image1 image2 image3

HELLO I'M MUHAMMAD ARIF|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|WRITING 'N LEARNING IS MY PASSION|I'M PROFESSIONAL WRITER

Pengalaman Membaca Bukunya Nurani Soyomukti



Buku karya Nurani Soyomukti : Teori-Teori Pendidikan

“Pendidikan negeri masih kontradiktif”

#BLOG 3


Buat apa saya tahu banyak teori kalau nyatanya tidak saya pakai? Pertanyaan tersebut mewakili kondisi pendidikan saat ini. Pendidikan negeri ini masih dan akan semakin carut marut seiring tidak adanya sebuah evaluasi.

Saya bisa menulis tiga kalimat di atas setelah membaca sebuah buku berjudul Teori-Teori Pendidikan karya Nurani Soyomukti. Buku dengan 526 halaman tersebut berisi tentang pendidikan secara teoritis hasil integral konsep-konsep pendidikan dari pelbagai sumber. Pengalaman membaca buku tersebut tidak akan saya lupakan. Melaluinya saya dapat mengerti betapa carut-marut pendidikan yang berjalan di negeri ini. Tidak diberikan kesimpulan atau solusi di dalam buku tersebut, tapi pembaca dapat menyimpulkan sendiri dan membuat langkah strategis untuk menyelesaikan permasalahan pendidikan yang tertuang dalam buku tersebut.

Saya jadi paham arti luas dan sempit pendidikan. “Pendidikan adalah proses untuk memberikan manusia berbagai macam situasi yang bertujuan memberdayakan diri (Nurani Soyomukti, 2010:27).”  Kepala saya berdenting “Ting!” seperti saat Tom mendapat ide untuk menangkap Jerry ketika membaca kutipan tersebut. Lalu pikiran saya berpetualang menyusuri lorong waktu yang panjang, memaksa daya ingat untuk menyusuri memori saya tentang pengalaman pendidikan saya. Apakah saya sudah mendapat atau mengalami pendidikan? Apakah definisi tersebut menginterpretasikan pengalaman saya? Apakah karakter, mental, intelektual, spiritual saya dibangun oleh pendidikan yang saya alami? Apakah saya menerima pendidikan itu secara sadar?

Pertanyaan pembuka paragraf pertama merupakan dampak buruk adanya pendidikan formal di sekolah. Apalagi pendidikan formal seperti yang ada di negeri ini. Secara tidak langsung memberi dampak buruk. (1) Hampir semua orang dalam negeri ini memahami pendidikan melalui lembaga sekolah. Tak bisa dipungkiri pemikiran formalistik merasuk dalam jiwa masyarakat negeri. Orangtua pun hanya mengandalkan sekolah sebagai pendidikan untuk anak-anaknya. Mereka berpikir hanya dari sekolah lah anak-anaknya mendapat pelatihan, materi, teori, pengetahuan, pembentukan mental, spiritual, dan karakter. Lebih parahnya lagi orangtua tidak mau mendidik anaknya karena merasa anaknya sudah mendapatkan pendidikan di sekolahnya dan tidak peduli dengan pendidikan di luar sekolahnya.

(2) Sekolah dijadikan satu-satunya lembaga yang sah untuk meningkatkan mobilitas sosial vertikalnya. Sepertinya sudah bukan rahasia lagi bahwa jika ingin mendapatkan pekerjaan maka harus bersekolah. Artinya sebuah pekerjaan didapat dari sebuah ijazah. Jika tidak, hampir tidak ada pekerjaan yang bisa didapatkan. Efeknya sangat tidak baik. Banyak orang yang mampu membayar harga ijazah tanpa melalui proses pendidikan formalnya. Apalah arti prosesnya jika intinya pada sebuah ijazah yang mengantarkannya pada pekerjaannya.Meskipun mahal harganya tidak akan berefek, karena modal akan kembali seiring dengan gaji yang diterimanya kelak. “Gaya berpikir logika-formal ̶ berlawanan dengan pikiran essensial-dialektis ̶ sering menyesatkan. Padahal formalitas bukanlah essensi” (Nurani Soyomukti, 2010:42). Mutu output sekolah tidak ditentukan oleh sebuah ijazah yang diterima. “Tidak jarang orang yang berpendidikan tinggi tetapi justru kecerdasannya rendah, mentalnya rusak, karakternya kerdil, kecerdasannya rendah, pengecut, dan jiwanya koruptif. Sekolah justru akan melahirkan manusia-manusia dehuman yang akan merampok seluruh potensi kemanusiaan manusia yang hidup dalam komunitas (negara-bangsa)” (Nurani Soyomukti, 2010:42).

(3) Komersialisasi sekolah juga dampak buruknya. Seperti saat ini, jual-beli pendidikan terjadi di mana-mana. Sekolah mahal artinya hanya orang-orang dengan ekonomi menengah-ke atas yang dapat memasukinya. Sehingga ketika ada potensi yang datangnya dari siswa berkeluarga kurang mampu akan kalah bersaing dengan siswa yang kaya. “Nilai atau tes masuk sekolah bisa dibayar, asal besar, oke aja”. Di luar sekolah, bukanlah pendidikan karena tempat ini hanya diperuntukkan bagi mereka yang tidak mampu bersekolah (kelas non eksklusif).

(4) Alam atau luar sekolah yang seharusnya dimanfaatkan untuk pendidikan justru dianggap sebagai tempat non-pendidikan. Anggapan inilah yang membuat anak-anak frustasi lantaran tidak dapat bersekolah. Sehingga mereka tidak dapat berpikir kritis lagi. Ada yang lari ke dalam hal-hal negatif seperti miras, mengamen, terjun di jalanan, mengutuk nasibnya sendiri bahkan ada yang lari kepada hal religi-fatalistik.  “Fatalisme, mistik, klenik, dan lainnya adalah lahan penyemaian cara berpikir kuno yang membuat masyarakat harus tunduk pada sesuatu di luarnya dan mudah diatur. Ideologi kuno ini juga menghalangi masyarakat untuk melihat situasi secara objektif dan ilmiah. Dikarenakan pengalamannya tidak didapat dari mengolah pikiran secara kritis, tetapi langsung disalurkan dengan dunia atas langit dan dunia gaib (luar dunia nyata). Oleh sebab itu, yang lahir dari dunia itu biasanya anak-anak yang mudah diarahkan untuk kepentingan non-manusiawi dan tindakan tidak masuk akal. Lihatlah, tidak sedikit anak muda yang mempunyai pikiran bahwa kelompok lain di luar agamanya adalah salah dan kelompok yang harus dibasmi ̶ mereka dengan senjata bom dan pedang melakukan tindakan destruktif” (Nurani Soyomukti, 2010:43).

(5) Logika formal membuat semua orang percaya bahwa di luar sekolah adalah tempat yang tidak berkualitas. Sekolah itu tempat yang baik dan indah, bukan karena tempat belajarnya saja yang penuh dengan fasilitas-fasilitas pendukungnya, tapi ada teman-teman, anak-anak muda yang merayakan eksistensi palsunya. Tempat remaja putri pamer tas barunya, pamer mobil untuk menunjukkan latar belakangnya yang kaya raya, mencari gebetan, pacar, gaya hidup palsu layaknya seorang artis, ganteng-gantengan, cantik-cantikan, tempat bagi godaan hidup anak muda disemai menjadi satu dimensi “gaul”, “keren”, dan itu menjadi bagian dari sekolah.

(6) Artinya jika mereka tidak bersekolah sangat kecil kemungkinannya mendapat pendidikan. Karena pemegang otoritas pendidikan negeri ini tidak menganggap bahwa pendidikan luar sekolah adalah sebuah pendidikan. Celakanya pendidikan selalu diartikan dalam arti sempit saja. Fasilitas di luar sekolah pun tidak ada untuk menunjang pendidikan non formal mereka. Siapa yang bertanggungjawab atas anak-anak yang tidak mendapat pendidikan lantaran tak mampu “membeli” pendidikan. Kemana lari mereka? Tidak heran jika semakin kesini semakin banyak pengangguran dan kriminalitas.

Penulis sedang memampangkan buku karya Nurani Soyomukti
Saya semakin senang membaca buku ini. Ketagihan. Mengartikan membaca atau belajar bukan karena tugas kuliah semata. Saya adalah tipikal orang yang tidak bisa diatur. Rasa bosan sering hinggap pada diri saya sendiri saat belajar di sekolah. Mengapa sebuah situasi harus dibuat-buat? Jika saya harus menelan materi Redoks saat duduk di bangku kelas XI, sementara situasi itu belum saya hadapi ketika itu. Berbeda dengan sekarang, saya sedang membuat karya pembangkit listrik mandiri yang di dalam prosesnya melibatkan reaksi redoks. Otomatis saya akan mempelajari itu.

“Pendidikan dalam arti sempit akan mereduksi proses pendidikan menjadi pengajaran ini jelas merupakan manifestasi dari proses ideologisasi kelas, terutama kelas dominan yang merupakan penguasa sumber daya ekonomi dalam masyarakat. Keluaran sekolah tidak akan diabdikan untuk kebersamaan, tetapi direduksi demi kepentingan pribadi: mencari pekerjaan atau kesuksesan pribadi dalam persaingan (kapitalistik) (Nurani Soyomukti, 2010:45).

Memandang dengan sebelah mata tentang sebuah teori adalah dampak buruk logika-formal. Membaca buku yang bukan termasuk mata kuliah akan malas, mengerjakan sesuatu yang tidak dinilai oleh dosen adalah percuma, mengetahui teori yang tidak ada sangkut pautnya dengan jurusan adalah tidak guna. Makanya tidak usah bingung jika bangsa ini masih sangat tabu dengan pembicaraan ilmiah. Berpikir bahwa skripsi sebatas formalitas. Tidak mengetahui essensi skripsi. Skripsi merupakan penelitian ilmiah sebagai terobosan atas situasi yang ada dalam negeri. Ini bisa bermanfaat bagi banyak orang jika dinyatakan. Pada akhirnya ribuan skripsi di Indonesia hanya sebagai pelengkap lembaga pendidikan formal untuk dinilai oleh pemegang otoritasnya dan mendapat predikat favorit ̶ gila memang, bukan hanya individu yang minta dinilai, tapi komunitas atau institusi juga. Indonesia menjadi negara terpamrih di dunia.

Karena sudah “akut” penyakit logika-formal tidak terarahkan dalam masyarakat negeri ini, beda adalah kenakalan. Berapa persen siswa atau anak-anak yang sekolah karena merasa sebagai kebutuhannya? Lebih banyak diantara mereka bersekolah atau disekolahkan orangtuanya karena takut berbeda dari orang lain. Tidak bersekolah tidak memiliki masa depan. Tidak belajar di kelas secara formal berarti pasti masa depannya hancur. Mereka tidak dapat meresapi essensi pendidikan formalnya.

Dari uraian di atas, pendidikan dalam arti sempit (sekolah) ini harus ada metode pengajaran yang efektif dalam membentuk kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Berbagai pendekatan disiplin ilmu pun digunakan untuk membuat pengajaran mendapatkan manajemen yang tepatguna. Manajemen ilmiah di bidang pendidikan dibangun untuk menyukseskan proses pengajaran.

Yang saya tangkap dalam buku ini sekolah merupakan lahan untuk merekayasa perubahan tingkah laku yang pas dan efektif. Sekolah seharusnya dirancang seperti halnya seorang insinyur yang sedang merancang sebuah mesin yang canggih. “Sekolah sebagai lembaga berlangsungnya proses rekayasa perubahan tingkah laku harus didasarkan pada kurikulum yang dirancang secara ilmiah dan bentuk-bentuk kegiatannya harus diorganisasikan dengan penuh perhatian dan dilaksanakan dengan penuh disiplin.(Nurani Soyomukti, 2010:47).

Dalam bukunya, dituliskan tiga prinsip utama yang mendasari sekolah dalam melakukan proses rekayasa tersebut, yaitu:

a)      Pembentukan pola tingkah laku seseorang sangat kuat dipengaruhi lingkungan.
b)      Pendidikan di sekolah merupakan rekayasa perubahan tingkah laku yang terprogram secara cermat.
c)      Masa depan sekolah sebagai lembaga perekayasa pola tingkah laku yang terprogram adalah cerah karena mempunyai peranan yang besar dalam mencapai kemajuan.

Sebuah istilah tetap akan bertempat pada kemurniannya. Begitu pula dengan pendidikan. Metode pengajaran yang tidak sesuai dengan essensi istilah pendidikan, berarti tidak menyentuh kemurnian istilah tersebut. Perlu dipikirkan metodologi yang tepat untuk mengarah pada kemurnian orientasi pendidikan. Indikator berhasil tidaknya proses pengajaran yang kita alami dapat diketahui dengan menjawab pertanyaan maukah saya sekarang membaca buku yang tidak berkaitan dengan profesi saya? Berkenankah saya membaca buku yang tidak ada dalam mata kuliah saya sekarang? Berkenankah saya menjalankan sebuah kegiatan yang tidak sesuai dengan profesi saya? Kita lah yang dapat menjawabnya.

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar