image1 image2 image3

HELLO I'M MUHAMMAD ARIF|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|WRITING 'N LEARNING IS MY PASSION|I'M PROFESSIONAL WRITER

Tragedi Pemburu

Sumber foto : id.aliexpress.com

   Matahari telah bangun, sinarnya menerangi hidungku, mataku, hingga sekujur tubuhku. Secara perlahan kurasakan kehangatan lalu mataku terbuka. Aku terbangun. Dengan segera aku berlari menyusuri lorong rumah dengan panjang sekitar 8 meter, ada pertigaan aku belok kiri, di ujung terdapat pintu kamar yang memisahkan lorong ini dengan sebuah ruangan mewah  tempat ‘semedi’ kawanku. Harry. 

   Pantulan bayanganku terlihat di cermin sisi kiri lorong. Aku hampir tertawa melihat diriku sendiri. Dulu tegap, tanganku kekar, dan kakiku dapat berlari kencang. Tapi kini, boro-boro lari kencang, lari dengan berjalan saja hampir tidak ada bedanya. Badanku terseot-seot, pantatku ke kanan dan ke kiri. Benar-benar tidak ada keren-kerennya sama sekali.
   Sesampainya di ujung lorong, aku buka pintunya dengan tanganku yang masih kekar  ̶  menurutku sih  ̶  dan kulihat Harry masih belum juga bangun. “Hey Harry! Ayo bangun! Tak tahukah kalau kamu telah melewatkan pemandangan matahari terbit?” Teriakku. Mata Harry terbuka, pipinya terangkat, tangannya mengusap wajahnya yang lonjong, kurus, pipinya kempot, dan dagunya sangat pipih.
   Dia memegang pipiku dan daguku sambil tersenyum lalu beranjak dari kasur. Harry mempunyai kebiasaan yang sangat buruk. Ia selalu melewatkan matahari terbit dan terbangun ketika matahari sudah mulai menaik. Padahal hari ini adalah musim semi yang telah ditunggu-tunggu banyak orang. Dingin beralih menjadi sedikit hangat, dan orang-orang mulai merayakannya dengan jogging, berjalan-jalan setiap pagi bertepatan dengan terbitnya matahari.

   Berbeda dengan temanku. Harry sangat pemalas, tidak pernah aku melihatnya keluar rumah sejak aku berada di rumah ini bersamanya. Ia banyak mengurung diri di kamarnya. Sesekali ia keluar hanya ke kamar mandi. Dan itu sangat lama  ̶  entah apa yang dilakukannya aku tidak tahu. Keluar kamar mandi jalannya terhuyung, senyum sana-sini tidak jelas. Aku ajak ngobrol juga ia tidak menggubris sama sekali. Aneh. Tapi aku sangat berhutang budi padanya. Tak terhitung hutangku padanya. Ia telah menyelamatkan jiwaku.

   Setelah dari kamar mandi, ia masuk kembali ke kamar. Dan aku tebak pasti dia akan keluar lagi sekitar 10 jam kemudian, yaitu sekitar pukul 17.00. Begitulah kebiasaannya. Aku memutuskan untuk keluar rumah saja. Menikmati udara segar musim semi yang lebih hangat. Duduk di halaman depan rumah adalah kegiatan yang paling tepat saat ini. Berharap ingatan kelam musim dingin berlalu perlahan.

   Aku ucapkan selamat tinggal kepada overcoat, jaket tebal, penutup kepala, hari ini. Meskipun suhu disini masih sekitar 7 derajat celcius tapi keadaan sudah sangat membaik ketimbang hidung merah karena diterpa angin dingin, telingan memucat lantaran bak ditampar salju. Musim semi yang indah.
   Pohon mulai hidup, bunga-bunga membuka mata menampilkan rona yang seronok. Anak kecil bermain skateboard, orang dewasa dengan syal merahnya berjalan bergegas  ̶  entah pergi kerja atau mengejar jam terbang pesawat ke Birmingham  ̶  pupilku memaksa retina untuk terus berlari menjelajah pemandangan indah awal musim semi ini.
   Sebuah mobil sedan merah datang. Pria berotot, botak, berkulit hitam, dan matanya ditutupi kacamata yang mengendarainya. Seperti bukan orang yang ramah.  Ia turun lalu menuju rumahku, maksudku rumah temanku. Pria botak itu berjalan semakin mendekat dengan gagah dan sedikit bergaya. Aku yakin, ia pasti bukan orang yang ramah. Semakin dekat, semakin dekat, dan melewatiku. Sempat menoleh padaku tanpa berkata-kata pun. Hingga akhirnya ia membuka pintu, dan blam! Tubuhnya tenggelam di balik pintu.

   Aku penasaran, maka aku putuskan untuk berselingkuh sebentar dari lukisan indah awal musim semi ini. Aku cari tahu siapa orang botak itu ke dalam rumah. Terdengat perbincangan yang akrab antara Harry dengan temannya. Suaranya dari arah dapur. Aku berjalan menuju dapur dengan kakiku yang melangkah tidak pasti. Pantatku bergerak miring-miring.
   Harry duduk di atas kursi panjang berwarna ungu yang terbuat dari kayu sambil membawa botol berwarna hijau, temannya berdiri di depannya sembari membawa gelas berisi air berwarna kuning keemasan. Mereka seperti kawan lama yang sudah tidak bertemu bertahun-tahun. Si botak sadar kehadiranku, ia menoleh kepadaku. Sepertinya dia berkata kepada Harry tentang diriku. Harry membalas senyum lalu melirikku. “Dia berbicara apa Harry? Tentangku kah?” Tanyaku.
   Harry bangkit dari duduknya dan mengajakku untuk duduk bersama dirinya. “Kau ingin aku ikut dengan obrolan kalian? Dengan si botak itu Harry? Ceritakan siapa dirinya kepadaku!” Dengan cepat dia menarikku dan aku sudah berada di tengah mereka berdua. Tangan si botak menyentuhku. Tangannya sangat kekar, jauh berbeda dengan tangan temanku. Kasar sekali tangan pria botak ini.
   Tak lama kemudian, Harry mengganti bajunya. Si botak menyalakan mesin mobilnya. Harry mengajakku pergi bersama si botak itu. Aku kira kami akan pergi untuk beberapa lama, karena Harry tampak membawa lumayan banyak barang. Aku masuk ke mobil milik si botak itu, dan “Wow! Mewah sekali mobilnya!” Mesin dinyalakan dan kami pergi. 

***

    Tidak seperti biasa, udara kali ini dingin sekali. Tidak baik berlama-lama di dalam hutan seperti ini dengan suhu dan cuaca seperti ini. Aku putuskan untuk pulang saja. Ternyata benar kata Olle. Sulit mendapatkan mangsa di hutan ini. Aku lipat tendaku, semua bekalku aku bereskan dan kupacu mobil Ford Ecosport berwarna merahku pulang.
   Meskipun tanpa hasil, aku tidak akan pernah menyerah. Setelah musim dingin selesai, aku akan datang kembali kesini. Udara semakin dingin, salju mulai turun. Hujan salju. Mobilku hanya bisa berjalan 40 Km/jam. Tidak bisa lebih dari itu. Selain itu, karena jalan yang belum diaspal membuat ban mobilku ‘selip’. 

    Hujan semakin lebat. Wiper mobil semakin bergerak kencang. Kecepatan semakin pelan, kulihat hanya 30 Km/jam. Tiba-tiba tampak seseorang tergeletak di pinggir jalan. Spontan kakiku menginjak rem, tangan kiriku menarik rem tangan. Aku ambil overcoat, payung di belakang kursi. Aku turun dari mobil dengan segera dan menyelamatkannya. Ternyata bukanlah manusia, tapi seekor anjing yang tertimpa ranting jatuh. Kakinya terluka, sepertinya patah. “Ssshh, ssshhh, sshh” Dengusan napasnya memberi cerita betapa sakit yang ia rasakan. Kelopak matanya tak mampu mengangkat. Ia sudah dihujung hidup.
    Aku bawa pulang anjing malang tersebut. Kupacu mobilku lebih kencang. Entah apa yang aku rasakan, tapi aku hanya ingin anjing ini terselamatkan. Kalau aku tidak salah lihat, Speedometer menunjukkan 60 Km/jam. Perjalananku hingga rumah memakan waktu 1 jam.
***

   “Aku tahu itu kau Jimmy, iya aku sudah bangun.” Anjing malang itu kini menjadi anjing paling setia untukku. Meskipun fisiknya tidak lagi gagah, tapi lumayan mengesankan. Dapat memiliki ‘Ajak’ adalah hebat. Tidak bosan-bosannya ia membangunkanku tiap pagi. 

   Tidak ada yang istimewa dari hari ini hingga temanku datang. “Hey Harry! Maaf aku tidak bermaksud mengagetkanmu.” Kata temanku.
“Sejak kapan kau duduk disana?” 
“Barusan kok”
“Apa urusanmu hingga kau datang kesini Hoe?”
“Ah, tidak. Aku hanya ingin mengabarkanmu bahwa ada mangsa senilai 15 juta dolar di hutan biasa.”
“Benarkah?”
“Apakah kedatanganku kesini hanya untuk memberi kabar bohong Harry? Buat apa?”
“Lalu?”
“Kita bisa tangkap bersama-sama Harry, badannya terlalu besar untuk aku tangkap sendiri. Kita harus menangkapnya bersama-sama. Nanti.. kita bagi dua hasilnya, bagimana?”
“Adakah orang lain yang mengetahui itu selain kita?”
“Tidak ada Harry, hanya kita berdua. Bagaimana? Deal?”
“Oke Hoe, kita lihat kebenaran yang keluar dari mulutmu itu.”
“Okay... Well, itu anjingmu kah?” Hoe menunjuk ke arah Jimmy yang berdiri melototi kami berdua. Dia sangat ingin bergabung dengan kami. “Hey kesinilah Jimmy! Come on!”
“Oh, ‘Ajak’ sungguhan Harry. Tapi kasihan sekali dia, kakinya patah ya?”
“Ya, aku menemukannya saat winter, ranting terjatuh dan mengenai tubuhnya.”
“Ooh, kasihan sekali dia... Siapkan dirimu Harry! Kita harus ke hutan sekarang, sebelum ada orang lain yang lebih beruntung daripada kita. Kita ajak anjing hutanmu ini berburu mangsa.”

   Aku bergegas. Kali ini buruan kami tidak boleh lepas dari kami. 15 juta dolar, Wow! Aku bisa berpesta setelah menangkapnya nanti. Angka yang besar!” Batinku berteriak ‘Hore!’ dengan kencang. Dinding-dinding batinku bergetar, aku benar-benar kegirangan hari ini.
***
   Setelah sekitar 1 jam, aku sampai di lokasi tujuan mereka berdua. Ternyata dugaanku salah. Ini bukan villa, hotel, tempat rekreasi, atau pantai tapi hutan. Mereka berdua mengajakku ke hutan. Apa yang ingin mereka lakukan?
   Harry membuka tenda sedangkan temannya mengambil perlengkapan bawaannya dari dalam mobil. “Aih! Aku tahu! Mereka adalah tim penyelamat atau pelindung hutan! Makannya mereka mengajakku kesini. Mereka hendak menyelamatkan hewan-hewan yang sedang dalam masalah di hutan ini.” Harry memang baik hati.
   Pohon cemara menjulang tinggi, dengan semak-semak yang baru mulai akan tumbuh setelah musim dingin menerpanya. Kupu-kupu kecil berwarna-warni terbang seolah mengikuti angin. Hidungku kembang-kempis mencium bau wangi bunga-bunga yang mulai seronok dengan aneka warna.
   Setelah tenda kami siap, si botak mengajak kami untuk langsung berkeliling mencari hewan yang sedang mengalami kesulitan. Aku adalah salah satu yang terselamatkan karena kebaikan hati temanku Harry. Nyaris saja aku menemui ajalku di musim dingin lalu. Sialnya diriku mendapat jebakan sang pemburu, lalu angin kencang merobohkan pohon dan rantingnya mengenai diriku. Pahit sekali membayangkannya. Tapi untung Harry menyelamatkanku sebelum malaikat pencabut nyawa.
   Harry menatapku. Sepertinya dia kasihan padaku karena melihat cara jalanku. Apalagi kami berjalan lumayan jauh. “Tak apa-apa Harry, aku baik-baik saja. Jangan menghawatirkanku.” Dia seperti mengerti kata-kataku. Kami pun terus berjalan, mencari hewan yang sedang dalam kesulitan.
***

   “Masih jauh kah bro?” Tampaknya otot kakiku mulai protes karena perjalanan yang lumayan jauh ini. “Kau tidak berbohong kan Hoe? Kita sudah berjalan jauh dari tenda.” 

   “Sudah, percayakan padaku, sebentar lagi. Aku sudah pasang jebakannya beberapa hari yang lalu. Harusnya buruan kita sudah termakan jebakan. Diam saja, lelah kita ini akan terbayar dengan 15 juta dolar Harry!”
   Kami terus berjalan hingga terdengar suara dengusan. Hoe berhenti berjalan. “Pssst... Sepertinya kita mendapatkannya Harry.” Bisik temanku itu. Badan kami berdua spontan agak merunduk, kami melangkah pelan hingga hampir tidak ada suara.  Ternyata temanku tidak berbohong, kami mendapatkan buruan kami.
*** 
   Dugaanku benar. Mereka hendak menolong hewan yang sedang dalam kesulitan. Kami mendapati seekor beruang Griezly sedang terjebak. Ini pasti ulah pemburu. Harry mengajakku berbicara. Dia mengatakan aku harus mendekati beruang tersebut lalu bilang bahwa mereka akan menyelamatkannya.
    Aku segera menghampiri beruang malang itu. “Kasihan sekali, apa yang telah mereka lakukan padamu?” Tanyaku pada beruang.
“Ini adalah ulah pemburu!”
“Sudah berapa lama kau berada disini?”
“Aku harus mencarikan makan anak-anakku. Tapi hingga kemarin aku terjebak disini karena jebakan sial ini!”
“Kau lihat di balik pohon itu, mereka adalah manusia.”
“Mereka kah pemburu yang memasang jebakan ini?” Tanyanya dengan penuh benci dan kecurigaan.
“Bukan, bukan... Aku juga mengalami tragedi pahit musim dingin lalu lantaran pemburu menjebakku. Aku benar-benar tidak beruntung hari itu. Pohon roboh dan rantingnya menimpaku. Tapi salah satu dari mereka berdua telah menyelamatkanku. Namanya Harry.”
“Lantas apa yang hendak mereka lakukan disini?”
“Mereka hendak menyelamatkanmu.”
“Benarkah?”
“Benar, mereka bukanlah pemburu. Mereka manusia yang peduli dengan kita.”
   Beruang itu melihat temanku dan temannya dengan teliti dan penuh curiga. Kasihan sekali dia. Napasnya sudah tidak beraturan. Darahnya mengalir dari kaki-kakinya karena jebakan pemburu. Dia tidak dapat berdiri lagi, tubuhnya tersandar diatas tanah terkulai lemas. Sungguh biadab perbuatan para pemburu itu!
“Baiklah, bagaimana mereka bisa menyelamatkanku?”
“Mereka akan melepaskan jebakanmu itu.”
“Suruh mereka cepat melakukannya” Beruang itu sudah yakin dan percaya padaku. Aku kembali menghampiri Harry dan menceritakan percakapanku pada beruang malang itu. “Selamatkanlah dia Harry! Dia berjanji tidak akan berlaku buruk padamu! Segeralah!” Ceritaku pada Harry.
Harry dan temannya menghampiri beruang itu dengan perlahan. Mereka sedikit takut dengan beruang besar nan buas itu. Perlahan-perlahan hingga beruang itu benar-benar dihadapan mereka berdua. Aku senang menyaksikannya. Aku senang beruang itu akan terselamatkan. 

   “Dor!” Tembakan disasarkan kepada beruang itu oleh temannya Harry. Beruang itu meronta. Harry juga menembaki tubuh beruang itu. Beruang itu semakin meronta dan kesakitan. Aku terkejut. Tubuhku kaku. Hatiku tidak bisa bergeming. Pedih menyayat hati. Spontan aku menerka si botak yang didekatku. Tanpa basa-basi aku menggigit lehernya. Darahnya sungguh segar. Kebencian dan kemarahan menguasai diriku. Harry mengarahkan selongsongnya kepadaku. Aku berlari secepat kilat dan menerkam dirinya. Aku cabik-cabik kulitnya dengan kukuku. Ku potong-potong tubuhnya dengan gigiku. Aku porak-porandakan dia sperti dia memporakporandakan kepercayanku padanya. Aku bukan lagi Ajak pincang piaraan Harry. Aku adalah anjing hutan buas.#





19 Juni 2016, Tanjunganom, Nganjuk,

Muhammad Arif Asy-Syathori

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar