![]() |
| Boncengan muda-mudi tidak senonoh dengan seragam tercoreng cat pilok |
Asik duduk sambil membaca buku karya Nurani Soyomukti, tiba-tiba dikagetkan suara puluhan motor dari bawah. Segera saya menengok ke jalan raya. Tempat saya melihat adalah dari kampus STT Pomosda lantai 2. Terlihat puluhan motor ditunggangi oleh para pelajar yang mengenakan seragam putih abu-abu. Sayangnya ‘putih’ nya seragam sudah tidak tampak kemurniannya. Nampak tercoreng-coreng oleh warna pilok (cat semprot).
![]() |
| Konvoi pelajar pasca pengumuman kelulusan |
Kejadiannya tepat tadi pagi (09/05). Bukti pendidikan gagal. Entah siswa negeri atau swasta, yang jelas apa yang mereka lakukan momen itu adalah cerminan pendidikannya selama tiga tahun di sekolah menengah. Muda-mudi boncengan motor dengan tidak senonoh, seragam tercoreng-coreng, menggunakan jalan awut-awutan, dan membuat suara bising. Mencemari hakikat kedalaman makna pendidikan itu sendiri. Polisi pun datang dengan segera untuk membuyarkan mereka. Tampak di perempatan jalan Brumbung polisi mencegat mereka. Sehingga banyak diantara mereka terpisah dengan rombongannya. Kegiatan konvoi urak-urakan seperti tadi pagi ternyata terjadi setiap tahun dan merata di wilayah Nganjuk. “Semua daerah sama mas, semua mas, setiap tahun terjadi juga.” Tukas Budiono selaku Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Tingkat 1 (KSPKT 1) Polsek Warujayeng. Tidak diketahui pasti dari sekolah mana para
pelajar tersebut. Tapi menurut sumber, para pelajar ada yang berasal dari
Sukomoro dan kertosono.
| Wawancara penulis dengan KSPKT 1 Polsek Warujayeng |
Kejadian ini terjadi di sekitar desa Tanjunganom. Para polisi segera melakukan pengejaran untuk membuyarkan rombongan. Jangan sampai rombongan konvoi memasuki wilayah Warujayeng. “Kami kejar, kami pecah rombongan mereka supaya pulang ke rumah masing-masing.” Tutur Budiono. Kejadian pagi ini ternyata tidak hanya terjadi di desa Tanjunganom saja, akan tetapi juga terjadi di kecamatan Sukomoro, Nganjuk bagian utara. “Sampean ngerti mas, di Sukomoro ini tadi macet mas. Ya gara-gara konvoi semacam ini tadi.” Imbuhnya.
Langkah preventif sudah sering dilakukan oleh pihak kepolisian terkait konvoi pelajar paska kelulusan. “Penyuluhan sudah mas, tidak henti-hentinya penyuluhan sudah mas, baik lewat sekolah, pondok-pondok, atau lewat mana pun lah, banner, media massa, dan sebagainya, tapi ya tetap seperti itu.” Jawab Budiono kembali.
![]() |
| Aksi konvoi pelajar di perempatan Brumbung, Tanjunganom. |
![]() |
| Polisi membubarkan para pelajar pelaku konvoi di perempatan Brumbung |
Pihak sekolah pun telah melakukan pencegahan terhadap perilaku siswa dan siswinya dengan melakukan penyuluhan kenakalan remaja. Pihak sekolah lepas tanggungjawab dengan alasan kegiatan yang dilakukan siswa-siswinya adalah di luar kelas. Hal ini dikarenakan pihak sekolah tidak dapat berbuat apa-apa. Keterangan dari Budiono, “Di dalam sekolahan mungkin sudah diberi arahan, tapi nanti setelah keluar dari sekolahan kan sudah bukan tanggungjawab sekolahan. Kalau nanti mau ada konvoi-konvoi segala macam sekolahan tidak bisa berbuat, meskipun ijazah ditahan sekalipun. Itu kan hak siswa, lagi pula sekolah bisa dituntut.”
Konsekuensi bagi para pelaku konvoi seperti tadi pagi adalah ditilang. Himbauan dari Polres Nganjuk, yang tertangkap akan dikenakan tilang. Dasarnya adalah mengganggu pengguna jalan lainnya. “Kecepatan itu tadi sekitar 80 Km/jam mas.” Imbuh Budiono.
Indikasi para pelajar melakukan kegiatan tersebut adalah karena ingin senang-senang dengan teman-temannya. Mereka berpikir bahwa ujian hidupnya hanya berhenti di Ujian Nasional saja. Apa yang mereka lakukan juga di luar izin kepolisian. “Tidak akan ada izin, apalagi liar semacam ini, hanya ingin bersenang-senang saja, tidak diizinkan.” Tegas Budiono kembali ketika ditanya apakah jika ada izin diperkenankan oleh pihak kepolisian.
Beginikah keadaan pendidikan yang kian pelik. Seakan-akan tidak ada ujung penyelesaiannya. Perilaku para pelajar semakin ada-ada saja. Padahal keadaan bangsa ke depan berada di genggaman para remaja saat ini. Peran pendidikan dan pengajaran dalam lembaga formal sepertinya perlu diotimalkan dan ada evaluasi.





0 komentar:
Posting Komentar