Perubahan iklim dan cuaca yang tidak menentu ibarat hantu bagi petani. Pemanasan global yang semakin parah akibat efek rumah kaca berdampak pada perubahan suhu dan kedaan kutub bumi. Iklim yang tidak menentu, bahkan hampir tidak sama setiap tahunnya membuat petani kesulitan menentukan musim tanamnya. Imbas yang paling kentara adalah pada sektor pertanian.
Perubahan iklim di beberapa negara Asia Tenggara termasuk Indonesia, mengakibatkan banjir parah, kekeringan, dan hujan deras melebihi beberapa tahun silam. Hal tersebut jelas menjadi masalah penting yang tidak dapat disepelekan. Mengingat negara kita adalah negara agraris. Potensi terbesar negeri ini adalah pertanian dan maritimnya, maka harus ada pemecahan solusinya. Jika perubahan iklim tidak dapat terkejar lagi, solusinya adalah menggunakan ajaran nenek moyang sejak ratusan tahun yang lalu, pranata mangsa. Pranata mangsa adalah metode para nenek moyang yang diturunkan dari mulut ke mulut untuk menentukan masa tanam di tengah perubahan iklim yang selalu tidak menentu.
Pranata Mangsa Sebagai Solusi Petani
Pranata mangsa adalah ilmu berdasarkan pengamatan dan perhitungan terhadap fenomena alam, rasi bintang, pola hidup hama, curah hujan, keadaan tanah, perairan, dan perubahan iklim. Sriyanto (Koordinator Penerbitan dan Dokumentasi PPLH Seloliman), dalam tulisannya yang berjudul Bertahan Walau Iklim Tak Menentu, menceritakan kisah seorang petani yang telah menggunakan pranata mangsa selama 25 tahun, Tanudin (50), anggota Kelompok Petani Organik Sempur (KAPOR) di Desa Sempur, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur
Sriyanto bercerita, Tanudin yang telah lama menggunakan pranata mangsa sebagai acuannya dalam bertani telah membuktikan bahwa pranata mangsa adalah penting. Faktanya, Tanudin memeroleh 6 kuintal gabah dari lahannya yang luasnya 0,25 hektare, Pernah sekali ia tidak menggunakan pranata mangsa untuk menentukan waktu terbaiknya, pada tahun 2005, hasilnya ia hanya mendapatkan setengah dari biasanya, yaitu 3 kuintal saja. Pada tahun itu ia tidak menggunakan perhitungan seperti biasanya karena ada kegiatan lain.
Perubahan iklim di beberapa negara Asia Tenggara termasuk Indonesia, mengakibatkan banjir parah, kekeringan, dan hujan deras melebihi beberapa tahun silam. Hal tersebut jelas menjadi masalah penting yang tidak dapat disepelekan. Mengingat negara kita adalah negara agraris. Potensi terbesar negeri ini adalah pertanian dan maritimnya, maka harus ada pemecahan solusinya. Jika perubahan iklim tidak dapat terkejar lagi, solusinya adalah menggunakan ajaran nenek moyang sejak ratusan tahun yang lalu, pranata mangsa. Pranata mangsa adalah metode para nenek moyang yang diturunkan dari mulut ke mulut untuk menentukan masa tanam di tengah perubahan iklim yang selalu tidak menentu.
Pranata Mangsa Sebagai Solusi Petani
Pranata mangsa adalah ilmu berdasarkan pengamatan dan perhitungan terhadap fenomena alam, rasi bintang, pola hidup hama, curah hujan, keadaan tanah, perairan, dan perubahan iklim. Sriyanto (Koordinator Penerbitan dan Dokumentasi PPLH Seloliman), dalam tulisannya yang berjudul Bertahan Walau Iklim Tak Menentu, menceritakan kisah seorang petani yang telah menggunakan pranata mangsa selama 25 tahun, Tanudin (50), anggota Kelompok Petani Organik Sempur (KAPOR) di Desa Sempur, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur
Sriyanto bercerita, Tanudin yang telah lama menggunakan pranata mangsa sebagai acuannya dalam bertani telah membuktikan bahwa pranata mangsa adalah penting. Faktanya, Tanudin memeroleh 6 kuintal gabah dari lahannya yang luasnya 0,25 hektare, Pernah sekali ia tidak menggunakan pranata mangsa untuk menentukan waktu terbaiknya, pada tahun 2005, hasilnya ia hanya mendapatkan setengah dari biasanya, yaitu 3 kuintal saja. Pada tahun itu ia tidak menggunakan perhitungan seperti biasanya karena ada kegiatan lain.
![]() |
| Gambar pranata mangsa. source:https://plus.google.com/+SigitDjatmiko/posts/SXKAaSaeAUM |
Pranata mangsa tidak berpatok pada kalender masehi. Tabel 1 menunjukkan, petani harus memperhatikan fenomena alam saat itu. Menanam sesuai dengan musimnya, memperhitungkan curah hujan, masa kawin hama, suhu, dan lainnya. Sekarang, iklim memang tidak menentu, bahkan berubah-ubah masa. Terkadang musim kemarau lebih panjang, begitu juga sebaliknya. Tapi hal tersebut dapat ditanggulangi dengan pranata mangsa. Contohnya, jika hujan yang seharusnya turun pada mangsa ke-5 (antara 14 Oktober—10 November) ternyata bergeser pada awal mangsa ke-6 (11 November—22 Desember), berarti musim telah bergeser. Petani baru menanam pada mangsa ke-6. Dengan begitu, gagal panen tidak akan dialami. Hal tersebut yang dilakukan oleh Tanudin (50) sesuai dengan cerita Sriyanto dalam tulisannya.
Menurut Koordinator Tim Kemandirian Pangan Japo, Agus Kurniawan (Gus Jem), penyakit yang ditimbulkan oleh jamur Pyricularia oryzae (P. Grisea), patah leher padi, dapat diminimalisir dengan pranata mangsa. “Bukan mengobati, tapi mencegah terjadinya penyakit,” Ujarnya kepada salah seorang Reporter Nusantara beberapa waktu silam. Jamur tersebut berkembang di saat curah hujan tinggi dan udara lembab. Memperhitungkan masa tanam serasa lebih bijak ketimbang memakai obat-obatan untuk mengatasinya. Mencegah lebih baik ketimbang mengobati. Petani yang memperhitungkan masa tanamnya sesuai dengan fenomena alam, tidak akan menemui masa panen di saat curah hujan tinggi dan udara lembab. Selain patah leher, curah hujan yang tinggi saat mendekati masa panen akan berdampak buruk pada padi. Hal demikian semakin memperkuat pranata mangsa masih dibutuhkan petani.
Pranata Mangsa Sebagai Edukasi Petani
Menurut paparan di atas, seolah-olah permasalahan petani akan berakhir dengan begitu saja, padahal tidak. Permasalahannya mencakup pola pikir dan budaya petani kekinian. Di daerah tertentu, pranata mangsa bahkan hampir punah dan hampir tidak ada yang mengetahuinya. Akibatnya, jika dalam satu desa atau kecamatan ada salah satu petani yang mulai menanam, maka yang lain akan segera ikut memulai menanam, tanpa memperhitungkan masanya. Menurut Mat Sholeh (pakar pertanian PTSA Pomosda), sebab petani kekinian seperti itu adalah ketidaktahuan petani terhadap perhitungan pranata mangsa dan gotong royong yang belum terbangun. Seorang petani tidak akan berani menggunakan perhitungan pranata mangsa, jika tidak ada petani lain yang menggunakannya. Ketidakserempakan masa tanam akan menimbulkan serangan hama yang dahsyat.
Petani dapat membuat kalender tanam sendiri berdasarkan perhitungan fenomena alam (pranata mangsa). Bermusyawarah bersama menentukan masa tanam, panen, dan rotasi varietas adalah salah satu yang dapat dilakukan oleh para petani. Hasil musyawarah tersebut digunakan, dipantau, dan dievaluasi bersama. Petani mandiri tidak akan terganggu dengan iklim yang kian dinamis.
Secara tidak langsung, pranata mangsa akan mengedukasi petani. Petani dan alam bersatu. Petani senang alam juga turut senang karena tidak dirusak. Petani tidak akan mengejar hasil panen semata, tapi memperhatikan keadaan alam juga. “Beberapa daerah sudah tidak lagi ada masa bera atau tidak diistirahatkan. Mereka menganggap pranata mangsa sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan alam saat ini.” Pendapat Lukman (Petani PTSA Japo) saat ditanya Nusantara via-Whatsapp. Petani yang terbiasa membaca fenomena alam (mandiri), pasti dapat mengatasi iklim yang tidak menentu. Sekali lagi, gotong royong akan terbangun.
Dukungan Pemerintah Terhadap Masa Depan Pranata Mangsa
Pemerintah telah meluncurkan Sistem Informasi Kalender Tanam Terpadu (SI Katam Terpadu) pada tanggal 27 Desember 2011 oleh Badan Litbang Pertanian, Kementan. SI Katam Terpadu yang tersedia dalam versi digital ini menjadi rujukan bagi pengambil kebijakan dalam menyusun rencana pengelolaan pertanian tanaman pangan. Informasi yang dimuat dalam sistem tersebut merupakan estimasi musim tanam ke depan pada skala kecamatan yang meliputi awal waktu tanam, wilayah rawan bencana (banjir, kekeringan, dan serangan organisme pengganggu tanaman), serta rekomendasi teknologi berupa varietas, benih, dan pupuk (Runtunuwu et al. 2013).
SI Katam Terpadu dapat diakses melalui website dengan nama domain katam.info. Bahkan SI Katam Terpadu telah tersedia dalam bentuk aplikasi yang dapat diunduh melalui seluler pintar. Hal demikian adalah salah satu usaha pemerintah untuk membangun masa depan petani yang lebih baik. Layanan publik tersebut memberi informasi yang lebih akurat daripada ramalan berdasar pranata mangsa. Pemerintah hanya perlu meninjau kembali permasalahan yang dihadapi. Misalnya, masih banyak petani yang tidak mengetahui layanan tersebut, kemampuan mengoprasikan seluler pintar yang minim di kalangan petani, dan sebagainya. Dengan begitu langkah-langkah solutif dapat dilakukan, mengingat SI Katam Terpadu sangat bermanfaat bagi petani.
Beberapa solusi yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk menyikapi masa tanam petani adalah dengan mengedukasi masyarakat supaya mandiri. Kegiatan-kegiatan dalam rangka edukasi petani dapat berupa sosialisasi, lokakarya, pelatihan, pendampingan, dan lain sebagainya.
Petani harus mampu belajar mandiri. SI Katam Terpadu yang disediakan pemerintah tidak akan berarti apa-apa jika petani sendiri tidak dapat membacanya apalagi tidak dapat mengaksesnya. Kuncinya pada brainware atau SDM-nya. Tapi jika petani mampu mandiri, membaca fenomena alam sendiri, layanan pemerintah tersebut juga akan memperkuat informasi petani untuk meramal pranata mangsa.
Published on Nusantara Magazine
October 2016
Dapatkan majalah Nusantara edisi 03, Desember 2016 dengan memesan ke nomor 082357468368 (Customer Service)




0 komentar:
Posting Komentar