“Sekolah bukan tempat obral wawasan, tapi membentuk kemandirian”
| Ujian adalah kehidupan itu sendiri, mengapa pendidikan kita muluk-muluk mengada-ada? |
Pendidikan formal berperan penting dalam pembentukan karakter dan mental seseorang. Ibarat roti, siswa adalah adonannya. Semua ditentukan oleh pembuat roti, tergantung bagaimana sekolah memperoses adonan tersebut hendak dijadikan seperti apa? Angkatan kerja tahun 2016 adalah output pendidikan formal kisaran satu dasawarsa silam hingga tahun 2015 terakhir. Mereka dapat menjadi testimoni pendidikan formal di Indonesia, layak diteruskan atau tidak.
Setelah berkaca pada diri sendiri, muncul-lah ide atau pemikiran bagaimana seharusnya sekolah formal dikemas? Skeptis memang tidak dianjurkan atas program pemerintah, tapi demokrasi berpikir untuk kemajuan bangsa tentu boleh. Pendidikan formal di Indonesia dengan kurikulum yang ada saat ini, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah belum mampu memberi perubahan perbaikan. Bukan dalam arti materiil atau barang, tapi output manusianya. Banjir teori dan konsep tapi gagap dalam implementasi.
“Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2015 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia pada Agustus 2015 menapak 7,56 juta orang. Angka ini setara dengan 6,18 persen dari total 122,4 juta orang angkatan kerja.” Dikutip dari www.okezone.com. Para pengangguran tersebut adalah sarjana, orang bertitel yang pernah menyandang status mahasiswa. Apakah refleksi pendidikan Indonesia tersebut belum cukup membuat mata melek?
Semakin cepat menyadari lebih baik. Segala polemik yang timbul akhir-akhir ini pada publik dan pemerintah adalah banyak dipengaruhi oleh pendidikan negeri. Pengajaran yang dialami semasa sekolah dulu ternyata gagal dalam pembentukan manusia yang bermutu. Mendengar isu harga cukai rokok, heboh,saling mencaci, mencerca, tidak menyelami secara objektif. Apapun yang didengar dan dilihat dari berita di televisi, majalah, dan surat kabar adalah testimoni ada yang rumpang dalam sistem pendidikan nasional.
Memampatkan waktu sekolah dengan cara mengurangi mata pelajaran sebagai tahap awal. Perlu kajian apa yang harus diprioritaskan. Menyesuaikan dengan kondisi zaman dan keadaan manusianya. Bersekolah selama lebih dari lima jam sehari, memaksa untuk berpikir matematika, fisika, kimia, dan ilmu pengetahuan yang lain bukanlah jalan yang terbaik. Mengingat banyak kasus nyata yang terjadi di Indonesia saat ini sebagai refleksi pendidikan nasional.
Bukan berarti menganggap bahwa banyak teori itu salah, tapi perlu langkah strategis. Belajar banyak teori yang dikemas dalam mata pelajaran dengan proses yang formal ternyata perlu dievaluasi. Satu fakta lagi, tenyata anggapan semakin banyak orang cendikia, semakin maju negara tidak dapat dikatakan mutlak benar. Kenyataannya, indonesia termasuk dalam negara yang memiliki sarjana terbanyak ke-lima di dunia. Tapi keadaan tidak kunjung melegakan.
Pendidikan musti mengarahkan siswa untuk mandiri, bukan senantiasa mendikte. Hasil dikte pendidikan formal kepada siswa adalah jiwa bergantung, tidak mandiri. Menyuguhkan kasus aplikatif sehari-hari atau yang pasti akan dihadapi siswa (bisa jadi) lebih bijak. Jadi di sekolah, siswa lebih banyak berdiskusi dengan pengajar perihal masalah-masalah yang di hadapi siswa saat ini, yang lalu, atau yang akan datang. Semisal, diskusi tentang bagaimana bersosial di tengah masyarakat yang cenderung apatis. Bagaimana langkah awal untuk memulai berkenalan dengan orang yang cuek. Belajar meningkatkan kearifan lokal. Sekolah merupakan wadah siswa untuk berinteraksi bebas atau banyak arah, bukan ajang prestasi atau pengakuan (ijazah/rapor/sertifikat).
Justru kadang hal yang tidak diajarkan di sekolahlah yang penting dan sulit diselesaikan. Contohnya, bagaimana seorang perempuan menjaga sikap dalam berinteraksi dengan orang lain. Bagaimana membangun keluarga yang baik, perempuan mampu mengatur keuangan dengan baik, dan laki-laki mampu kreatif untuk memaksimalkan potensinya supaya mendapat nafkah. Pengetahuan menjaga gizi makanan, menjadi kakak yang baik terhadap adik-adiknya, menjadi adik yang baik terhadap kakaknya, merencanakan kegiatan, metode belajar yang baik, dan masih banyak lagi kasus aplikatif yang seharusnya diajarkan di sekolah.
Maka dari itu pembelajaran mengenai musyawarahlah yang ditekankan dalam pendidikan formal. Siswa masuk kelas membawa masalah, temuan, pertanyaan, atau contoh kasus untuk didiskusikan bersama. Fungsi pengajar adalah menjaga supaya musyawarah tetap dalam keadaan kondusif. Dengan sendirinya pembelajaran ilmu pengetahuan akan tersalurkan jika musyawarah ini berjalan.
Permisalan lagi, seorang siswa yang sedang membuat usaha sepatu kulit mengalami masalah di pengaturan keuangannya, esoknya ia bawa dalam kelas untuk didiskusikan. Setelah diskusi berjalan, muncul beberapa langkah solutif untuk siswa tersebut. Mulai dari belajar akuntansi, menambah SDM, dan lain-lain. Pengajar memberi teori sedikit tentang akuntansi atau memberi saran kepada siswa tersebut untuk belajar dari ahli akuntansi atau guru ekonomi sekolah. Siswa dengan sendirinya belajar mandiri, merasa bahwa belajar adalah kebutuhannya sendiri.
Berikan waktu yang lebih banyak bagi para pembelajar untuk menentukan apa yang sedang ingin dipelajari, apalagi usia anak-anak hingga remaja akhir. Biarkan mereka belajar dari lingkungannya, menemukan temuan, lalu esoknya dibawanya ke kelas untuk didiskusikan. Mengapa produktivitas negeri rendah, salah satunya adalah karena siswa terbiasa diberi pekerjaan rumah akademik (PR). Meskipun mereka mengerjakannya dengan baik, tapi mereka akan kaku, tidak mandiri, dan minim kreativitas. Berbahaya bagi mentalnya di masa depan.
Pemikiran ini hanyalah sebuah opini. Melalui rubrik "Paradigme" ini Nusantara (majalah) ingin ikut berpartisipasi membangun pendidikan nasional. Setidaknya buah pemikiran ini dapat dijadikan opsi bagi praktisi pendidikan. Sekolah singkat memberi waktu kebih banyak bagi siswa untuk berpikir bebas dan membangun kemandirian dalam jiwanya. Fakta, warga Indonesia lebih banyak menjadi buruh, PNS jadi rebutan, dan angka enterpreneur masih sangat sedikit. Kami rasa, sudah saatnya kita semua berpikir ‘terobosan’ untuk pendidikan nasional, demi Indonesia yang lebih mandiri.
![]() |
| Majalah Nusantara, Bernilai dan Menginspirasi |
Published on Nusantara Magazine,
October 2016


0 komentar:
Posting Komentar