“Ternyata, Allah menciptakan ‘sinar abadi’ yang senantiasa terang dan menerangi kehidupan di tengah ‘bumi’ yang gelap. Sinar itu pun tak pernah ikut mati, terkubur dalam makam Sang Utusan.”
| Perahu An-Nubuwah yang menyelamatkan; bangunan ummatan wasathan; gambaran umat yang berwasithah |
Angin bertiup dari arah kiblat menuju arah sebaliknya. Seorang laki-laki duduk di depan langgar. Bodong namanya. Sepanjang waktu hanya duduk di depan langgar, sesekali di dalam langgar. Tak ayal hidupnya sendiri, sunyi, terlupakan. Seperti kondisi lautan yang dilupakan matahari, awan, tanah, dan rembulan. Merana oh merana.
Tidak ada ketidakadilan di dunia ini. Sebuah kenyataan manis bahwa Tuhan sangat menyayangi ciptaan-Nya. Tuhan juga menganugerahkan kelebihan kepada setiap makhluk-Nya, termasuk Bodong. Orang-orang percaya ia dapat berbicara kepada lautan yang menampar daratan, awan yang menumpahkan hujan, matahari yang menyengat kulit, dan bulan yang mengintip dua manusia tengah bulan madu.
Bodong percaya, dirinya dapat berbicara dengan kesemua tanda kebesaran Tuhan lantaran dirinya tekun berdiam dalam langgar. Berdoa katanya. Mana mungkin seonggok daging mampu berbuah tanpa doa. Manusia hanyalah kumpulan daging yang tergerak karena daya Tuhan. Doa lah yang mengetuk pintu kediaman Tuhan sehingga Tuhan mengetahui ada hamba-Nya yang membutuhkan ke-Bisa-annya. Faktanya, Bodong tetap hidup hingga usia yang ke-75 meski dirinya tak bekerja.
Di usianya yang uzur, setelah sekian lama dirinya berdiam di langgar, kejenuhan nampak di raut mukanya. Tertulis di wajahnya berupa guritan keriput. Ia telah lelah menunggu dan berdiam diri. Yang ditunggunya tak kunjung datang jua.
“Dinding, mengapa Allah tidak segera menurunkan Imam Mahdi? Padahal Dirinya Maha Melihat dan Mengetahui, meskipun manusia pendusta bahkan munafik pun.” Dinding tidak menjawab. Angin berdesis lembut, lalu tiba-tiba menjawab dengusan Bodong.
“Bagaimana kamu tahu kalau Allah hendak menurunkan Imam Mahdi?”
“Bukankah begitu? Dalam firman dan hadis Rasulullah, di akhir zaman, akan muncul zaman terang-benderang, ditandai turunnya Nabi Isa as, atau Imam Mahdi.” Bodong menjawab suara angin yang telah lalu.
“Tunggu dulu, sebutkan ciri-ciri diturunkannya Imam Mahdi di bumi seperti yang kamu tahu, Bodong!” Kata angin.
“Tak kusangka, wahai angin ciptaan Allah, engkau pun tidak tahu tentang rencana Allah? Bagaimana kamu bisa mengklaim dirimu ciptaan-Nya? Bagaimana kamu mengimani Allah sementara kamu tidak memahami konsep Al-Qur’an?” Bodong justru nyinyir dan melayangkan ceplosan lisan yang celekit.
“Tunjukkan padaku, Bodong!” Jawab angin singkat.
“Imam Mahdi akan muncul ke permukaan saat tiba waktunya. Kala bumi mulai dipenuhi angkara murka, kehinaan manusia yang tidak manusiawi. Ego, keakuan, perebutan kekuasaan, klaim diri sendiri yang paling benar, dan isak tangis air sungai serta sumber air yang lain mengalir ke pemukiman warga, Imam Mahdi akan muncul. Apakah dikau tidak melihat semua tanda-tanda itu sedang terjadi sekarang?”
“Aku tahu itu.” Angin menjawab dengan sangat singkat sekali lagi. Jika angin memiliki wajah, wajahnya datar, tapi lisannya melukiskan wajah nyinyir merendahkan seorang manusia.
“Mengapa dikau masih bertanya padaku?” Bodong tampaknya telah mampu meraba wajah angin yang sedikit merendahkan pemikirannya.
“Terkadang keangkuhan manusia melebihi keangkuhan matahari. Manusia angkuh karena dirinya terbuai dengan pikirannya sendiri. Ingat, alam ini adalah refleksi, tanda-tanda, penggambaran jagad manusia itu sendiri. Mengapa ada bumi jika tidak untuk menggambarkan sisi rendah hati Nabi dan Rasul-Nya? Laut yang luas adalah makhluk yang bergerak untuk dibaca oleh manusia bahwa manusia menyimpan sisi lapang dada. Laut juga bagian dari tanda dari Allah supaya manusia terus mencari sebuah ilmu yang mampu menjadi pelega dahaga para manusia yang mulai kering-kerontang. Apa guna langit jika bukan untuk mengetuk kepala manusia, bahwa manusia memiliki pikiran, yang kadang kelabu, hitam, merah, hijau, kuning, putih, cerah, senang, sedih, siang, dan malam serta semua luapan emosi, petuah saraf-saraf yang memancing intuisi manusia sebagai anugerah Allah.”
“Kamu juga harus tahu satu hal, Bodong. Matahari bukan angkuh, tapi terlihat angkuh. Karena sebuah takdir yang digariskan oleh Allah kepadanya. Matahari seolah angkuh, menunjukkan kepada seluruh manusia dan makhluk di bumi, tanpa dirinya hanya ada sisi gelap. Dirinya lah yang membuat sisi yang lain terang. Itu bukan maunya, tapi kehendak Allah. Juga jangan katakan matahari egois dan angkuh, karena sebenarnya sisi gelap bumi adalah kasihnya karena manusia dibungkus jasad yang kadang lelah dan harus memejamkan mata sejenak. Kasihnya pula, di sisi terang bumi yang disinari cahayanya, manusia bergelut dengan hiruk-pikuk urusan duniawinya hingga dapat bertahan hidup. Bukankah, matahari lebih pantas angkuh ketimbang manusia? Lihatlah, betapa kasihannya anak adam di depanku ini, mulai dari matahari menyapa rerumputan hingga mengucapkan selamat malam pun masih di sini, tak melakukan apapun.”
“Aku tidak mengerti maksudmu, wahai angin.” Bodong kini terlihat lebih lugu, bahkan dibandingkan anak balita. Angin duduk bersila. Dunia seisinya seketika sepi dan hening. Tak ada sehelai daun pun yang bergoyang. Debu, pasir tak ubah tempatnya. Jarum terjatuh terdengar dentumannya.
“Ketahuilah angin, zaman ini sudah terlalu renta, dan sudah cukup waktunya untuk dibangkitkan kembali, seperti saat Nabi Muhammad masih bernapas. Betapa aku merindukan Rasulullah yang paling aku cintai. Siang-malam aku menunggu dan berdoa diwujudkannya impianku itu, wahai angin, sudahkah Allah mendengarkan doa hamba-Nya ini?”
Kini angin menegakkan duduknya, menaruh sorban di kepalanya, dan melepas jubahnya. Tampak dirinya seperti anak adam yang menceburkan diri ke sawah. “Manusia memang malang. Aku tercipta tanpa jasad, aku tidak memiliki eksistensi apapun. Manusia pun menggambarkan diriku hanya dengan meraba-raba, penuh keprasangkaan. Bodong, apa kamu tidak melihat pantulan air yang menggenang? Kemurahan sahabatku, air, terhadap manusia. Manusia menganggap genangan air hanyalah gangguan. Air menampakkan dirinya demikian supaya manusia mengetahui bahwa dirinya dibungkus jasad, Bodong.” Angin menatap mata Bodong dengan tajam. Bodong hanya terdiam, tak pernah ia mengalami pengalaman yang demikian dalam hidupnya. Ia melihat angin.
“Manusia lupa, bahwa eksistensi manusia lah yang menyulut ke-egoan dalam diri. Apakah kamu yakin, Bodong, jika kamu hidup se-zaman dengan Nabi akan percaya dengannya?”
“Aku yakin percaya.” Bodong mengangguk.
“Hahahahahaha......! Tak usah menatapku begitu, seolah-olah aku adalah Tuhanmu yang akan mengabulkan permintaanmu itu.” Angin tertawa. Bersamaan dengan tawa angin, bumi ikut tertawa, langit ikut tertawa terbahak-bahak. Tak kuasa menahan lelucon barusan, awan menumpahkan air mata. Hujan.
“Berapa puluh ribu bahkan juta penduduk bumi saat itu, Bodong? Berapa yang setia itba’ kepadanya? Apakah kamu termasuk sahabat Nabi yang bejuang di sisi Nabi atau justru kamu ikut memusuhi Nabi dan tergolong orang-orang jahiliyah? Aku tidak yakin tuh.” Dengan entengnya angin berkata demikian.
Wajah Bodong muram, merah, semakin menampakkan ke-tua-annya. Ia sangat ringkih dan renta. Pikirannya juga ringkih dan malah lebih renta dari tubuhnya.
“Aku lahir berjuta-juta tahun sebelum kamu, Bodong. Aku tahu konteks kehidupan zaman Nabi Muhammad saat itu. Aku juga tahu konteks-konteks zaman setiap Nabi dan Rasul-Nya. Aku memang tak berwujud. Tapi aku juga diberi pikiran, daya ingat sepertimu. Hanya saja, aku tak punya jasad, ego, dengki, hasud, dan tak berprasangka seperti kebanyakan manusia sepertimu, Bodong!”
“Ceritakan bagaimana konteks zaman Nabi Muhammad padaku, wahai angin.” Bodong memelas. Wajahnya berubah melas, dungu, lebih dungu daripada orang kere di bawah kolong jembatan sekalipun.
“Allah berfirman, ‘kuturunkan seorang Rasul di tengah-tengah kamu sekalian,’ apakah berpuluh-puluh tahun dirimu berdiam diri di langgar ini tidak cukup untuk menghapal Al-Qur’an? Hahahahahaha....!” Angin sungguh sengaja mencela Bodong.
“Lalu kapan Imam Mahdi akan turun? Layaknya Nabi Isa turun di tengah umatnya, Nabi Musa, Nabi Nuh, dan para Nabi yang lain?” Bodong bertanya kembali.
“Turun yang bagaimana maksudmu? Bagaimana kau membayangkan Nabi Isa as turun dari langit, Imam Mahdi muncul ke permukaan bumi, Ha!? Apakah ia turun bersamaan dengan hujan yang ditumpahkan awan? Apakah Imam Mahdi muncul layaknya batu karang yang dihempaskan ombak lautan? Ataukah bersamaan dengan embun pagi yang turun dari langit?”
“Bodong, apakah kamu akan percaya jika ada seorang manusia yang benar-benar turun dari langit, lalu mengatakan dirinya adalah Nabi Isa as? Kamu menganggap dirinya Nabi Isa atau justru orang gila? Sarafmu masih berfungsi, kan?”
Hujan semakin lebat. Tampaknya bukan air mata awan, tapi kehendak Tuhan. Matahari meredup, awan sengaja menutupi sinar terang matahari. Langit bergemuruh, tentara kahyangan menabuh genderang. Suasana kalut. Sekalut suasana hati dan pikiran Bodong yang berdiam diri tanpa kata pun di hadapan angin.
“Bodong, umat Nabi Nuh kala itu menganggap Nabi Nuh gila karena memberi kabar bahwa akan ada bencana besar. Boro-boro percaya adanya bencana, percaya terhadap Nabi Nuh yang membawa Nur Muhammad saja tidak. Bisa kah kamu membayangkan kala itu, Bodong?”
“Tidak sama sekali, wahai angin.” Bodong tampak pasrah. Hatinya berulangkali bergetar seiring tabuhan genderang dari kahyangan. Hujan semakin deras. Semula bintik-bintik air, menjadi tetesan air, lalu butiran-butiran air yang semakin besar, membesar, membesar, hingga mampu menghancurkan atap rumah. Para dewa menumpahkan laut dari kahyangan.
“Bodong, jika Imam Mahdi saat ini telah turun, di tengah-tengah kamu, menyamar menjadi petani, kamu percaya?” Bodong diam, membisu. Ia tak dapat berkata-kata lagi. Rasionalnya mulai menindih kognifinya. Hatinya mulai terketuk dan memaksa pikirannya terbuka.
“Bodong, apakah memorimu tidak cukup menyimpan ribuan ayat Al-Qur’an sehingga kamu lupa bahwa para Nabi dan Rasul adalah manusia lumrah yang juga terlahir dari gua garba ibu sepertimu? ‘Bagaimana Imam Mahdi turun?’ adalah pertanyaan yang bodoh, Bodong! Menunjukkan betapa manusia itu tidak manusiawi sekali. Tidak cukup jelaskah bahwa Allah adalah Maha Pemurah dan Pengasih, maka membuat utusan di muka bumi-Nya untuk para manusia lain yang berkehendak mengenali-Nya di setiap zaman? Bukalah pikiranmu, Bodong!”
“Jika Nabi Muhammad ada di hadapanku sekarang, aku akan langsung percaya, wahai angin!” Bodong semakin terlihat bodoh dan tidak mampu.
“Kalau tetanggamu ternyata adalah Imam Mahdi atau Nabi Isa yang diturunkan Allah, kamu percaya?”
“Tentu sulit bagiku, dia hanyalah petani miskin.”
“Kalau begitu, bicaralah pada dinding langgar ini kembali, hingga kau tenggelam dalam air yang kini telah menenggelamkanmu hingga dadamu. Kamu akan sadar setelah jasadmu tenggelam seluruhnya dalam air bah yang tenang.” Angin seketika pergi. Bumi tenggelam. Bodong ikut tenggelam. Kiamat.
Kiamat, berasal dari bahasa arab, qooma-yaquumu-qiyaaman, yang artinya bangkit. Bangkit kesadarannya. Bodong mati, baru sadar. Tapi apa boleh buat, jasad telah terapung, ruh tercecer, hati tiada guna, dan rasa hanya merasakan sesal dan sakit. Ia baru sadar setelah ruhnya terkatung-katung, “ternyata, Allah menciptakan ‘sinar abadi’ yang senantiasa terang dan menerangi kehidupan di tengah ‘bumi’ yang gelap. Sinar itu pun tak pernah ikut mati, terkubur dalam makam Sang Utusan.”
Terinspirasi dari kajian An-Nubuwah Bapak Kyai Tanjung.
03 Desembet 2016, Tanjugnanom, Nganjuk.
Penulis, Muhammad Arif Asy-Syathori

Bagus!
BalasHapus