image1 image2 image3

HELLO I'M MUHAMMAD ARIF|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|WRITING 'N LEARNING IS MY PASSION|I'M PROFESSIONAL WRITER

Membunuh Perlahan Bukan dengan Sianida, Cukup Fitnah


Gambar ini, "terakhir kali aku tertawa lepas."


“Sejak kecil aku selalu menelan omongan fiktif tentang orangtuaku, diriku sendiri, dan orang-orang yang aku sayangi.”

Terlahir di dunia tidak ada yang dapat memilih. Memilih terlahir langsung kaya, miskin, atau dari kalangan priai atau apapun. Lahir itu random. Lahir itu bukan pilihan, tapi kemestian bagi manusia.

Sedangkan mati sedikit berbeda. Mati itu banyak, bisa mati rasa, mati pikirannya, mati hatinya, dan bahkan mati jiwanya sebelum mati jasadnya. Mungkin sekarang yang paling tepat untukku adalah mati jiwaku. Jiwaku mati.

Ku telan sudah omongan ratusan bahkan ribuan omongan fiktif sejak aku mulai dapat mengingat dunia. Aku hanya menuliskan memori, bukan opini.

Dulu, aku dapat merasakan aura sinis dan mencekam dari lingkunganku. Terlalu banyak orang yang membenci orangtuaku. Menyisihkannya dan sengaja hendak menyingkirkan mereka. Terasa. Aku bisa merasakannya.

Aura itu turut menyerang dan menyentuh palung hati. Di mana-mana aku merasa was-was, merasa tidak disayangi, dan merasa berbeda dari pada anak-anak yang lain. Pertanyaan klasik yang tak pernah sekalipun aku bicarakan pada orang lain, apalagi aku pertanyakan kepada kedua orangtuaku, “Mengapa begitu banyak yang memusuhi bapak dan ibu? Mengapa mereka (orang dewasa) membedakan aku dengan teman-temanku yang lain? Apakah ini ada kaitannya dengan ketidaksukaan mereka terhadap bapak dan ibu?”

Angin begitu saja melewati lubang telingaku, dengan bebas dan tanpa rasa empati. Gendang telingaku menangkap  bisikan tentang sindiran yang beresonansi, memantul-mantul hingga sekarang. Aku ingat semuanya. Aku trauma. Sejak itu aku takut, aku akan mengalami hal yang sama dengan orangtuaku. Sementara, hati, pikiran, kulit, dan jiwaku ini tiada sama dengan mereka.

Orangtuaku adalah pejuang yang hebat. Mereka adalah pahlawan dunia. Mereka rela demi apapun untuk tertegakkannya kebenaran. Menyingsingkan pikiran kuning dan merah. Demi cahaya yang putih. Aku, si bocah yang tak bisa apa-apa, bagaimana mungkin akan mampu menghadapi hal-hal yang mereka alami jika benar-beanr aku akan mengalaminya.

Nampaknya, doaku kurang tulus dan ikhlas. Sehingga, aku mengalami hal itu. Telah beredar cerita fiktif tentang diriku. Mulai dari yang positif hingga negatif. Positif atau negatif, sama-sama membuat kehancuran buat diriku. Lhawong datangnya saja dari prasangka, ya mesti nyengsarakne.

Sial, oh sial. Sial artinya mengharap biji yang kita tanam akan berbuah, tapi nyatanya tidak tumbuh. Memilukan. Cerita fiktif. Beredar cerita-cerita tidak benar yang disebar melalui mulut ke mulut tentang diriku. Bla bla bla.....! “Aih, kamu hanya alibi saja anak muda, kamu melakukan pembelaan yang tak perlu. Semacam mengindahkan bangkai yang sudah tergeremeti semut.”

Harus bagaimana lagi aku berbuat? Harus bagaimana lagi aku menepisnya? “Tidak perlu kamu tepis semua itu, kamu cukup diam dan buktikan kalau kamu bekerja dan melakukan sesuatu. Jangan balas hati dengan hati. Balas hati dengan kasih, cinta, dan sayang. Maka yang melempat hati kepadamu akan merasakan sayang dan kasih darimu. Itu saja sudah cukup.”

Aku menangis. Ini lah de ja vu. Trauma tepatnya. Aku butuh sentuhan Guruku yang paling aku sayangi dan cintai. Bapak Kyai Tanjung. Tidak ada lagi sosok yang paling aku kagumi dari pada beliau. Beliau adalah pelitaku, penerangku, dan yang “pasti menolongku” di masa-masa sulit seperti ini.

Ya Allah, tunjukkan aku jalan yang paling Engkau ridhai. Berikan dadaku dada yang lapang dan sabar serta pasrah menghadapi segala ujian dari-Mu. Sungguh, tak dapat ku samai langkah kaki Guru yang agung dan hebat itu. Aku hanya seperlima dari beliau. Aku hanya seperseratus dari beliau. Aku kerdil. Bahkan, hingga seratus tahun usiaku, tampaknya tak akan dapat ku samai jarak tempuh yang telah ditempuh Guruku. Oh Tuhan, ini adalah masalah besarku. Rahasia ini, ku curahkan untuk-Mu.

Semoga utusan-Mu senantiasa merengkuhku dari kubangan-kubangan tak tampak yang justru mampu memerosokkanku sangat jauh dan dalam. Kini, meskipun dengan malu aku berkata, “aku menyerah, aku tidak kuat menahannya.”

Terimakasih......


Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar