image1 image2 image3

HELLO I'M MUHAMMAD ARIF|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|WRITING 'N LEARNING IS MY PASSION|I'M PROFESSIONAL WRITER

Pengalaman Bertemu Ahli Mikrobakteria dan Ahli Pertanian PTSA


Pak Phillip sedang memaparkan materi

“Dhawuh Pak Kyai Tanjung, rezeki yang halal dan suci bukan lah uang semata, tapi mendapatkan air kala kita haus, itu sudah rezeki.”

Dering HP-ku membangunkanku. Tertulis di HP nama Jepri. Otakku segera menyadari maksud dia meneleponku pukul 04.07 WIB, hari Sabtu, 25 Pebruari 2017. “Gimana Mas? Jadi berangkat nggak nih? Maaf, aku ketiduran, harusnya tadi kita bangun jam 02.00, terus ini gimana Mas? Kira-kira kita sampai di Surabaya jam berapa?” Tanpa pikir panjang, aku jawab pertanyaan temanku itu, “yuk, sekarang berangkat!” “Oke!”

Secepat kilat, aku bangun, mandi, packing barang, jangan sampai ada yang terlupa. Tiba-tiba, “Krucuuuk!” Ah, perutku tidak bisa diajak kompromi. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.30 WIB. Aku harus cepat bergerak. Tapi, aku punya ide, kali ini aku harus menyiapkan makanan untuk sarapan di perjalanan menuju Surabaya. Roti, Martabak Manis, dan jajanan ringan aku masukkan ke dalam tas. Jepri sudah menunggu di depan pintu. “Yok Jep!”

Dua temanku mengantarku sampai ke halte Baron, Nganjuk. Saat itu, pukul 04.45 WIB. Hawa dingin menusuk tulang. Jalan raya basah tersentuh bintik-bintik hujan yang baru saja turun mengguyur. Bapak-bapak di seberang jalan memasukkan becaknya supaya tidak kehujanan. Ada satu ibu-ibu bersama suaminya menunggu di trotoar, tak pedulikan hujan sama sekali. Batin saya, “Perjuangan ibu satu ini hebat, hujan pun bukan penghalang untuk mendapatkan bus.”

Satu bus datang, sayangnya di seberang jalan yang mengarah ke Solo, bukan ke Surabaya. Sial! Sudah 30 menit berdiri menenteng dua tas, satu tas besar satu tas kamera, bahu sudah mulai protes minta istirahat sejenak, bus belum datang juga.

Angin berdesir lebih pelan dari sebelumnya, suara genting halte dari seng semakin mengindahkan suasana kala itu. Pantulan lampu di genangan air jalan raya yang hitam, menampakkan rona yang berwarna-warni dalam hati. Sejam berlalu. Tapi masih juga tidak ada bus lewat.

Sampai ada mobil berhenti di depan kami. Seseorang berpakaian rapi memberitahu kepada kami bahwa di sebelah barat, tepatnya di daerah Saradan terjadi kecelakaan, sehingga terjadi kemacetan dahsyat. Bus-bus terjebak macet. Ibu-ibu yang rela berkorban di tengah guyuran hujan mulai putus asa, ia kembali pulang lagi ke rumah diantar suaminya. Aku dan Jepri juga mulai putus asa.

“Bagaimana Mas? Apakah dilanjut? Hari ini juga ada mujahadah rutin pahing lo Mas, enaknya gimana?” Keputusanku, kalau sampai lima menit lagi tidak ada satu bus pun yang datang, maka kita pulang lagi saja. Sepuluh menit berlalu, dan bus belum datang juga. “Sudah Jep, telpon Alkaf, kita pulang lagi saja. Minta tolong Alkaf jemput kita pakai mobil apa terserah, soalnya ini sedang hujan.” “Oke Mas!”
Taman Surabaya
Jepri menelepon Alkaf, sementara aku menelepon temanku, Auliya, yang sudah di Surabaya mendampingi santri-santriku (peserta didik program Vocassional Skill Jurnalistik SMA Pomosda) sejak sehari yang lalu. “Ul, maaf, bilang ke adik-adik aku tidak bisa ikut mendampingi mereka, kasih tahu, kalau sedang ada kecelakaan di Saradan, hingga sampai dua jam aku menunggu bus gak ada yang datang.” Auliya menjawab, “oh iya tenang aja Mas, ini sudah terkondisikan kok, nanti perihal kegiatan Ampura (Asosiasi Mahasiswa dan Pemuda Nusantara) biar aku kondisikan juga dengan Daus (teman Ampura).”

“Gimana Mas?” Tanya Jepri. “Sudah, clear, kita cancel ke Surabaya.” Jawabku. Tapi keberuntungan tidak lari ke mana, tiba-tiba saja, banyak bus yang lewat di depan kami. Sepertinya, kemacetan sudah terurai. Satu bus, “Sumber Selamat” berhenti tepat di depan kami. Tanpa pikir panjang, “Masuk Jep!”

Kami akhirnya duduk dengan tenang di dalam bus. Meskipun sudah pukul 05.30 WIB, aku yakin akan sampai di Surabaya tidak lebih dari pukul 09.00 WIB. Dan ternyata benar. Kami sampai di Surabaya pukul 08.30 WIB. Sampai di terminal Purabaya, kami naik bus kota menuju gedung Perpustakaan BI Surabaya, tempat kegiatan “Surabaya Bebas Sampah 2020” yang diselenggarakan teman-teman Sahabat Bumi bersama dengan Ampura.

Baru menginjakkan kaki, teman sejawat Ampura Surabaya menyambutku dan Jepri. Hanan, teman satu sekolahku semasa SMP hingga SMA, dan kini meskipun ia bekerja di Bandara Juanda dan aku melanjutkan studiku di STT Pomosda, kami tetap lah sejawat, sejawat Ampura. Karena kami memiliki ideologi yang sama, yaitu nderek Bapak Kyai Tanjung.

Suasana Surabaya pagi itu.
Perut kami lapar, tidak ada penjual makanan murah di stan bazar. Akhirnya kami berjalan mencari penjual makanan murah. Tampak, bapak-bapak di seberang jalan sedang membungkus makanan. “Nah, mantab tuh! Jep, ayo nyebrang jalan, makan di situ aja!” Ajakku. Jepri mengangguk setuju.
Jepri memesan nasi bungkus.
Aku pesan nasi bungkus dengan lauk lele. Begitu juga Jepri. “Mas, enggak di Surabaya, enggak di Nganjuk, makanan kita ya gini-gini aja ya?” Kata Jepri, aku tertawa. Justru menurutku makanan yang sederhana adalah makanan yang paling enak. Dibandingkan makanan restoran, atau makanan resep impor, aku lebih suka makanan pribumi asli. Lebih cocok di lidah. Pun itung-itung menolong sesama saudara.

Surabaya di hari itu tidak begitu panas, awan mendung, angin sepoi-sepoi, membuat momen hari itu sempurna buatku. Meskipun jalan raya masih ramai  ̶  tidak mungkin pernah sepi  ̶  tak jadi masalah.
***
Mbak Wulan (memegang mic)
“Ke mana nih jalannya ke ruang workshop-nya?” Hanan menunjukkan jalannya kepada kami. “Silakan isi daftar hadir dulu, baru ambil kursi di belakang Mas, silakan pilih tempat mana yang paling nyaman menurut Mas Ari.” “Terima kasih ya Nan!”

Aku dan Jepri duduk di sudur belakang ruangan. Workshop ini menurutku spesial, karena di workshop ini, salah satu saudara Jatayu (Jamaah Tatanan Wahyu) akan mengisi menjadi narasumber, Pak Agus Kurniawan (praktisi sekaligus ahli pertanian PTSA). Pun Narasumber yang lain juga hebat, ada Pak Phillip, ahli Mirkobakteria. Sesi pertama diisi oleh Pak Phillip.

Para Peserta mengecek Felita Box
Beliau menerangkan tentang solusi sampah yang menumpuk. Beliau adalah pencetus teknologi pengolah sampah organik, yaitu Felita. “Sisa makanan bukan lah sampah, tapi jika dibuang akan mubazir. Makanya, kita harus memikirkan solusi yang tepat dan tidak menimbulkan masalah baru lagi.” Kata Pak Philip.
Pak Phillip dengan Felita Box
Aku berpindah tempat duduk, yang semula di belakang, maju ke paling depan agar dapat mendengar suara Pak Philip dan mendapatkan foto beliau dengan jelas. Banyak hal yang membuatku terhenyak dari materi yang disampaikan Pak Phillip.

Pertama, Pak Phillip menayangkan sebuah video dokumenter berkenaan dengan dampak membuang sampah sembarangan terhadap ekosistem, utamanya burung-burung di laut pasifik. Ternyata, burung-burung yang hidup di lautan pasifik banyak memakan benda-benda ‘bukan makanan’: gelang karet, tutup botol, plastik, dan banyak yang lainnya.

Seluruh peserta yang mengisi ruangan dengan luas sekitar 400 meter persegi itu menyuarakan keprihatinan yang mendalam atas vidio yang ditayangkan Pak Phillip. “Anak saya yang paling kecil, ketika saya tayangkan video ini langsung menangis. Saya bilang ke anak saya,’bisa jadi yang di telan burung itu adalah tutup botol yang kamu buang sembarangan.’ Dia langsung terisak menangis.” Aku pun begitu, vidio tersebut merupakan informasi existing  yang ada saat ini dan harus segera dibenahi. Siapa lagi kalau bukan saya dan teman-teman satu generasi, Nusantara tidak akan pernah bangkit.
Pak Phillip dikerumuni para peserta
Setelah materi diberikan dengan tuntas, saya menjadi paham betapa pentingnya membuang sampah pada tempatnya, memilah sampah organik dan anorganik, dan mendaur ulang sampah-sampah tidak berguna yang menumpuk.

Satu hal yang saya garis bawahi juga dari materi, jangan pernah kita membakar sampah. Karena jika Cl (klorin) terbakar, akan menghasilkan dioxin. Dioxin inilah yang membawa bencana bagi umat manusia. Banyak hal yang dapat terjadi jika suatu daerah memiliki kadar dioxin yang tinggi; mewabahnya kanker, gagal ginjal, rusaknya pankreas, kelainan gender, cacat fisik, mutasi gen, mandul, dan lain-lain. “Semua itu, penyebab kuatnya adalah dioxin. Kalau kita bakar sampah, maka kita memproduksi dioxin itu, kita menghirupnya, lalu kita mati sama-sama.”

“Ini fakta, di suatu daerah tertentu di Perancis, warganya terbiasa membakar sampah, dan hampir satu daerah itu terserah wabah kanker. Akhirnya, mereka berpindah, dan rumah mereka banyak yang digratiskan. Ini akibat dioxin.

Itu yang baru aku dengar, selama aku sekolah tidak pernah aku mendengarkan hal itu. Pun kini aku mahasiswa, aku tidak pernah menerima materi itu. “Siapa yang dosa? Kita lah yang berdosa!” Pak Phillip berbicara dengan sangat semangat dan menurut saya, ketulusan hatinya yang menginginkan lingkungan yang lebih baik sangat terasa.

Orang-orang tidak menaruh banyak perhatian pada sampah-sampah yang dibuangnya. Padahal, penduduk bumi di benua biru sangat concern terhadap perkembangan lingkungan. Menurut mereka, penduduk bumi telat menyadari hal tersebut, tapi jika semua penduduk bumi menyadarinya, perubahan dunia akan berubah menjadi semakin baik seiring dengan waktu, bukan malah semakin buruk seiring dengan waktu.

Sampah organik yang dibiarkan terbuka, tidak diolah, akan menyebabkan penyakit karena virus atau bakteri jahat. Jika dijadikan komposter, dan prosesnya salah akan menyebabkan emisi gas CH4 (Metana), implikasinya efek rumah kaca. Sepemahaman saya begitu dari apa yang saya terima dari penjelasan Pak Phillip pagi itu.

Pak Phillip pun giat mengadakan riset untuk menemukan solusi. Lahir lah Felita. “Felita adalah salah satu cara atau solusi kita bersama untuk membuat Surabaya ini bebas sampah di tahun 2020.” Felita, adalah fermentasi limbah rumah tangga dari sampah organik. Sisa-sisa makanan akan diproses, difermentasi menjadi kompos dan ada produk turunannya yaitu pupuk cair.

“Kita bisa mengajarkan anak-anak dan menyadarkan kepada mereka betapa pentingnya membuang makanan sisa ke wadah Felita, ini untuk menumbuhkan jiwa kepedulian terhadap lingkungan kepada anak-anak kita.” Memang, teknologi dari Pak Phillip, Felita, tergolong sangat mudah, efektif, dan efisien.

Kita tinggal menyiapkan timba/box, kran untuk ditaruh di dasar box, dan bubuk aktivator temuan dari Pak Phillip. Prosesnya, dalam dua minggu, bahan organik yang telah dibubuhi bubuk aktivator akan muncul jamur lalu mengeluarkan cairan yang turun ke bagian bawah box. Setelah dua minggu, bahan organik ditimbun tanah. Dalam dua minggu, bahan organik tersebut akan menjadi kompos berwarna hitam.

Solusi sederhana untuk masalah sampah. “Mari kita semua mulai memilah sampah di rumah kita, organik dan anorganik. Sampah organik kita olah menjadi kompos, dan anorganik kita daur ulang atau kita manfaatkan, jika tidak bisa, jual saja kepada yang bisa memprosesnya menjadi barang berguna kembali, jangan dibakar!” Kata Pak Phillip.

Semua materi Pak Phillip merupakan pikukuh atau penguat bagiku atas dhawuh Guruku, Bapak Kyai Tanjung. “Ayat-ayat Allah itu untuk dikaji, sesungguhnya ayat itu adalah kejadian-kejadian fakta berkenaan dengan sesuatu hal agar dapat segera disikapi.” Subhanallah, ini adalah bukti bahwa beragama itu tidak sempit, dan tidak hanya berhenti pada kitab-kitab saja, namun aksi nyata merupakan ‘mengaji’ yang sesungguhnya. Asal niatnya untuk menjalankan perintah Rasulullah sebagai sunnaturrasul, dhawuh Bapak Kyai Tanjung semua itu bernilai ibadah. Selengkapnya mengenai dhawuh-dhawuh Bapak Kyai Tanjung bisa dilihat di sini atau bisa baca artikel di website resmi Jatayu, klik di sini!

Dalam hati, selama mendengar materi dari Pak Phillip, rasanya ingin segera melakukan sesuatu. Terhentak untuk segera menyatakan aksi bersama teman-teman Ampura yang lainnya.

Demi menyatakan imanku terhadap Guruku, dan support teman-teman Sahabat Bumi serta Ampura, aku akan pilah sampah di rumah dan di lingkungan rumahku. Lalu, aku akan menghimbau jangan membakar sampah karena akan memproduksi dioxin. Felita, sebagai alat fermentasi limbah rumah tangga akan ku praktikkan di rumah. Sekalian mengajak adik-adikku untuk belajar peduli dengan lingkungan.

“Dalam ayat, huwa ansa’akum minar ardh, kita harus sadar-sesadarnya bahwa kita hidup di bumi. Maka harus wastakmarakum fiiha, makmurkan bumi itu!” Aku ingat Bapak Kyai Tanjung mengungkap itu saat kajian An-Nubuwah rutin kemarin malam (25/02/2017).

Ampura (Hanan; kiri) sinergi dengan Sahabat Bumi
Kembali ke kegiatan di Surabaya, setelah Pak Phillip menyampaikan tentang pengolahan sampah dan fakta-fakta tentang masalah sampah di negeri ini, sesi dua dilanjutkan oleh Pak Agus Kurniawan. Pak Agus adalah ahli sekaligus praktisi PTSA (Pola Tanam Sehat dan Amanah). Beliau menyampaikan hal-hal pokok dalam Urban Farming, yaitu kemandirian untuk “memanusiakan manusia”.
Pak Agus Kurniawan sedang memaparkan materi PTSA
“Ini dari Guru saya, bahwa kami menjalankan pertanian di pondok, Pomosda, itu adalah untuk memanusiakan manusia. Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar mengenai ini, jika ingin tahu jelasnya, langsung saja sowan ke pondok kami, di Pomosda.” Pak Agus membuka sesi dua.

Memanusiakan manusia merupakan hal penting yang santer dijelaskan Bapak Kyai Tanjung, selaku Guru seluruh Jatayu. “Ini adalah untuk memancing kita berpikir, pun dalam Urban Farming. Siapapun dapat bertani, asal kita tahu tanah, air, angin, dan sinar.” Kata Pak Agus.

Indonesia merupakan negara agraris. Itulah identitas potensi negeri ini. Sayang, sekarang petani merupakan profesi yang dianggap tidak laku atau dipandang rendah. Padahal, itu adalah identitas bangsa atas potensi yang diberikan oleh Tuhan kepada kita.

Dalam budidaya atau bercocok tanam apapun, kemampuan membaca ayat-ayat (tanda-tanda) adalah yang utama. “Tidak ada SOP yang pasti dan baku. Karena konteks di masing-masing pasti berbeda. Sederhananya, Ph air di setiap sumur berbeda, kalau parameter pemberian pupuk dibakukan tentunya menimbulkan banyak pertanyaan, dari analogi sederhana ini mestinya kita sudah paham, bukan?” Terang Pak Agus, seluruh audience mengangguk-anggukan kepala tanda paham dengan apa yang disampaikan Pak Agus.

Pukul 12.00 WIB, Surabaya diguyur hujan. Hawa adem semakin membuat ruangan workshop nyaman atau dalam bahasa jawa biasa tersebut gayeng. Adik-adik SMA Pomosda yang ditugaskan meliput juga mengerahkan konsentrasinya untuk meliput kegiatan ini. Berulang kali, Annisa (santri kelas XII SMA Pomosda) mewawancarai peserta workshop, sementara Frita (santri kelas XII SMA Pomosda) dan Syifa (santri kelas XI SMA Pomosda) sibuk menggali informasi kepada panitia.

Beberapa hal yang saya terima dari Pak Agus; kesadaran memaksimalkan potensi adalah kewajiban bagi kita semua, lahan sempit, kosong, dan menganggur dapat dimanfaatkan menjadi produktif. “Kalau lahan sempit bisa menggunakan paralon atau kaleng bekas dijadikan vertikultur, bisa pakai polybag, dan banyak lagi ide kreatif untuk menyiasatinya. Sekarang, apakah kita menjamin makanan yang kita beli adalah makanan yang diproses dengan benar?” Seluruh peserta workshop serentak menjawab, “tidak!”

“Sukomoro, Nganjuk, derah penghasil  komoditas bawang merah yang besar, sekarang mulai diragukan kualitasnya. Mengapa? Karena, sekarang sebelum panen disemprot obat, tujuannya supaya tidak cepat busuk. Ini lah yang dapat menyebabkan mutasi gen. Kalau kita menanam bawang merah sendiri, kita dapat manfaatnya sendiri. Selain berhemat, kita juga makan-makanan sehat dari kita sendiri, terjamin kualitasnya karena kita sendiri yang menanamnya.” Jelas Pak Agus Kurniawan.

***

Pukul 12.30 WIB, workshop selesai. Adik-adik jurnalis dengan sigap langsung menghampiri Pak Phillip untuk diwawancarai. Auliya mendampingi mereka, sedangkan aku, Jepri, Daus, dan teman-teman Ampura yang lain mencari makan.

Siang itu, aku menemukan banyak jaringan, ini lah rezeki nomplok buatku. Aku bertemu dengan Mas Dewa dan Mas Fabet, mahasiswa ITS. Mereka berdua adalah peniliti dan suka membuat teknologi tepat guna. Aku gunakan kesempatan ini untuk mengenalkan organisasi Ampura Jatayu kepada mereka. Mereka sangat antusias sekali. Bahkan, jika ada kegiatan di Pomosda, mereka bersedia untuk ikut.
Aku (dari kanan), Mas Fabet, Mas Dewa, dan Pak Phillip sedang diskusi selepas workshop
Terkejut setelah mengetahui, ternyata dua mahasiswa tersebut telat lulus. Mereka sama-sama dari semester sepuluh. Mereka telat setahun untuk lulus. Dalam benakku, “kasihan sekali mereka, sistem pendidikan negeri ini bukan melahirkan generasi kreatif justru berusaha mencetak generasi yang potensi kreatif menjadi ‘buruh’ yang bekerja atas perintah atau tugas-tugas semata.”

Aku dan dua mahasiswa ITS tersebut sempat duduk bersama, diskusi banyak hal dengan Pak Phillip selepas workshop. Saat itu, aku mengetahui mereka adalah insan-insan kreatif dan cerdas. Pak Phillip bercerita tentang teori mikrobakteria, penemuan-penemuannya, dan opininya mengenai existing negara ini, sedangkan kami asyik mendengarkan sambil menanggapinya.

Dua mahasiswa ITS tersebut tengah berjuang mengangkat kehidupan peternak perikanan darat. Biaya pakan tinggi dan harga murah telah “menelanjangi” usaha para peternak lele. Mereka merasa miris dan sekarang tengah berupaya menciptakan pakan ternak yang efektif dan efisien. “Benar kalau kalian kemari, sudah tepat, karena kalian bertemu dengan saya dan teman-teman dari Jatayu, coba sinergi dengan teman-temannya Mas Arif, jangan gerak sendiri, kita butuh teman yang bermisi sama supaya lebih kuat dan didengar oleh masyarakat luas.” Kata Pak Phillip kepada dua mahasiswa ITS tersebut.
Santri Jurnalis SMA Pomosda sedang mewawancarai Pak Phillip
Sistem pendidikan kita belum mengarah ke arah kerja sama, kooperatif, dan kreatif. Opiniku ini ternyata ada kesamaan dengan pendapat Pak Phillip dan dua mahasiswa ITS tersebut. “Orang Indonesia itu paling susah kerja sama, maunya saingan aja dan eksploitasi. Ya memang kembali ke pendidikan kita sih!” Kata Pak Phillip. Kalimat itu didukung pula oleh dua mahasiswa Mas Dewa, “benar Pak, memang pendidikan kita masih belum mengarah ke arah yang jelas.”

Kami berdiskusi panjang lebar mengenai langkah-langkah apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki bangsa ini secara perlahan tapi pasti. Langkah awal yang dapat dilakukan menurut Pak Phillip adalah dimulai dari pengolahan sampah, Felita, lalu program Kemandirian Pangan, teknologi tepat guna yang sedang dikembangkan oleh mahasiswa ITS tersebut dan lain-lain. “Kita harus komit, jangan hanya wacana, jangan cuma niat saja, harus diwujudkan!” Pak Phillip menyemangati kami.
Mas Ical (kiri; Ampura) sedang meladeni pelanggan produk Jatayu yang ada di ruang workshop.
Tak terasa, Surabaya mulai teduh, Matahari mulai berpindah dari atas kepala menuju ke arah barat, tandanya kami harus begegas pulang. Adik-adik jurnalis SMA telah menyelesaikan bahan liputannya. Kami bersiap pulang. Namun, sebelum pulang ke Tanjung, kami ke rumah Pak Fadli (Jatayu Surabaya) mengemasi barang-barang.

Ini lah momen yang menurut aku adalah rezeki juga. Dengan cerdas, Pak Agus menyusun skenario, Pak Agus menyeting aku dan Mbak Wulan (koordinator Sahabat Bumi) dalam satu mobil yang sama. Aku, Jepri, Daus, dan Nafi diantar ke rumah Pak Fadli menggunakan mobil Mbak Wulan.

Ternyata, aku dan Mbak Wulan memiliki banyak kesamaan. Pertama, Mbak Wulan adalah penulis. Mbak Wulan merupakan profesional penulis skrip atau skenario. Beberapa skenario sitkom, Mbak Wulan yang memproduksi. Seperti OB, Bajaj Bajuri, dan lain-lain. Sungguh ini adalah momen yang pas untukku membangun jaringan.

Aku juga bilang ke Mbak Wulan bahwa Jatayu telah memiliki media pers, yaitu Majalah Jatayu Nusantara. Mbak Wulan sangat respek dengan media kami. “Wah, iya, kalau aksi-aksi perjuangan ini di-publish akan semakin menguatkan langkah Jatayu.” Mbak Wulan memberi saran kepadaku untuk memanfaatkan massa di Jatayu sebagai marketernya. “Jangan diikutkan ke cara konvensional (toko buku), Jatayu udah punya massa, manfaatkan itu saja!” Kata Mbak Wulan kepadaku.

Mbak Wulan adalah sosok yang terbuka sekali. Pokoknya, open minded. Dan saya mengagumi karakteristik kepemimpinannya yang sangat baik. Terbukti, meskipun beliau adalah perempuan, beliau mampu mengoordinir dengan baik kegiatan Sahabat Bumi yang terselenggara sejak seminggu yang lalu.

Dalam perjalanan, Mbak Wulan banyak bertanya tentang keberadaan Jatayu. Mbak Wulan bertanya tentang sejarah rantai silsilah gulotentah Guru Wasithah juga. Sebisaku, aku coba beranikan diri untuk menjelaskan sesuai dengan tingkat pemahamanku sendiri. Aku ceritakan sejarah Pomosda berdiri, kemudian profil Guruku sekarang, Bapak Kyai Tanjung. Tidak hanya beliau, tapi aku juga coba ceritakan tentang Gurunya Guruku, lalu Gurunya Guru Guruku, yang rantai silsilah gulowentah-nya tidak terputus sampai yaumul kiyamah. Aku hanya bisa bercerita sesuai dengan apa yang aku terima dari Guruku, dan terbatas kemampuan pemahamanku saja, tidak berani bercerita terlalu banyak. Tapi Mbak Wulan mengaku senang dapat bersinergi dengan Jatayu, beserta pemudanya, Ampura.

Saya senang sekali kemarin, selain mendapat banyak pengalaman dan jaringan yang baru. Aku juga mendapat inspirasi serta motivasi untuk dapat menjadi orang yang sukses duniawi dan akhirat, (amin). 

Adik-adik SMA Pomosda yang ikut juga mengaku banyak mendapatkan sesuatu hal baru yang bisa memotivasi dan menginspirasi mereka. "Saya suka kalau belajarnya begini Kak! Soalnya aku langusng bisa bertemu dengan orang-orang hebat dan langsung mengerjakan sesuatu hal, gak banyak teori aja. Kenalan juga nambah, mental juga menjadi terlatih. Ternyata, wawancara itu gak gampang ya?" Kata Frita kepadaku setelah aku tanyai bagaimana pendapatnya tentang kegiatan ini.

Semoga, ini menjadi bukti kuat kepada semuanya yang ikut andil dalam dunia pendidikan. Bahwa, memberikan waktu peserta didik mengembangkan bakat dan minat langsung terjun ke lapang adalah jalan efektif memberikan transfer knowledge, karakter, dan pengalaman. Pun mereka akan menjadi sadar, bahwa hidup ini adalah kenyataan dan tidak sesempit ruang kelas.

Demikianlah laporanku tentang perjalanan yang aku alami seharian kemarin. Dan ku harap, siapapun yang membaca cerita perjalananku ini dapat mengambil manfaat dan nilai yang ada.
Majalah Jatayu Nusantara

Dapatkan majalah kami, Jatayu Nusantara, dengan menghubungi 081357468368 atau langsung menuju ke Pomosda, yang beralamat di jalan KH. Wachid Hasim nomor 304 Tanjunganom, Nganjuk.





Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar