![]() |
| Foto diambil dari : www.pedidikanindonesia.com |
Semua penting. Teori dan praktik ada dan eksistensinya
dipertaruhkan oleh sebuah hasil. Masyarakat negeri ini masih beranggapan
bahwa teori bukanlah sesuatu yang penting. Tapi pembuktian sebuah
kesimpulan tersebut perlu ditanyakan.
Pada kondisi tertentu
memang penyataan di atas ada benarnya. Karena tujuan sebuah hasil hanya
dapat dicapai dengan kerja dan tindakan. Sebuah teori dan konsep tanpa
tindakan tidak akan dapat mengubah sesuatu. Kadang kala sebuah tindakan
harus segera diputuskan karena tidak ada waktu lagi. Berteori dan melulu
membuat konsep justru akan membuat sebuah orientasi tergantung. Apalagi
jika sudah banyak orang yang menunggu hasil sebuah tindakan atau
kegiatan.
Berpikir, menyusun gagasan, konsep, dan teori,
hingga merumuskan strategi dan taktik untuk aksi memang butuh waktu yang
tidak sedikit, Karenanya orang sering malas berpikir dan berteori. Hal
ini menjadi penyakit di dalam masyarakat kita. Bagi masyarakat, tindakan
berpikir tampaknya semakin mahal. Memformat pemikiran dan teori tentang
suatu kegiatan dan proses kehidupan yang sebenarnya sangat berkaitan
dengan nasib orang banyak, dipandang tidak perlu menggunakan pemikiran
yang menyeluruh dan mendalam. Inilah ciri khas dari masyarakat yang kian
pragmatis, yang membuat orang hanya disibukkan dengan kerja-kerja dan
tindakan yang seakan-terburu-buru, tetapi hasilnya sering tidak bermakna
atau bahkan justru menghasilkan hubungan kontradiktif (penuh masalah)
antara manusia satu dengan manusia lainnya. (Nurani Soyomukti
2010:12-13).
Menurut Max Horkheimer (2005:177), “Pragmatisme merefleksikan suatu masyarakat yang tak punya waktu untuk mengenang dan merenung.” Imbasnya kita bisa melihat keadaan kekinian. Pendapat Nurani Soyomukti (2010:13) terkait dampak pragmatisme, “Orang
malas berpikir dan selalu terbawa pada tindakan-tindakan yang serba
cepat (instan). Pada ranah pengambilan kebijakan, hal ini menghasilkan
‘kebijakan cepat saji’ .....” Kebijakan cepat saji juga justru dapat berdampak tidak baik, bukan malah menyelesaikan tapi memperparah keadaan.
Dalam
dunia pendidikan, pragmatisme akan berdampak pada tambal-sulam program
satu dengan yang lainnya. Bukti nyatanya adalah program K13 (kurikulum
2013) yang tidak mencapai satu tahun sudah dicabut karena keraguan
menteri pendidikan yang baru atas program K13 yang disusun oleh menteri
pendidikan sebelumnya. Berapa juta atau milyar yang telah terbuang
sia-sia karena penyusunan program yang ‘kurang komplit’.
Itu
adalah contoh nyata yang jika kebijakan instan ‘dipoles’ justru akan
menjadi imaji-imaji yang indah. Bayangan tentang hasil sedemikian rupa
menggiurkan bahkan terkadang hiperbolik. Kebijakan yang dimulai dari
konsep dan teori yang salah, mengakibatkan praktik yang tidak hanya
salah, tapi juga dapat berdampak pada nasib banyak orang.
Pendidikan adalah jalur efektif untuk mengubah mindset masyarakat yang sudah ‘menjamur’ seperti ini. Pendidikan
adalah proses untuk memberikan manusia berbagai macam situasi yang
bertujuan memberdayakan diri (Nurani Soyomukti, 2010:27). Sistem
pendidikan yang tepat dapat menghasilkan manusia yang berkualitas pula.
Cara memperbaiki manusianya dengan mengevaluasi pendidikan yang telah
ada.
Teori sangat berkaitan erat dengan konsep.”Konsep-konsep
itu sendiri merupakan hubungan dari kata-kata yang menjelaskan suatu
persoalan atas kenyataan. Kata-kata adalah simbol berupa bunyi dan
aksara ketika kita merujuk pada suatu benda atau realitas yang ada di
dunia. Sementara konsep merupakan suatu penjelasan yang lebih luas
karena menghubungkan keterkaitan antara dua atau lebih dari keberadaan
benda atau gejala (peristiwa), Karenanya, teori merujuk pada suatu
hubungan antara konsep-konsep yang lebih bisa menjelaskan peristiwa atau
suatu proses tertentu dari kehidupan ini (Nurani Soyomukti, 2010:19).
Sebelum
beranjak ke praktik, seharusnya kita mencari teori-teori yang berisikan
konsep-konsep. Seperti kutipan di atas, konsep-konsep berisikan
kata-kata yang mengilustrasikan sebuah gejala atau keadaan. Sehingga
kemungkinan praktik sesuai dengan harapan adalah tinggi.
Dalam
implementasinya, kita bisa mengumpulkan teori yang berkaitan dengan
sebuah orientasi tertentu. Teori-teori tersebut dirapatkan supaya dapat
menjadi konsep yang menginterpretasikan sebuah gejala atau keadaan yang
akan dihadapi bersama. Dengan begitu praktiknya bukanlah praktik yang
didasari atas ketergesa-gesaan karena ambisi sebuah hasil. Hasil
praktiknya juga akan menjadi teori baru hasil dari konsep yang telah
dirapatkan.
Tidak terasa masyarakat kita telah mengidam ‘penyakit’
pragmatisme sejak lama. Indikatornya adalah angka literasi yang rendah,
tingginya pengangguran, banyaknya provider luar negeri yang
semakin kaya karena perilaku konsumtif masyarakat negeri ini, dan
keadaan politik saat ini. Tidak adakah yang salah? Dari uraian di atas,
apa yang seharusnya kita lakukan?


0 komentar:
Posting Komentar