image1 image2 image3

HELLO I'M MUHAMMAD ARIF|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|WRITING 'N LEARNING IS MY PASSION|I'M PROFESSIONAL WRITER

Keadaan Bangsa Saat Ini, Refleksi Pendidikan Dasar

 

   "Suatu negara tanpa pengampunan Allah, tinggal menunggu saja kehancurannya.” Sebuah kutipan dari kajian Bapak Kyai Tanjung."

Hasan (adik penulis) bebas berkreasi tanpa ada pagar apapun dalam proses pembelajarannya.
 
   Prefrontal cortex adalah bagian otak yang berfungsi mengendalikan gerakan-gerakan, juga pengambilan keputusan. Prefrontal cortex berkembang pada manusia berusia sekitar 7-12 tahun. Usia anak-anak yang bersekolah dasar. Semakin baik membentuk prefrontal cortex akan semakin baik pula masa depan anak ditimbang dari sisi kemampuan kinestetik, psikomotorik, dan afeksinya.

   Sayang, pendidikan sekolah dasar di negeri ini masih belum mendukung perkembangan otak anak secara maksimal. Justru banyak anak-anak yang merasa tertekan dalam menjalani pendidikannya. Monika Joy Reverger, psikiater, mengungkap beberapa fakta; 4 dari 100 atau sebanyak 4% anak-anak usia dini memiliki gejala-gejala depresi. 10 dari 100 atau 10% anak-anak dengan usia di antara 6 – 12 tahun mengalami perasaan sedih yang berkepanjangan, ini dapat berlangsung selama beberapa minggu hingga hitungan bulan. Sementara 2 dari 100 atau 2% anak-anak mengalami depresi serius. Angka-angka tersebut meningkat seiring bertambah usia, artinya sekitar 5 dari 100 (5%) anak remaja di atas 12 tahun mengalami gangguan depresi berat yang berlangsung hingga beberapa minggu, dan bahkan bulan. (sumber: http://www.readersdigest.co.id/info-medis/memahami+gejala+depresi+pada+anak).

   Banyak faktor yang menyebabkan anak-anak depresi; Pemberian tugas sekolah di rumah, ujian, pengajar yang tidak menyenangkan, pelajaran yang terlalu sulit, dan lainnya. Anak-anak merasa takut jika tidak dapat mengerjakan pekerjaan sekolahnya di rumah, sementara anak-anak sekarang banyak yang tidak mendapat perhatian dari orangtuanya. Terlebih, materi untuk anak-anak sekolah dasar sudah melampaui batas, terlalu sulit untuk usia dini. Percikan depresi kemudian disulut oleh ujian formal yang ditampilkan berdasarkan peringkat atau rangking. Nilai buruk berarti peringkat paling bawah, peringkat paling bawah berarti bodoh, orang bodoh atau tidak pintar di sekolah berarti masa depannya suram. Begitulah paradigma lawas yang sudah terpatri.

   Bukan saatnya lagi pendidikan dasar kita berfokus pada kognisi semata. Kita harus memperhatikan perkembangan kemandirian, interaksi sosial, kreatifitas, dan kepeduliannya. Pendidikan kita tidak menciptakan robot-robot, bukan?

   Indikator keberhasilan pembelajaran yang dimunculkan dalam bentuk angka-angka seyogiannya diihapus. Kekakuan pemberian teori di kelas harus mulai dipudarkan. Rasanya tidak rasional apabila perkembangan anak diwujudkan dalam bentuk angka yang hasil observasi subjektif dari sudut pandang sempit. Tidak merepresentasikan proses yang dijalani anak. “Setiap anak adalah cerdas”, ungkap Albert Einstein. “Jika kita menilai kecerdasan seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, selamanya ikan tersebut akan merasa bodoh dan putus asa.” Sebuah kutipan dari Albert Einstein yang menggertak hati.

   Anak-anak usia dasar merupakan momentum yang tepat untuk pembentukan karakter, jangan buat mereka terkekang dengan formalitas. Pemberian pekerjaan rumah (PR), secara perlahan dapat mematikan kreatifitas anak. Mereka akan terbiasa terdikte, bergerak karena perintah. Takut salah, karena jika ia mendapat nilai buruk akan mendapat bully dari teman sekolahnya, marah dari gurunya, terlebih orangtuanya di rumah. Mau tidak mau mereka hanya akan mengikuti arus formalitas. Mereka tidak akan mampu berbuat apapun, wajar, masih SD. Jika mereka berani tampil berbeda, mereka akan dipandang menyimpang. Cara pandang masyarakat Indonesia dengan perbedaan masihlah tabu dan menganggap ‘berbeda’ adalah penyimpangan. Dari sudut pandang manapun, formalitas sekolah dasar telah mencuri masa kanak-kanak mereka.

   Efek jangka panjang dari pendidikan sekolah dasar yang terjebak dengan formalitas-formalitas yang (mungkin) menjenuhkan, adalah mirisnya perekonomian Indonesia. Penduduk Indonesia tahun 2016, 256,511,495 juta jiwa, jumlah tenaga kerjanya adalah 127,8 juta jiwa, sedangkan yang menganggur adalah sekitar 7 juta jiwa, artinya dari jumlah tenaga kerja yang ada, hanya 120,8 juta yang produktif. Selain angka pengangguran yang tinggi, angka wirausaha negeri ini adalah (hanya) 1,65 persen dari total penduduk ̶ persentase tersebut jauh tertinggal dibandingkan Singapura, Malaysia, atau Thailand, yang masing-masing memiliki persentase pengusaha sebanyak 7 persen, 5 persen dan 3 persen.

   Jalan keluarnya adalah membiarkan anak-anak menyatu kembali dengan alam. Belajar dengan alam membuat anak-anak belajar peduli terhadap lingkungan dan mengetahui potensi alam sekitar yang dimiliki (kearifan lokal). Biarkan mereka mengeksplorasi yang sesuai dengan potensi dirinya. Guru memosisikan sebagai teman atau pendamping belajar mereka dalam pengambilan hikmah suatu kejadian yang mereka alami. Hilangkan PR, ujian, dan jangan ukur kecerdasan anak-anak berdasarkan nilai-nilai semata. Ujian sesungguhnya adalah kehidupan mereka masing-masing, bagaimana dapat berinteraksi dengan baik kepada orang lain, menciptakan ide kreatif dari potensi alam atau alamiah yang mereka miliki, memupuk kepedulian terhadap sesama, saling menolong saat ada teman yang mengalami kesusahan, dan lainnya. Nilai, ujian, ijazah, PR, membuat pendidikan seolah-olah sempit sekali. Padahal, sekolah adalah kehidupan masing-masing.

   Pendidikan usia dasar, sebagai pijakan utama anak-anak membentuk diri seharusnya menjadi perhatian khusus. Tidak main-main. Betapa krusialnya usia-usia mereka. Keadaan bangsa nanti, ditentukan oleh mereka. Nusantara, Indonesia yang maju diukur berdasarkan keadaan akhlak dan adab anak-anaknya, remajanya, orang-orang dewasanya, pejabatnya, dan seluruh rakyatnya.

  “Kita harus melakukan kontemplasi terhadap pengertian negara maju. Jika negara maju diukur berdasarkan kemajuan teknologi, kekayaan harta, kuantitas sarjana, atau hanya dilihat dari sisi lahirnya saja, negara Indonesia tidak akan dapat menjadi “negara benar-urus”. Selamanya akan begini saja. Kita menganggap negara maju identik dengan Jepang, Amerika, Rusia, dan Inggris. Benar jika dipandang dari sudut pandang lahir. Tapi bagaimana dengan akhlak dan adabnya? Suatu negara tanpa pengampunan Allah, tinggal menunggu saja kehancurannya.” Sebuah kutipan dari kajian Bapak Kyai Tanjung. Bukan saya tidak mendukung apa yang ditetapkan pemerintah saat ini, saya hanya skeptis terhadap produk pendidikan sekolah formal khususnya sekolah dasar jika tidak ada evaluasi dan perbaikan. 
 
Oleh: Muhammad Arif Asy-Syathori  

Terpublikasi di majalah Nusantara edisi Desember 2016,
Untuk mendapatkan majalah Nnusantara, hubungi 081357468368; Customer Service, atau langsung ke kantor kami; jalan wachid hasyim nomor 304 Tanjunganom, Nganjuk, Pomosda.
Majalah Nusantara, Bernilai dan Menginspirasi..!
 
Majalah Nusantara Edisi Desember 2016
 











Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar