image1 image2 image3

HELLO I'M MUHAMMAD ARIF|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|WRITING 'N LEARNING IS MY PASSION|I'M PROFESSIONAL WRITER

Terusir

Sumber gambar : pancensondel.blogspot.com

   Berada dalam kegelapan, tidak ada lampu penerangan adalah sebuah bencana bagi setiap makhluk yang berharap kenyamanan. Apalagi dalam hutan lebat yang gelap. Pohon-pohon menjulang tinggi dan semak-semak yang lebat justru menjadi pajangan tak semewen dan membuat hati semakin kecut, kala dalam situasi itu. Desas-desis angin, suara ranting berbisik, semakin memojokkan setiap diri yang terjebak di dalamnya.
   
   Aku punya ide, aku harus sampaikan pesan kepada Tuhan. Aku ambil batu pipih lalu ku tulis di ranting pohon. “Tuhan, aku hambaMu yang beriman. Beri petunjuk kepadaku kemana saya harus pergi?” Aku yakin Tuhan mendengarku. Bukannya Dia mendengarkan semua suara yang di bumi? Batinku berbicara demikian. Aku percaya sekali. Aku memang tidak mengenal Tuhan, dimana Dia, tinggal dimana Dia selama ini? Aku tak tahu.  Setidaknya biarkan ranting pohon ini yang menyampaikan pesanku kepada-Nya.

   Siang berganti malam, hingga berhari-hari tapi Tuhan tidak juga menjawab pertanyaanku. “Ah! Mungkin tulisan itu terlalu kecil hingga pengelihatan-Nya tidak sampai.” Aku harus buat pesan yang lebih besar. Ku tulis pesanku yang sama dengan tulisan yang lebih besar. Di pohon yang lebih besar juga.

   Aku tunggu kembali. Berhari-hari pula tidak ada jawaban. Pesan tidak tersampaikan kepada Tuhan, kiraku. Hatiku sedikit marah kepada Tuhan. Mungkin ini karena badanku juga semakin melemah. Hatiku jadi kacau. Tapi harapanku tidak pupus begitu saja. Aku terus berusaha untuk menyampaikan pesanku pada Tuhan. Aku percaya sekali bahwa yang bisa menolongku hanya Dia.

    “Ah! Aku lupa sesuatu, Tuhan kan melihat semua makhluk di bumi dari atas. Tuhan berada di langit.” Seruku. Aku cari pohon yang tumbuh paling tinggi dari sekian banyak pohon. Ku temukan pohon dengan diameter 4 (empat) meter dan mungkin tingginya sekitar 10 meter ke atas. Sebenarnya ada yang lebih besar lagi, tapi aku takut jika terlalu tinggi. Ku panjat lah pohon besar itu. Naik, naik, naik terus hingga kiranya pandangan Tuhan tidak terhalang-halangi oleh ranting atau dedaunan pohon yang lain.

   “Tuhan, tolong hambaMu yang beriman ini... Engkau yang Maha Pengasih dan Penyayang, tunjukkan aku jalan keluar dari hutan ini.” Tulisku di ranting pohon dengan besar dimaksudkan supaya Tuhan melihatnya dari atas.

   Harap-harap cemas menunggu jawaban dari Tuhan. “Akankah Tuhan melihat pesanku? Atau Dia melewatkannya?” Rasa cemas ini muncul karena pikirku manusia tidak hanya aku saja. Sementara Tuhan hanya satu. Barangkali Dia ingin menolongku tapi ada manusia lain yang sedang ditolongNya. Apa aku harus menunggu Tuhan menyelesaikan pekerjaan-Nya dulu? Tapi kapan selesainya? Manusia ada berjuta-juta, barangkali ada manusia lain yang juga tersesat sepertiku. Pikiran dan hatiku menggrutu. Berharap, tapi cemas. Ini bukan hanya tentang menunggu cinta, tapi ini tentang nyawaku. Ah sial!

   Satu minggu, dua minggu, tiga minggu, setiap berganti hari aku beri tanda garis di pohon dekat gubukku.Aku masih belum juga lolos dari dekapan hutan lebat ini. Badanku semakin terkulai lemas. Meski tidak ada cermin, aku bisa melihat diriku menjadi kurus. Kurus. Kurus sekali. Imanku juga sama. Lama-lama imanku juga menjadi kurus, tipis setipis kertas. Sebenarnya Tuhan ada atau tidak?

   Dengan segera aku tepis pikiran negatifku pada Tuhan. Masih ada butiran iman di diriku, sepertinya. “Ah! Mungkin Tuhan tidak berada di langit. Banyak yang menjadi kaya setelah bertapa di gua. Berarti Tuhan berada dalam gua. Akan aku kirim pesan permohonanku kepadanya disana.” Teriakku.
Aku bangkit dari posisi tiduran dengan sangat berat sekali. Tanganku harus membantu kedua kakiku untuk berdiri sepenuhnya. Badanku terbungkuk, lambungku sakit, tenggorokanku kering, aku juga sudah hampir tidak dapat bersuara lagi. “Yaa Tuhanku, tak lihatkah Dirimu? Tak kasihankah Dirimu melihatku? HambaMu yang beriman.” Gerutu suara batinku dengan sedikit kesal. Aku kesal pada Tuhan.

   Meskipun malam hari, aku tetap mencari gua. Aku harus memberi pesan kepada Tuhan. Aku ingin terus terang kepada Tuhan. Bahwa Tuhan telah tidak bekerja sesuai dengan fungsiNya. Seharusnya Dia menjaga setiap manusia dan tidak menyusahkan begini. “Jangan-jangan Tuhan telah berlaku sama kepada setiap makhluk-Nya?” Dentuman hatiku lebih keras saat ini.

   Setiap kali aku menggerutu kepada Tuhan, pasti aku berusaha langsung menepis pikiran-pikiran negatif tersebut. Masih ada takut. Berjalan kesana-kemari juga tidak dapat menemukan sebuah gua pun. Hingga matahari bangun dari tidurnya, bulan mengantuk lalu tidur, pencarian gua ini tetap nihil. Tidak ada gua dalam hutan. Aku lelah sekali. Akhirnya tertidur.

***

   Sudah terhitung hampir setahun aku  berada di hutan ini. Tuhan membiarkan aku masih hidup. Artinya Tuhan ingin melihat aku lebih sengsara lagi dari kondisiku saat ini. Setelah tidak kutemukan gua di hutan, aku pikir Tuhan berada di tepi sungai tapi ternyata Dia tidak disana. Semua tempat yang kukira Tuhan disana, Dia tidak memberi tanda-tanda keberadaan-Nya.

   Aku jatuh putus asa. Mungkin disinilah tempat tinggalku sekarang. Tak akan lagi berharap akan pertolongan Tuhan.  Bahkan aku masih bisa hidup tanpa pertolongan-Nya. Buat apa? Semakin memperburuk keadaanku.

   Meskipun tubuhku terbiasa hidup di hutan, tapi hatiku tidak terbiasa. Hatiku menunjukkan bahwa tabiat manusia adalah kenyamanan. Mencari kenyamanan. Begitu pula jasad ini yang semakin lemah karena terus dipaksa menghadapi keadaan ini.

   Tubuhku semakin compang-camping. Hampir telanjang. Bukan lagi telanjang dada, tapi telanjang buta. Panas, dingin, sejuk, hangat, langsung menyentuh kulit. Aku tidak mau melihat genangan air hujan. Karena genangan air itu menunjukkan rupaku yang buruk rupa. Sudah seperti Tarzan.

   “Sekarang istri dan anak-anakku sedang apa? Sudah besarkah anak-anakku? Pasti mereka mencariku. Mereka merindukan aku.” Aku menangis. Menangis. Mengapa Tuhan begitu tega terhadapku? Aku percaya adanya Tuhan, tapi mengapa begini?

   Satu tetes, dua tetes, hingga turun hujan lebat. Aku terkulai lemas. Hujan menyerang tubuhku. Terasa dingin sekali. Mataku terpejam. Rasa dingin ini semakin dingin, semakin dingin, naik, naik, naik dan lepas!.

***
   Aku melihat keramaian yang luar biasa di hutan ini. Yang tadinya sepi menjadi ramai, ramai sekali. Banyak manusia juga berlalu-lalang. Tapi di keramaian ini aku tidak merasakan kehadiran mereka. Perasaanku masih saja sepi, dan keramaian ini tiada arti. Justru rasa-rasanya semakin pilu.

   Mereka memandangi aku, aku juga memandangi mereka. Beberapa aku mengenal mereka, tapi tidak mengenal. Beberapa aku tahu dan ingat wajah mereka, tapi aku tidak mengenal. Ini sungguh aneh.

   Aku lihat sosok pria paruh baya duduk di atas batu di bawah pohon. Dia memandangku. Aku hampiri dia. “Maaf, apakah anda tahu jalan keluar tempat ini?” Aku memulai pembicaraan dengan sedikit canggung. “Ya, saya sudah berada disini selama bertahun-tahun.” Jawabnya. Aku bingung mendengar jawabannya.

   
   “Maksud anda bagaimana? Mengawasi saya.”
   
   “Saya sudah berada di tempat ini jauh sebelum anda datang.”
   
   “Anda sudah lama disini?”
   
   “Saya sudah 1700 tahun, ibu-ibu itu ada disini sebelum saya, bahkan sebelum saya terlahir. Kakek tua botak itu 2 tahun setelah saya.” Suaranya serak dan lirih.
   
   “Apakah tidak ada yang bisa saya lakukan?”
   
   “Tidak ada.”
   
   “Bagaimana bisa?”
   
   “Sekarang sudah ketetapan.”
   
   “Sekarang sudah ketetapan?”
   
   “Ya, sudah terlalu telat menyadarinya. Nasi sudah menjadi bubur. Anda sudah mati.”
   
   “Saya? Mengapa?”
   
   “Anda sudah terlalu lama berdiam diri di hutan lebat ini, dan mereka merasa kasihan pada anda. Lebih baik anda mati saja.”
   
   “Mereka? Siapa?”
   
   “Para malaikat yang diperintah oleh Tuhan.”
   
   “Mengapa mereka melakukannya padaku?”
  
    Pria itu diam sejenak. Pandangannya beralih kosong ke depan. Tiba-tiba saja dia merokok. Rokok dari mana? Tadi dia tidak merokok.

   Suasana senyap sejenak.“Ini adalah cara Tuhan menunjukkan kuasa-Nya Pur.” Dia mengetahui namaku.
  
  “K..k..kuasa-Nya? Itu semua omong kosong. Saya sudah mencari Diri-Nya tapi Dia tidak pernah menggubris diriku! Omong kosong dengan kekuasaan Tuhan!” Bentakku.
   
   “Apa daya anda sekarang? Anda bisa apa? Mengapa anda disini? Mengapa anda terjebak di dalam hutan lebat yang tiada ujungnya? Anda tahu? Anda tahu? ANDA TAHU!?” Kalimat terakhir diucapkannya dengan keras. Aku tercengang.
   
   “Tapi aku beriman. Aku percaya Tuhan.” Kataku.
   
   “Tuhan akan menjawab belum, anda belum beriman. Anda baru Islam.” Serobotnya.
   
   “Saya sudah melakukan kebaikan selama ini. Mengapa Dia tidak melihatnya?”
   
   “Anda baru melakukan kebaikan, tapi belum sempurna.”
   
   “Saya adalah umat Nabi Muhammad. Mengapa Tuhan tidak menolongku?”
   
   “Anda ingat pernah bertemu dengan Nabi? Sang Petunjuk? Sang Penerang? Pembawa Nur Muhammad?”
   
   “Tapi saya mempercayai Nabi. Saya mengimaninya.”
   
   “Jangan berkata demikian, anda saja tidak mengenalnya, tidak pernah bertemu dengan-Nya. Saya hidup se-zaman dengan Nabi. Tapi sulit untuk langsung percaya padanya.”
   
   “Mengapa? Anda bodoh sekali!” Aku balik bertanya kepadanya.
  
  “Saya bodoh? Bagaimana anda mengatai saya? Nabi Muhammad tidak dapat baca-tulis, Nabi adalah laki-laki bodoh kala itu. Apakah anda dapat mempercayai dirinya? Percaya bahwa Nabi adalah wakil Tuhan yang menunjukkan keberadan-Nya? Nabi Muhammad kala itu gembel. Lebih gembel dari anda. Kiranya, anda akan percaya begitu saja?” Jawabnya lebih ketus.
   
   Suasana hening sejenak.
   
   “Saya sudah bertawakkal kepada-Nya.”
   
   “Belum, anda justru menuntut-Nya.”
   
   “Saya sudah berdzikir......”
   
   “BELUM! Anda baru mengucapkan nama Allah.”
   
   “Saya sudah mengenal..”
  
  “BELUM! ANDA BAHKAN BELUM PERNAH MENYAKSIKANNYA!” Pria itu membentakku dengan sangat keras.

   “Ketahuilah! Ketika anda berada dalam hutan lebat ini, seharusnya anda bukan mencari yang menciptakan hutan lebat ini. Tapi carilah yang ‘diutus’ untuk menjaga hutan ini. Karena sang penjaga hutan ini dapat menunjukkan jalan keluarnya. Anda sudah terjebak dengan lebatnya hutan ini. Akhirnya anda buta. Hati anda buta. Anda tertutup. Anda merasa sendiri, anda adalah salah satu dari sekian banyak yang terusir.”

    “Siapa dia? Siapa yang menjaga hutan ini?” Tanyaku padanya.

   Pria itu tiba-tiba menghilang. “Dia adalah pengikut sang penjaga hutan ini. Dia lah yang mendapat petunjuk dari sang penjaga hutan ini. Dia lah yang bertemu dan menyatakan telah bersaksi atas adanya penjaga hutan ini. Penjaga hutan sebagai penunjuk jalan, penerang jalan, dan pembimbing menuju jalan keluar dari hutan lebat ini.” Suara kecil dari belakang. Ku lihat dia adalah bayi kecil, bersih, putih dan bercahaya. Lalu badannya terbang ke langit, melayang, dengan wajah berseri. Aku tersungkur, menangis, dan menyesal sekali.

Happy Reading.... #JATAMA #JATAYU_MEDIA_UTAMA

24 Juni 2016, Tanjunganom, Nganjuk

Muhammad Arif Asy-Syathori


 

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar