![]() |
| Gambar ini, "terakhir kali aku tertawa lepas." |
“Sejak kecil
aku selalu menelan omongan fiktif tentang orangtuaku, diriku sendiri, dan
orang-orang yang aku sayangi.”
Terlahir di
dunia tidak ada yang dapat memilih. Memilih terlahir langsung kaya, miskin,
atau dari kalangan priai atau apapun. Lahir itu random. Lahir itu bukan
pilihan, tapi kemestian bagi manusia.
Sedangkan mati
sedikit berbeda. Mati itu banyak, bisa mati rasa, mati pikirannya, mati
hatinya, dan bahkan mati jiwanya sebelum mati jasadnya. Mungkin sekarang yang
paling tepat untukku adalah mati jiwaku. Jiwaku mati.
Ku telan sudah
omongan ratusan bahkan ribuan omongan fiktif sejak aku mulai dapat mengingat
dunia. Aku hanya menuliskan memori, bukan opini.
Dulu, aku dapat
merasakan aura sinis dan mencekam dari lingkunganku. Terlalu banyak orang yang
membenci orangtuaku. Menyisihkannya dan sengaja hendak menyingkirkan mereka.
Terasa. Aku bisa merasakannya.
Aura itu turut
menyerang dan menyentuh palung hati. Di mana-mana aku merasa was-was, merasa
tidak disayangi, dan merasa berbeda dari pada anak-anak yang lain. Pertanyaan
klasik yang tak pernah sekalipun aku bicarakan pada orang lain, apalagi aku
pertanyakan kepada kedua orangtuaku, “Mengapa begitu banyak yang memusuhi bapak
dan ibu? Mengapa mereka (orang dewasa) membedakan aku dengan teman-temanku yang
lain? Apakah ini ada kaitannya dengan ketidaksukaan mereka terhadap bapak dan
ibu?”
Angin begitu
saja melewati lubang telingaku, dengan bebas dan tanpa rasa empati. Gendang
telingaku menangkap bisikan tentang
sindiran yang beresonansi, memantul-mantul hingga sekarang. Aku ingat semuanya.
Aku trauma. Sejak itu aku takut, aku akan mengalami hal yang sama dengan
orangtuaku. Sementara, hati, pikiran, kulit, dan jiwaku ini tiada sama dengan
mereka.
Orangtuaku
adalah pejuang yang hebat. Mereka adalah pahlawan dunia. Mereka rela demi
apapun untuk tertegakkannya kebenaran. Menyingsingkan pikiran kuning dan merah.
Demi cahaya yang putih. Aku, si bocah yang tak bisa apa-apa, bagaimana mungkin
akan mampu menghadapi hal-hal yang mereka alami jika benar-beanr aku akan
mengalaminya.
Nampaknya,
doaku kurang tulus dan ikhlas. Sehingga, aku mengalami hal itu. Telah beredar
cerita fiktif tentang diriku. Mulai dari yang positif hingga negatif. Positif
atau negatif, sama-sama membuat kehancuran buat diriku. Lhawong datangnya
saja dari prasangka, ya mesti nyengsarakne.
Sial, oh sial.
Sial artinya mengharap biji yang kita tanam akan berbuah, tapi nyatanya tidak
tumbuh. Memilukan. Cerita fiktif. Beredar cerita-cerita tidak benar yang
disebar melalui mulut ke mulut tentang diriku. Bla bla bla.....! “Aih,
kamu hanya alibi saja anak muda, kamu melakukan pembelaan yang tak perlu.
Semacam mengindahkan bangkai yang sudah tergeremeti semut.”
Harus bagaimana
lagi aku berbuat? Harus bagaimana lagi aku menepisnya? “Tidak perlu kamu tepis
semua itu, kamu cukup diam dan buktikan kalau kamu bekerja dan melakukan
sesuatu. Jangan balas hati dengan hati. Balas hati dengan kasih, cinta, dan
sayang. Maka yang melempat hati kepadamu akan merasakan sayang dan kasih
darimu. Itu saja sudah cukup.”
Aku menangis.
Ini lah de ja vu. Trauma tepatnya. Aku butuh sentuhan Guruku yang paling
aku sayangi dan cintai. Bapak Kyai Tanjung. Tidak ada lagi sosok yang paling
aku kagumi dari pada beliau. Beliau adalah pelitaku, penerangku, dan yang “pasti
menolongku” di masa-masa sulit seperti ini.
Ya Allah,
tunjukkan aku jalan yang paling Engkau ridhai. Berikan dadaku dada yang lapang
dan sabar serta pasrah menghadapi segala ujian dari-Mu. Sungguh, tak dapat ku
samai langkah kaki Guru yang agung dan hebat itu. Aku hanya seperlima dari
beliau. Aku hanya seperseratus dari beliau. Aku kerdil. Bahkan, hingga seratus
tahun usiaku, tampaknya tak akan dapat ku samai jarak tempuh yang telah
ditempuh Guruku. Oh Tuhan, ini adalah masalah besarku. Rahasia ini, ku curahkan
untuk-Mu.
Semoga
utusan-Mu senantiasa merengkuhku dari kubangan-kubangan tak tampak yang justru
mampu memerosokkanku sangat jauh dan dalam. Kini, meskipun dengan malu aku
berkata, “aku menyerah, aku tidak kuat menahannya.”
Terimakasih......


0 komentar:
Posting Komentar