image1 image2 image3

HELLO I'M MUHAMMAD ARIF|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|WRITING 'N LEARNING IS MY PASSION|I'M PROFESSIONAL WRITER

Belajar, Bukan Sekolah


“Kejahatan intelektual yang terssitem dengan baik hingga saat ini, justru bernama agung, yaitu ‘pendidikan’. Bahkan, ada kurikulumnya.”

Melihat adik sendiri pergi ke sekolah membuat hatiku miris dan teriris. Bukannya aku skeptis dengan sekolah atau makna pendidikan itu sendiri, bukan. Tapi, fakta saat ini, pendidikan Indonesia hanya lah khayalan dan omong kosong belaka. Gedung-gedung tinggi sekolah hanyalah pabrik-pabrik pengangguran atau orang berjiwa buruh.

Siang hari ini, aku rasa pas sekali untuk menulis apa yang sedang aku rasakan dan alami. Beruntung, aku memiliki adik yang rajin dan tanpa disuruh dia sudah mau belajar sendiri. Tapi, aku mengawatirkan anak-anak di luar sana yang tidak seberuntung adik-adikku. Aku anggap adik-adikku lebih beruntung karena lingkungan di sekitar adik-adikku sangat mendukung untuk kemajuan psikologis dan psikis anak. Sehingga, meskipun pendidikan saat ini carut-marut, merea tetap ada harapan untuk lebih baik.

Seringkali aku heran, mengapa pelajaran yang diajarkan ke anak-anak sekarang begitu sulit untuk dikerjakan oleh mereka. Aku benar-benar muak dengan itu semua. Bukan kah soal yang ada di buku tersebut bukan lah soal yang benar-benar dialami oleh adik-adikku? Mengapa justru tidak sebaliknya? adik-adikku menyelesaikan permasalahan yang sedang mereka alami: Bagaimana cara membagi waktu, bermain di luar rumah dan di dalam rumah (main game, nonton Tv, dll)? Bagaimana cara membuat sampah di rumah tidak terbuang sia-sia atau terbuang pada tempatnya? Dan banyak lagi permasalahan yang seharusnya mereka selesaikan ketimbang mengerjakan soal-soal fiktif dari buku.

“Saya merasa setiap kali melihat mahasiswa adalah kasihan dan marah. Kasihan karena mereka hanya buang-buang waktu, tenaga, dan uang untuk dicetak menjadi buruh. Saya juga marah dengan pemegang kebijakan karena ribuan fakta tentang produk pendidikan kita tidak membuat pemegang kebijakan mengambil langkah yang tepat.” Saya menangkap maksud Bob Sadino menyatakan seperti itu  ̶  kutipannya tidak persis seperti itu, tapi substansinya begitu lah yang dimaksud oleh Bob Sadino.

Rasanya ingin tertawa dengan keras. Aku tak habis pikir aku terlahir di negeri ini yang tengah carut-marut. Ah, tapi tak masalah. Semua harus disyukuri, begitulah perintah Guruku (Bapak Kyai Tanjung). Justru ini adalah tantangan buatku, bagaimana bisa memengaruhi sejuta orang supaya sadar akan situasi pendidikan saat ini. Pendidikan kita, runtuh! Ringkih! Tak masuk akal!

Sok sekali, bukan? Aku sadar itu, tapi kalau setiap orang yang memberanikan diri untuk beropini dikatakan “sok”, tidak akan ada yang berani beropini lagi. “Ah biarlah! Jangan risaukan orang yang merasa terusik dengan pendapatmu ini, Arif!” Dengan setengah hati, aku tulis apa yang sedang berputar-putar di kepalaku sekarang, kemarin, dan sejak dulu. Setengah hatinya lagi, sedang berlatih menghadapi kritik tajam dan akibat dari tulisan ini yang kemudian aku publis di mana-mana. “Hahahahahahaahahaha!” Begitu lah tawa keras dalam hatiku saat ini.

Tidak ada masuk akalnya sama sekali. Kalau kita membaca banyak pengalaman orang-orang, mendengar pengalaman orang-orang yang sukses di dunia, mengamati orang-orang yang cermat dapat menyesuaikan diri di lingkungannya, mereka dapat mencapai level itu bukan karena sekolahnya. Kecuali, orang yang profesionalnya adalah guru atau menjadi tenaga pendidik. Tapi, kemampuan mendidik pun tidak diperoleh hanya dari sekolah. Lalu? Silakan dijawab sendiri.

Saya tidak ingin menulis panjang lebar lagi tentang uneg-uneg di dalam hati tentang pendidikan negeri ini. Tapi, Anda bisa baca artikel-artikelku yang lain yang juga berisi tentang opiniku tentang pendidikan:


Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar