![]() |
| Source Image: Nusantara Magazine |
“Sebuah kepedulian generasi kekinian merespon masa depan bangsa yang kian mengerucut pada kebiadaban”
Rintik hujan jatuh dari atas menerpa dahan, lalu tertahan atap rumah, mengalir ke tempat yang lebih rendah, lalu menetes ke bumi. Seolah menghibur bumi yang telah ribuan tahun menopang kehidupan makhluk yang hidup di atasnya.
Kehidupan memberi gerak air dari atas untuk memberi pesan kepada tanah, “tanah tidak sendiri, banyak saudara alam yang ikhlas bertugas dengan ihlas untuk para makhluk hidup yang berada di atas bumi-Nya.” Tampaknya, anginlah yang membawa isakan tanah yang sendu kepada awan, sehingga awan mengutus hujan untuk menghibur tanah. Kesemuanya dengan ikhlas, rela “dianiaya” oleh makhluk hidup yang di bumi untuk sekedar “menjalani kehidupan” yang serba terbatas ini.
Kehidupan memberi gerak air dari atas untuk memberi pesan kepada tanah, “tanah tidak sendiri, banyak saudara alam yang ikhlas bertugas dengan ihlas untuk para makhluk hidup yang berada di atas bumi-Nya.” Tampaknya, anginlah yang membawa isakan tanah yang sendu kepada awan, sehingga awan mengutus hujan untuk menghibur tanah. Kesemuanya dengan ikhlas, rela “dianiaya” oleh makhluk hidup yang di bumi untuk sekedar “menjalani kehidupan” yang serba terbatas ini.
“Suatu saat, para makhluk hidup yang senantiasa membuat kerusakan akan mengerti akibatnya kala kita tidak dapat berbuat apa-apa lagi, toh kami hanya menjalankan perintah Tuhan kami.” Ujar angin, air, tanah, api, dan kesemua keluarga alam.
***
Beribu tahun lamanya, manusia telah mendambakan kehidupan yang tata titi tenteram karta raharjo dan penuh dengan ampunan Allah. Tapi, semakin kesini, bukan justru semakin membaik, malah moral manusia semakin hancur.
Indonesia, yang menjunjung persatuan, keadilan, kemaslahatan, kebersamaan, gotongroyong, seolah hanyalah wacana dan mimpi belaka. Semua kata tersebut tidak pernah kunjung terwujud dan terasa entitasnya. Alih-alih demikian, justru demonstrasi besar-besaran, anarkisme, rasisme lah yang mencuat ke permukaan.
Tapi semuanya adalah normal sekali, lantaran proses pendidikan yang dijalani manusia-manusia yang ada di negeri Indonesia. Seperti buah yang tergantung oleh ranting, kemudian setelah ranting tersebut tidak mampu menopangnya lagi, pasti energi potensial akan berubah menjadi kinestetik, artinya buah apel tidak mungkin jatuh ke atas, karena ada gravitasi. Jelas dapat diprediksi kemana arah apel itu akan pergi dari rantingnya.
Penemuan gaya gravitasi oleh Isaac Newton menandakan, di dunia tidak lepas oleh sebab dan akibat. Tidak ada ceritanya manusia malas menjadi berhasil ̶ bukan uang, tapi tingkat sosialnya, kesejahteraan hidupnya, keharmonisan keluarganya, dan kedamaian hatinya. Begitulah hukum kehidupan sebab-akibat yang tidak pernah luput dari dunia ini.
Dalam ilmu Fisika ̶ disiplin pengetahuan tentang gejala kehidupan ̶ ada yang namanya usaha. Dirumuskan, besarnya usaha dipengaruhi oleh gaya dan jarak. Artinya, konsekuensi logis adanya sebuah gaya yang menimbulkan pergeseran posisi seseorang. Jika gaya yang dilakukan adalah terpaut jauh negatif dan telah berdampak pada pergeseran posisi ̶ batin, psikologi, dll ̶ seseorang, maka usahanya adalah negatif, percuma hidupnya. Sekali lagi, konsekuensi adalah menempel dengan gaya yang dilakukan.
Indonesia, yang menjunjung persatuan, keadilan, kemaslahatan, kebersamaan, gotongroyong, seolah hanyalah wacana dan mimpi belaka. Semua kata tersebut tidak pernah kunjung terwujud dan terasa entitasnya. Alih-alih demikian, justru demonstrasi besar-besaran, anarkisme, rasisme lah yang mencuat ke permukaan.
Tapi semuanya adalah normal sekali, lantaran proses pendidikan yang dijalani manusia-manusia yang ada di negeri Indonesia. Seperti buah yang tergantung oleh ranting, kemudian setelah ranting tersebut tidak mampu menopangnya lagi, pasti energi potensial akan berubah menjadi kinestetik, artinya buah apel tidak mungkin jatuh ke atas, karena ada gravitasi. Jelas dapat diprediksi kemana arah apel itu akan pergi dari rantingnya.
Penemuan gaya gravitasi oleh Isaac Newton menandakan, di dunia tidak lepas oleh sebab dan akibat. Tidak ada ceritanya manusia malas menjadi berhasil ̶ bukan uang, tapi tingkat sosialnya, kesejahteraan hidupnya, keharmonisan keluarganya, dan kedamaian hatinya. Begitulah hukum kehidupan sebab-akibat yang tidak pernah luput dari dunia ini.
Dalam ilmu Fisika ̶ disiplin pengetahuan tentang gejala kehidupan ̶ ada yang namanya usaha. Dirumuskan, besarnya usaha dipengaruhi oleh gaya dan jarak. Artinya, konsekuensi logis adanya sebuah gaya yang menimbulkan pergeseran posisi seseorang. Jika gaya yang dilakukan adalah terpaut jauh negatif dan telah berdampak pada pergeseran posisi ̶ batin, psikologi, dll ̶ seseorang, maka usahanya adalah negatif, percuma hidupnya. Sekali lagi, konsekuensi adalah menempel dengan gaya yang dilakukan.
Setiap hari kita disuguhkan ‘ayat-ayat-Nya’ bahwa pendidikan kita tidak berhasil dalam mencetak manusia. Tidak perlu berbelit dan data berupa angka yang valid. Data atau bukti dapat kita temukan melalui pendekatan ‘kecermatan’, bohong jika masih kekeh bahwa pendidikan kita telah berhasil mencetak generasi mandiri, beriman, dan bertakwa. Boro-boro, hedonisme pasti!
Banyak sudah kenyataan pahit yang ada di depan mata kita. Mulai dari angka pengangguran sarjana yang mencapai angka 7 juta jiwa, kasus kekerasan, pelecehan, korupsi, penipuan, dan tindakan amoral yang dilakukan para pemuda dan pemudi Indonesia. Ingat, sebuah proses berujung pada akibat. Ada gejala, ada pemicunya.
Berikut adalah beberapa hal yang tersistem di pendidikan formal kita, tapi menimbulkan dampak buruk. Kita mulai berpikir secara cermat dengan tanda-tanda yang ada dan tersuguhkan dengan nyata di depan mata kita setiap hari;
1. Pekerjaan Rumah / Tugas Sekolah.
Saya katakan berharap manusia akan terdidik dengan adanya pekerjaan rumah atau yang disebut dengan PR adalah sebuah omong kosong. Mengapa demikian? Bukankah niat, tujuan menentukan hasil. Apa dasar adanya sebuah PR? Yang jelas keraguan terhadap anak, atau secara tidak langsung dalam benak,”tidak akan memberi ampun kepada anak-anak untuk leluasa bermain”, “enak saja anak-anak main, harusnya kan mengerjakan PR, saya dulu diajari begitu kok!” Bukan kah sekolah seperti alat “kerja rodi” baru?
Prinsipnya, sekolah memberi PR supaya anak-anak tidak menganggur dan senantiasa belajar. Tapi tahukah, bahwa belajar bukanlah seluas daun kelor, luas sekali hakikatnya. Apakah guru dapat memastikan bahwa PR “benar-benar” menentukan masa depan anak? Atau justru menghambat pembentukan kemandiriannya? Selama ini, pihak sekolah atau pendidik “terlalu skeptis” terhadap anak-anak. Memberi tugas sekolah hanya karena sepele, “daripada mereka gak belajar mending mengerjakan PR, kan?” Itu namanya meragukan seseorang. “Ragu kok dibangun di pendidikan?”
PR hanya akan membentuk jiwa yang bergantung dan malas. Terasa tidak, seolah-olah bagi siswa, tidak ada PR adalah kemerdekaan sejati, bebas sekali. Mengapa demikian? Karena di sekolah PR dan tugas lah makanan sehari-hari mereka. Sama seperti bangsa tempo dulu yang terjajah oleh otoritas, ketika dibebaskan, akan euforia sekali pelampiasannya. Contoh ekstrem, setelah UN, pada pesta bikini, mabok, dan berzina masal. Siapa yang salah?
Bangsa ini mengeluhkan banyaknya pengangguran dan jiwa pemuda yang malas, jangan salahkan akibat, tapi mengapa musababnya tidak diretas? Sebabnya, karena TUGAS DAN PR! Pemuda Indonesia bingung melakukan sesuatu yang kreatif dan bernilai karena hidupnya sejak kecil selalu mengalir apa adanya, tunduk terhadap sebuah otoritas. Sarjana menganggur karena mereka tidak tahu apa yang harusnya dilakukan selepas kuliah, terlebih jika tidak ada perusahaan yang mau menerimanya.Terjadi fatal karena PR dan TUGAS SEKOLAH!
2. Ujian
| Ujian formal, membebani peserta didik |
Kompetensi dasar para pelajar diukur dari ujian kognitifnya. Otak manusia ditimbang berdasarkan berapa banyak jawaban benar dan salah pada lembar jawaban tertulis atau pun lisan. Menggedor daya ingat dan sisi kognisi semata, tetap dalam aplikasi, implementasi berdasarkan kontekstual masih gagap bahkan latah. Ini bukan skeptis, tapi fakta. Penulis sendiri kesulitan membongkat paradigmanya sendiri, karena sudah terpatri, tumbuh-kembang menjadi dogma penulis dalam pembelajaran. “Ujian adalah cerminan masa depan bangsa. Terlihat dari sistem yang ada, Ujian Nasional adalah bukti kuatnya.” Tapi, apakah UN selama ini telah mampu merubah keadaan atau paradigma bangsa? Kalau iya, buktikan...!
Justru ujian adalah penyebab bangsa, penduduk Indonesia, lupa dengan kehidupan nyata. Bagi siswa, UN adalah ujian sesungguhnya yang menentukan masa depan seseorang. Padahal, kehidupan itu sangat luas sekali, tidak sesempit daun kelor yang terlipat.
Secara tidak sadar, ujian juga memberi pesan kepada peserta didik tentang ‘kompetisi’. Masyarakat Indonesia berparadigma “kompetisi” yang sangat kuat dan kental sekali. Sehingga kerjasama, komunikasi, kejujuran mengakui kelebihan orang lain, dan ego sangat minim. Kemandirian pun dimaknai bias. Dikira mandiri adalah tidak membutuhkan orang lain sama sekali, “mandiri adalah kemampuan dalam bersikap dan berkomunikasi.” Kutipan dari Bapak Kyai Tanjung saat pembukaan Madin Pemberdaya Subhanaka.
3. Penilaian diukur dengan angka-angka.
Indikator pembelajaran identik dengan angka-angka. Otak siswa tidak luput dari yang namanya angka, KKM, terbaik, nilai merah, remidi, dan lainnya. Penilaian dalam sekolah formal adalah sebatas kognisi, bukan rasional.
Angka-angka dalam rapor menjadikan orientasi hidup peserta didik bias. Peserta didik mengejar angka-angka dalam pembelajaran yang dilaluinya. Mengira angka terbaik menjamin kebahagiaan di kemudian hari. Sungguh ironi. Tidak heran jika negara ini banyak koruptor, pemain bisnis, calo, dan lain-lain.
Selain itu, angka-angka dalam rapor juga membuat kompetisi dalam pendidikan. Peringkat atau rangking sungguh membunuh mental peserta didik. Sama sekali tidak mencerminkan hakikat pendidikan itu sendiri. “Tarbiyah dari kata Rab, pendidikan diartikan sistem bertuhan. Sebuah proses yang dijalani setiap manusia untuk mengenali Anfus-nya sendiri-sendiri. Sehingga perilakunya tidak dalam keragu-raguan.” Sekilas mengenai pendidikan dari Bapak Kyai Tanjung.
| Langsung praktik, mahasiswa STT Pomosda melakukan promosi produk Pomosda di STIKES Bhakti Husada Nganjuk |
Kesalahan orientasi yang disebabkan oleh angka-angka berujung fatal. Akhirnya yang dikejar dalam hidupnya adalah kemuliaan-kemuliaan duniawi semata. Tertipu, padahal sesungguhnya hidup itu untuk apa? Mengharapkan ketenaran kah? Mengejar uang kah? Nafsu syahwat kah? Kedudukan kah? Pertanyaah-pertanyaan yang memaksa kita untuk berkontemplasi lebih dalam. Renungan maut.
Banyak fakta yang telah tersaji di depan mata kita semua berkaitan dengan pendidikan negeri ini. Tapi terkadang kita tidak mau mengakui dan menyadari kesalahan yang kita dapat. Klaim diri kita dalam keadaan sudah benar selalu menutup kita untuk maju. Sekarang saatnya, mari kita perbaiki mindset kita semua untuk kebangkitan nusantara raya.
Dalam pembukaan Madin Pemberdaya Subhanaka, Bapak Kyai Tanjung menyampaikan negara ini harus merubah mindset yang selama ini bias. Menganggap duniawi dan akhirat adalah dua hal yang terpisah (sekuler-materialistik). Sehingga, kesuksesan duniawi identik dengan ‘bukan agama’. Dan sebaliknya, agama dimaknai sempit ̶ sekedar mengaji, shalat, tahlil, dan sebagainya. Sekarang sudah saatnya kita semua melangkah untuk perbaikan. Bukan hanya demonstrasi saja. Melakukan langkah nyata untuk memperbaiki, bukan sekedar koar-koar. Nusantara membutuhkan kader muda-mudi yang siap melakukan kepedulian operasional secara nyata, bukan sekedar konsep belaka. Salam Nusantara Bangkit!
Kita harus melakukan langkah-langkah perbaikan;
1. Tidak ada PR atau tugas rumah.
| Rionaldi (pengusaha Bojonegoro) sedang sharing tentang kegiatan entrepreneurship |
Membiarkan anak-anak atau peserta didik bebas melakukan apapun di rumah guna meningkatkan komunikasi dan pengalaman. Memberi tugas hanya akan menyita waktu mereka. Atau memberi tugas yang relevan dengan kontekstual yang ada di peserta didik.
Dalam program Madin Pemberdaya Subhanaka yang diusung Bapak Kyai Tanjung, peserta didik diajarkan menulis catatan harian saja. Menulis apa yang telah dilaluinya, pemikirannya, atau temuannya dalam setiap hari dalam seminggu. Otomatis peserta didik akan berpikir dan akan terpancing untuk melakukan kegiatan. Kegiatan itu pun sesuai dengan minat, bakat, potensi, serta kearifan lokal masing-masing.
Peserta didik juga tidak akan terdikte. Memunculkan jiwa mandiri dari melatih kemampuan diri bersikap dan memosisikan diri. Apa yang bisa dilakukan oleh saya?
2. Jangan ada penilaian angka-angka.
Penilaian akan membuat kompetisi dalam sekolah formal. Penilaian akan membiaskan orientasi. Membuat indikator pembelajaran berdasarkan kehidupan real, atau dapat dicek di log book-nya masing-masing. Perkembangan diri dicek juga dari catatan harian masing-masing. Bukan penilaian orang lain.
Kita semua mengerti, penilaian angka-angka telah membuat manusia pamrih dan tidak ikhlas dalam menjalani segala sesuatunya. Terlebih, jika nilai jelek, akan ada yang merasa terdiskriminasi, merasa bodoh, menganggap masa depannya tidak cerah karena kognisinya buruk, bahkan ada yang sampai putus asa.
Ujian dan tes adalah kehidupan sendiri-sendiri. Mendapatkan nilai baik di sekolah formal, tidak menjamin seseorang dalam keselamatan. Malah, kehormatan, penghargaan, dan pujian dapat menjadi penghalang seseorang dalam berpulang kepada Tuhannya.
3. Mendekatkan alam kepada peserta didik.
| Santri Pomosda dalam kegiatan memakmurkan bumi Allah |
Alam adalah guru yang sangat luar biasa. Guru kita adalah kehidupan kita sendiri. Semakin baik membaca gejala atau tanda-tanda kehidupan, maka seseorang itu dekat dengan ‘kesuksesan’. Dewasa ini, alam justru diperkosa habis-habisan, reklamasi dilakukan terus-menerus untuk apartemen-apartemen.
Sekolah formal saat ini mendidik kita menjadi mata duitan. Sejak kecil, kita dijejali cita-cita kita yang tinggi. Ada yang ingin jadi guru, dosen, pilot, dokter, dan lain-lain. Mengharap kemuliaan hidup di kemudian hari; punya uang, istri, anak, dan lannya. Itulah yang menjauhkan kita dari alam, bahkan acuh-tak acuh terhadap alam .Menjernihkan berpikir, memurnikan berpikir, meluruskan orientasi hidup melalui alam. Intinya, Dhawuh Rasulullah berkaitan dengan memakmurkan bumi Allah.
Indonesia adalah negara dengan kekayaan alam yang melimpah, ironi sekali jika ternyata Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi, sosial, politik, pemudanya, dan lain-lainya,
![]() |
| Majalah Nusantara edisi Desember 2016 |
Dapatkan ulasan lebih lengkap di majalah Nusantara, hubungi 081457468368 sekarang juga, tunggu apa lagi? Atau ke kantor kami di jalan wachid hasyim nomor 304 Tanjunganom, Nganjuk, Pomosda.



0 komentar:
Posting Komentar