image1 image2 image3

HELLO I'M MUHAMMAD ARIF|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|WRITING 'N LEARNING IS MY PASSION|I'M PROFESSIONAL WRITER

Solusi Pendidikan Nusantara, Madin Pemberdaya Subhanaka

Bapak Kyai Tanjung, Guruku

“lagi dan lagi, Jatayu beraksi secara nyata memberi solusi untuk negeri yang tengah terpuruk.”


    Pagi yang cerah tiba-tiba hujan deras. Allah memberi anugerah bagi manusia yang berjalan di atas permukaan bumi. Bagiku, hujan tadi adalah pertanda sebuah kemurnian. Layaknya air yang membasuh tangan dan muka yang penuh debu ketika berwudhu. Air membasuh hal-hal kotor menjadi bersih dan suci. Mungkin, hujan tadi pagi peruntukkannya adalah menyucikan tanah dari kaki-kaki manusia yang mengotorinya.

    Hari ini, Rabu, 07 Desember 2016, pembukaan Madin Pemberdaya Subhanaka. Sebuah program pendidikan oleh Bapak Kyai Tanjung untuk melahirkan kader nusantara yang siap memimpin dan dipimpin. Utamanya mampu ‘mengendalikan diri sendiri’. Berdasar atas keprihatinan yang luar biasa dari beliau terhadap keadaan kekinian publik, muncul lah program Madin.

    Tidak sama dengan sekolah formal yang mengacu pada kurikulum nasional, Madin berkurikulum teori, konstekstual, aplikatif. Perbedaannya sungguh sangat signifikan. Mengedepankan musyawarah, sharing, dan, berbagi, Madin akan menjadi solusi untuk negeri.
Survival kebencanaan, salah satu materi Madin Pemberdaya Subhanaka

    Tatap muka dengan pengampu hanyalah satu hari dua malam. Hari Rabu malam dan full day Kamis. Adapula konten materi adalah hal-hal yang dibutuhkan sesuai dengan keadaan bangsa saat ini. Sehingga kontekstual dan sangat aplikatif. Tidak ada penilaian. Peserta Madin diharuskan membuat portofolio atau catatan mengenai diri sendiri saat praktik di lapang. Sangat berbeda dari sekolah formal. Jika sekolah formal, penilaian adalah sebagai indikator peserta didik dalam menjalani pembelajaran konsep di kelas semata. Kehidupan adalah pembelajaran itu sendiri, pendidikan adalah tentang sistem bertuhan, ummatan wasathan, rubbubiyah illahiyah. Bukan untuk mendapatkan uang atau menggapai material.

    Aku sangat berharap dengan adanya Madin ini lahir kader-kader muda Nusantara yang akan merubah keadaan bangsa, bahkan mampu mengangkat dari keterpurukan. Selama lima bulan ke depan, peserta Madin akan dididik di wangkong Guru (Tanjung) hingga ‘mampu’ dan ‘cukup’. Setelahnya akan menjadi ‘ragi’ bagi masyarakat seantero Nusantara.

    Madin Pemberdaya Subhanaka, sebuah wadah untuk membangun nuansa ke-illahiyahan yang robbaniyin, bertuju pada Guru Wasithah, inti daripada agama itu sendiri. Pesertanya adalah para kaum muda-mudi di bawah usia 35 tahun atau yang berjiwa muda. “Sebagai pernyataan ikrar berperang melawan kebathilan, membangun kekompakan, guyub rukun, menata niat, tekad, dan tujuan hidup adalah wujud dari jihadunnafsi. Bukan berperang, membunuh, bahkan merusak sana-sini, jihadunnafsi justru berarti berperang melawan hawa nafsunya sendiri.” Sebuah kutipan dari Bapak Kyai Tanjung di Youtube, dengan kata kunci Kyai Tanjung.


Salah satu kegiatan di Madin, memakmurkan Bumi Allah

     Aku memberanikan diri dan memutuskan untuk mendaftar menjadi peserta Madin. Entah mengapa, hatiku deg-deg-an dan bergetar rasanya, seolah-olah berperang. Mengetahui hari ini adalah pembukaan Madin, hatiku seperti ada yang hilang, atau akan kehilangan sesuatu. Tapi apa? Entahlah, aku juga tidak tahu. Apakah ini hanya perasaanku saja, aku juga tidak tahu.

     Ah iya! Yang membuatku merasa gemetaran adalah melihat keadaan alam yang semakin mengerikan, bencana terjadi di mana-mana. Terakhir, gempa bumi di Aceh pagi tadi. “Apakah sekarang saatnya? Sudah waktunya diwujudkan jaal haq wa zahaqal bathil? Jangan-jangan aku termasuk yang batal dan akan ditenggelamkan oleh Allah? Itu lah yang membuat hatiku gemetaran dan seperti akan ada yang hilang dari diriku.

     Yaa Rasulullah, senantiasa lah melindungi aku, dari segala nafsu ragawi dan dari luar diri. Kuatkan murid-Mu ini untuk selalu dapat berpegang kepada-Mu. Berikan istiqomah dan tumakninah-nya hatiku supaya dapat senantiasa mengingati Diri Dzatullah dan bersandar kepada-Mu Yaa Rasulullah.

     Begitulah sahabatku sekalian, tak terkira jumlah dosaku di dunia dari mulai aku lahir hingga kini. Tak tahu pula bagaimana cara mengubah dosa-dosaku menjadi kebaikan. Tidak mungkin kah? Aku hanya butuh tempat berpegang dan bergantung, Guruku. Guruku lah yang mampu mengeluarkan aku dari jurang duniawi yang serba menipu dan menggiurkan. Semoga Engkau keluarkan hamba-Mu ini dari keterpurukan melalui Madin Pemberdaya Subhanaka, supaya aku benar-benar mampu ber-subhanaka sungguhan. Aku akan menyatakan diri untuk ikut berperang dan membangun perahu bersama Guruku, Bapak Kyai Tanjung.










Majalah Nusantara edisi 03, Desember 2016



Selengkapnya akan dibahas di majalah Nusantara edisi mendatang. Eits! udah dapat yang edisi Desember belum? Dapatkan sekarang juga dengan menghubungi 081357468358; Customer Service atau langsung berkunjung ke jalan wachid hasyim nomor 304 Tanjunganom, Nganjuk, Pondok Modern Sumber Daya At-Taqwa (Pomosda).

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar