“Kejahatan intelektual yang terssitem
dengan baik hingga saat ini, justru bernama agung, yaitu ‘pendidikan’. Bahkan,
ada kurikulumnya.”
Melihat adik sendiri pergi ke sekolah
membuat hatiku miris dan teriris. Bukannya aku skeptis dengan sekolah atau makna
pendidikan itu sendiri, bukan. Tapi, fakta saat ini, pendidikan Indonesia hanya
lah khayalan dan omong kosong belaka. Gedung-gedung tinggi sekolah hanyalah
pabrik-pabrik pengangguran atau orang berjiwa buruh.
Siang hari ini, aku rasa pas sekali untuk
menulis apa yang sedang aku rasakan dan alami. Beruntung, aku memiliki adik
yang rajin dan tanpa disuruh dia sudah mau belajar sendiri. Tapi, aku
mengawatirkan anak-anak di luar sana yang tidak seberuntung adik-adikku. Aku
anggap adik-adikku lebih beruntung karena lingkungan di sekitar adik-adikku
sangat mendukung untuk kemajuan psikologis dan psikis anak. Sehingga, meskipun
pendidikan saat ini carut-marut, merea tetap ada harapan untuk lebih baik.
Seringkali aku heran, mengapa pelajaran
yang diajarkan ke anak-anak sekarang begitu sulit untuk dikerjakan oleh mereka.
Aku benar-benar muak dengan itu semua. Bukan kah soal yang ada di buku tersebut
bukan lah soal yang benar-benar dialami oleh adik-adikku? Mengapa justru tidak
sebaliknya? adik-adikku menyelesaikan permasalahan yang sedang mereka alami: Bagaimana
cara membagi waktu, bermain di luar rumah dan di dalam rumah (main game, nonton
Tv, dll)? Bagaimana cara membuat sampah di rumah tidak terbuang sia-sia atau
terbuang pada tempatnya? Dan banyak lagi permasalahan yang seharusnya mereka
selesaikan ketimbang mengerjakan soal-soal fiktif dari buku.
“Saya merasa setiap kali melihat
mahasiswa adalah kasihan dan marah. Kasihan karena mereka hanya buang-buang
waktu, tenaga, dan uang untuk dicetak menjadi buruh. Saya juga marah dengan
pemegang kebijakan karena ribuan fakta tentang produk pendidikan kita tidak
membuat pemegang kebijakan mengambil langkah yang tepat.” Saya menangkap maksud
Bob Sadino menyatakan seperti itu ̶ kutipannya tidak persis seperti itu, tapi
substansinya begitu lah yang dimaksud oleh Bob Sadino.
Rasanya ingin tertawa dengan keras. Aku
tak habis pikir aku terlahir di negeri ini yang tengah carut-marut. Ah, tapi
tak masalah. Semua harus disyukuri, begitulah perintah Guruku (Bapak Kyai
Tanjung). Justru ini adalah tantangan buatku, bagaimana bisa memengaruhi sejuta
orang supaya sadar akan situasi pendidikan saat ini. Pendidikan kita, runtuh!
Ringkih! Tak masuk akal!
Sok sekali, bukan? Aku sadar itu, tapi
kalau setiap orang yang memberanikan diri untuk beropini dikatakan “sok”, tidak
akan ada yang berani beropini lagi. “Ah biarlah! Jangan risaukan orang yang
merasa terusik dengan pendapatmu ini, Arif!” Dengan setengah hati, aku tulis
apa yang sedang berputar-putar di kepalaku sekarang, kemarin, dan sejak dulu. Setengah
hatinya lagi, sedang berlatih menghadapi kritik tajam dan akibat dari tulisan
ini yang kemudian aku publis di mana-mana. “Hahahahahahaahahaha!” Begitu lah
tawa keras dalam hatiku saat ini.
Tidak ada masuk akalnya sama sekali.
Kalau kita membaca banyak pengalaman orang-orang, mendengar pengalaman
orang-orang yang sukses di dunia, mengamati orang-orang yang cermat dapat
menyesuaikan diri di lingkungannya, mereka dapat mencapai level itu bukan karena
sekolahnya. Kecuali, orang yang profesionalnya adalah guru atau menjadi tenaga
pendidik. Tapi, kemampuan mendidik pun tidak diperoleh hanya dari sekolah.
Lalu? Silakan dijawab sendiri.
Saya tidak ingin menulis panjang lebar
lagi tentang uneg-uneg di dalam hati tentang pendidikan negeri ini. Tapi, Anda
bisa baca artikel-artikelku yang lain yang juga berisi tentang opiniku tentang
pendidikan:

0 komentar:
Posting Komentar