| Doc. Kakakhahu.blogspot.com |
“Siapa yang gak mau insentif lebih? Semua pasti mau lah!” Kataku dengan sangat ketus. “Pssst... Jangan keras-keras... Nanti ada yang dengar bagaimana?” Roni menenangkan. “Bos sudah kelewat pilih kasih Ron, aku lagi butuh duit, aku mau cuti, mau ngajakin anak-anak jalan-jalan.” “Iya aku tahu itu, tapi ngomongnya jangan keras-keras...” “Ah biar saja, toh kita berbicara pelan juga tetap tidak akan ada insentif!” Kalimat terakhir ini membuat seluruh orang dalam ruangan kantor ukuran 10x8 meter ini menengok ke arah kami berdua. Roni langsung pura-pura kembali ke posisi bekerja di mejanya. “Kamu sudah gila bro!” Ucapnya lirih.
Kerja di perusahaan media Tv tidak lah santai. Berangkat pagi pulang malam, bisa jadi sampai menginap di kantor. Masih banyak yang harus aku kerjakan, tapi aku putuskan untuk tetap pulang saja. Percuma giat bekerja toh bos tidak akan pernah menganggap kerja kerasku selama ini. Dia lebih pilih Assistent Producer baru itu. “Bos emang kalo sama perempuan suka begitu, genit, dan jadi kurang profesional.” Batinku menggerutu habis-habisan tidak ada hentinya.
Hari ini sungguh mengesalkan buatku. Liburan ini aku berjanji pada anak-anakku dan istriku untuk mengajaknya jalan-jalan ke London. Perusahaan tempat aku bekerja memang menyediakan insentif lebih bagi yang bekerja bagus dan giat. Berangkat paling awal, pulang paling akhir, dan bahkan banyak berlembur. Semua orang di kantor juga tahu bahwa aku lah yang pantas mendapatkan insentif dan mendapat promosi jabatan. “Aih! Bosku sudah buta kemakan perempuan!”
Perjalanan dari Stasiun Pasar Senen ke Stasiun Tanjung Barat memerlukan sekitar sejam. Itu pun jika beruntung, jika tidak bisa lebih. Ditambah lagi KRL yang terbatas, ditumpangi lebih dari seribu orang. Alaamaaak.... bau badan campur keringat, aura emosi, kesal, dan putus harapan menambah hatiku tak enak.
Rumahku tidak jauh dari Stasiun Tanjung Barat. Hanya tinggal menyeberang, berjalan sekitar limaratus meter sudah sampai di perumahanku. Polusi, kendaraan berisik, hawa panas ibukota merupakan beberapa hal yang selalu melekat dalam kehidupan orang yang tinggal disini. Pokoknya bawaannya stress aja!
Sampai di rumah, istriku menyambutku. Memang dia lah yang bisa mengobati kepenatan hari-hariku. Tahun ini adalah tahun ke-19 sejak kami menikah pada tanggal 24 Oktober 1996. Tapi dia tetap setia denganku, meladeniku, dan bisa jadi penyejuk hati.
“Assalamualaikum, bapak pulang...”
“Waalaikum salam...” Suara perempuan kecil, imut, nan menggemaskan menyambut dari balik pintu.
“Aaah,,, coba lihat anak bapak sekarang pintar ya... Selalu membukakan pintu.” Aku langsung menggendongnya. Annasya Adreena Saila, dipanggil Saila. Anak keduaku yang baru berusia 7 tahun.
“Aaah coba bapak ingin dengar, hari ini Saila diajari apa di sekolah? Masih ingat tidak?”
“Hhhmmm....” Dia seperti mengingat-ingat. “Apa yaa... Saila lupa bapak... hihihihi” Lesung pipinya semakin mengindahkan senyumnya yang lucu.
Istriku datang, langsung menyalamiku dan mencium tanganku. “Ayo mas, makan malam dulu.”
“Ayo kita makan malaaaaam!” Teriakku.
“Ayooo!” Saila bersemangat.
Semua kepenatan di kantor, perintah bos, ketidakadilan bos, hilang seketika setelah kulihat wajah keluargaku di rumah. “Azril! Ayo sini nak... Makan malam dulu!” Istriku memanggil anak sulungku yang kamarnya berada di ujung. “Iya buk, sebentar masih buat PR bentar!” Balas Azril. “Aah,, nanti dulu, ini bapak sudah pulang, ayo makan dulu! PR-nya bisa dikerjakan setelah makan!” “Iya iya,, ini otewe buuk.”
Azril Mekka Adiwangsa, anak sulungku yang menginjak pendidikan SMA. Dia adalah anak yang penurut dan berprestasi di sekolahnya. Aku sebagai ayahnya harus terus mendukung perkembangan anak sulungku tersebut. Makannya, aku butuh tambahan duit untuk sekedar mengajaknya jalan-jalan ke London. Setelah mendengar rencanaku ini, anak-anakku sangat senang dan bersemangat. Aku tidak boleh mengecawakannya. Selama ini aku tidak punya banyak waktu untuk mereka. Cuti depan ini adalah saatnya.
“Bapak, jadikah kita jalan-jalan ke luar negeri liburan ini?” Tanyanya padaku.
“Huuss... Belum-belum sudah tanya itu ke bapakmu. Bapakmu kan baru pulang. Tidak sopan nak.” Sahut istriku. Istriku memang istri yang shalehah. Aku sangat beruntung bisa bersanding dengannya.
“Iya, bapak usahakan nak. Kalau ada lebih nanti bapak ajak kamu dan Saila jalan-jalan ke London!”
“Horee!” Teriak Azril kegirangan. Saila diam saja dengan muka datar. “Saila diam aja?” Tanyaku. “Saila disini sama bapak ibuk saja sudah senang.” Katanya. Aku memeluknya sayang. Saila memang anak yang bisa buat hati adem.
“Tiru adikmu kak Azril... Jangan kesenangan dulu.” Sahut istriku.
“Iya buk, Saila diam kan karena dia belum paham. Dia masih kecil belum tahu enaknya jalan-jalan ke luar negeri!” Jawab Azril.
“Emang kak Azril udah tahu?” Celetuk Saila. Henyak sejenak, lalu “Grrrrr!” Semua serentak tertawa. Lagi-lagi Saila memecahkan suasana malam yang kurasa harmonis dan hangat ini.
***
Seperti biasa, naik KRL pagi-pagi begini penuh sekali. Lebih banyak yang hendak pergi ke arah Jakarta Pusat. Satu jalur dengan arah ke kantor ku, daerah Senen. “Berangkat udah gini, ditambah lagi bos yang sekarang lagi gak bisa bikin sreg hati.” Pagi-pagi batinku sudah bergelut. Meskipun berdesak-desakan, perjalananku menuju kantor lancar. Aku tetap datang lebih pagi dari jam normal masuk kantor ̶ masih ngarep dapat insentif dari bos.
“Pagi bro!” Pundakku ditepuk dari belakang. “Eh, kamu Ron! Kok tumben kamu datang pagi benar hari ini?”
“Hari ini bos kan mau ngajakin kita meeting.”
“Meeting? Kok aku gak tahu.”
“Loh? Lewat whatsapp kok!”
“Oh lewat Whatsapp... Pantesan...”
“Coba deh cek!”
“Mohon maaf pemberitahuan meeting ini kurang resmi. Hal ini dikarenakan pak Jody akan ada urusan ke luar negeri mulai besok hingga seminggu kedepan. Jadwal meeting tentang promosi jabatan yang sebenarnya dilaksanakan pada hari Kamis minggu ini diajukan menjadi besok pagi pukul 08.00 WIB di tempat yang sama. Demikian mohon kemaklumannya. A.n. CEO” Ada chat dari Laisty, Personal Assistent-nya bos.
“Kan ada kan?”
“Eh iya nih ada, yok!”
Hari ini adalah hari penentuanku. Jika hari ini aku tidak mendapat promosi jabatan itu. Aku harus hengkang dari perusahaan ini. Apalagi yang bisa diharapkan dari karirku di perusahaan ini jika pandangan bos masih subjektif. Tampak di ruangan meeting semua karyawan tingkat 2 (dua) berkumpul.
Bosku duduk di depan dan tentunya Laisty duduk di sampingnya.“Baik sudah berkumpul semuanya ya?”
“Sudah mas...”
“Pertama, saya mohon maaf karena hari ini, anda semua harus datang lebih pagi dari waktu normal karena ada beberapa hal yang harus saya sampaikan dan kerjakan.” Bosku memulai meetingnya.
“Agenda meeting hari ini adalah pembacaan surat keputusan tentang promosi jabatan. Berhubung hari kamis saya sudah berada di Paris, maka agenda meeting hari kamis saya ajukan hari ini.”
“Tidak usah berlama-lama, jadi berdasarkan keputusan manajemen, akan ada karyawan yang mendapat promosi jabatan. Karyawan yang saya sebutkan namanya silakan berdiri. Berdasarkan surat keputusan nomor kosong satu titik dua puluh garis miring tujuh dua tiga titik enam, karyawan yang berhak mendapatkan promosi jabatan adalah karyawan yang bernama..... Saudara Azam Putra.”
Serentak pandangan mata melihatku. Riuh tepuk tangan penghargaan tertuju padaku. Aku mati kutu, eh lebih tepatnya mati gaya. Aku tahu benar, mukaku pasti terlihat random acak-acakan. “Silakan berdiri saudara Azam....” Bosku mempersilakan.
“Jadi setelah ini saudara Azam Putra .akan menmpati posisi sebagai Producer. Saya mewakili pihak manajemen mengucapkan selamat dan mudah-mudahan dapat menjalankan tugas dengan baik.”
“B..b.bb.baik mas, terimakasih.” Aku gugup, kata-kataku belepotan.
“Ada apa? Seperti ada yang aneh pada anda.” Bosku bertanya.
“Ehm.. Tidak mas, terimakasih banyak karena telah percaya pada saya.”
“Buat yang lainnya, tetap semangat bekerja ya, karena saya masih akan terus mengumumkan karyawan yang akan mendapatkan promosi jabatan, ya?”
“Oke baik, terimakasih banyak ya semuanya. Sekali lagi selamat untuk saudara Azam Putra. Demikian saja.” Bos menyalamiku lalu meninggalkan ruangan.
Aku masih berdiri, mematung. Tepuk tangan riuh kembali. Mataku masih tidak bisa bergerak. Aku senang berlebihan. “Selamat ya bro!” Roni memberi selamat kepadaku. “Selamat ya! Selamat ya! Selamat ya!” Semua teman-temanku memberiku apresiasi selamat.
Aku bengong beberapa saat. Entah apa yang kupikirkan, tapi aku merasa bersalah pada bosku. “Betapa aku berdosa padanya. Ternyata prasangkaku terhadapnya telah berlebihan.” Aku merasa sangat bersalah. Sangat bersalah.
Betapa malunya, selepas dari kantor, aku di panggil oleh kepala HRD dan dia juga memberi insentif tambahan kepadaku. Entah, kekesalanku tidak muncul lagi. Sekarang kiranya aku sangat malu sekali. Sayang, tak ubah juga rupaku ini. Rasanya ingin mengganti wajahku supaya tidak dikenali lagi. Aku sangat malu. Memalukan sekali.
***
Tatapanku penuh tanya. Istriku paham dengan tatapanku. “Begini mas, beliau adalah mas Wahyu pemilik panti asuhan Lil-Alamiin, dan ini satu lagi beliau adalah mbak Tami sebagai ibu panti asuhan. Aku mengangguk-angguk. “Jadi pak, mohon maaf sebelumnya, maksud kedatangan kami kesini adalah kami ingin meminta bantuan bapak dan ibu. Kami membutuhkan uang untuk keperluan anak-anak di panti asuhan. Kami mohon kepada bapak ibu untuk membantu kami.” Sahut pak Wahyu. Beliau tampak memelas. Aku paham dengan kondisinya yang terjepit ekonomi. Masalahnya menyangkut masa depan anak-anak yang tinggal di panti asuhan.
“Hhmmm, memang panti asuhan sedang membutuhkan berapa?” Tanyaku dengan nada hati-hati. “30 Juta rupiah pak, tidak ada yang mau menjadi donatur kami. Kami sangat membutuhkan bantuan bapak sekarang. Jikalau besok kami ada rezeki, kami akan kembalikan hutang kami pada bapak, meskipun berangsur ya pak.” Jawab pak Wahyu.
Sontak batinku berkata, “Gila, itu kan gajiku 1,5 tahun plus insentif. Rencanaku bisa gagal ngajak anak-anak ke London.” Istriku memandangku terus. Aku memberi kode kepadanya untuk masuk dulu ke kamar.
“Permisi pak Wahyu, kami diskusikan terlebih dulu.” Istriku pamit.
“Dik, kita bisa gak jadi jalan-jalan ke luar negeri nih kalau begini nih!”
“Mas, panti asuhan itu butuh bantuan kita mas.”
“Iya tapi, aku baru dapat promosi jabatan, juga baru dapet insentif dari perusahaan, kita bisa jalan-jalan nih liburan ini.”
“Mas, kita berikan dulu kepada yang lebih membutuhkan mas. Jalan-jalan mah bisa kapan-kapan kan mas?” Istriku memberiku pertimbangan.
“Iya, tapi kan rencana ini sudah terencana sejak lama kan?”
“Sayang, kita harus empati terhadap mereka. Kita harus bantu mereka, kasihan anak-anak di panti asuhan kalau kita tidak membantu mereka. Kita bisa jelaskan keadaan ini kepada anak-anak. Gampanglah anak-anak nanti.”
Kali ini aku tidak akan hanyut dengan sapaan sayang dari istriku. Memang biasanya aku akan klepek-klepek jika dia begitu, tapi kali ini tidak. “Enggak ah! Rencana liburan kita harus jadi, kita udah bertahun-tahun loh gak pernah jalan-jalan begini satu keluarga kan?” Aku agak marah. “Pokoknya tidak dik!” “Mas, mas.. mas dengerin bentar mas!” Aku keluar kamar lalu kembali berhadapan dengan dua tamu dari panti asuhan. Istriku mengikutiku.
“Maaf pak Wahyu dan mbak Tami, kami turut menyesal dan sedih dengan apa yang menimpa panti asuhan. Sebenarnya kami pun ingin menjadi bagian dari panti asuhan. Namun, kami tidak dapat berbuat banyak. Kami sangat terbatas, untuk saat ini kami tidak dapat membantu. Dengan sangat menyesal sekali, saya mohon maaf kepada anda. Sekali lagi mohon maaf sekali.” Ku lihat raut muka istriku. Tampak istriku sedih dan merasa kecewa terhadapku.
“Baiklah pak, kami juga tidak dapat berbuat apa-apa jika memang begitu adanya. Kami berterimakasih sekali kepada bapak dan ibu yang mau mendengarkan kami. Jika memang dirasa cukup kedatangan kami disini, kami mohon pamit dulu. Assalamualaikum.” Kedua tamu kami pamit. Mereka menyalami kami dengan muka tertunduk sedih. Aku paham sekali keadaan mereka berdua, tapi kali ini aku harus mengutamakan kepentingan keluargaku.
Setelah kedua tamu kami pergi, tanpa berkata-kata istriku masuk kamar dengan dingin. Dingin sekali. Aku coba bertanya apapun kepadanya, segala rayuanku, dan kucoba mengajaknya mengobrol, dia tetap diam. Biasanya setiap malam kurasakan kehangatan pelukannya, malam ini dia tidur memalingkan badanya. Yang kulihat hanyalah punggungnya. Dia mungkin sedang tidak enak hati, atau kecewa padaku? Atau marah?
***
Dengan gerak sangat cepat, aku segera berangkat ke kantor. Aku berlari menuju stasiun Tanjung Barat yang tidak jauh dari perumahanku. “Aah, aku lupa lagi bawa arloji!” Sesampainya di stasiun, satpam bertanya padaku. “Pak mau ke arah mana?” “Senen pak.” “Yah, maaf pak, pagi ini ada kereta anjlok, bisanya ke arah Depok pak.” “Oh begitu?” Mendengar informasi dari pak satpam aku bengong sebentar sekitar 3 detik.
Setelah sadar, aku pacu langkah kakiku. Keluar stasiun, cari angkot “J”. Ketemu angkot “J”. Isinya bujugile penuh abiz. “Ayo mas! Masuk aja, masih bisa mas!” Teriak supir angkotnya. Terpaksa aku harus naik. Meskipun berdesak-desakan. Ada mahasiswa, ibu-ibu sambil bawa tas rotan isinya ayam jantan, dan lainnya. “Kalo gak gini, bukan orang Jakarta mas namanya mas.” Kata salah seorang ibu-ibu agak tua di pojok belakang. Sepertinya dia tahu raut wajahku yang tidak biasa naik kendaraan umum begini.
Sudah panas, sempit, banyak polusi, macet pula. Hari ini seperti kena batunya karena tidak menuruti kata istriku. Terlebih membantu panti asuhan yang kemarin. Leherku terbatas geraknya. Hanya bisa ke kiri sedikit, ke kanan sedikit, dan kedepan melihat aspal atau toko di sisi kiri jalan.
Di daerah Tebet, angkot kami terjebak macet. “Huuuft.. Sabar... Sabar....” Sepertinya sudah 20 menit lebih angkot kami tidak bergerak sama sekali. “Pak ada apa nih pak?” Tanyaku kepada supir. “Sabar mas, ya emang begini! Kalau hari-hari ramai begini ya macet mas, tunggu aja bentar lagi mas.” Supir menjawab dengan santai. Aku paham, dia sudah ratusan kali pasti mengalami hal seperti ini. Tak ayal jika dia bisa tetap santai.
Ku pandangi sisi kanan dan kiriku. Ibu-ibu gendut di pojok yang membawa tas isinya ayam jantan tampak sudah tidak sanggup lagi. Hari ini sangat panas sekali. Hidungnya kembang-kempis. Mulutnya berulang kali menghembuskan napas dengan sedikit keras. Dia merasa gerah.
Jika sudah macet begini, kesempatan buat para pengamen untuk meminta-minta. Terhitung sudah hampir sembilan pengamen yang sudah singgah ke angkot kami. “Jreng! Pak bu, selamat pagi hampir siang! Perkenankan saya menyanyikan sebuah lagu untuk bapak dan ibu semua.” Pengamen cilik, lusuh, dengan baju coklat ̶ maksudnya putih yang sudah pudar karena kotor ̶ mulai menyanyikan lagunya. Selesai bernyanyi ia menyodorkan gelas plastik bekas kemasan air mineral. Seluruh penumpang angkot hanya diam saja. Ada yang pura-pura tidak melihat, ada yang pura-pura tidur, pokoknya apapun yag dilakukan supaya terhindar dari pengamen tersebut.
“Baik, bapak dan ibu semua, terimakasih atas kebaikan bapak ibu karena telah mendengarkan saya menyanyi, demikian saja terimakasih dan semoga perjalanan anda lancar sampai tujuan.” Pengamen itu lalu pergi. Karena kasihan, aku panggil dia kembali. “Eh, Dik! Sini sini!” Anak kecil itu kembali. “Iya pak?” “Kamu udah sarapan?” Tanyaku. “Belum pak.” “Ini saya kasih kamu uang untuk sarapan. Tuh disitu ada penjual nasi uduk. Belilah dan makan ya dik!” Aku beri dia lima belas ribu rupiah. “Terimakasih banyak pak, semoga bapak selalu dimudahkan rezekinya, amin!” Ucapnya, lalu kulihat dia membeli nasi uduk di samping jalan.
Senang rasanya melihatnya memegang sebungkus nasi uduk dan sebotol air mineral. Tapi setelah ia membuka bungkus nasi uduk itu. Dia tidak segera memakannya. Dia memperhatikan seorang kakek tua, berjenggot panjang putih, rambutnya juga sudah putih semua, memakai baju hem putih yang lusuh, celana pendek, kurus kering, memegang sebuah tongkat sedang duduk di bawah jembatan penyeberangan. Anak tadi menghampirinya lalu duduk di sampingnya. Ia tidak memakan nasi uduk itu sendirian, melainkan membaginya dengan kakek tua itu.
Pemandangan ini sangat memilukan. Apakah Tuhan sengaja membuat hari ini dengan segala rencananya untukku? Tak terasa, air mataku menetes. Tampak anak tadi dan kakek tua itu tersenyum bahagia, seperti keluarga, dan mereka seperti tidak merasakan susah sama sekali. Mereka merasa hidupnya ringan-ringan saja dan masih dapat berbagi dalam kekurangannya. Pantulan spion angkot memantulkan wajahku yang menjadi jelek, cengeng, dan mataku tampak memerah. Aku melihat wajahku sendiri. Wajahku, tampangku lebih buruk dari anak tadi. Hatiku lebih kotor darinya. Aku sadar, betapa buruknya aku melalui kaca spion angkot jelek dan bau bensin ini. “Nanti, sepulang dari kantor aku akan berbicara pada istriku!” Teriak hatiku.
05 Juli 2016, Tanjunganom, Nganjuk.
Cerpen oleh : Muhammad Arif Asy-Syathori

Hmm like all the story 😃😃
BalasHapus