![]() |
| "HR Plan & Strategi" |
“Memahami paradoksial manusia adalah hal pertama untuk mengelola manusia”
Manusia memiliki karakter paradoks yang saling bertolak belakang seperti halnya dua sisi uang koin. Mengetahui paradoksial manusia akan membantu manusia untuk menemukan potensinya yang sesuai dengan pekerjaan tertentu. Banyak sekali manusia yang hanya mencoba menyesuaikan dirinya dalam lingkungan pekerjaan yang ada, meski mungkin pekerjaan itu tidak sesuai dengan potensi dirinya. Dengan begitu potensi dirinya tertutupi dengan rutinitas pekerjaan. Jika sudah begini, dengan sendirinya akan menjadi manusia yang pragmatis dan apatis. Yang terpenting adalah pekerjaan dapat selesai, tidak menghiraukan apakah hasilnya baik atau tidak, puas atau tidak. Demikianlah hal yang sering ditemui.
Seorang pemimpin perusahaan atau organisasi wajib menghiraukan perkembangan manusianya, khususnya karakter paradoks manusia. Mengapa? Sebenarnya sebuah organisasi ataupun perusahaan tidak akan mempermasalahkan sejauh mana manusianya dapat mengembangkan potensinya, dan pekerjaannya pun dapat terselesaikan. Tapi hasilnya manusianya akan menjadi ‘robot’ atau bahkan ‘zombi’. Jika sudah begini, hal yang berbahaya adalah efek kejenuhan yang akan timbul. Ini sudah laten terjadi. Ketika perusahaan atau organisasi mengalami kejenuhan, perusahaan atau organisasi tersebut akan lambat menyesuaikan diri dengan perkembangan yang cepat dan menghadapi persaingan. Begitlah fatalnya pengetahuan tentang pengelolaan manusia atau SDM dama sebuah organisasi maupun perusahaan.
Awalnya paradoks adalah dua hal yang bertolak belakang. Akan tetapi memahaminya akan dapat memunculkan langkah strategis untuk mereduksinya sehingga tidak terjadi ‘clash’. Idealnya, paradoks manusia dapat dipadukan dan disatukan sehingga melahirkan keharmonisan antara dua hal yang bertolak belakang tersebut. Efeknya, kenyamanan bekerja akan terjaga. Perasaan nyaman dan kekeluargaan akan menjadi jaminan akan pemahaman paradoksial manusia.
Seorang pemimpin perusahaan atau organisasi wajib menghiraukan perkembangan manusianya, khususnya karakter paradoks manusia. Mengapa? Sebenarnya sebuah organisasi ataupun perusahaan tidak akan mempermasalahkan sejauh mana manusianya dapat mengembangkan potensinya, dan pekerjaannya pun dapat terselesaikan. Tapi hasilnya manusianya akan menjadi ‘robot’ atau bahkan ‘zombi’. Jika sudah begini, hal yang berbahaya adalah efek kejenuhan yang akan timbul. Ini sudah laten terjadi. Ketika perusahaan atau organisasi mengalami kejenuhan, perusahaan atau organisasi tersebut akan lambat menyesuaikan diri dengan perkembangan yang cepat dan menghadapi persaingan. Begitlah fatalnya pengetahuan tentang pengelolaan manusia atau SDM dama sebuah organisasi maupun perusahaan.
Awalnya paradoks adalah dua hal yang bertolak belakang. Akan tetapi memahaminya akan dapat memunculkan langkah strategis untuk mereduksinya sehingga tidak terjadi ‘clash’. Idealnya, paradoks manusia dapat dipadukan dan disatukan sehingga melahirkan keharmonisan antara dua hal yang bertolak belakang tersebut. Efeknya, kenyamanan bekerja akan terjaga. Perasaan nyaman dan kekeluargaan akan menjadi jaminan akan pemahaman paradoksial manusia.
Misalnya, cuti melahirkan bagi pekerja perempuan. Melahirkan adalah fitrah perempuan. Melahirkan membutuhkan proses penyembuhan (recovery) fisik dan mental. Penyembuhan fisik dilakukan dengan obat-obatan dan istirahat cukup. Jika normal, luka pasca melahirkan bisa sembuh sekitar 1-2 bulan. Dari aspek mental, perempuan melahirkan sadar atau tidak sadar akan mengalami trauma. Penyembuhannya adalah dukungan dari keluarga dan tema-teman sangat dibutuhkan.
Instansi atau perusahaan yang memberi cuti hamil, berarti memberi kesempatan pada pekerja perempuannya untuk penyembuhan. Dari sisi kinerja, cuti hamil tidak terlalu menguntungkan bagi sebuah instansi atau perusahaan tersebut karena pekerjaan yang tidak selesai dan harus dicari siapa yang bisa menggantikan pekerjaan tersebut. Namun, jika instansi atau perusahaan tidak memberikan cuti hamil, instansi tersebut hanya akan mendapati pekerja yang masih sakit secara fisik, atau terpaksa menghadapi pekerja yang banyak berkeluh kesah karena mental pekerja perempuan itu membutuhkan dukungan besar, terutama keluarganya.
Memahami paradoks perempuan sebagai perempuan ygn melahirkan di satu sisi, dan sebagai pekerja profesional di sisi lain, menjadi penting dalam pengelolaan SDM, terutama dari sisi harmonisasi peran dan fungsi pekerja perempuan tersebut. Adanya kesadaran dari suatu instansi atau perusahaan bahwa perempuan yang melahirkan butuh cuti melahirkan, jauh lebih berharga untuk mengharmoniskan fisik dan mental pekerja perempuan tersebut dibandingkan jika pekerja perempuan tersebut diharuskan bekerja dalam kondisi mental yang kurang siap.
Paradoks yang paling mendasar adalah memahami peran manusia sebagai makhluk independen dan sebagai makhluk Tuhan. Bekerja bagi seseorang merupakan upaya dia mengejar dunia: harta, tahta, jodoh, dan kepuasan diri. Namun, adakah yang menyangsikan bahwa manusia pasti mati?
Pengelolaan SDM harus menyentuh aspek keduniaan dan spiritual manusia. Keseimbangan antara keduanya mampu melahirkan seseorang yang tenang dalam pembawaan dan kreatif dalam inovasi-inovasi pekerjaan.
Karakter yang berbeda sebagai pembawaan paradoks manusia, meskipun terlihat sangat bertolak belakang pada awalnya, atau terlihat seperti dua sisi mata uang, sesungguhnya potensi itu bisa diselaraskan. Penyelarasan membutuhkan proses pemahaman dan adalptasi dari pemimpin organisasi dan individu pekerja itu sendiri sebagai bawahan untuk saling belajar memahami menjadi modal yang baik bagi sebuah organisasi, instansi, maupun perusahaan.
Proses belajar memahami karakter paradoks membutuhkan waktu. Ujiannya adalah kesabaran. Mau tidak pemimpin atau bawahan saling belajar untuk memahami.
Status SDM yang saling bertolak belakang, di satu sisi sebagai pemimpin dan di sisi lain sebagai hamba mengukuhkan manusia memang makhluk yang paradoks. Oleh karena itu, menjadi suatu tantangan bagi pengelola SDM untuk memformulasikan suatu strategi agar sifar paradoksial manusia tersebut menjadi sumber daya yang mampu memberikan kontribusi keuntungan pada organisasi. Jadi, selain mengelola SDM sebagai pemimpin yang baik juga mengelola SDM sehingga menjadi pengikut yang baik.
Paradoksial pengelolaan SDM dimaksudkan sebagai suatu aktivitas terencana dan terorganisir dalam memberdayakan potensi manusia organisasi/perusahaan sebagai sifat paradoks yang dimiliki oleh SDM tersebut. Dari sinilah muncul gaya pengelolaan yang situasional dan transformasional. Karakter paradoks itu muncul tidak lepas dari adanya status dan peran bawaan manusia sebagai khalifah dan hamba dalam kehidupannya. Beberapa pengaruh paradoksial tersebut bagi SDM terhadap individu itu sendiri ataupun organisasi/perusahaan tempat ia beraktivitas sebagai berikut;
Instansi atau perusahaan yang memberi cuti hamil, berarti memberi kesempatan pada pekerja perempuannya untuk penyembuhan. Dari sisi kinerja, cuti hamil tidak terlalu menguntungkan bagi sebuah instansi atau perusahaan tersebut karena pekerjaan yang tidak selesai dan harus dicari siapa yang bisa menggantikan pekerjaan tersebut. Namun, jika instansi atau perusahaan tidak memberikan cuti hamil, instansi tersebut hanya akan mendapati pekerja yang masih sakit secara fisik, atau terpaksa menghadapi pekerja yang banyak berkeluh kesah karena mental pekerja perempuan itu membutuhkan dukungan besar, terutama keluarganya.
Memahami paradoks perempuan sebagai perempuan ygn melahirkan di satu sisi, dan sebagai pekerja profesional di sisi lain, menjadi penting dalam pengelolaan SDM, terutama dari sisi harmonisasi peran dan fungsi pekerja perempuan tersebut. Adanya kesadaran dari suatu instansi atau perusahaan bahwa perempuan yang melahirkan butuh cuti melahirkan, jauh lebih berharga untuk mengharmoniskan fisik dan mental pekerja perempuan tersebut dibandingkan jika pekerja perempuan tersebut diharuskan bekerja dalam kondisi mental yang kurang siap.
Paradoks yang paling mendasar adalah memahami peran manusia sebagai makhluk independen dan sebagai makhluk Tuhan. Bekerja bagi seseorang merupakan upaya dia mengejar dunia: harta, tahta, jodoh, dan kepuasan diri. Namun, adakah yang menyangsikan bahwa manusia pasti mati?
Pengelolaan SDM harus menyentuh aspek keduniaan dan spiritual manusia. Keseimbangan antara keduanya mampu melahirkan seseorang yang tenang dalam pembawaan dan kreatif dalam inovasi-inovasi pekerjaan.
Karakter yang berbeda sebagai pembawaan paradoks manusia, meskipun terlihat sangat bertolak belakang pada awalnya, atau terlihat seperti dua sisi mata uang, sesungguhnya potensi itu bisa diselaraskan. Penyelarasan membutuhkan proses pemahaman dan adalptasi dari pemimpin organisasi dan individu pekerja itu sendiri sebagai bawahan untuk saling belajar memahami menjadi modal yang baik bagi sebuah organisasi, instansi, maupun perusahaan.
Proses belajar memahami karakter paradoks membutuhkan waktu. Ujiannya adalah kesabaran. Mau tidak pemimpin atau bawahan saling belajar untuk memahami.
Status SDM yang saling bertolak belakang, di satu sisi sebagai pemimpin dan di sisi lain sebagai hamba mengukuhkan manusia memang makhluk yang paradoks. Oleh karena itu, menjadi suatu tantangan bagi pengelola SDM untuk memformulasikan suatu strategi agar sifar paradoksial manusia tersebut menjadi sumber daya yang mampu memberikan kontribusi keuntungan pada organisasi. Jadi, selain mengelola SDM sebagai pemimpin yang baik juga mengelola SDM sehingga menjadi pengikut yang baik.
Paradoksial pengelolaan SDM dimaksudkan sebagai suatu aktivitas terencana dan terorganisir dalam memberdayakan potensi manusia organisasi/perusahaan sebagai sifat paradoks yang dimiliki oleh SDM tersebut. Dari sinilah muncul gaya pengelolaan yang situasional dan transformasional. Karakter paradoks itu muncul tidak lepas dari adanya status dan peran bawaan manusia sebagai khalifah dan hamba dalam kehidupannya. Beberapa pengaruh paradoksial tersebut bagi SDM terhadap individu itu sendiri ataupun organisasi/perusahaan tempat ia beraktivitas sebagai berikut;
1) Adanya tujuan organisasi (substansi) dan keunggulan pribadi (komplementer).
2) Adanya hierarki atasan dan bawahan.
3) Adanya reward dan punishment.
4) Adanya siklus hidup organisasi dimana turbulensi puncak dan lembah sebagai karakteristiknya. (“HR Plan & Strategi,” 2016).
Begitulah sebuah uraian mengenai pengetahuan karakter paradoks manusia yang penting untuk diketahui bagi pemegang perusahaan, pemimpin, atau siapapun yang bekerja. SDM yang menjadi ujung pusar sebuah organisasi dan perusahaan perlu benar-benar ‘digarisbawahi’. Menganggap sepele berkaitan dengan SDM sama saja dengan menunggu keluruhan organisasi dan perusahaan.
Sesuai dengan ayat-Nya bahwa manusia dilahirkan di dunia dalam keadaan zalumaan jahuula yang berarti zalim dan bodoh. Itu sudah vonis dari Tuhan. Tidak ada yang dapat menyangkal. Karena itu, di dunia ini perlu ada ‘pengaturan’ yang mengelola manusia sendiri mengingat manusia terlahir dalam keadaan zalim dan bodoh.
Sesuai dengan ayat-Nya bahwa manusia dilahirkan di dunia dalam keadaan zalumaan jahuula yang berarti zalim dan bodoh. Itu sudah vonis dari Tuhan. Tidak ada yang dapat menyangkal. Karena itu, di dunia ini perlu ada ‘pengaturan’ yang mengelola manusia sendiri mengingat manusia terlahir dalam keadaan zalim dan bodoh.
.


0 komentar:
Posting Komentar