| Manajemen Madin; Pak Fatah, Pak Hendry, Pak Irawan, Pak Imron, Pak Agus (urut dari kiri) |
“Perjuangan mereka bukan untuk kesejahteraan pribadi, tapi untuk kemaslahatan kami, para murid tunggal Guru.”
Kita hidup di dunia tidak lepas dari orang lain. Begitu pula aku. Tak terkira jumlah saudaraku yang terikat secara batin. Aku hari ini ingin bercerita satu hal. Bagiku, aku harus menceritakannya. Kalau tidak aku ceritakan, akan senantiasa terpikir dalam hari-hariku. Alay....!
Seperti yang telah aku ceritakan sebelumnya, Kemarin adalah pembukaan Madin Pemberdaya Subhanaka, sebuah program yang diusung bapak pimpinan Jatayu, Kyai Tanjung. Aku adalah salah satu peserta Madin. Aku mengikuti Madin murni dari hati, dengan niat dan insyaallah bertekad kuat. Demi menyelamatkan jiwaku yang tengah kering-kerontang ini.
Tapi, aku mengalami kebingungan yang seharusnya aku tidak bingung. Aku mengalami keragu-raguan dalam mengikuti Madin. Aku paham, ragu-ragu adalah kesalahan mutlak. Yang membuatku ragu adalah pikiranku sendiri. “Apakah aku mampu membagi waktuku yang sudah padat ini?”, “Apakah seharusnya aku tidak ikut?” Banyak pertanyaan yang terngiang-ngiang di kepalaku. “Apakah aku mengikuti Madin karena ikut-ikutan?”
Kemudian, aku memaksa diriku untuk berkomunikasi dengan para manajemen Madin. Pertama, aku komunikasi dengan Pak Ali Imron. Beliau adalah koordinator manajemen Madin. Aku terus terang saja kepada beliau. “Pak, sebenarnya program Madin ini diperuntukkan untuk siapa? Apakah untuk para pemuda yang masih 'senggang' atau untuk siapapun?” Tujuan saya bertanya ini adalah rasa khawatir, jika ternyata prioritas program ini ditujukan kepada “yang bukan seperti aku”. Daripada nanti saya sok-sok-an ikut tapi sebenarnya ada yang lebih membutuhkan tapi tidak dapat peluang karena kuota terbatas.
Beliau tidak menjawab. Semakin membuatku bingung mengambil langkah. Teringat Dhawuh Guru, “memulai itu sunah, tapi jika sudah ikut menjadi wajib.” Aku harus berhati-hati dan cermat dalam mengambil langkah. Tapi ternyata aku masih sangat bodoh dalam mengambil langkah. Masih bingung dan suka bimbang. Duuh Gusti, ampuni aku.....
Akhirnya aku memutuskan untuk ikut saja. Toh nanti aku tidak kuat, aku akan jujur mengatakan aku tidak mampu dan muncur saja. Luar biasanya hari ini, aku memutuskan untuk berhenti. Mengingat penjelasan Bapak Kyai Tanjung dalam pembukaan Madin kemarin malam, “kebanyakan dari kita latah dalam menyikapi suatu hal. Ada program A semua grudug ikut membahas A, ada program B semua langsung grudug ke program B, gimana mau gumelar jika pola pikirnya begini?” Aku masih ingat sekali kutipan itu.
Meskipun Bapak Kyai Tanjung tidak pernah membatasi siapa pun, pun manajemen tidak begitu. aku memutuskan untuk mundur saja. Karena ternyata niatanku mengikuti Madin agak bias. Entah bias di mana-nya, tapi jika aku merasakan keragu-raguan berarti kan ada sesuatu yang kurang pas. Maka aku segera bersikap untuk mundur. “Ikut atau tidak ikut Madin, tidak akan mengurangi kualitas jamaah kok, jadi tetap merenungi dulu, siap tidak mengikuti Madin ini.” Pungkas Bapak Pimpinan Jatayu kemarin malam.
| Bapak Kyai Tanjung saat pembukaan Madin kemarin malam (07/12) |
Aku bersyukur, saudara-saudaraku hadir menyelamatkanku dalam kebingunganku. Setelah aku share dengan Pak Imron, aku mencoba komunikasi dengan Pak Jarwo, Mas Wachid, dan Pak Supringgo. Meskipun beliau-beliau tidak memberiku jawaban to the point, tapi aku dapat menangkap maksud beliau semua. “Aku lah yang menentukan langkahnya, apa yang harus aku lakukan adalah PR-ku, beliau hanya memberi tanda-tandanya saja.” Begitu dalam batinku.
Beberapa hari telah menjadi teka-teki, tadi siang aku memaksa diriku untuk berani berkomunikasi dengan Mas Wachid, “mas, maaf mas, sepertinya aku tidak sanggup menghadapi konsekuensi yang akan aku hadapi jika mengikuti Madin, aku menyatakan mundur saja dari Madin.” SMS kulayangkan kepada Mas Wachid.
Beberapa menit kemudian, aku tidak kuat, aku langsung telpon beliau. Inti pembicaraannya adalah aku menyatakan mundur dan Mas Wachid memberi saran tidak apa-apa jika tidak mengikuti Madin. Karena Madin pada awalnya adalah untuk yang ‘senggang’. Yang bisa menakar kemampuan diri, membagi waktu, adalah diri masing-masing. Jangan ragu dan jangan bimbang, tetapkan apa langkah yang harus dilakukan. Maka aku putuskan aku mundur. Dalam benakku, keputusanku untuk mundur dari Madin juga akan menuai konsekuensi. Mau atau tidak mau, aku harus menyesuaikan diri terhadap lingkunganku dan senantiasa belajar apapun kepada siapa pun, dan kapan pun.
Aku berterima kasih kepada beliau-beliau, para manajemen Madin. Tulisan ini aku khususkan untuk menyatakan rasa terima kasihku kepada beliau semua yang telah banyak berjuang, berkorban demi kami ̶ para murid tunggal Guru yang lain. Jujur, beliau-beliau adalah manusia langka yang luar biasa. Dapat menyinkronkan hati, pemikiran, dan tindakan dalam satu jalan lurus dari Guru Wasithah. Bukan sekedar konsep, tapi beliau-beliau mampu menyatakannya. Aku sungguh terpaut jauh di belakang beliau-beliau. Tapi aku senang, justru itu aku tahu harus belajar kepada siapa untuk dapat maju berkembang.
| Biarpun sudah berumur, tapi semangat juang berperang melawan kebatilan tidak kalah dengan para anak muda |
Aku mungkin tidak tahu persis bagaimana perasaan beliau dalam berkorban selama ini. Tapi aku mungkin dapat merasakan. Bagaimana rasanya lelah, memikirkan sana-sini, ini-itu, bahkan sama sekali tidak sempat memikirkan kepentingan dan kesenangan diri sendiri. Semua untuk Guru Wasithah. Luar biasa! Aku yakin seratus persen, aku tidak akan mampu menjalani jalan seperti beliau-beliau. Aku mengagumi mereka, jujur saja.
Rasa cintaku terhadap Guru telah melebur menjadi rasa sayang kepada sesama saudaraku tunggal Guru. Aku senang melihat siapa pun berkembang pesat, tidak peduli latar belakang dan status sosial. Siapa pun yang berkorban luar biasa demi Guru, aku selalu kagum dan iri. Iri, mengapa aku tidak bisa berlaku seperti dirinya, menaklukkan nafsu untuk tekad berjuang kembali kepada Allah. Aku sungguh iri.
Wajah lelah, tubuh letih, hati penat, tidak menjadi penghalang para manajemen Madin. Justru beliau-beliau terlihat hebat. Beliau mungkin tidak tahu, selama ini aku bersemangat untuk belajar adalah karena aku ingin meniru beliau-beliau. Jujur. Kali ini, aku tidak dapat menahan rasaku ingin bercerita, karena aku rasa beliau-beliau pantas mendapat penghargaan. Bukan penghargaan berupa emas, uang, atau apa pun, tapi penghargaan berupa rasa kasih, sayang, simpati, empati, dan respek dari sesama saudaranya, termasuk aku.
Semua manajemen Madin dan semuanya yang terlibat, aku menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam. Karena berkat panjenengan, kami mendapat wadah untuk mengembangkan potensi diri kami, meskipun panjenengan hanya menjalankan perintah Guru. Mulai dari Pak Hendry, Pak Imron, Pak Irawan, Pak Agus K, Pak Wachid, Pak Jarwo, Pak Supringgo, dan semuanya yang tidak dapat aku sebutkan satu per satu. Sekali lagi, terima kasih banyak....!
Terima kasih kepada saudaraku semua yang telah berkorban apa pun demi Guru kita bersama. Bahagiaku melihat Guru-ku bangga terhadap para murid-murid Beliau. Bangga bukan karena materi tapi kesungguhan tekad yang terwujud dalam kepedulian operasional. Aku sungguh beruntung, rasa syukurku ini tidak akan mampu terbayarkan. Aku hanya bisa berdoa, semoga Allah senantiasa memberi pengampunan kepada Guru-ku ̶ ketemu berapa perkara memohonkan ampunan untuk Guru, lhawong Guru sudah 'sampai' ̶ Kedua orangtuaku, keluargaku semua, diriku sendiri serta saudara-saudaraku sekalian tunggal Guru, dan seluruh umat di bumi ini. Mohon Gustiku selalu melindungi kami dari segala gangguan, olokan, fitnahan bangsa manusia, jin, setan, dajal, iblis, dan semuanya yang mengganggu dan memusuhi.
Demikian lah hal yang ingin sekali aku sampaikan kepada semuanya sahabatku. Hari ini sangat spesial untukku. Pelajaran ke-manusiawi-an yang akan terus melekat dalam diriku. Selamat malam dan selamat bermujahadah malam jumat saudara sinorowedi-ku ̶ bagi yang menjalankan.
![]() |
| Majalah Nusantara Edisi Desember 2016 |
Jangan lupa dapatkan majalah yang bernilai dan menginspirasi, Majalah Nusantara edisi Desember 2016. Hubungi sekarang juga 081357368468; Customer Service Majalah Nusantara atau langsung mengunjungi jalan KH. Wachid Hasyim nomoe 304 Tanjunganom, Nganjuk, Pondok Modern Sumber Daya At-Taqwa (Pomosda). Majalah Nusantata, bernilai dan menginspirasi...!


Bagaimana menurut Anda?
BalasHapusYes
BalasHapus