“Saya mulai menulis dari yang sederhana, hingga bisa seperti sekarang ini ̶ Jangan paksa pelari maraton 10 KM berlari sejauh 40 KM, tidak akan mungkin bisa”
#BLOG 4
| Talkshow bedah buku "Hujan" |
“Dek, pertama kali saya menulis adalah menulis nama saya. Pas itu adalah kelas satu SD.” Jawab Darwis (nama asli penulis Tere Liye) saat ditanya moderator kapan pertama kali Darwis menulis. Lalu Darwis mencintai menulis dan terus menulis hingga tercipta 22 buku selama 10 tahun.
“Saya dulu menulis nama saya ‘Darwis’ dengan ‘Darmis’. Kata guru saya, “Darwis, kamu menulis ‘Darmis’ bukan ‘Darwis’. Huruf ‘W’-nya kebalik.” Kata guru saya. Tapi karena saya agak bandel saya jawab, “Pak, kalau saya balik huruf ‘A’-nya, bagaimana bapak bacanya? Tetap ‘A’-kan? Kenapa bapak memarahi saya jika membalik huruf ‘W’-nya?” Darwis menceritakan kisah hidupnya saat masih belajar merajut asa hingga sekarang potensinya merekah ̶ salah satu penulis hebat nusantara.
Penulis novel Ayahku Bukan Pembohong, Bidadari-bidadari Surga, Rindu, dan lain-lain ini diundang oleh Unit Kegiatan Kerohanian Islam Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur (UKKI UPN Veteran Jatim) dalam acara bedah buku “Hujan” kemarin (14/05). Darwis bercerita bagaimana menjadi penulis hebat. Berbagi pengalaman dan tips pun ia lakukan pagi itu.
| Talkshow bedah buku "Hujan" |
Hati saya berdebar tidak ada hentinya. Bola mataku tidak bergerak dan kaku memandang Darwis berbicara. “Ah, ini orangnya. Keren banget nih orang. Bukunya banyak menginspirasi orang di jagad.” Seru batinku. Darwis menceritakan awal karir dia menulis. Kendala-kendala yang ditemuinya dan bagaimana dia menyelesaikan setiap permasalahan yang menghadang dirinya. Nyatanya, dia selalu berhasil melewatinya. “Jangan paksa pelari maraton 10 KM berlari sejauh 40 KM, tidak akan mungkin bisa.” Kata Darwis. “Mulailah dari yang paling sederhana buat kamu dek. Kalau kamu tidak pernah menulis pun, mulailah menulis satu paragraf dulu selama satu minggu setiap hari. Setelah itu dua halaman, 5 halaman, lima puluh halaman, hingga seratus halaman, lama-lama tigaratus halaman.” Imbuh Darwis. Sebelum memulai menulis buku, Darwis telah menulis berbagai kolom di berbagai media cetak. Menulis di blog, buku tulis, lembaran kertas, ia lakukan. Darwis melakukan hal yang paling sederhana dulu sesuai dengan kemampuan dirinya.
Darwis acap sekali gagal. Terhitung karyanya sudah sekitar 30-40-an. Akan tetapi yang terbit baru lah 22 buku hingga tahun 2016. Yang terakhir adalah novelnya yang terbit di bulan Januari lalu dengan judul “Hujan”. “Sebelum novel pertama saya yang terbit, yaitu ‘Hafalan Shalat Delisa”, saya sudah menulis novel dua hingga tiga kali. Tapi semua ditolak oleh penerbit.” Sambil mengetuk-ngetuk meja Darwis bercerita. “Tapi karena kutulusan dan niat saya, semangat saya tidak pernah turun untuk menulis.”
Menulis bukanlah sesuatu yang ‘wah’ bagi Darwis. Karena sejatinya manusia harus senantiasa membaca dan menulis. Sayangnya dari sekian banyak manusia di nusantara, hanya segelintir orang yang mau mambaca dan menulis. Padahal membaca dan menulis adalah kebutuhan seperti halnya makan dan minum. “Apapun profesi anda menulislah!” Ungkapan ini ada dalam buku karangan Akbar Zainudin yang berjudul “Uktub!”.
Menulis bukanlah sesuatu yang ‘wah’ bagi Darwis. Karena sejatinya manusia harus senantiasa membaca dan menulis. Sayangnya dari sekian banyak manusia di nusantara, hanya segelintir orang yang mau mambaca dan menulis. Padahal membaca dan menulis adalah kebutuhan seperti halnya makan dan minum. “Apapun profesi anda menulislah!” Ungkapan ini ada dalam buku karangan Akbar Zainudin yang berjudul “Uktub!”.
“Saya punya mimpi dapat memberi buku bacaan yang bermanfaat bagi keluarga saya, adik-adik saya, anak-anak saya, dan semua orang yang berkeinginan untuk menjadi baik. Makanya saya menulis buku.” Terang Darwis empunya nama pena Tere Liye. Darwis menulis bukan supaya rekeningnya bertambah, supaya kaya, dan pemenuhan materi belaka. Darwis menulis karena mencintai menulis. Ia tulus menulis untuk kebaikan. Tidak peduli dibaca orang atau tidak, tidak peduli bukunya dipajang di toko-toko buku atau tidak, yang penting saya berbuat baik untuk memberdayakan potensi dirinya. “Kalau masalah ternyata di toko buku ternyata ada satu rak buku yang isinya buku-buku saya doang ya itu hanya bonus saja, niatnya bukan itu”. Darwis menambahkan.
| Darwis sedang book signing |
Selain bicara tentang pengalamannya, Darwis juga memberi tips-tips bagaimana meningkatkan potensi menulis. Terlihat mata para peserta bedah buku ‘Hujan’ semakin fokus memperhatikan Darwis berbicara. Telinga mereka tidak boleh melewatkan sepenggal kata pun dari Darwis. Satu kalimat saja tertinggal, maka sama dengan kehilangan emas buat mereka. Rata-rata para peserta adalah orang-orang yang sedang membuat buku, makanya acara ini terasa sangat hikmat dan interaktif.
Para peserta bebas bertanya kepada Darwis. Tentang kiat-kita menulis, meminta solusi, dan pengalamannya. Termasuk penulis artikel ini. Saya bertanya kepada Dawis, “Bang, saya sudah menulis tiga judul buku tapi stucked bang, semakin saya membaca karyanya bang Tere, mas Andrea Hirata, dan lainnya semakin bikin saya stucked. Soalnya ide saya dikuras sama cerita-cerita bikinan bang Tere. Ada solusinya kah?” Lantas Darwis menjawab pertanyaan saya, “Saya stucked tidak hanya tiga buku ya Arif ya. Bahkan sekitar ada tujuh judul buku saya yang sedang stucked. Tapi gak masalah, istirahat dulu. Pikirkan judul buku yang lain dulu, nanti kalo udah ada pencerahan terkait judul buku yang mandeg tadi, baru dilanjut. Santai aja Arif, tidak usah gimana-gimana”.
Di penghujung acara, para peserta yang membeli tiket platinum mendapat kesempatan untuk Book Signing oleh Darwis sekaligus Meet and Greet. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh para peserta untuk bisa sekedar mengobrol dengan Darwis secara langsung. Artikel selanjutnya penulis akan membahas tentang tips-tips menulis yang diungkapkan oleh Darwis Tere Liye.

0 komentar:
Posting Komentar