pasifik. Ternyata, burung-burung yang hidup di lautan
pasifik banyak memakan benda-benda ‘bukan makanan’: gelang karet, tutup botol,
plastik, dan banyak yang lainnya.
Seluruh peserta yang mengisi ruangan dengan luas sekitar 400 meter
persegi itu menyuarakan keprihatinan yang mendalam atas vidio yang ditayangkan
Pak Phillip. “Anak saya yang paling kecil, ketika saya tayangkan video ini
langsung menangis. Saya bilang ke anak saya,’bisa jadi yang di telan burung itu
adalah tutup botol yang kamu buang sembarangan.’ Dia langsung terisak menangis.”
Aku pun begitu, vidio tersebut merupakan informasi existing yang ada saat ini dan harus segera dibenahi.
Siapa lagi kalau bukan saya dan teman-teman satu generasi, Nusantara tidak akan
pernah bangkit.
| Pak Phillip dikerumuni para peserta |
Setelah materi diberikan dengan tuntas, saya menjadi paham betapa
pentingnya membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah organik dan
anorganik, dan mendaur ulang sampah-sampah tidak berguna yang menumpuk.
Satu hal yang saya garis bawahi juga dari materi, jangan pernah
kita membakar sampah. Karena jika Cl (klorin) terbakar, akan menghasilkan dioxin.
Dioxin inilah yang membawa bencana bagi umat manusia. Banyak hal yang
dapat terjadi jika suatu daerah memiliki kadar dioxin yang tinggi;
mewabahnya kanker, gagal ginjal, rusaknya pankreas, kelainan gender, cacat
fisik, mutasi gen, mandul, dan lain-lain. “Semua itu, penyebab kuatnya adalah dioxin.
Kalau kita bakar sampah, maka kita memproduksi dioxin itu, kita
menghirupnya, lalu kita mati sama-sama.”
“Ini fakta, di suatu daerah tertentu di Perancis, warganya terbiasa
membakar sampah, dan hampir satu daerah itu terserah wabah kanker. Akhirnya,
mereka berpindah, dan rumah mereka banyak yang digratiskan. Ini akibat dioxin.
Itu yang baru aku dengar, selama aku sekolah tidak pernah aku
mendengarkan hal itu. Pun kini aku mahasiswa, aku tidak pernah menerima materi
itu. “Siapa yang dosa? Kita lah yang berdosa!” Pak Phillip berbicara dengan
sangat semangat dan menurut saya, ketulusan hatinya yang menginginkan
lingkungan yang lebih baik sangat terasa.
Orang-orang tidak menaruh banyak perhatian pada sampah-sampah yang
dibuangnya. Padahal, penduduk bumi di benua biru sangat concern terhadap
perkembangan lingkungan. Menurut mereka, penduduk bumi telat menyadari hal
tersebut, tapi jika semua penduduk bumi menyadarinya, perubahan dunia akan
berubah menjadi semakin baik seiring dengan waktu, bukan malah semakin buruk
seiring dengan waktu.
Sampah organik yang dibiarkan terbuka, tidak diolah, akan menyebabkan
penyakit karena virus atau bakteri jahat. Jika dijadikan komposter, dan
prosesnya salah akan menyebabkan emisi gas CH4 (Metana),
implikasinya efek rumah kaca. Sepemahaman saya begitu dari apa yang saya terima
dari penjelasan Pak Phillip pagi itu.
Pak Phillip pun giat mengadakan riset untuk menemukan solusi. Lahir
lah Felita. “Felita adalah salah satu cara atau solusi kita bersama untuk
membuat Surabaya ini bebas sampah di tahun 2020.” Felita, adalah fermentasi
limbah rumah tangga dari sampah organik. Sisa-sisa makanan akan diproses,
difermentasi menjadi kompos dan ada produk turunannya yaitu pupuk cair.
“Kita bisa mengajarkan anak-anak dan menyadarkan kepada mereka
betapa pentingnya membuang makanan sisa ke wadah Felita, ini untuk menumbuhkan
jiwa kepedulian terhadap lingkungan kepada anak-anak kita.” Memang, teknologi
dari Pak Phillip, Felita, tergolong sangat mudah, efektif, dan efisien.
Kita tinggal menyiapkan timba/box, kran untuk ditaruh di dasar box,
dan bubuk aktivator temuan dari Pak Phillip. Prosesnya, dalam dua minggu, bahan
organik yang telah dibubuhi bubuk aktivator akan muncul jamur lalu mengeluarkan
cairan yang turun ke bagian bawah box. Setelah dua minggu, bahan organik
ditimbun tanah. Dalam dua minggu, bahan organik tersebut akan menjadi kompos
berwarna hitam.
Solusi sederhana untuk masalah sampah. “Mari kita semua mulai
memilah sampah di rumah kita, organik dan anorganik. Sampah organik kita olah
menjadi kompos, dan anorganik kita daur ulang atau kita manfaatkan, jika tidak
bisa, jual saja kepada yang bisa memprosesnya menjadi barang berguna kembali,
jangan dibakar!” Kata Pak Phillip.
Semua materi Pak Phillip merupakan pikukuh atau penguat bagiku
atas dhawuh Guruku, Bapak Kyai Tanjung. “Ayat-ayat Allah itu untuk dikaji,
sesungguhnya ayat itu adalah kejadian-kejadian fakta berkenaan dengan sesuatu
hal agar dapat segera disikapi.” Subhanallah, ini adalah bukti bahwa
beragama itu tidak sempit, dan tidak hanya berhenti pada kitab-kitab saja,
namun aksi nyata merupakan ‘mengaji’ yang sesungguhnya. Asal niatnya untuk
menjalankan perintah Rasulullah sebagai sunnaturrasul, dhawuh Bapak
Kyai Tanjung semua itu bernilai ibadah. Selengkapnya mengenai dhawuh-dhawuh Bapak
Kyai Tanjung bisa dilihat di sini atau bisa baca artikel di website resmi
Jatayu, klik di sini!
Dalam hati, selama mendengar materi dari Pak Phillip, rasanya ingin
segera melakukan sesuatu. Terhentak untuk segera menyatakan aksi bersama
teman-teman Ampura yang lainnya.
Demi menyatakan imanku terhadap Guruku, dan support
teman-teman Sahabat Bumi serta Ampura, aku akan pilah sampah di rumah dan di
lingkungan rumahku. Lalu, aku akan menghimbau jangan membakar sampah karena
akan memproduksi dioxin. Felita, sebagai alat fermentasi limbah rumah
tangga akan ku praktikkan di rumah. Sekalian mengajak adik-adikku untuk belajar
peduli dengan lingkungan.
“Dalam ayat, huwa ansa’akum minar ardh, kita harus
sadar-sesadarnya bahwa kita hidup di bumi. Maka harus wastakmarakum fiiha,
makmurkan bumi itu!” Aku ingat Bapak Kyai Tanjung mengungkap itu saat kajian
An-Nubuwah rutin kemarin malam (25/02/2017).
| Ampura (Hanan; kiri) sinergi dengan Sahabat Bumi |
Kembali ke kegiatan di Surabaya, setelah Pak Phillip menyampaikan
tentang pengolahan sampah dan fakta-fakta tentang masalah sampah di negeri ini,
sesi dua dilanjutkan oleh Pak Agus Kurniawan. Pak Agus adalah ahli sekaligus
praktisi PTSA (Pola Tanam Sehat dan Amanah). Beliau menyampaikan hal-hal pokok
dalam Urban Farming, yaitu kemandirian untuk “memanusiakan manusia”.
| Pak Agus Kurniawan sedang memaparkan materi PTSA |
“Ini dari Guru saya, bahwa kami menjalankan pertanian di pondok,
Pomosda, itu adalah untuk memanusiakan manusia. Saya tidak akan menjelaskan
panjang lebar mengenai ini, jika ingin tahu jelasnya, langsung saja sowan
ke pondok kami, di Pomosda.” Pak Agus membuka sesi dua.
Memanusiakan manusia merupakan hal penting yang santer dijelaskan
Bapak Kyai Tanjung, selaku Guru seluruh Jatayu. “Ini adalah untuk memancing
kita berpikir, pun dalam Urban Farming. Siapapun dapat bertani, asal
kita tahu tanah, air, angin, dan sinar.” Kata Pak Agus.
Indonesia merupakan negara agraris. Itulah identitas potensi negeri
ini. Sayang, sekarang petani merupakan profesi yang dianggap tidak laku atau
dipandang rendah. Padahal, itu adalah identitas bangsa atas potensi yang
diberikan oleh Tuhan kepada kita.
Dalam budidaya atau bercocok tanam apapun, kemampuan membaca
ayat-ayat (tanda-tanda) adalah yang utama. “Tidak ada SOP yang pasti dan baku. Karena
konteks di masing-masing pasti berbeda. Sederhananya, Ph air di setiap sumur
berbeda, kalau parameter pemberian pupuk dibakukan tentunya menimbulkan banyak
pertanyaan, dari analogi sederhana ini mestinya kita sudah paham, bukan?” Terang
Pak Agus, seluruh audience mengangguk-anggukan kepala tanda paham dengan
apa yang disampaikan Pak Agus.
Pukul 12.00 WIB, Surabaya diguyur hujan. Hawa adem semakin membuat
ruangan workshop nyaman atau dalam bahasa jawa biasa tersebut gayeng. Adik-adik
SMA Pomosda yang ditugaskan meliput juga mengerahkan konsentrasinya untuk
meliput kegiatan ini. Berulang kali, Annisa (santri kelas XII SMA Pomosda)
mewawancarai peserta workshop, sementara Frita (santri kelas XII SMA Pomosda)
dan Syifa (santri kelas XI SMA Pomosda) sibuk menggali informasi kepada
panitia.
Beberapa hal yang saya terima dari Pak Agus; kesadaran
memaksimalkan potensi adalah kewajiban bagi kita semua, lahan sempit, kosong,
dan menganggur dapat dimanfaatkan menjadi produktif. “Kalau lahan sempit bisa
menggunakan paralon atau kaleng bekas dijadikan vertikultur, bisa pakai
polybag, dan banyak lagi ide kreatif untuk menyiasatinya. Sekarang, apakah kita
menjamin makanan yang kita beli adalah makanan yang diproses dengan benar?”
Seluruh peserta workshop serentak menjawab, “tidak!”
“Sukomoro, Nganjuk, derah penghasil
komoditas bawang merah yang besar, sekarang mulai diragukan kualitasnya.
Mengapa? Karena, sekarang sebelum panen disemprot obat, tujuannya supaya tidak
cepat busuk. Ini lah yang dapat menyebabkan mutasi gen. Kalau kita menanam
bawang merah sendiri, kita dapat manfaatnya sendiri. Selain berhemat, kita juga
makan-makanan sehat dari kita sendiri, terjamin kualitasnya karena kita sendiri
yang menanamnya.” Jelas Pak Agus Kurniawan.
***
Pukul 12.30 WIB, workshop selesai. Adik-adik jurnalis dengan sigap
langsung menghampiri Pak Phillip untuk diwawancarai. Auliya mendampingi mereka,
sedangkan aku, Jepri, Daus, dan teman-teman Ampura yang lain mencari makan.
Siang itu, aku menemukan banyak jaringan, ini lah rezeki nomplok
buatku. Aku bertemu dengan Mas Dewa dan Mas Fabet, mahasiswa ITS. Mereka berdua
adalah peniliti dan suka membuat teknologi tepat guna. Aku gunakan kesempatan
ini untuk mengenalkan organisasi Ampura Jatayu kepada mereka. Mereka sangat
antusias sekali. Bahkan, jika ada kegiatan di Pomosda, mereka bersedia untuk
ikut.
| Aku (dari kanan), Mas Fabet, Mas Dewa, dan Pak Phillip sedang diskusi selepas workshop |
Terkejut setelah mengetahui, ternyata dua mahasiswa tersebut telat
lulus. Mereka sama-sama dari semester sepuluh. Mereka telat setahun untuk
lulus. Dalam benakku, “kasihan sekali mereka, sistem pendidikan negeri ini
bukan melahirkan generasi kreatif justru berusaha mencetak generasi yang
potensi kreatif menjadi ‘buruh’ yang bekerja atas perintah atau tugas-tugas
semata.”
Aku dan dua mahasiswa ITS tersebut sempat duduk bersama, diskusi
banyak hal dengan Pak Phillip selepas workshop. Saat itu, aku mengetahui mereka
adalah insan-insan kreatif dan cerdas. Pak Phillip bercerita tentang teori
mikrobakteria, penemuan-penemuannya, dan opininya mengenai existing negara
ini, sedangkan kami asyik mendengarkan sambil menanggapinya.
Dua mahasiswa ITS tersebut tengah berjuang mengangkat kehidupan
peternak perikanan darat. Biaya pakan tinggi dan harga murah telah “menelanjangi”
usaha para peternak lele. Mereka merasa miris dan sekarang tengah berupaya
menciptakan pakan ternak yang efektif dan efisien. “Benar kalau kalian kemari,
sudah tepat, karena kalian bertemu dengan saya dan teman-teman dari Jatayu,
coba sinergi dengan teman-temannya Mas Arif, jangan gerak sendiri, kita butuh
teman yang bermisi sama supaya lebih kuat dan didengar oleh masyarakat luas.”
Kata Pak Phillip kepada dua mahasiswa ITS tersebut.
| Santri Jurnalis SMA Pomosda sedang mewawancarai Pak Phillip |
Sistem pendidikan kita belum mengarah ke arah kerja sama,
kooperatif, dan kreatif. Opiniku ini ternyata ada kesamaan dengan pendapat Pak
Phillip dan dua mahasiswa ITS tersebut. “Orang Indonesia itu paling susah kerja
sama, maunya saingan aja dan eksploitasi. Ya memang kembali ke pendidikan kita
sih!” Kata Pak Phillip. Kalimat itu didukung pula oleh dua mahasiswa Mas Dewa, “benar
Pak, memang pendidikan kita masih belum mengarah ke arah yang jelas.”
Kami berdiskusi panjang lebar mengenai langkah-langkah apa yang
dapat dilakukan untuk memperbaiki bangsa ini secara perlahan tapi pasti.
Langkah awal yang dapat dilakukan menurut Pak Phillip adalah dimulai dari
pengolahan sampah, Felita, lalu program Kemandirian Pangan, teknologi tepat
guna yang sedang dikembangkan oleh mahasiswa ITS tersebut dan lain-lain. “Kita
harus komit, jangan hanya wacana, jangan cuma niat saja, harus diwujudkan!” Pak
Phillip menyemangati kami.
| Mas Ical (kiri; Ampura) sedang meladeni pelanggan produk Jatayu yang ada di ruang workshop. |
Tak terasa, Surabaya mulai teduh, Matahari mulai berpindah dari
atas kepala menuju ke arah barat, tandanya kami harus begegas pulang. Adik-adik
jurnalis SMA telah menyelesaikan bahan liputannya. Kami bersiap pulang. Namun,
sebelum pulang ke Tanjung, kami ke rumah Pak Fadli (Jatayu Surabaya) mengemasi
barang-barang.
Ini lah momen yang menurut aku adalah rezeki juga. Dengan cerdas,
Pak Agus menyusun skenario, Pak Agus menyeting aku dan Mbak Wulan (koordinator
Sahabat Bumi) dalam satu mobil yang sama. Aku, Jepri, Daus, dan Nafi diantar ke
rumah Pak Fadli menggunakan mobil Mbak Wulan.
Ternyata, aku dan Mbak Wulan memiliki banyak kesamaan. Pertama,
Mbak Wulan adalah penulis. Mbak Wulan merupakan profesional penulis skrip atau
skenario. Beberapa skenario sitkom, Mbak Wulan yang memproduksi. Seperti OB,
Bajaj Bajuri, dan lain-lain. Sungguh ini adalah momen yang pas untukku
membangun jaringan.
Aku juga bilang ke Mbak Wulan bahwa Jatayu telah memiliki media
pers, yaitu Majalah Jatayu Nusantara. Mbak Wulan sangat respek dengan media
kami. “Wah, iya, kalau aksi-aksi perjuangan ini di-publish akan semakin
menguatkan langkah Jatayu.” Mbak Wulan memberi saran kepadaku untuk
memanfaatkan massa di Jatayu sebagai marketernya. “Jangan diikutkan ke cara
konvensional (toko buku), Jatayu udah punya massa, manfaatkan itu saja!” Kata
Mbak Wulan kepadaku.
Mbak Wulan adalah sosok yang terbuka sekali. Pokoknya, open
minded. Dan saya mengagumi karakteristik kepemimpinannya yang sangat baik.
Terbukti, meskipun beliau adalah perempuan, beliau mampu mengoordinir dengan
baik kegiatan Sahabat Bumi yang terselenggara sejak seminggu yang lalu.
Dalam perjalanan, Mbak Wulan banyak bertanya tentang keberadaan
Jatayu. Mbak Wulan bertanya tentang sejarah rantai silsilah gulotentah Guru
Wasithah juga. Sebisaku, aku coba beranikan diri untuk menjelaskan sesuai
dengan tingkat pemahamanku sendiri. Aku ceritakan sejarah Pomosda berdiri,
kemudian profil Guruku sekarang, Bapak Kyai Tanjung. Tidak hanya beliau, tapi
aku juga coba ceritakan tentang Gurunya Guruku, lalu Gurunya Guru Guruku, yang rantai
silsilah gulowentah-nya tidak terputus sampai yaumul kiyamah. Aku
hanya bisa bercerita sesuai dengan apa yang aku terima dari Guruku, dan
terbatas kemampuan pemahamanku saja, tidak berani bercerita terlalu banyak.
Tapi Mbak Wulan mengaku senang dapat bersinergi dengan Jatayu, beserta
pemudanya, Ampura.
Saya senang sekali kemarin, selain mendapat banyak pengalaman dan jaringan yang baru. Aku juga mendapat inspirasi serta motivasi untuk dapat menjadi orang yang sukses duniawi dan akhirat, (amin).
Adik-adik SMA Pomosda yang ikut juga mengaku banyak mendapatkan sesuatu hal baru yang bisa memotivasi dan menginspirasi mereka. "Saya suka kalau belajarnya begini Kak! Soalnya aku langusng bisa bertemu dengan orang-orang hebat dan langsung mengerjakan sesuatu hal, gak banyak teori aja. Kenalan juga nambah, mental juga menjadi terlatih. Ternyata, wawancara itu gak gampang ya?" Kata Frita kepadaku setelah aku tanyai bagaimana pendapatnya tentang kegiatan ini.
Semoga, ini menjadi bukti kuat kepada semuanya yang ikut andil dalam dunia pendidikan. Bahwa, memberikan waktu peserta didik mengembangkan bakat dan minat langsung terjun ke lapang adalah jalan efektif memberikan transfer knowledge, karakter, dan pengalaman. Pun mereka akan menjadi sadar, bahwa hidup ini adalah kenyataan dan tidak sesempit ruang kelas.
Demikianlah laporanku tentang perjalanan yang aku alami seharian
kemarin. Dan ku harap, siapapun yang membaca cerita perjalananku ini dapat
mengambil manfaat dan nilai yang ada.
![]() |
| Majalah Jatayu Nusantara |
Dapatkan majalah kami, Jatayu Nusantara, dengan menghubungi
081357468368 atau langsung menuju ke Pomosda, yang beralamat di jalan KH.
Wachid Hasim nomor 304 Tanjunganom, Nganjuk.


0 komentar:
Posting Komentar