![]() |
| Sumber foto : www.majalah-misteri.com |
Tampak perempuan tua sedang tertegun melihat pagar tembok tua yang sudah banyak diselimuti lumut hijau. Kian tampak belang rambutnya, putih-hitam. Rambutnya terikat tidak rapi. Angin berdesir sedikit kencang menyentuh kulit-kulit kayu jati yang sudah berbentuk perabot tua. Pintu depan termagut-magut diterpa angin, perempuan itu tidak merisaukannya. Kedua matanya sayup-sayup berat. Angup pun tak membuatnya beralih ke dipan kayu di kamarnya. Ia merasa seperti tidak ada lagi gunanya hidup. Pupus segala harapannya.
Sri, dilahirkan oleh sepasang suami-istri, mbah Joyo dan Rinem, 65 tahun yang lalu. Mbah Joyo, begitulah julukan bagi ayah Sri. Joyo berarti ‘jaya’ yang artinya memberi kebebasan dan keberhasilan bagi penduduk bumi di desa Tanjung. Nama aslinya adalah Rohmat.
Ayahnya Rohmat merupakan pejuang kemerdekaan yang ulung. Ayahnya berasal dari negeri seberang. Sebuah tempat nan jauh, ditempuh selama berbulan-bulan. Harimau besar masih berkeliaran dan kadang memangsa manusia. Kemudian ayahnya merantau mencari tanah suci yang banyak diperbincangkan di negerinya. Kata orang-orang, andai dapat mencapai tanah itu, sejahteralah hidupnya dan tidak akan menemui kesengsaraan. Saat itu memang Belanda sudah lama berlaku tidak sopan terhadap pribumi.
Lantas Ayahnya membulatkan tekad untuk mencari ketentraman dari buah bibir orang-orang. Pergilah ia dengan bekal dan pengetahuan daerah yang nihil. Pokoknya laki-laki harus memperjuangkan kesejahteraan, itu saja pikirnya.
Ayahnya terus berjalan dengan harapan dapat sampai ke tempat yang diidam-idamkannya. Ia pun akhirnya dapat menyeberang dengan menyamar sebagai pelaut yang ikut mengasingkan orang-orang Tionghoa ke pulau seberang. Sesampainya ia di pulau seberang, berjingkrak-jingkraklah ia seperti anak bayi yang baru bisa berjalan. Terburu-buru ia berlari, entah kemana, yang penting aman, sejahtera, dan jauh dari Belanda.
Tapi, siapa yang bertanggungjawab jika ternyata apa yang didengarnya lalu tidak berbuah kenyataan? Ternyata Belanda telah menyebar ke semua penjuru Nusantara. Bahkan yang katanya di pulau seberang tidak akan digusarkan oleh Belanda. Kesadaran untuk melawan Belanda, memperjuangkan dan memekikkan kebebasan muncul setelah dihadapannya, dengan mata dan kepalanya sendiri, sepasang suami-istri ditembak kepalanya. Musababnya mereka tidak memberikan hasil panennya kepada Belanda. Hati ayahnya Rohmat tertusuk, ia mengerti dan dapat merasakan apa yang dirasakan anak dari sepasang kekasih yang terbunuh di hadapannya. Namun, ia tidak dapat berbuat banyak. Ia putuskan untuk pergi dulu dan akan membalas para biadab Belanda.
***
Keris Joyowibowo, sebuah senjata yang turun–temurun diwariskan oleh para Mpu. Konon keris tersebut dibuat oleh murid dari Mpu Tantular yang sohor namanya hingga terdengar oleh telinga orang-orang di semua penjuru. Keris Joyowibowo memancarkan aura merah menyala, seperti api yang bersinar, mata manusia tidak akan mampu menangkap cahaya merah yang gemerlap nan terang itu. Kesaktian keris itu juga seperti aura yang dibawanya. Opo dep-e, mati bakale, yang artinya, apa saja yang dihadapi atau yang menjadi lawan sang pemilik keris tersebut, akan mati seketika.
Pemilik keris ini telah lama meninggal dunia dalam peperangan raga sukma di padang Trenggowarsito. Setelah hampir 40 malam berperang melawan Joko Buto. Tubuhnya terkulai di atas batu, tempat bersemayam raganya bertapa. Setelah sekian ratus tahunan, keris tersebut menancap di atas batu tempat pertapaan sang pemilik keris Joyowibowo.
Konon, kata orang-orang siapa saja yang berhasil mencabut keris itu, berarti dialah pewaris keris Joyowibowo. Sudah puluhan abad, tidak ada satu pun yang berhasil mengambilnya, bahkan kematian akan menjemputnya. Terakhir, seorang pemuda yang menyebut dirinya sakti, dapat terbang, dan berpindah tempat seraganya, mati terkujur kaku setelah berusaha mengambil keris Joyowibowo.
Ayahnya Rohmat terus berkelana dan mengasah ilmu. Ilmu kanuragan yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu. Bertapa siang-malam dalam gua. Tidak makan atau minum, tidak tidur selama 40 malam. Ia mengasah ilmu kanuraganya selama beberapa tahun. Setelah ia rasa cukup, ia pun melanjutkan kumbaranya. Tekadnya adalah bukan mencari tempat yang sejahtera dan tenteram, tapi menciptakannya. Mengusir para penguasa yang menindas rakyat jelata.
Ia berjalan menyusuri hutan lebat, lembah berbatu, sungai, tepi pantai, dan pegunungan. Perjalanannya sempat terhenti, karena beberapa tentara Belanda menyergap sebuah desa dan merampas hasil panen, harta benda, bahkan perempuan-perempuannya. Ia mencoba menghentikannya dengan ucap. Tapi Belanda justru hendak menembaknya dengan selongsong panjang. “Dor!” Sebuah tembakan diarahkan tepat di dadanya. Tapi peluru bajanya tidak mampu menembus dadanya yang busung dan besar.
Ia meloncat, menendang, memukul, membanting para gerombolan tentara Belanda. Kendaraan-kendaraannya pun tak luput dari kemurkaannya. Ia hancurkan semuanya. Jangankan tentara belandanya, tank yang besar pun mampu ia lunakkan, ia rubah bentuknya menjadi pipih, gepeng segepeng kertas, lalu hancur menjadi butiran debu yang tak terlihat. Para penduduk yang terselamatkan nyawanya, bersimpuh di hadapannya. Mengucapkan terimakasih yang agung kepadanya.
Penduduk memanggilnya Prabu Aji. Kejadian itu terdengar ke semua penjuru negeri. Berulang kali tentara Belanda ingin membalasnya dengan lemparan bom, tembak, dan semua persenjataaannya. Tapi tetap tidak mampu mengalahkan Prabu Aji. Nama Prabu Aji semakin tersohor dan diagung-agungkan.
Setelah tinggal selama sepuluh tahun di desa itu, ia memutuskan untuk pergi berkelana lagi. Ia teruskan pengembaraannya. Para penduduk desa memberatkan kepergiannya. Mereka khawatir tentara Belanda mengetahui bahwa kini Prabu Aji tidak tinggal disitu dan akan memporak-porandakan desa dan penduduknya. Tapi Prabu Aji menyakinkan, Jika tentara Belanda datang, ia akan segera menolong mereka. Tentara Belanda tidak akan berani mengganggu saat ini hingga selamanya.
Ia berjalan dari satu desa ke desa lainnya, semua penduduk memandangnya dan menyambutnya dengan hangat. Belanda tidak memancarkan serangan ke daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur lantaran itu adalah tempat bersemayam Prabu Aji. Jika berani memasukinya, niscaya hancur lebur.
Saat Prabu Aji bertapa di dalam gua, ada seseorang yang datang kepadanya. Ia menceritakan kesaktian keris Joyowibowo yang menancap di atas batu. “Dimana letak keris itu? Berulang kali aku memimpikannya. Aku harus segera mengambilnya.” Kata Prabu Aji dengan ekspresi yang serius. “Hamba akan mengantarkan Prabu Aji ke Tanjung, tempat keris tersebut.” Jawab pemuda dengan tudung di kepalanya. “Besok pagi buta, kita berangkat, siapkan bekalmu.” “Sendiko, Prabu.”
Keesokannya dengan menunggangi kuda, mereka pergi ke Tanjung untuk mengambil keris Joyowibowo. Sesampainya di Tanjung, pemuda itu langsung menunjukkan tempat keris tersebut kepada Prabu Aji. Prabu Aji terkesima dengan keris tersebut. "Inggih punika keris Joyowibowo, Prabu. Sapa sing bisa njabut kelurahan ing banten saka panggonane, banjur kudu nampa nasibe.” Kata pemuda tersebut yang maksudnya, siapa saja yang dapat dengan selamat mencabut keris Joyowibowo dari tempatnya maka harus menerima nasibnya.
“Keris Joyowibowo kudu tiba menyang tangan sumelang asli, tulus, lan apik. Ora tiba menyang tangan wong lanang ala sing namung nindakake kapentingan dhewe. Nasib sing nindakake keris, pitu katurunane kudu marisi lan tetep dadi. Keris iki kudu diwenehi kanggo turunane padha lanang. Yen tiba ing tangan wong wadon, iku mung arep dadi tumbal saka bilai.” Tambah pemuda tersebut. Keris Joyowibowo harus jatuh ke tangan orang yang tulus, ikhlas, dan baik perawakannya. Jangan sampai jatuh ke tangan orang-orang jahat yang semata-mata membela kepentingannya sendiri. Nasib bagi yang membawa keris ini, tujuh katurunannya harus mewarisi dan menjaganya. Keris ini harus diberikan kepada keturunannya yang laki-laki. Kalau jatuh ke tangan perempuan, maka hanya akan jadi tumbal bencana.
Prabu Aji menundukkan kepala, berpikir sejenak. “Keris iki sing nggawa tata titi tentrem, Prabu. Wis dadi pepesten slirane nampi nasib pewarisipun.” Ternyata takdir atau pewaris keris Joyowibowo adalah Prabu Aji. Siapa sangka, Prabu Aji adalah keturunan kedelapan dari pemilik Keris Joyowibowo. Selama ratusan tahun keris tersebut tidak ada yang memiliki, kini harus kembali kepada yang berhak. Turunan kedelapan sang pemilik, tidak ada yang lebih pantas dari Prabu Aji.
Setelah pemuda bertudung tersebut berbicara kembali, “Iyo aku iki buyutmu sing kagungan.” Setelah itu, ia menghilang tanpa suara, tanpa jejak, dan tidak meninggalkan apapun. Menghilang begitu saja. Prabu Aji kaget. Matanya bergerak ke kanan, ke kiri, menoleh ke arah manapun, tapi pemuda bertudung itu tidak ada. Ternyata, pemuda bertudung tersebut adalah pemilik keris Joyowibowo. Nenek moyang Prabu Aji.
Prabu Aji kian mantab melangkahkan kakinya mendekat ke keris tersebut. Kakinya memasang kuda-kuda, mulutnya berkomat-kamit memunajatkan doa, kedua tangannya memegang keris tersebut. Sejenak ia memunajatkan doa kembali, posisinya sudah sangat siap dan hendak mencabut keris tersebut dari batu. Tiba-tiba langit yang cerah, biru, dengan awannya yang putih berubah. Angin berarak, berdesir kencang, awan berkumpul, menggumpal, dan berwarna gelap menakutkan. Cahaya guruh berkilatan merah menyerang bumi. Tanah bergetar, kerikil bertumbukan satu sama lain. Tak lama kemudian awan hitam menurunkan butiran-butiran kecil air ke bumi dengan deras. Suasana mencekam.
Prabu Aji masih memejamkan mata sambil memunajatkan doa. Tidak peduli; alam seperti sedang mengamuk atau meriuhkan kegembiraan lantaran jika keris Joyowibowo kembali kepada pemiliknya maka ketentraman dan kesejahteraan akan terwujud. Tidak ada lagi kerusakan alam. Nusantara akan memekikkan kemerdekaan. Rakyat jelata dan kekayaan alam akan merdeka, bebas, dan jatuh kepada tangan yang benar.
Dengan sepenuh tenaga, Prabu Aji berusaha mencabut keris dari batu. Pada awalnya Prabu Aji merasa kesulitan, tapi tiba-tiba tampak cahaya biru memancar dari badan Prabu Aji. Terang sekali, mengarah kemana-mana, para penduduk pun berbondong-bondong menyaksikan kejadian itu. Akhirnya Prabu Aji berhasil mencabut keris tersebut. Para penduduk melihatnya dengan seksama, seolah-olah menunggu sesuatu. Ya, mereka menunggu apakah Prabu Aji terkapar setelah mencabut keris Joyowibowo. Prabu Aji terkulai lemas, napasnya tersengal-sengal. Keris itu telah dicabut dan tidak terjadi sesuatupun terhadap Prabu Aji. Para penduduk bersimpuh, ada yang sujud di hadapan Prabu Aji. Dalam batin penduduk, “Titi wancine Nuswantara merdeka.” Sudah saatnya Nusantara merdeka kembali.
Dengan sepenuh tenaga, Prabu Aji berusaha mencabut keris dari batu. Pada awalnya Prabu Aji merasa kesulitan, tapi tiba-tiba tampak cahaya biru memancar dari badan Prabu Aji. Terang sekali, mengarah kemana-mana, para penduduk pun berbondong-bondong menyaksikan kejadian itu. Akhirnya Prabu Aji berhasil mencabut keris tersebut. Para penduduk melihatnya dengan seksama, seolah-olah menunggu sesuatu. Ya, mereka menunggu apakah Prabu Aji terkapar setelah mencabut keris Joyowibowo. Prabu Aji terkulai lemas, napasnya tersengal-sengal. Keris itu telah dicabut dan tidak terjadi sesuatupun terhadap Prabu Aji. Para penduduk bersimpuh, ada yang sujud di hadapan Prabu Aji. Dalam batin penduduk, “Titi wancine Nuswantara merdeka.” Sudah saatnya Nusantara merdeka kembali.
***
Hujan telah reda. Bunga-bunga tampil seronok dengan warna-warni cantiknya. Tiada mata berpaling dari kemolekan dan tarian bunga. Semua mata pasti terpana melihat kerekahannya. Prabu Aji juga menganggap demikian. Meskipun ia sakti mandraguna tapi hatinya tetap lembut dan tidak pernah mengabaikan keindahan sama sekali. Begitulah keindahan yang Prabu Aji ciptakan dalam keluarganya.
Ceritanya, Prabu Aji menikahi seorang kembang desa Tanjung nan cantik. Prabu Aji pada akhirnya memutuskan untuk tinggal di desa Tanjung bersama dengan istrinya dan putranya, Rohmat. Ia berharap, putra semata wayangnya itu menjadi berkah bagi orangtuanya dan seluruh penduduk desa.
Desa Tanjung berkembang pesat dan aman. Tidak ada kericuhan Belanda lagi, tidak ada yang berani menapakkan kakinya di desa Tanjung. Jangankan di desa Tanjung, radius ratusan kilometer pun Belanda tidak berani. Jika Belanda berani menginjakkan kakinya di daerah Prabu Aji, sak kedeping panetra luluh lantak, dalam sekejap akan luluh lantak, hancur lebur.
Tapi manusia sakti tetaplah manusia. Prabu Aji akhirnya meninggal dunia, tak lama kemudian istrinya juga meninggal dunia. Keris Joyowibowo ia wariskan kepada putranya.
Rohmat sadar, bahwa siapapun pemilik keris tersebut haruslah sakti. Ia terus berlatih, mengasah ilmunya hingga ia bisa sejajar dengan kemampuan Prabu Aji. Tatkala Prabu Aji meninggal, Belanda tidak mengetahui itu, tapi waktu demi waktu berlalu. Kabar kematian Prabu Aji akhirnya diketahui oleh Belanda. Angin segar bagi penjajah untuk kembali beraksi merebut Nusantara.
Rohmat menyadari itu. Kematian ayahnya adalah kabar baik bagi Belanda. Ia berpikir, jika hanya ilmu kanuragan saja yang diandalkan, Nusantara tidak akan mencapai kemakmuran. Ia pun mengasah pemikirannya sama seperti mengasah ilmu kesaktiannya. Keris Joyowibowo merestui, Rohmat tumbuh menjadi manusia cendikia dan sakti. Kesaktiannya dan kecerdasannya diakui oleh seluruh penduduk di daerah itu.
Tercetuslah ide kemerdekaan. Tidak hanya menghalau serangan Belanda, Rohmat juga mencerdaskan penduduknya. Ia melahirkan pemikiran merdeka yang berdaulat. Rohmat berpikir tidak hanya membebaskan penduduk dari serangan senjata Belanda saja, tapi Nusantara ini harus merdeka layaknya yang lain, negara-negara lain. Rakyat Nusantara tidak akan pernah makmur jika tidak memperjuangkan kemerdekaannya. Semua penghuni Nusantara harus memiliki pemikiran yang tajam setajam dirinya.
Bertahun-tahun berlalu, Belanda merasa bahwa berperang menggunakan senjata sudah bukan tandingannya. Belanda mengaku kalah. Kesaktian Rohmat tidak ada yang menandingi. Ketika Belanda hampir putus asa untuk menjajah Indonesia, Jepang malah ikut campur dan memperburuk keadaan.
Belanda dan Jepang meluncurkan serangan melalui pemikiran, membodohi, dan mengelabui. Mereka mengadakan banyak perjanjian. Memecah belah bangsa, hingga mengadu domba.
Sayangnya, bangsa sudah pandai. Jepang atau Belanda tidak dapat lagi mengganggu bangsa Nusantara, yang kini mengaku sebagai bangsa Indonesia. Tahun 1945, Indonesia memekikkan kemerdekaannya. Melalui proklamasi yang dibacakan oleh pejuang kemerdekaan Indonesia. Rohmat menjadi sosok paling penting atas kemerdekaan Indonesia. Ia pun diberi julukan Joyo. Berkat dirinya, bangsa Indonesia berhasil merdeka dan mendapat haknya untuk hidup tenang.
Perjuangan Rohmat usai. Bertahun-tahun ia berjuang, akhirnya bangsa ini sudah dapat berpikir kelayakan hidupnya sendiri. Kesaktian Rohmat sudah tidak terlalu diandalkan lagi, nama Joyowibowo berangsur hilang. Rohmat kembali ke asalnya, desa Tanjung.
Rohmat tetap tinggal di Tanjung bersama istri dan dua putrinya, Sri dan Dwi. Ketika usia semakin senja, Rohmat mulai gusar. Keris Joyowibowo harus diwariskan kepada keturunan laki-laki, sementara ia tidak punya anak laki-laki. Ia akhirnya pergi bertapa, berharap belas kasih Tuhan untuk menolongnya. Ia menginginkan anak laki-laki. Tapi apa daya, ia akhirnya tutup usia di kala bertapa. Tidak lama kemudian, istrinya juga menyusulnya ke alam baka.
***
Terhitung sudah hampir 20 tahun Indonesia merdeka. Merdeka dari serangan senjata para penjajah. Keris Joyowijoyo sudah hampir setahun tidak ada yang mewarisi. Artinya, sesuatu yang buruk akan terjadi. Tidak hanya bagi keluarga tujuh turunan dari Prabu Aji, tapi juga bagi bangsa Indonesia.
Keris Joyowibowo, auranya selalu menguatkan pewarisnya yang hak. Hingga sang pemilik berubah menjadi manusia yang sakti mandraguna. Dengan ketulusan dan keikhlasan, semua urusan dimudahkan. Tuhan pun seperti merestui aura yang dibawa keris Joyowibowo. Angin, bumi, langit, laut, semuanya mendukung. Alam turut turun tangan membantu sang pemilik keris Joyowibowo memerdekakan bangsa dan menyejahterakan.rakyat.
Keris kehilangan pemiliknya. Di usia yang masih sangat muda, negara ini terkoyak. Inflasi naik tidak karuan. Rakyat miskin semakin miskin, yang kaya berpesta. Baru merdeka, bangsa asing malah dengan bebas masuk-keluar seenaknya. Jika dulu mereka takut datang, kini malah negara Indonesia yang masih remaja dijadikan sasaran tujuan mereka. Bangsa asing semakin pintar, bangsa Indonesia tidak pintar-pintar. Tak dapat mengelak dari kenyataan bahwa Indonesia terjajah kembali.
Sri dan Dwi hidup bertahun-tahun dengan terlunta-lunta. Nasibnya tidak pernah baik. Keagungan nama pendahulunya tidak lagi dirisaukan oleh penduduk. Bahkan sebagian tidak percaya bahwa Sri dan Dwi adalah cucu dari Prabu Aji. Seluruh hartanya hilang, sawah-sawah luas telah ia jual semuanya. Hanya menyisakan keris Joyowibowo warisan ayahnya.
Perlahan, mereka berdua putus asa. Hingga Dwi memiliki pemikiran untuk menjual keris tersebut. “Mbak yu, wes to didol wae kerise. Awakdewe butuh mangan to yu.” Dwi merayu kakaknya untuk menjual keris Joyowibowo. Sri tetap tidak setuju jika keris tersebut dijual. Ia teringat wasiat ayahnya, bahwa jangan sampai keris itu dijual. Keris itu harus dijaga. Jika ada niat untuk menjual keris tersebut, maka segera alihkan atau buang jauh-jauh niat tersebut. Jika niat tersebut dibiarkan, maka jangan tanya akibatnya, kehancuran akan bersarang pada hidupnya hingga kematiannya.
Rayuan Dwi tidak pernah digubris oleh Sri. Dwi frustasi, ia tetap akan menjual keris tersebut. Tanpa diketahui oleh Sri, Dwi mengambil keris tersebut dan ditunjukkan kepada calon pembeli keris tersebut. Tapi, yang diwanti-wanti ayahnya terjadi. Tiba-tiba setelah itu, Dwi sekarat selama seminggu. “Dik Dwi, awakmu ki nyapo kok iso loro-loro ngene? Ojo ngomong sampean isih nduwe niat ngedol keris saka bapak.” Sri bertanya kepada Dwi, apakah Dwi masih menyimpan niat untuk menjual keris dari ayahnya. “Mbak yu, sepurane ya. Wingi aku ora percaya marang wasiat bapak. Aku wes meh pikantuk wong sing arep tuku keris kuwi. Tapi sesuk e wonge mati.” Dwi sangat menyesal. Ia berkata demikian sambil menangis sedu-sedan. Sri sangat sedih melihat keadaan adiknya itu. Akibat tidak percaya dengan wasiat ayahnya, Dwi pun jadi sekarat. Calon pembeli keris tersebut keesokannya meninggal tiba-tiba setelah ingin membeli keris tersebut. Tak lama, setelah Dwi jujur pada Sri, nyawa Dwi telah menjadi tumbal. Dwi meninggal dunia dengan mengenaskan. Sri terpukul, jiwanya sangat terguncang.
***
Sri masih melamun. Hatinya putus asa. Pikirannya terbujur kaku. Pikirannya mati. Hingga cahaya mentari tidak lagi menyelimuti alam, karena sang pemilik cahaya hendak bercumbu dengan bulan, Sri masih duduk di atas kursi jati peninggalan ayahnya. Ia duduk disitu karena rindu dengan ayahnya.
Bunyi jangkrik, pohon-pohon besar yang berceracap tidak menggusarkan telinganya. Matanya terpaku hanya pada satu arah. Hatinya merasakan guncangan hebat yang tak kunjung mereda. Ia tak punya siapa-siapa dan tak punya apa-apa lagi dalam hidupnya. Kemerdekaan dan kesejahteraan yang diimpi-impikan oleh nenek moyangnya tidak terwujud. Ia menyesali takdirnya. Dalam pikirannya justru muncul protes terhadap nenek moyangnya. Akibat nenek moyangnya, hidupnya hancur. Ia menjadi tumbal. Keris Joyowibowo tak berarti apa-apa sekarang. Siap atau tidak siap, Sri akan menemui ajalnya. Bukan ajal yang menjadi kepastian setiap makhluk hidup, melainkan ajal dengan status tumbal kemerdekaan dan kesejahteraan yang semu. Semenit kemudian, Sri tidak bernapas. Ia memenuhi takdirnya. Takdir yang digariskan kakeknya.#
Nganjuk, 20 Juli 2016
Muhammad Arif Asy-Syathori
Selamat membaca...
Nganjuk, 20 Juli 2016
Muhammad Arif Asy-Syathori
Selamat membaca...
Happy Reading | Jatayu Media


0 komentar:
Posting Komentar