![]() |
| Bapak Kyai Tanjung menjabarkan sila demi sila dengan sangat masif, komprehensif, bahkan koheren dengan ke-nusantara-an. |
"Sila pertama dimaknai sekadar “pokoknya saya Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan lain-lain”. Sila kedua tidak hanya sekadar dimaknai adil dalam pengertian membagi rata harta benda, menghukum sesuai porsi dosa, atau adab dengan pengertian sekadar berbuat baik dan tidak mengganggu orang lain,"
Manusiawi,
sering kita dengar saat menemui orang lupa dan berbuat salah. “Ah itu
manusiawi.” Sebuah sifat-sifat yang tidak lepas dari manusia dan masuk dalam
kategori “kewajaran”, sehingga lebih condong termaafkan.
Dalam kajian
rutinnya, Pak Kyai Tanjung sering menyampaikan perihal “kemanusiaan”.
“Kemanusiaan adalah tentang manusia, mengartikannya harus masif. Banyak sekali
pembahasannya.” Jelas Pak Kyai Tanjung.
“Ada asal-usul
kejadian manusia, unsur-unsur manusia, dan banyak hal lagi yang perlu
dimengerti terlebuh dahulu tentang ‘kemanusaiaan’. Sebelum kita bicara
terapannya, alangkah baik jika ihwal ini (asal-usul dan unsur kejadian manusia)
dimengerti dahulu.”
Setiap murid di
sekolah dasar membedakan manusia dan hewan dengan menyebut manusia memiliki
akal sedangkan hewan tidak. Padahal, bukan kah setiap hewan berakal? Hanya
saja, kapasitasnya yang berbeda dari manusia. Bahkan menurut penelitian para
ilmuwan, lumba-lumba saat ini mengalami perkembangan yang sangat pesat.
Seperti yang
saya tulis dalam rubrik paradigme majalah Jatayu Nusantara bulan
Desember 2016 lalu;
“Selama beradab-abad, manusia menjadi makhluk yang paling ensephalisasi di dunia. Ensephalisasi adalah pertumbuhan otak dari waktu ke waktu. Tapi hingga satu tahun terakhir, Dr. Lori meneliti, lumba-lumba adalah makhluk yang lebih ter-ensephalisasi dari pada manusia. Terdapat pergeseran yang signifikan pada diri lumba-lumba. Tubuh mereka semakin kecil, otak mereka semakin besar. “Apa yang coba kita cari tahu sekarang adalah apa yang terjadi waktu itu. Kami pikir ada hubungannya dengan perubahan ekologi perilaku mereka, yang berarti sesuatu yang berkaitan dengan hidup berkelompok mereka. Dan kita tahu bahwa salah satu hal yang mencirikan kebanyakan lumba-lumba dan ikan paus sekarang adalah fakta bahwa mereka sangat kompleks secara sosial.” Ujar Dr. Lori setelah ditanya oleh Supreme Master Tv. Hubungan individu terhadap kelompok menentukan kualitas otak. Semakin kompleks tingkat sosialnya, maka otaknya akan semakin besar dan semakin cerdas”1. (Majalah Jatayu Nusantara, Desember 2016, hal. 85).
Kepercayaan
bahwa hewan tidak berakal bisa dibilang salah. Lalu, apa yang menjadi pembeda
antara manusia dan hewan? Penjelasan asal-usul kejadian manusia yang saya
terima dari Pak Kyai Tanjung dalam kajian rutin dan beberapa pertemuan menjawab
pertanyaan itu.
Perbedaan yang
paling signifikan antara hewan dan manusia adalah pada ‘nurani’. Mata hati.
Manusia diciptakan di dunia dari yang sangat hina, min nutfatin, dari
setetes mani yang kemudian tumbuh besar dan membusungkan dadanya seraya
berkata, “Aku adalah yang terbaik, musnahkan yang berbeda denganku, aku yang
paling suci, ah kamu dasar miskin, aku harus berkuasa, aku harus lebih kaya, dan
lain-lain.”
“Telah
diciptakan dua rongga dalam dada manusia, jika nurani yang berfungsi maka
sanubarinya akan mati, dan sebaliknya. Nurani adalah mata hati yang berfungsi
melihat Diri Dzatullah, sedangkan tentara sanubari menjauhkan, menerpa, menutup
hati nurani untuk selalu ‘ingat’ akan Tuhannya.” Itu lah yang membedakan antara
hewan dan manusia. Sebuah penjelasan luar biasa dan dicoba diselami oleh
seluruh jamaah (Jatayu) saat kajian rutin oleh Pak Kyai Tanjung.
Secarik
penjelasan di atas masih lah sedikit dan cupet dari apa yang telah
dijelaskan oleh Pak Kyai Tanjung kepada Jatayu. Karena, apa yang saya
tulis di sini adalah sekadar apa yang saya mengerti saja. Ibarat laut dan bak
kamar mandi, saya hanya bisa menjelaskan air yang di dalam bak mandi saja,
sedangkan luasnya samudra, saya tidak
mengerti. “Manusia kan diciptakan Allah dari fitrah-Nya sendiri, dan suatu saat
setelah masa pakai jasad habis seharusnya dapat kembali lagi ke asal usulnya
lagi. Kalau saat di dunianya kotor, tidak mungkin akan kembali lagi, lhawong
fitrah Allah itu bersih dan suci, kok mau dikotori. Maka disebutlah neraka
atau mati tidak selamat.” Jelas Pak Kyai Tanjung.
Para pendiri
bangsa dan negara ini berusaha mengarahkan dinamika kehidupan berbangsa dan
bernegara dengan adanya ideologi Pancasila. Sayang, Pancasila masih belum dapat
terhayati dan diimplementasi secara masif. Kebanyakan, termasuk saya sendiri,
masih mengartikan Pancasila dengan dangkal.
Ada tiga
pertanyaan yang menarik setiap individu untuk mencoba berkontemplasi. “Untuk
apa kita hidup, mengapa kita hidup, dan kemana setelah hidup”.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bertaut dengan penjelasan asal-usul kejadian
manusia dan unsur-unsur kejadian manusia.
Manusia yang
mengerti ‘kemanusiaan’-nya memiliki probabilitas yang lebih tinggi terhadap
kehidupannya setelah masa pakai jasad habis. Jasad manusia terbentuk lalu ruh
dari Allah ditiupkan ke dalam diri manusia. Bergerak lah manusia. Tapi manusia
harus selalu ingat, sewaktu-waktu ruh dapat dicabut dari bungkus atau jasad.
Kemana ruh tersebut setelah di dunia?
Ada kalanya
manusia itu hidup, menjalani kehidupan di dunia dan ada saat manusia akan mati.
Menurut hemat saya, ini pula bagian dari penjelasan “tentang manusia”,
kemanusiaan.
Yang saya
terima dari penjelasan Pak Kyai Tanjung, “kehidupan setelah mati ini yang harus
kita ‘selami’. Karena, jika mati tidak selamat, sungguh mengerikan dan gegirisi.”
Mengerikannya ketidakselamatan setelah mati adalah hal yang paling ditakutkan
dan dihindari oleh Jatayu. Layaknya umat Nabi Muhammad dulu, manusia
yang terlahir di zamannya masing-masing harus juga mencari penunjuk jalan untuk
dapat mati selamat.
128. sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. At-Taubah:128).
Sila kedua, yang tersebutkan, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”
memiliki implikasi yang banyak dan luas untuk diartikan satu-satu. Kata “ke-manusia-an”
sendiri sudah sangat banyak imlikasinya, apalagi ditambah “yang adil dan
beradab”.
Syarat mengenali “ke-manusia-an”-nya setiap masing-masing individu
adalah mengenali utusan Tuhan, sebagai pemegang fungsi wakil Allah di muka
bumi. “Allah tidak ngejawantah, maka membuat utusan di muka bumi.
Pemahaman ini lah yang sulit untuk dapat dihayati.” Jujur, hati saya terasa
bergetar mendenganr penjelasan itu. Sungguh itu adalah refleksi diri saya
sendiri. Kenyataan bahwa saya masih di bawah dari kata ‘mampu’ menghayati dan
memahami bahwa Rasulullah adalah wakil Allah di muka bumi.
Manusia akan menjadi adil dengan seadil-adilnya jika manusia telah
mengenali hakikat fitrah dirinya sendiri. Karena menurut penjelasan Pak Kyai
Tanjung ̶ Guru seluruh Jatayu ̶ “Manusia
itu harus bisa mengadili diri sendiri, bukan orang lain. Adil dan beradab,
artinya seluruh manusia penghuni nusantara ini pandai mengadili diri sendiri.
Berpikirnya ke dalam, tidak keluar. Ini lah Adil. Tidak akan mungkin ada
perselisihan yang berlarut-larut, dengki, iri, amarah yang terpendam lama
bahkan menjadi dendam kesumat. Karena semua itu ter-cover dengan sifat pandai
mengadili diri sendiri.”
Manusia yang mengerti “ke-manusia-an”-nya akan merasa faqir di
dunia. Merasa tidak dapat apa-apa, dan merasa tidak bisa apa-apa. “Manusia yang
mengerti hal itu, pasti akan merasakan bahwa dirinya tidak akan dapat bergerak
kalau bukan Diri Dzatullah yang menggerakkan sendiri. Jadi bagaimana mau
mengklaim diri sendiri kalau dirinya saja dapat bergerak karena Tuhan. Pasti,
orang-orang demikian akan terus mengadili diri sendiri, namun bukan dalam
pengertian berkecil hati. Justru rendah hati, karena merasa tidak bisa apa-apa
kecuali karena Tuhan.” Begitu lah yang saya catat dalam buku kecilku.
Namun, sekali lagi, bagaimana dapat mengadili diri sendiri jika
kita (seluruh manusia di bumi) tidak dapat mengenali asal jladrenane manungsa
(ungkapan jawa; asal kejadian manusia). Petunjuk mengenai “ke-manusia-an” itu
adalah dari wakil-Nya langsung. Tidak akan dapat siapa pun menyentuhnya apalagi
menjelaskannya. Hal ini sangat berkaitan dengan kata setelah “adil”, yaitu “beradab”.
Adab yang saya terima sejak saya masih kecil adalah perihal
sopan-santun. Bagaimana sikap terhadap orangtua atau orang yang lebih tua.
Penempatan sikap itu lah yang sering tersebutkan dengan adab. Namun, ternyata, “adab”
memiliki kandungan dan nilai yang luar biasa. “Adab adalah konsekuensi logis
dari berimannya seseorang atas persaksiannya terhadap utusan Allah di muka
bumi. Tidak sekadar sopan-santun, sopan santun itu akhlakul karimah,
kalau adab yang penempatan ‘abid’ pada ‘ma’bud’ –nya. “Ketaatan
yang dikenali”.” Mendengar penjelasan ini saya hanya dapat menggaruk-garuk
kepala. Apa maksudnya?
“Begini Mas Arif, menurut menurut sampean, bagaimana analogi
yang tepat untuk refleksi istilah ‘adab’ ini?” Saya clingukan. Saya
tidak mengerti istilah ‘adab’ yang dimaksudkan Pak Kyai Tanjung, apalagi saya
harus menganalogikannya. Mengangkat barbel 2 kilogram saja saya keberatan,
apalagi harus mengangkat 10 kilogram. Jelas mual-mual.
“Mas Arif, banyak orang-orang di sekitar Nabi yang berbuat baik
kepada beliau, meskipun belum beriman. Mereka itu masih berakhlak yang baik,
belum wilayah ‘takdib’ atau ‘beradab’.”
“Lalu, istilah ‘beradab’ adalah untuk siapa dan bagaimana
konteknya?” Tanyaku kepada beliau.
“Sekali lagi, adab adalah konsekuensi logis akan iman seseorang. Jadi,
para sahabat Nabi yang beriman kepada Nabi lalu bekerja, berdunia, dengan niat
karena sekadar ‘menjalankan perintah’ Rasulullah itu pada wilayah adab. Pun
ketika menghadap Nabi Muhammad dengan memosisikan diri ‘penghambaan’. Begitu
kiranya adab.”
Hingga kini, sulit bagi saya sendiri untuk mengerti maksud beliau. “Kemanusiaan
yang adil dan beradab”, sebuah penjabaran yang tidak pernah saya terima
sebelumnya. Penjelasan masif sila ke-dua dalam Pancasila memang sangat
berkaitan dengan sila pertama. Mengenali Tuhan harus melalui wakilnya di muka
bumi, dengan begitu barulah setiap individu dapat mengadili diri sendiri,
menuding diri sendiri. Perilaku yang berdasar pada “kebersandaran” pada
utusan-Nya, menjadikan manusia beradab. Manusia yang senantiasa memosisikan
diri sebagai “domba” milik “Sang Penggembala”.
Imajinasiku liar. Membayangkan setiap manusia mengaplikasikan
sila-sila dalam Pancasila secara masif. Tidak mengartikannya secara dangkal.
Sebagai contoh, sila pertama dimaknai sekadar “pokoknya saya Islam, Kristen,
Hindu, Budha, dan lain-lain”. Sila kedua tidak hanya sekadar dimaknai adil
dalam pengertian membagi rata harta benda, menghukum sesuai porsi dosa, atau
adab dengan pengertian sekadar berbuat baik dan tidak mengganggu orang lain,
pasti bumi nusantara ini menjadi baldatun toyyibatun wa Rabbun Ghafur.



Sungguh luar biasa ulasan ini...Bapak kyai tanjung memang Guru yang laik menuntun manusia untuk mengenali jati dirinya.
BalasHapus