image1 image2 image3

HELLO I'M MUHAMMAD ARIF|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|WRITING 'N LEARNING IS MY PASSION|I'M PROFESSIONAL WRITER

BERASAL DARI SATU, KESATUAN INDONESIA


Ampura sedang berdiskusi tentang pertanian dengan praktisi petani PTSA (Pola Tanam Sehat dan Amanah.

"Perdebatan, perpecahan, olok-mengolok sekarang sudah diformalkan, Lantas Persatuan Indonesia lari ke mana?"

Persatuan ialah gabungan (ikatan, kumpulan dan sebagainya) dari beberapa bagian yang sudah bersatu, sedangkan  Kesatuan ialah ke-Esaan, sifat tunggal atau keseutuhan (WJS. Poerwadarminta, 1987).

Menarik sekali untuk dibahas dan diceritakan. Mengenai sila ketiga ini, pemaknaan dan pengertiannya sangat majemuk. Sesuai dengan pengalaman, titel pendidikan, dan kemampuan retorika masing-masing individu.

Bhinneka Tunggal Ika, sebuah kiasan yang mendorong penduduk nusantara yang majemuk berpikir menyatu. Meskipun “berbeda”, persatuan menjadi nomor satu. “NKRI Harga Mati!” Begitu lah gaungnya suara persatuan.

Di dalam Jatayu, persatuan merupakan kemutlakan. Dasar pemikirannya, manusia berasal dari Yang Esa dan kemestian berikhtiar di dunia untuk menyatakan ke-Esa-an Tuhan. “Mutlak! Bersatu sebagai keluarga itu mutlak. Bukan lagi ‘kekeluargaan’, tapi mengeluarga. Demikian itu karena kita memiliki satu tujuan yang sama, semalat lahir dan batin.”

Tempurung kepala Jatayu sudah terplot dan terbentuk sebuah patron atas istilah keselamatan. “’Selamat’ bagi kami adalah seperti ruang yang menyatukan berjuta-juta jiwa dari ratusan zaman. Ruang ini tempatnya di ujung, dari mana pun jalan kita, tetap akan bertitik di sebuah tujuan yang sama, yaitu ‘ruang bahagia’ atau ‘keselamatan’ itu. Yang berbeda hanya lah jalannya saja.” Ujar seorang ahli pertanian Jatayu, Pak Ir. Agus Kurniawan.

Sebuah analogi sederhana, rombongan dari SMP Pomosda yang hendak pergi ke WBL (Wisata Bahari Lamongan) naik bus bersama dari Nganjuk. Meskipun satu rombongan tersebut tidak ada ikatan keluarga sekalipun, toh mereka juga berjalan menuju tujuan yang sama. Metode yang dipakai juga sama. Irasional, jika ternyata dalam perjalanan mereka saling adu, perang, klaim, bertengkar dan lain-lain. Persatuan Indonesia, sila ketiga Pancasila, merupakan dampak dari pemahaman sila pertama dan kedua yang telah terterapkan.

Memanfaatkan bahan bekas sebagai salah satu wujud operasional "Program Memakmurkan Bumi Allah"-nya Jatayu.

Pengolahan ttik sayur dengan merek Numani (produk Ampura Jatayu bersama dengan kelompok ibu-ibu Jatayu Al-Fathimiyah).

Pertemuan Pak Hartomo, Kabais (Kepala Badan Intelejen Strategis, kanan) dengan beberapa petinggi TNI lainnya dengan Pak Kyai Tanjung di Pomosda (Pondok Modern SUmber Daya At-Taqwa), Nganjuk.

Dalam analogi di atas, akan lebih indah jika ternyata rombongan bus tersebut sampai di WBL dengan selamat dan dalam aura yang hangat. Berbeda jika dalam perjalanan terjadi konflik satu sama lain. Mungkin secara lahir mereka telah sampai di tempat wisata, tapi hatinya tidak akan pernah merasakan “rasa” bahagia sampai ke WBL. Implikasi dalam realita, kemerdekaan lahir dan batin itu mutlak diperjuangkan.

“Satu tujuan adalah konsekuensi logis dari berimannya seseorang. Kalau tidak, itu tidak rasional. Tidak rasional lagi kalau ternyata dalam kehidupannya saling adu domba, dengki, iri, mencela, menuding, mengambinghitamkan, merasa terbaik, berkeinginan untuk mengalahkan saudara yang lain, berniat menyingkirkan orang yang tidak disukai, memelihara dendam, dan lain-lain. Apalagi tujuannya adalah merdeka lahir dan batin, seharusnya perilaku ‘islam’ atau perilaku selamat dilakukan secara totalitas.” Sebuah kalimat ini dilontarkan Bapak Kyai Tanjung saat Sarasehan pada tanggal 22 Nopember 2015 lalu.

Kesatuan, bersatu, persatuan, menjadi impian Jatayu sejak lama dan itu pula yang sekarang sedang diperjuangkan. “Tegaknya Ad-diin itu tidak berpecah belah, al-ayah, bukan?” Pak Kyai Tanjung dalam membina seluruh Jatayu di seantero nusantara adalah tegas. Apalagi berkaitan dengan hubungan antar jamaah. “Kok sampai antar jamaah terjadi crash dan tidak ada usaha untuk mau bersatu, itu bukan jamaah saya.” Saya ingat sekali dengan kata-kata itu. Terngiang-ngiang, gendang telinga ini beresonansi menggetarkan akal dan pikiran.

Sudah 72 tahun Indonesia merdeka, tapi menurut saya, realita masih belum mengindikasikan kemerdekaan lahir dan batin. Bahkan sekarang pun masih terjajah hanya bentuknya saja yang berbeda. Sekarang penjajahan bukan dengan senapan lagi. Penjajah masuk membawa “paham” atau “isme-isme” yang kontradiktif dengan ideologi negara. Akhirnya, kemajemukan rakyat nusantara justru menjadi kelemahan bagi negara sendiri dan menjadi ajimumpung bagi negara lain. Sungguh ironi.

Yang aneh lagi menurut saya, negara ini seolah-olah sudah berganti kiblat. Ekonomi menjadi kiblat utama, bukan “Ketuhanan Yang Maha Esa” lagi. Buktinya, acara-acara televisi sekarang justru memformalkan perdebatan yang seharusnya dihindari bahkan “dibenci”. “Perdebatan bukan identitas Pancasila. ‘Garuda’ seharusnya tidak mengenal debat. Bukan kok saya merendahkan atau memandang rendah itu bukan, tapi jika kita sesuaikan dengan terapan sila pertama sampai ketiga, adakah kesesuaiannya? Saya hanya menyayangkannya, adakah metode atau jalan lain yang lebih menyejukkan rasa?” Pandangan Pak Kyai Tanjung mengenai perpecahan yang tersampelkan acara debat hanya salah satu dari sekian banyak sampel lagi yang membuka sisi rasional orak saya. Anak kecil pun tahu, bahwa persatuan tidak mungkin diraih dengan perdebatan. Anak TK pun tahu, supaya kenyang harus makan, pun supaya bersatu harus bermusyawarah bukan malah debat.

Mungkin karena kita terlalu judeg-nya hingga tidak menemukan bagaimana seharusnya bangsa ini bersikap atas ideologinya. Sampai-sampai pertengkaran dipertontonkan, fitnah tersebar, Tuhan dijadikan bisnis, debat diformalkan, dan keakuan digembongkan. Begini kah jalan menuju “Persatuan Indonesia”?
Para pemudi yang tergabung dalam Ampura (Asosiasi Mahasiswa dan Pemuda Nusantara) saat kegiatan Ampura Berkreasi bersamaan dengan Deklarasi Ampura pada tanggal 28-29 Januari 2016

Salah satu program Pak Kyai Tanjung, pemberdayaan perempuan. Harapannya, Ampura dapat memelopori program Pemberdayaan  Perempuan di daerah-daerah.
Sebelum mendalam mengenai “Persatuan Indonesia”, Pak Kyai Tanjung sedikit membuka “bongkahan batu es” dalam paradigma Jatayu. Pemaknaan Ad-diin selama ini sebatas “agama”. Padahal Ad-diin  itu bukan sekadar “agama” saja. Ad-diin itu masif dan komprehensif. Apa yang saya pahami atas penjelasan Pak Kyai Tanjung, Ad-diin adalah mental, sikap, sifat, karakter, perilaku yang dalam kesadaran penghambaan. Niat, tekad, dan tujuannya tidak lepas dari “sekadar menjalankan dhawuh Rasulullah”. Sehingga, tampak perilaku uswah, ketauladanan, budi, dan dharma (perilaku selamat/islam).

Ad-diin adalah kehidupan dunia dan akhirat.” Sebuah kutipan saya terima dari seratan Pak Kyai Tanjung yang tertulis dan terpublis ke Jatayu via  Whastsapp pada tanggal 18 Februari 2017. Memerdekakan diri dari yang lahir menuju kemerdekaan yang abadi dalam batin. Perpecahan bukan lah jalan menuju kemerdekaan lahir dan batin, yang jalan atau metodenya adalah dengan “bersatu”. Satu jalan pulangnya, maka berjalannya bersama-sama.

Ada yang istimewa dari arahan-arahan Pak Kyai Tanjung untuk seluruh Jatayu. Biasanya, sebelum program atau kegiatan beroprasi, atau sekadar jagongan kepada manajemen Jatayu, Pak Kyai Tanjung mewanti-wanti, “berserikat itu bebas, tidak dilarang. Bahkan diundang-undangkan. Tapi, merasa semuci, dalam posisi benar, merasa yang terbaik, itu yang haram hukumnya. Makanya, kalau sampai ada Jatayu yang perilakunya seperti itu, perlu kaca benggala (jawa; cermin).”

Paradoks kebebasan berserikat, berkelompok, berpartai, menjadi sekelumit hal yang menjadi runyam di negeri ini. “Sebenarnya, banyak sekali ayat yang menjelaskan bahwa Allah murka kepada perpecahan, perceraian, dan ketidakbersatuan. Allah juga tidak menyukai sekelompok laki-laki menghina atau merendahkan sekelompok laki-laki lainnya, dan sebagainya al-ayah. Artinya, tidaklah seharusnya kita mungkin berkelompok-kelompok demi misi atau tujuan masing-masing. Maksudnya, semisal Jatayu ini berpartai, lalu orientasinya adalah kekuasaan, maka Jatayu masuk bagian dalam ayat tersebut.” Sebuah pengingat yang menurut saya cukup terjal untuk didaki kembali dari Pak Kyai Tanjung.

Sehingga, dalam operasionalnya, Jatayu yang tersebar ke seantero bumi nusantara, tidak meng-eksklusifkan diri. Justru Pak Kyai Tanjung menekankan untuk dapat menjadi “ragi” bagi masyarakat yang lain. Keinginan untuk menyatakan Tuhan Yang Maha Esa, dengan benar-benar beraksi membuktikannya, Pak Kyai Tanjung membuat program-program peduli operasional. “Program Peduli Operasional, salah satu tujuannya supaya Jatayu dapat merasakan indahnya bersatu, melebur, kedamaian lahir dan batin. Karena, hati ini tenteram dengan mengingat Allah, sementara lahir ini tenteramnya dengan saling gotong royong, guyub rukun, saling maklum, toleransi, memaafkan, dan saling kasih-mengasihi.”

Begitu luar biasa Pak Kyai Tanjung dalam memonitor, mengontrol, dan mendorong seluruh Jatayu  untuk tetap memegang teguh nilai-nilai visi dan misi Jatayu saat melakukan kegiatan peduli operasional di rumah, daerah, kantor, bahkan di lingkungan RT-nya masing-masing. “Yang utama itu guyub rukun, percuma lahirnya maju tapi hati tidak tenteram. Karena yang mendukung hati ini dapat nyaman berzikir adalah dengan kerukunan antar umat manusia.” Nada bicara Pak Kyai Tanjung saat menyebut kalimat terakhir biasanya dengan penuh penekanan.

Saya menulis buku ini pun saya niatkan sekadar menjalankan perintah Guru saya, tidak pernah sekalipun saya bergerak kalau bukan menjalankan perintah Guru. Saya berharap, dengan adanya buku ini, makna Persatuan Indonesia dalam sila ketiga dapat teroprasionalkan atau malah dapat terpahami dengan baik. Saya merasa, penjelasan atau buah pemikiran dari Pak Kyai Tanjung yang sering saya dengar harusnya juga didengar atau terpahami oleh masyarakat majemuk.

Akhir-akhir ini, Pak Kyai Tanjung sangat prihatin dengan kondisi bangsa. Pak Kyai Tanjung berpikir bagaimana meretas kebatilan dengan membuat beberapa program untuk menyatakan aksi berjuang menegakkan Ad-diin demi “kembalinya hak-hak Allah dan junjungan Nabi Muhammad serta para pewarisnya yang rantai silsilah gulowentah tidak pernah terputus sama sekali”.  Yang termasuk dalam kebatilan yang dimaksud menurut pemahaman saya adalah dendam, merendahkan satu sama lain, saling menghujat, saling menyindir, saling menjatuhkan, saling menyebar fitnah, dan saling membunuh. Musuh sila ketiga Pancasila adalah hal-hal tersebut.
Pemuda Ampura (Asosiasi Mahasiswa dan Pemuda Nusantara) sedang melakukan kunjungan lapang / observasi lapang untuk menduplikasi program Kemandirian Pangan di seluruh daerah.

Sekarang, data-data faktual mengindikasikan nilai-nilai luhur Pancasila semakin krisis dan keropos dalam benak masyarakat. Begitu bebasnya mencaci maki, perselisihan, bahkan perdebatan pun diformalkan. Artinya, dengan diformalkannya perselisihan, sama saja dengan membunuh ideologi Garuda Pancasila. Saya menyebutnya makar yang halus, bahkan lebih dari makar. Hal tersebut sudah bentuk operasional keinginan untuk memecah belah bangsa, harusnya segera dievaluasi. Dalih kemerdekaan mengemukakan pendapat harus memiliki koridor yang jelas. Demi tegaknya Ad-diin dan NKRI.


Tulisan Pak Kyai Tanjung yang termuat di majalah Jatayu Nusantara edisi Oktober 2016 yang berisi tentang penjabaran Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa dan sila ketiga Pancasila, Persatuan Indonesia, menjadi sorotan para petinggi negara, pun di kalangan para TNI. Berikut adalah artikelnya:

Indahnya Kebersamaan Nusantara

“Momen hari kesaktian pancasila dan hari TNI terhadap wawasan nusantara menuju terwujudnya Nusantara bangkit”
                                                           
           Wawasan nusantara sebagai wawasan kebangsaan sangat menarik untuk dibahas dan diselami. Akhir-akhir ini jiwa nasionalisme-patriotisme tampak memudar, jiwa kesatuan persatuan semakin tenggelam, jiwa kemandirian tidak begitu tersentuh, padahal semuanya adalah kekuatan nusantara ini.

Kalau kita membahas dan membicarakan wawasan nusantara memang tidak akan ada habisnya, karena memiliki cakupan yang sangat luas. Intinya adalah bagaimana membangun kesatuan dan persatuan serta mewujudkan kemerdekaan  dalam mencapai tujuan nasional. Dan dalam hal ini, “sungguh” para pakar dan para ahli telah menguraikan sedemikian rupa, apalagi dengan perkembangan teknologi di zaman globalisasi sekarang. Untuk itu kami menghaturkan kepada pembaca, ‘wawasan nusantara demi terwujudnya nusantara bangkit’ ini hanya sekedar uneg-uneg atau secuil pemikiran yang sesuai dengan batas kemampuan kami dan sesuai dengan apa yang telah kami lakukan selama ini.

I. Sekilas Perihal Wawasan Nusantara 
Pengertian Wawasan Nusantara Menurut Para Ahli
Kelompok Kerja LEMHANAS, Pengertian wawasan nusantara menurut definisi Kelompok Kerja LEMHANAS (Lembaga Pertahanan Nasional) 1999 adalah cara pandang dan sikap bangsa indonesia mengenai diri dan lingkungan yang beragam dan bernilai strategis dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa dan kesatuan wilayah dalam menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara untuk mencapai tujuan nasional. 
Tap MPR Tahun 1993 dan 1998 Tentang GBHN, Pengertian wawasan nusantara menurut definisi Tap MPR tahun 1993 dan 1998 tentang GBHN adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungan dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah dalam menyelenggarakan kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara untuk mencapai tujuan nasional.  
Secara etimologis, pengertian wawasan nusantara adalah cara pandang terhadap kesatuan kepulauan yang terletak antara dua benua yaitu asia dan australia dan dua samudra yaitu samura hindia dan samudra pasifik. Istilah wawasan nusantara berasal dari kata wawas (jw)  yang artinya "pandangan, tinjauan atau penglihatan indrawi", dan kemudian ditambahkan akhiran -an , sehingga arti wawasan adalah cara pandang, cara meninjau, cara melihat.  Sedangkan kata nusantara terdiri dari dua kata yaitu nusa yang berarti "pulau, juga berarti bangsa atau kesatuan kepulauan", dan antara yang berarti "letak antara dua unsur yaitu dua benua dan dua samudra". Sehingga arti dari kata nusantara adalah kesatuan kepulauan yang terletak dari dua benua yaitu asia dan australia dan dua samudra yaitu samudra hindia dan pasifik. 
Fungsi wawasan nusantara sebagai konsepsi ketahanan nasional adalah sebagai konsep dalam pembangunan, pertahanan keamanan dan kewilayahan; sebagai pembangunan nasional adalah mencakup kesatuan politik, sosial dan ekonomi, sosial dan politik, dan kesatuan pertahanan dan keamanan; sebagai pertahanan dan keamanan adalah pandangan geopolitik Indonesia sebagai satu kesatuan pada seluruh wilayah dan segenap kekuatan negara; sebagai wawasan kewilayahan adalah pembatasan negara untuk menghindari adanya sengketa antarnegara tetangga. 
Tujuan Wawasan Nusantara - Tujuan wawasan nusantara adalah mewujudkan nasionalisme yang tinggi dari segala aspek kehidupan rakyat indonesia yang mengutamakan kepentingan nasional dari pada kepentingan perorangan, kelompok, golongan, suku bangsa atau daerah. Kepentingan tersebut tetap dihargai agar tidak bertentangan dari kepentingan nasional.  (http://www.artikelsiana.com/2015/04/wawasan-nusantara-pengertian-fungsi-tujuan.html). 
Betapa luhurnya konsep-konsep ke-nusantaraan dan kebangsaan tersebut, sesuatu yang memiliki nilai yang agung dan luhur, seperti yang telah terumuskan dalam pembukaan UUD dasar 1945, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”
“Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.”
“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.” 
“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” 
Tujuan suci nan luhur atas wawasan nusantara adalah membebaskan dari segala bentuk penjajahan untuk mencapai kemerdekaan. Wawasan nusantara lahir akibat dari imperialis atau penjajahan bangsa lain terhadap bangsa kita. Efek dari perkembangan teknologi dan globalisasi, “terapan” dalam aplikasi wawasan nusantara tergerus,tergerogoti, semakin pudar dan semakin menjauh dari konsep cara pandang Nusantara. Oleh karena itu,  penyegaran-penyegaran yang mendobrak kesadaran berbangsa dan bernegara sangat dibutuhkan. 

II. Kebutuhan Kontemplasi Wawasan Nusantara untuk Nusantara Bangkit
Nusa berarti pulau juga berarti bangsa, sedangkan antara memiliki arti sela-sela yang memisahkan antara dua hal. Bangsa yang beragam penduduknya, beragam sukunya, beragam bahasanya, beragam adat-istiadatnya, beragam agama dan keyakinannya. Bangsa yang memiliki keberagaman. Jika antara dimaknai celah pemisah, maka seolah-olah daratan dipisahkan oleh lautan. Padahal lautan dan daratan adalah kesatuan, negeri ini dikenal karena kedua-duanya. Laut dan daratan menyatu membentuk negeri ini. Sehingga Indonesia menjadi negara kepulauan atau juga disebut sebagai negara kelautan. Justru seharusnya antara dimaknai sebagai pengikat. Faktanya, tidak ada ruang kosong atau ruang hampa, namun malah menjadi karakteristiknya. Demikian pula keberagaman justru menjadi kekayaan bangsa Indonesia.  Jadi, antara adalah pengikatnya. 
Karakteristik bangsa Indonesia adalah kepulauan, berupa daratan yang diikat oleh lautan. Nusantara diikat oleh kekayaan sumber daya alam, keberagamaan adat-istiadat, budaya, kultur, bahasa, dan lain sebagainya. Diikat oleh penerapan kebangkitan peduli operasional Nusantara Bangkit. Diikat dalam persatuan dan kesatuan ideologi Pancasila. Keberagaman yang diikat oleh kebangkitan semangat kesatuan dan persatuan NKRI. Nusantara dalam ikatan Bhinneka Tunggal Eka (tan hana Darma mangrwa) yang (bisa) bermakna keberagaman dalam kemanunggalan, kesatuan, dan persatuan  ̶  tidak ada dharma atau kebaikan yang merusak. 
Beragam namun tidak dipandang sebagai perbedaan. Tetap berada dalam ikatan kekeluargaan, kebersamaan, keguyubrukunan, bersama membangkitkan kesadaran kepedulian yang dioperasionalkan dalam perilaku peduli operasional. Bangkit ideologinya, bangkit kesadarannya, bangkit kemandiriannya, bangkit gotong royongnya, bangkit sistem tata kelolanya, bangkit kemanusiaanya. 
Salah satu program stimulan kami, Jamaah Tatanan Wahyu (JATAYU) adalah program peduli operasional memakmurkan bumi Allah dengan memanfaatkan lahan kosong, sela, menggunakan benih-benih lokal, memenuhi kebutuhan sendiri secara mandiri, dan mengedukasi masyarakat dengan memberdayakan potensinya secara gotong royong. 
Bagi kami, kita semua, untuk memahami bagaimana wawasan nusantara diterapkan dan direalisasikan, perlu penelaahan dan perenungan supaya tidak menjadi sekedar wawasan atau wacana. Lalu diwujudkan  pada konteks ke-ilmuan. Bagaimana penerapan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara? Bagaimana terapan falsafah Pancasila yang dijadikan pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku? Supaya karakter bangsa yang utuh terbentuk,“memanusiakan manusia seutuhnya”.

III. Indahnya Jika Ke-Nusantara-an Terwujud dalam kehidupan sehari-hari. 
Kita terlahir sebagai orang jawa, bukan karena kita memesan tempat kelahiran di Jawa. Bukan kemauan kita, kita terlahir sebagai orang islam, dari keluarga yang beragama islam. Bahkan kita terlahir di bumi nusantara pun Tuhan juga tidak memberitahu kita terlebih dahulu, tanpa memberikan pilihan. Siapapun terlahir tanpa pilihan sebelumnya, dengan kata lain adalah mengikuti kodrat Tuhan. Semua itu akan melekat pada siapapun hingga meninggal dunia. Semestinya kita semua justru bersyukur. 
Saat seseorang terlahir dari keluarga Islam, atau Kristiani, atau Katolik, atau Hindu, atau Budha, atau terlahir di keluarga yang beraliran “kepercayaan pada nenek moyang”, niscaya memiliki kecenderungan kuat akan mengikuti agama keluarganya. Peran akal-pikiran, rasionalitas, adalah berpikir sesuai dengan yang ditetapkan dalam hati nuraninya. Pilihan keyakinan yang bersifat batiniyah itu adalah individual. Apa yang akan ditetapkan dalam hati sebagai keyakinan agama tergantung dari pemikiran dan tingkat rasionalitas masing-masing individu. Namun perihal yang lahiriyah, kasat mata, adalah sama. Sama-sama penduduk Indonesia, tidak mencampuraduk antara yang lahiriyah, jasadiyah, dan batiniyah. Semestinya, akal pikirannya tetap digunakan untuk mengevaluasi keyakinan dalam diri sebagai individu, “bagaimana saya bertuhan demi keselamatan yang seharusnya?” Sekalipun berbeda keyakinan agama, tapi tetap “sadar” dalam perilaku “kesadaran” hamba di bumi nusantara, yang secara lahiriyah adalah sama dengan penduduk bumi Nusantara lainnya.  
Kalau perihal kelahiran itu semua atas kehendak Allah, dan kita sebagai manusia tidak ada kemampuan untuk melakukan pilihan, masih layakkah kita berbangga-bangga? Apalagi menjadi pijakan untuk menghantam kelompok, suku, dan yang berbeda keyakinan. Pantaskah jika kita melecehkan, menjatuhkan, bahkan mengolok-ngolok mereka, membantai mereka yang tidak satu suku, tidak satu bangsa, dan tidak satu negara? Agama bukanlah milik siapapun dan golongan apapun. Agama bukanlah milik nenek moyang, milik keluarga, atau milik suku tertentu. Agama bukan milik saya, kamu, kami, dan milik mereka. Agama adalah milik Tuhan. 
Saat terjadi pertikaian, polemik, dan pertengkaran karena perbedaan-perbedaan tersebut, tidakkah ini adalah ke-naif-an, keanehan yang luar biasa? Saat suatu golongan dan kelompok tertentu melecehkan, mengolok-olok, menjatuhkan, tidakkah ini sama artinya dengan telah “menyalahkan” Tuhan, “melecehkan” Tuhan, “menyingkirkan” Tuhan dari kehidupannya?  Seolah-olah agama adalah milik seseorang atau golongannya. manusia tidak memiliki pilihan pada siapa seseorang itu akan dilahirkan, memilih orang tua, dan memilih tempat kelahirannya. Dipikir dengan tingkat rasional seperti apapun tetap tidak akan dapat diterima. Kalau seseorang beragama adalah untuk kebahagiaan, untuk meraih kemerdekaan sejati, dan bertujuan demi keselamatan lahir dan batin, dunia dan akherat, menjadi ironi dan aneh bin ajaib saat menjalani kehidupan berdunia tetapi tidak membangun keharmonisan. 
Demikian pula perihal keyakinan agama, menyangkut hati. Perihal batiniyah yang posisinya berada di dalam dada masing-masing individu. Perbedaan pemikiran, apa yang di dalam hati, batin adalah keniscayaan. Tidak perlu dipertentangkan. Pembenaran ego keakuan diri, merasa diri sendiri yang paling benar dan yang berhak masuk surga, justru akan merusak kemurnian agama itu sendiri. Menyampaikan sesuai dengan keyakinannya silahkan, namun tidak denganmemaksa, apalagi ekstrem atau radikal. 
Sedang perihal duniawi adalah perilaku syariat yang lahir, bersifat jasadiyah, yang telah terbagi menjadi perilaku ibadah mahdhoh dan ammah atau ghoiru mahdhoh. Ada perilaku ritualitas yang mahdhoh, artinya ada perilaku batin yang tampak dalam tatanan syariat berdunia. Syahadat diucapkan namun persaksian ditinggalkan menjadi sia-sia.  Salat dilakukan namun hatinya lalai mengingat keberadaan Tuhan, berarti tidak khusyuk dan diancam fawailun, celaka.  Puasa dijalankan namun menempatkan hati sok suci, suka mengolok-olok, mengucapkan kata-kata jorok, melecehkan, merendahkan, maka puasanya manjadi batal, hanya memperolah lapar dan dahaga. Demikian pula dengan berhaji. Sedang ibadah yang ammah atau ghairu mahdhoh merupakan pilihan seseorang akan menjadi apa dan menjadi siapa dalam pekerjaan berdunia.  Menjadi petani, pedagang, pegawai, TNI, POLRI, buruh, menjadi apapun dan sebagai siapapun adalah pilihan masing-masing. Saat seseorang bertani atau berdagang, maka orang lain tidak akan mempermasalahkan perbedaan keyakinan lagi (seharusnya). 
Bagi umat beragama, surga adalah tempat yang damai, tempat yang nyaman, tempat yang jauh dari perilaku-perilaku keprasangkaan, jauh dari watak-watak suuzan, jauh dari perilaku yang merusak. permasalahannya adalah saat di dunia kehidupan seseorang penuh dengan ego-keakuan, kepentingan diri, kelompok, dan golongan, penuh dengan nuansa kebencian dan kedengkian, bersifat dan berwatak jumud, taasub, dan fanatik, kaku, beku dan keras kepala, tidak menggambarkan perilaku “surgawi”, mungkinkah perilaku-perilaku “kefasadan” tersebut terbawa ke dalam surga-Nya? Sedang dalam FirmanNya sangat jelas, “perbuatan baik walau sebesar biji zarah akan dibalas kebaikan itu, sebaliknya perbuatan rusak dan kotor akan memperolah balasan sesuai dengan apa yang diperbuat saat di dunianya”. Surga berisi orang-orang beriman yang penuh dengan kedamaian, kesejahteraan, kenyamanan, dan telah terbebas dari perilaku yang terkekang nafsu. 
Untuk itu, terapan wawasan ke-nusantara-an sangat diperlukan bagi kita sebagai bangsa Indonesia, supaya utuh dan terintegrasi menjadi kesatuan, kedaulatan berbangsa dan bernegara. Seyogianya kita bersyukur, para pendahulu kita telah merumuskan falsafah ideologi sebagai pijakan hidup yang luar biasa hebatnya, yaitu pancasila. (Majalah Jatayu Nusantara, Oktober 2016, hal.7).

          Dapatkan majalah Jatayu Nusantara, sebuah majalah pertama yang memberikan hikmah dan nilai yang luhur. Sebuah media yang tidak berorientasi pada materiil dan ketenaran semata. Membuka yang tidak tampak di balik yang tampak. Majalah yang penuh nilai dan menginspirasi. Hubungi customer service; 081357468368.

Majalah Nusantara, Bernilai dan Menginspirasi

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar