“Sebuah keluarga selalu dinamis, anak ketiga tidak akan sama dengan anak pertama, begitu pula apa yang didapatnya pun berbeda.”
#BLOG 6
| Hasan dan Husain, selepas berlatih olahraga badminton |
Sebuah bayangan masa lalu tak pernah lepas dari ujung saraf otakku. Tanpa perintah neuronku mengendap-endap mencari dokumen masa lalu yang telah tertumpuk-tumpuk dengan yang baru. Masa laluku terbilang menyenangkan. I’d everything, mom and dad, playing together, and so on....
Berbeda dengan saat ini, bukan keadaan atau status, bukan tentang diriku, tapi adik-adikku. Apa yang mungkin diterima oleh mereka tidak lagi sama dengan apa yang aku rasa dan dapatkan dulu. Tapi semua itu wajar, aku sangat yakin jika semua orang di dunia pasti juga mengalami hal yang sama. Bukankah setiap manusia itu berbeda? Sesuai dengan yang telah digariskan oleh Sang Maha Pencipta, manusia menjalani kehidupannya.
Hubungan kakak dan adik. Ibarat terikat oleh sebuah tali penghubung yang tak kasat mata, tapi lebih erat ketimbang tali apapun. Status ‘kakak’ dan ‘adik’ hanyalah perihal formalitas, tapi kasih sayang boleh sama dengan orangtua. Aku berusaha memberi kasih sayang kepada adik-adikku seperti halnya saat kedua orangtuaku memberikannya kepadaku dulu.
| Hasan - Anak ketiga (kembar) |
Entah mimpi apa aku. Aku beruntung memiliki adik sebanyak empat. Aku anak sulung, anak kedua adalah perempuan bernama Putri, yang ketiga dan keempat terlahir kembar, Hasan dan Husain, yang terakhir adalah Nadia, anak perempuan yang masih berusia enam tahun.
Keempat adikku sungguh unik. Banyak kemiripan tapi berbeda. Tapi aku mengagumi mereka semua. Banyak hal yang tidak ada pada diriku, tapi mereka memilikinya. Bahkan dalam benakku, “mereka akan tumbuh-kembang menjadi orang yang luar biasa melebihi kakak sulungnya. Suatu saat, pasti!” Aku sebagai kakak sulung mereka, suatu saat pula akan tetap menjadi orang yang selalu mengagumi mereka dan memberi kasih-sayang yang tulus kepada mereka.
Kemarin, adik kembarku minta diajari bagaimana berolahraga badminton. Akhir-akhir ini, badminton menjadi tren di kalangan mereka, sehingga mereka pun ikut tertarik dengan olahraga badminton. Bagiku ini adalah sebuah kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali. Kesempatanku untuk mengambil hati adik-adikku, supaya mereka mendapat kasih-sayang dari keluarganya. Alih-alih kasih-sayang orangtuaku yang semakin kesini semakin sibuk dan tidak dapat diganggu karena berurusan dengan orang-orang.
Bapak dan ibu memang sibuk. Bukan karena memburu harta dan kedudukan, tapi sibuk karena berjuang untuk kemaslahatan umat. Oleh karena itu, aku tahu harus berbuat apa untuk menggantikan fungsi pendampingan kepada adik-adikku. Posisi orangtua tidak dapat tergantikan oleh siapapun, tapi fungsi pendampingan kan masih dapat disiasati. Anak sulung lah yang harus sadar diri terhadap itu.
Olahraga badminton memang menjadi kegemaran di keluarga. Dahulu, saat usiaku masih 7-12 tahun, aku juga giat berlatih badminton dengan bapak. Bapak termasuk ahli olahraga badminton, temannya pun banyak sampai tak terhitung. Aku beruntung pernah merasakan diajari badminton oleh bapak, tapi berbeda dengan adik kembarku. Kali ini aku lah yang harus melatih mereka.
Pagi ini, sesuai janji aku mulai berlatih di gedung olahraga Pomosda mulai pukul 06.00 WIB. Hasan dan Husain terlihat sangat bersemangat berlatih. Hal itu membuat semangatku seperti tersulut. Melihat tawa dan tingkah mereka berdua membuat hatiku senang. Dalam hati tersirat haru, “betapa beruntungnya aku masih dapat merasakan sentuhan langsung dari bapak dan ibu”. Tiada masalah, puji Allah, adik-adikku tidak pernah merasakan iri atas apa yang diterima oleh mereka.
Bagiku, pelita terang hidupku adalah mereka, keluarga. Senyum, tawa, canda adik-adik tidak pernah aku lupa sama sekali. Mereka adalah penyemangat hidupku di kala terpuruk, krisis psikologi, dan hancur lebur.
Kembali ke cerita latihan badminton pagi ini. Ternyata adik-adikku memiliki bakat berolahraga badminton. Pagi ini, latihannya tidak muluk-muluk. Hanya berlatih service dan memegang raket yang benar. Itu pun kami menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam. Mereka senang dan enjoy saat berlatih.
Untuk awal, mereka telah banyak berkembang. Awalnya mereka tidak dapat memegang raket, service, bagaimana melangkah, memasang kuda-kuda, sekarang mereka telah dapat mempraktik-kannya. Yang membuat hati lebih senang lagi adalah selepas latihan pagi tadi, mereka masih saja melanjutkan latihan sendiri tanpa aku. Dalam versi bahasa kekinian, pagi ini aku banyak baper.
Keempat adikku sungguh unik. Banyak kemiripan tapi berbeda. Tapi aku mengagumi mereka semua. Banyak hal yang tidak ada pada diriku, tapi mereka memilikinya. Bahkan dalam benakku, “mereka akan tumbuh-kembang menjadi orang yang luar biasa melebihi kakak sulungnya. Suatu saat, pasti!” Aku sebagai kakak sulung mereka, suatu saat pula akan tetap menjadi orang yang selalu mengagumi mereka dan memberi kasih-sayang yang tulus kepada mereka.
| Husain - Anak Keempat (kembar). |
Bapak dan ibu memang sibuk. Bukan karena memburu harta dan kedudukan, tapi sibuk karena berjuang untuk kemaslahatan umat. Oleh karena itu, aku tahu harus berbuat apa untuk menggantikan fungsi pendampingan kepada adik-adikku. Posisi orangtua tidak dapat tergantikan oleh siapapun, tapi fungsi pendampingan kan masih dapat disiasati. Anak sulung lah yang harus sadar diri terhadap itu.
Olahraga badminton memang menjadi kegemaran di keluarga. Dahulu, saat usiaku masih 7-12 tahun, aku juga giat berlatih badminton dengan bapak. Bapak termasuk ahli olahraga badminton, temannya pun banyak sampai tak terhitung. Aku beruntung pernah merasakan diajari badminton oleh bapak, tapi berbeda dengan adik kembarku. Kali ini aku lah yang harus melatih mereka.
Pagi ini, sesuai janji aku mulai berlatih di gedung olahraga Pomosda mulai pukul 06.00 WIB. Hasan dan Husain terlihat sangat bersemangat berlatih. Hal itu membuat semangatku seperti tersulut. Melihat tawa dan tingkah mereka berdua membuat hatiku senang. Dalam hati tersirat haru, “betapa beruntungnya aku masih dapat merasakan sentuhan langsung dari bapak dan ibu”. Tiada masalah, puji Allah, adik-adikku tidak pernah merasakan iri atas apa yang diterima oleh mereka.
Bagiku, pelita terang hidupku adalah mereka, keluarga. Senyum, tawa, canda adik-adik tidak pernah aku lupa sama sekali. Mereka adalah penyemangat hidupku di kala terpuruk, krisis psikologi, dan hancur lebur.
Kembali ke cerita latihan badminton pagi ini. Ternyata adik-adikku memiliki bakat berolahraga badminton. Pagi ini, latihannya tidak muluk-muluk. Hanya berlatih service dan memegang raket yang benar. Itu pun kami menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam. Mereka senang dan enjoy saat berlatih.
Untuk awal, mereka telah banyak berkembang. Awalnya mereka tidak dapat memegang raket, service, bagaimana melangkah, memasang kuda-kuda, sekarang mereka telah dapat mempraktik-kannya. Yang membuat hati lebih senang lagi adalah selepas latihan pagi tadi, mereka masih saja melanjutkan latihan sendiri tanpa aku. Dalam versi bahasa kekinian, pagi ini aku banyak baper.
Husain (kiri) dan Hasan (kanan) saat di alun-alun Tulungagung. |
“Menanam pohon tidak dapat sembari menyangsikan hasil, atau alam menyebut diri ini mendikte Tuhan. Pohon tumbuh dengan subur, entitas bukti kesungguhan manusianya. Hanya berharap, berdoa, lalu berusaha-lah asa untuk meraihnya. Melihat manusia mungil dalam satu garis yang sama tersenyum, ibarat rainkarnasi. Menyusutkan jiwa, bukan badan. Memurnikan pemikiran, seputih tawa dan senyum mereka. Berkembanglah adik-adikku! Aku selalu di belakangmu, aku yakin kalian akan menjadi manusia yang lebih baik ketimbang kakak sulungmu ini.”

0 komentar:
Posting Komentar