image1 image2 image3

HELLO I'M MUHAMMAD ARIF|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|WRITING 'N LEARNING IS MY PASSION|I'M PROFESSIONAL WRITER

Tiga Hal Kunci Kesuksesan

“Air kopi mau dituang di gelas baik atau buruk, besar atau kecil, tidak akan mengubah rasanya, apalagi merubah kopi menjadi teh.”


   Melihat foto orang-orang sukses lewat akun Facebook atau Instagram memang hal yang biasa dilakukan oleh anak-anak muda yang memiliki harapan untuk sukses di masa depan. Bukan sesuatu yang salah pula untuk berandai-andai, tapi tidak elok juga apabila seharian melihat update-an akun Instagram orang lain, alias hyper kepo.

   Setiap anak muda, mahasiswa, berharap kegiatan belajarnya tidak berujung sia-sia. Merajut asa sembari mengendap-endap untuk mengintip kesuksesannya di masa depan. Mengikuti pelbagai seminar, pelatihan, dan workshop untuk mendengarkan wejangan para wirausaha sukses atau profesor, berharap dirinya juga akan mendapat kesuksesan seperti para narasumber. Semua harapan atau cita-cita berperan dalam pengharapan kenyamanan di masa depan.

   Misal, Si Joni, anak miskin dari keluarga buruh tani. Semasa kecil dia tidak pernah sama sekali merasakan kenyamanan. Bernapas pun seolah-olah bukan miliknya, ia harus meminta kepada penguasa untuk memberikannya. Orantuanya tidak dapat disalahkan. Ayah dan ibunya tumbuh dewasa juga dalam keadaan kekurangan, pendidikan setinggi lutut, apalagi wawasan, cupet seperti liang sedotan. Joni yang mulai busung dadanya, suaranya membesar dan sedikit serak, berdiri di ambang pintu. Ia meneroka pemandangan jagad luas perlambang keharibaan Sang Penguasa. Dalam benaknya, ia ingin sukses seperti temannya, Andre. Ia membayangkan merasakan kenyamanan dalam masa depannya, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

   Andre, hidup dalam keluarga yang serba kecukupan. Meskipun tidak kaya raya, tapi hidupnya tidak pernah sama sekali atas belas kasih orang lain. Jangankan turangga besi, berpacu dengan burung baja sudah biasa. Melintas sisi lain buana, mencicipi budaya para turis. Tahun demi tahun ia lalui. Kini ia duduk menghadap wirausaha sukses yang sedang bercerita tentang perjuangannya meraih kesuksesannya. Tidak beda, dalam angan-angan Ande, ia tidak mau merasakan ketidaknyamanan. Terbiasa dalam rengkuhan kata nyaman, Andre anti dengan ketidaknyamanan.

   Joni dan Andre mengalami masa perubahan. Pendapat Emil H. Tambunan, penulis buku Pendidikan Keluarga Sukses; Mencegah Kenakalan Remaja dan Mewaspadai Penyalahgunaan Narkoba, masa remaja disebut masa adolescent dalam bahasa Inggris. Jadi masa remaja disebut masa bertumbuh dan berkembang, baik pada bidang fisik, mental, sosial, dan rohani. Joni dan Andre mulai dihadapkan dua jalan. Ibarat di persimpangan jalan, ia akan memilih berjalan menuju kesengsaraan atau kenyamanan. Nah, tantangan inilah yang seringkali disikapi dengan kurang tepat oleh para muda-mudi. Sehingga abun-abun yang lama dibangunnya, sia-sia beralih menjadi kenestapaan.

   Mengharap kesuksesan, konsekuesi logisnya harus mencari metode atau cara untuk meraihnya. Kehidupan remaja atau awal dewasa, memang dirasa berat bagi siapapun. Masa-masa kebingungan, mengalami kesulitan menyesuaikan situasi dan mental, dilema. Situasinya, terkadang diihadapkan lingkungan yang masih tabu dengan belajar, inginnya main terus sedangkan waktu mengendap-endap siap menerjang siapapun yang menyia-siakan waktunya. Mentalnya belum siap, terpengaruh sana-sini. Baru bertekad ingin membaca, sejam kemudian handphone berdering, “Yuk! Karaoke yuk!” atau “Yuk! Nonton yuk!” Hati bimbang, tidak ada semenit langsung siap meluncur ke Bioskop nonton bareng teman-teman.

   Menentang arus bukan berarti nakal atau beda. Tapi berjalan sesuai dengan ‘seharusnya’. Saat ini masih lebih banyak yang berjalan ‘tidak seharusnya’ dan yang berjalan ‘seharusnya’ masih sangat minim sekali, sehingga cenderung dianggap beda. Misal, rata-rata mahasiswa pacaran, tapi Andre tidak pacaran, maka dia dikatakan berbeda. Itulah kenyataan pahit yang ada saat ini. Padahal Andre berjalan sesuai dengan ‘seharusnya’. Andre harus siap dan memendam tekad untuk melawan arus, arus deras yang dapat menghanyutkan siapapun yang menggenggam mimpi dan asa.

   Banyak sekali penghambat dan godaan menuju kesuksesan. Perlu ada strategi untuk menjalani pembelajaran di sekolah. Sesuai dengan artikel di buletin Ajisaka edisi 04 lalu, “Pengalaman Membaca Bukunya Nurani Soyomukti” menjelaskan bahwa saat ini sistem pendidikan formal di Indonesia masih belum kondusif untuk menyetak generasi muda yang produktif dan mandiri. Justru sebaliknya, sekolah formal memperburuk keadaan karena lingkungan sekolah tidak dapat memberikan kondisi tenang belajar. Menganggap sekolah sebagai satu-satunya jalan menuju kesuksesan tidak berujung kesuksesan. Sekolah bukanlah rules atau aturan-aturan belaka. Sekolah adalah wahana pengayaan diri, belajar menahan diri dari segala pengaruh lingkungan. Belajar adalah dimanapun, kapanpun, dengan siapapun, dan dengan apapun.

   Kesuksesan, perlu adanya kesepakatan definisi kata sukses yang jelas dan dekat dengan segala kontekstual. Jika sukses diartikan sempit, alih-alih kata kaya, maka keadaan bangsa tidak akan mengalami perbaikan dari sekarang ini. Redaksi Ajisaka sepakat dalam rapat redaksi (02/08), sukses adalah indikator duniawi interpretasi keberhasilan pengasahan bakat dan potensi seseorang. Artinya, kaya atau miskin bukanlah parameter kesuksesan. Kaya atau miskin adalah pilihan, tapi mengasah bakat dan potensi merupakan kewajiban setiap orang, apalagi kaum muda.

Menggali minat, bakat, dan potensi

   Mumpung masih muda, bahkan sedini mungkin kaum muda harus mengasah bakat dan potensi yang dimilikinya. Bakat dan potensi adalah faktor kuat meraih kesuksesan di masa depan. Andre, anak wirausaha sukses, bisa jadi mengalami kesulitan jika bergelut di bidang pertanian. Tentunya Joni, anak buruh tani lebih bisa mengatasi segala hal yang berkaitan dengan pertanian. Ini adalah yang disebut dengan bakat.

   Bakat bukanlah melulu bawaan lahir. Bakat cenderung berarti kedekatan rasa, pikiran yang mengalami pembelajaran tertentu berulang-ulang, sehingga seakan-akan Joni lebih ahli pertanian ketimbang Andre. Jika sudah dekat, pikiran dan rasa sudah dapat menyatu, maka seseorang akan lebih mudah melakukannya. Bakat lebih berkaitan erat dengan pengalaman, karena lingkungan yang dibangun menentukan bagaimana seseorang mampu mengambil hikmah pembelajaran dari bidang tertentu. Nalar yang muncul karena pikiran dan rasa menyatu, menjelajah hikmah pembelajaran setiap kejadian yang dialami.

   Mengapa Joni berbakat dalam bidang pertanian? Karena setiap hari ia dihadapkan kebiasaan keluarganya sejak kecil. Ketauladanan seorang ayah dan ibu yang secara tidak sadar terekam di otak bawah sadar Joni. Pengamatan bagaimana orangtuanya bertani selama bertahun-tahun membuat nalarnya aktif dan condong pada pertanian. Itulah bakat.

   Tapi bakat bisa juga menghilang seiring dengan kedekatan yang menjauh. Jika suatu saat Joni kuliah di perkotaan, lalu ia tidak pernah dihadapkan pembelajaran tentang pertanian, kemungkinan besarnya, bakatnya bisa menghilang. Apalagi jika Joni menemukan minat baru yang memaksa dirinya belajar tekun terhadap sesuatu hal, maka nalarnya akan beralih kepada hal yang baru tersebut. Bakat pertaniannya berangsur menurun lalu menghilang.

Biarpun begitu, bukan berarti Joni telah gagal dan salah. Kita tidak dapat melupakan peran potensi. Potensi adalah keadaan, situasi, kontekstual yang kuat untuk menuangkan minat atau bakat. Semisal Joni tinggal di desa, mungkin bakat pertaniannya akan terus terasah karena potensi. Di desa banyak lahan, banyak tempat untuk menuangkan bakatnya. Tapi jika dia dihadapkan di kota metropolitan? Tentu potensi pertanian tidak besar. Jika Joni beralih ke bidang lain yang potensi untuk dirinya, minatnya juga tinggi, maka bakat bukanlah halangan seseorang untuk menjadi ahli dalam bidang tertentu. Tinggal bagaimana nalar dapat aktif, seperti nalar dalam bidang pertaniannya. 
Pengelihatan, pendengaran, dan pemikiran dicipta untuk diberdayakan

   Andre yang sama sekali tidak berbakat dalam pertanian, bisa jadi dia menjadi ahli pertanian. Kebetulan Andre kuliah di daerah pinggiran kota yang masih sejuk dan banyak area persawahan atau perkebunan. Ia pun mulai sering bersinggungan dengan pertanian, munculah minat untuk menekuni pertanian. Ia memutuskan akan terus bergelut dengan agrobisnis, integrasi pertanian. Bukan berarti ia melupakan bakatnya, akan tetapi justru karena potensi yang dimilikinya adalah bertani. Memang awalnya Andre mengalami kesulitan saat belajar pertanian. Sejak kecil ia tidak pernah mencium bau tanah, apalagi mengaduk bokasi. Tapi karena ia berani memaksa, dan atas kesadaran keharusan memaksimalkan potensi yang dimiliki, ia menerjang segala hambatan untuk bertani. Semakin sering berhasil memaksa, semakin dekat rasanya, minat mulai muncul, lalu pikiran mulai dapat berlogika, nalarnya tentang pertanian muncul dan ia pun dapat berhasil dalam bertani.

   Minat, bakat, dan potensi harus digali, diasah, dan diaktifkan. Tidak ada takdir buruk bagi manusia yang berusaha memaksimalkan ketiga kata tersebut. Artinya, bukan harga mati Joni yang terlahir dari keluarga buruh tani akan terus merasakan ketidaknyamanan. Bukan ketetapan Andre tidak akan pernah bisa menjadi ahli pertanian. Tapi semuanya berawal dari mau memaksa dan mau belajar.

   Bagi para muda-mudi khususnya, untuk menjadi ahli dalam segala bidang, ketekunan belajar teori dan praktik adalah utama. Seperti yang telah diurai di atas, bahwa bakat dan potensi dapat diaktifkan. Tergantung bagaimana kita memaksa jiwa, raga, pemikiran, serta hati untuk memaksa supaya terus belajar. Andre yang memaksa dirinya tekun belajar, membaca teori pertanian, praktik pertanian akan menuai hasilnya. Meskipun dari usia nol hingga akhirnya ia menajajaki pertanian tidak pernah menyentuh pertanian sama sekali, tapi jika ia mengaktifkan minat, bakat untuk memaksimalkan potensi yang ada, bukan tidak mungkin ia akan sukses dalam bidang pertanian. Andre dan Joni sama-sama memiliki karakter pembelajar yang kuat. Andre dan Joni, belajar apapun, dalam situasi apapun, kondisi apapun, akan tetap teguh dan menjadi orang sukses karena karakter pembelajarnya yang kuat. Akhir kata, “air kopi mau dituang di gelas baik atau buruk, besar atau kecil, tidak akan mengubah rasanya, apalagi merubah kopi menjadi teh.”# 

Published on Nusantara Magazine 
October 2016,

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar