image1 image2 image3

HELLO I'M MUHAMMAD ARIF|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|WRITING 'N LEARNING IS MY PASSION|I'M PROFESSIONAL WRITER

Menanti Pulang

http://www.himatemiauntirta.com/2016/09/pejuang-yang-diharapkan-ada-di-bumi.html
Aku akan menyelesaikan perangku. Mengikuti saranmu. Kita akan berkumpul kembali
  
Ma'ruf Bandonoto, author
“Lari! Lari!!!” Teriak para tetua memberitahu tetangganya. Semua orang lari berhamburan. Tak menghiraukan kain yang melekat di tubuh. Tak peduli betapa gelapnya jalan menuju tempat persembunyian. Hanya aman yang tertanam dalam benak. Hutan yang rimba, pohon tinggi menjulang penuh sesak ilalang. Semua tak mampu memberi rasa takut.

   Dengan nafas tersengal-sengal ku coba untuk tetap ikut berlari. Berharap kaki tetap kuat berdiri dan mata mampu menemukan tempat sembunyi. Bersama seorang sahabatku, kami terus berlari mamacu tenaga kuda. Begitu juga orang yang lain. Sekuat, semampu, dan sejauh mungkin. Sampai mereka tidak mencium lagi keberadaan kami.

   “Bruk!” Akhirnya tubuhku jatuh tersungkur. Seperti ada yang terkoyak di betis. Aku pejamkan mata dan menggigit lidah sekuatnya. Menahan teriak yang hampir ku muntahkan. Iman sahabatku yang terpaut tak jauh di depanku, menyadari keadaanku. Segera ia membalikkan badan dan menghampiriku. Dengan cepat ia melepas badung di kepalanya untuk membalut kakiku. "kau harus tetap lari! Lukamu tak seberapa. Hanya tergores ranting muda". Tilapnya menyemangatiku.

   Langsung aku mencoba bangkit kembali. Iman membantu menitahku berjalan. Kami terus berjalan tanpa arah, yang penting aman. Kelompokku sudah jauh di depan. Tinggal kami berdua yang membuntut terseok-seok di belakang. Kaki yang pincang memaksaku sesekali berhenti sambil menata nafas yang tak karuan. Kemudian melanjutkan pelarian.

   Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Sampailah kami di hulu perkampungan dengan sedikit penghuni. Sebuah kampung kecil yang letaknya tak pernah ku ketahui. Kaki ku sudah tak mampu lagi menopang badan yang mungil ini. Tubuhku semakin gemetaran dan jantung berdegup kencang. Ketakutan hebat melandaku. Melihat orang tak dikenal berlari kearahku. " siapa mereka? Orang baikkah? Atau justru bagian dari kelompok yang mengejar kami? ". Gumamku panik. Belum lagi mereka sampai aku sudah tersungkur lagi. Tak banyak yang ku ingat. Iman sahabatku juga tak ingat. Hanya saja sepertinya ia tadi juga terkulai lemah di belakangku melihat gumuruh orang berlarian menghampiri kami. Hanya gelap yang menyelimuti.

   Lamat-lamat kubuka mata perlahan. Sepasang lampu teflon menerangi sisi kanan kiri ranjang tidurku. Iman yang entah sejak kapan menunggu di samping ranjang tersenyum senang. "Bangun juga akhirnya perjalanan tidurmu." Candanya. " Dimana kita ?" Tanyaku. " Kita di tempat yang aman her." Jawabnya. "Syukurlah". Balasku tersenyum. Iman pun keluar mengambilkanku ramuan.

   Kurasakan nyeri di seluruh tulangku. Aku mencoba untuk duduk. Terasa berat tubuhku. Sepertinya tanganku tak mampu menahan tubuh hanya untuk duduk. Aku terus berusaha. Sekuat tenaga akhirnya berhasil juga. Ku sandarkan punggungku di samping dinding bambu. Kulihat kakiku yang membesar terbalut kain merah basah. Darah, pikirku. Aku tak terlalu menghiraukan. Toh besok juga sembuh.

   Iman datang membawa segelas ramuan dalam gelas bambu untukku. "minumlah dulu." Tawarnya. Aku teguk langsung air yang ditawarkannya. Ada rasa pahit, tak ku hiraukan. Mungkin ramuan kuno di sini. " sudah mendingan ?" Tanyanya. "Lumayan." Jawabku singkat. Ia pun pergi lagi dan menyuruhku kembali beristirahat.

   Di pagi yang buta. Aku terbangun. Rasanya ingin bertemu Iman. Luka di kaki sudah tidak begitu lagi. Aku berdiri dan berjalan pelan. Membuka pintu kamar perlahan. Iman yang tidur di kursi menyadari keberadaanku. Dengan berat ia mendudukkan tubuhnya sambil memegang dada. "aku ingin di sampingmu." Ucapku . "Tidurlah! ini masih terlalu pagi, kau belum terlalu sehat." Sarannya. Aku tetap berjalan menghampirinya tanpa menghiraukan perkataannya. "Kenapa kau pegangi dadamu? Ada yang hancur?" Tanyaku dengan sedikit bercanda. "hanya goresan ilalang lalu, sudahlah." Jawabnya ketus.

   Aku duduk tepat di hadapannya. Ia kembali merebahkan badannya. Aku masih belum bisa tidur. Mungkin terlalu lama tidur. Malas sendiri aku pun ingin meneguk teh. Berharap dapat menghangatkan dinginnya pagi. Segera aku menuju dapur. Baru beberapa langkah kudengar iman batuk berulang kali. Aku urungkan niatku mengambil teh di dapur. "kau tak apa?" Tanyaku ragu. Iman tetap tak mengubris. Sibuk memegangi dada yang mulai memerah dan menutupi mulutnya yang batuk-batuk.

   Kulihat darah segar mengalir dari balik baju dan mewarnainya. Baru ku sadari, ternyata tubuhnya penuh dengan balutan. Bekas terkena anak panah. Ia tak menceritakan keadaannya. Batuknya terus menderu kencang. Darahnya juga semakin mengalir deras. Aku berniat memanggil tuan rumah yang aku tumpangi. "Jangan ganggu mereka! Cukup kau saja." Pintanya. Dengan berat hati aku pun menurutinya. Pikiranku mulai kacau. Tak ada yang dapat kulakukan. Hanya diam.

   "Orang-orang di sini sama seperti kita. Bersembunyi demi ilmu. Buronan para pembenci. Tapi mereka lebih kuat. Aku belajar banyak dari mereka disini. Kini aku sudah siap untuk kembali, pulang." Ucapnya membuatku bingung. "Apa maksudmu ?" Bisikku. “ Ikutlah dengan pemilik rumah ini, kau aman bersama mereka, aku sudah bicara pada mereka, jika kau bersama mereka, kelak kau nanti akan bertemu lagi denganku, usai sudah kini peperanganku, kini kau selesaikanlah perangmu." Pesannya. Ia pun kembali menarik nafasnya dengan tenang. Matanya tertutup. Nafas yang ditarik tak dihembuskannya. Wajahnya memancarkan aura bahagia. Pulang.

   Aku hanya diam. Isak tangis pelan dan getir di hati. Teman seperjuangan. Mati pun tak sama. Sambil memangku kepala jasad iman. "Aku akan menyelesaikan perangku. Mengikuti saranmu. Kita akan berkumpul kembali." Janjiku dalam hati.

Bangkinang 24 AL-HASAN 04 AL-MAHDI

Ma'ruf Bandonoto

#jatayu media nusantara
#ayo menulis
#bimbingan jatayu media nusantara

[COVER MAJALAh NUSANTARA EDISI DESEMBER 2016]

Published on Nusantara Magazine on September 2016 

Dapatkan majalah Nusantara dengan menghubungi 081357368468; Customer Service....



Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar