image1 image2 image3

HELLO I'M MUHAMMAD ARIF|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|WRITING 'N LEARNING IS MY PASSION|I'M PROFESSIONAL WRITER

Bahasa Jawa, Bahasa Ngrogoh Hati


Terbiasa ngobrol dengan bahasa Jawa akan menarik hati hingga mengenal akhlak dengan orang lain
   “Bocah ora jowo blasss!” Kalimat itu sering terlontar oleh orangtua kita atau orang yang lahir puluhan tahun silam jika menemui anak muda yang perilakunya tidak senonoh. Kalimat tersebut tidak sama arti dengan “kamu bodoh”. Sebuah kalimat yang jika dijelaskan perlu beberapa paragraf karena kalimat tersebut adalah kalimat bermakna luas.

   Kata “jowo” dalam kalimat di atas bukan berarti menyatakan asal tempat atau daerah, akan tetapi kata tersebut memiliki konteks pada perilaku seseorang. Bukan berarti orang jawa selalu “jowo”, dan bukan berarti orang yang berasal dari luar jawa dikatakan “tidak jowo”.

   Budaya jawa sangat berperan dalam pembentukan perilaku seseorang. Tidak hanya bahasa, bahkan budaya perilaku pun juga dijunjung tinggi. Semisal, seorang perempuan tidak diperbolehkan untuk makan di depan pintu. Kata nenek, “wong wedok kok madhang ing ngarep lawang mangka ora bakal pikanthuk jodho.” Artinya, apabila anak perempuan makan di depan pintu, atau di luar rumah maka anak tersebut akan sulit mendapatkan jodoh. Salah satu budaya tersebut bukan memberi pesan sekedar “makanlah pada tempatnya, di meja makan”, tapi “jadilah perempuan yang tahu diri, berpenampilan baik, dan menjaga rasa malu”.

   Terasa atau tidak, bahasa Jawa mampu membentuk perilaku seseorang. Jawa Ngoko, Jawa Krama Madya, Jawa Krama Inggil adalah tiga strata bahasa dalam bahasa Jawa. Strata paling rendah adalah Ngoko. Bahasa Ngoko dipakai dalam bercakap kepada sesama atau sebaya. Tidak diperkenankan bahasa Ngoko digunakan saat berbincang dengan orang yang lebih tua atau yang dihormati.

   Bahasa Krama Madya seharusnya dipakai dalam percakapan dengan orang yang lebih tua. Semisal seorang adik berbicara kepada kakaknya. Berbicara kepada seorang kakak dengan kalimat “menurut pikiranmu piye mas?” tidak lebih baik ketimbang menggunakan kalimat, “miturut pamanahe sampean pripun mas?” Jelas kalimat kedua lebih sopan dan terasa lebih lembut. Dengan menggunakan bahasa Krama Madya saat bercakap dengan orang yang lebih tua, hubungan sosial akan terus terjaga dan tidak retak.

   Bahasa Jawa Krama Inggil adalah bahasa Jawa strata tertinggi. Bahasa yang digunakan untuk bercakap dengan orang yang dihormati. Sebagai bentuk menjaga hubungan supaya tetap baik, seyogianya menggunakan bahasa Krama Inggil untuk bercakap dengan orang-orang yang terhormat atau priyai.

   Yang seharusnya dipatri dalam diri seorang anak adalah menggunakan bahasa Krama Inggil kepada orantuanya. Penggunaan bahasa ini bermaksud menyatakan adab dan akhlak. Apakah baik seorang anak meminta uang kepada bapaknya dengan kalimat, “Njaluk duite pak! Aku arep tuku jajan, duit ndek ingi wes entek pak”? Semestinya bahasa yang dipilih dan cara berbicaranya adalah, “pak pangapunten, arta ingkang panjenengan paringi wingi menika sampun telas, lajeng dhalem nyuwun artanipun malih bapak, kagem tumbas jajan.” Bahasa Krama Inggil saat dipakai dalam berbicara kepada orangtua akan menyejukkan hati keduanya, anak nyaman orangtua pun senang.

   Istilah untuk menyatakan sikap atau perilaku dalam bahasa Jawa adalah “unggah-ungguh”. Mulai dari bagaimana bersikap, bagaimana berbicara, bahkan penggunaan bahasa diatur dengan rapi dan indah dengan kemasan budaya Jawa.

  Apabila bahasa Jawa terpelihara, bukan hanya sekedar budaya saja, tapi penggunaan bahasa dan bagaimana penerapannya pasti dapat memperbaiki moral bangsa. Terbayang bagaimana anak-anak muda menyapa orang yang lebih tua dengan lembut, orang yang lebih tua dapat mengayomi yang lebih muda, para murid menggunakan bahasa Krama Inggil dengan gurunya, berbicara lembut terhadap sesama, pasti negara ini menjadi negara yang nyaman dan terasa indah sedunia. Bahasa Jawa adalah bahasa yang mampu ngerogoh hati.

   Sayang, kini bahasa Jawa mulai ditinggalkan. Banyak yang memilih memakai bahasa asing ketimbang melestarikan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari. Para pemuda tidak tahu bagaimana menggunakan strata bahasa Jawa dalam bercakap. Anak-anak justru malu menggunakan Krama Inggil kepada orangtuanya. Tidak heran jika sekarang unggah-ungguh bangsa mulai ora jowo.

   Mari kita beripikir sejenak, banyak orang berteriak membangkitkan semangat bangsa dengan melakukan demonstrasi, pawai, atau apapun yang dianggap memberi perubahan pada negeri tercinta ini. Bukankah lebih baik kita mulai dari diri kita sendiri? Mulai berbicara yang sopan terhadap sesama, yang lebih tua, dan tidak malu menggunakan bahasa Krama Inggil kepada orangtua kita.#

Published on Nusantara Magazine
Oktober 2016


Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar