"Hati memiliki rahasia tentang niat, niat berada dalam hati, tindakan bergantung pada niat"
Assalamualaikum rekan,
Pernahkah anda mendengar
cerita-cerita motivasi atau membaca sebuah buku yang penuh dengan cerita yang
dapat menggugah semangat rekan untuk terus melangkah maju? Kali ini saya akan
berbagi sebuah cerita menarik yang insyaallah dapat memotivasi rekan
yang membacanya. Cerita ini diambil dari buku harian Sultan Murad IV (Sultan
Turki Utsmani, memerintah Juni 1612-Februari 1640). Saya mendapatkannya dari
Guru saya.
Dalam sebuah buku hariannya itu diceritakan bahwa suatu malam
sang Sultan merasa sangat galau, ia ingin tahu apa penyebabnya. Ia memanggil
kepala pengawalnya dan mengatakan bahwa ia akan pergi ke luar istana dengan
menyamar. Sesuatu yang memang biasa beliau lakukan.
Sultan berkata, “Mari keluar, kita akan pergi ke desa untuk
melihat keadaan wargaku.”
Mereka pun pergi. Udara saat itu sangat panas. Tiba-tiba,
mereka menemukan seorang laki-laki tergeletak diatas tanah . Ketika dibangunkan
oleh Sultan, ternyata ia telah wafat. Orang-orang yang lewat di sekitarnya tidak
ada yang peduli kepada mayat tersebut.
Sultan memanggil mereka, kemudian mereka bertanya, “ada apa?
Apa yang kau inginkan?”
Sultan berkata,”Mengapa orang ini wafat, tapi tidak ada satu
pun diantara kalian yang membawanya? Siapa dia? Dimana keluarganya?”
Mereka berkata,”Orang ini Zindiq, pelaku maksiat, dia selalu
minum khamr dan berzina dengan pelacur.”
Sultan berkata,”tapi... bukankah ia juga umat Muhammad SAW?
Ayo, angkat dia, kita bawa ke rumahnya.”
Mereka pun membawa mayat laki-laki itu ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, saat mengetahui suaminya telah wafat,
sang istri menangis. Tapi orang-orang langsung pergi, hanya sang Sultan dan
kepala pengawalnya yang masih tinggal
Sultan berkata kepada istri laki-laki itu, “Aku mendengar
kalau suamimu dikenal suka melakukan kemaksiatan ini dan itu, hingga mereka
tidak peduli akan kematiannya.”
Sang istri pun bercerita, “Awalnya aku menduga seperti itu.
Setiap malam suamiku keluar rumah, pergi ke toko minuman keras (khamr),
kemudian membeli sesuai kemampuannya. Ia bawa khamr itu ke rumah,
kemudian membuangnya ke dalam toilet sambil berkata, “Aku telah meringankan
dosa kaum muslimin.” Dia juga selalu pergi ke tempat pelacuran, memberi mereka
uang dan berkata,”Malam ini merupakan jatah waktuku, jadi tutup pintumu sampai
pagi, jangan kau terima tamu lain!” Kemudian ia pulang ke rumah bilang
kepadaku,”Alhamdulillah, malam ini aku telah meringankan dosa pemuda-pemuda
islam.”
Tapi, orang-orang yang melihatnya mengira ia selalu minum khamr
dan melakukan zina. Berita ini pun menyebar di masyarakat
Sampai akhirnya, suatu kali, aku berkata kepada suamiku,”Kalau
nanti kamu mati, tidak ada kaum muslimin yang akan memandikan jenazahmu, tidak
ada yang menshalatimu, tidak ada pula yang menguburkanmu.”
Ia hanya tertawa dan berkata,”Jangan takut, Sayangku. Jika
aku mati, aku akan dishalati oleh Sultan kaum muslimin, oleh para ulama, dan
para auliya.”
Sultan Murad pun menangis. Ia berkata,”Benar! Demi Allah,
akulah Sultan Murad. Besok pagi kita akan memandikannya, menshalatinya, dan
menguburkannya.”
Demikianlah, akhirnya jenazah laki-laki itu dihadiri oleh
Sultan, para ulama, para syaikh, dan seluruh warga.
Rekanku sekalian, Dari
cerita diatas kita dapat mengambil hikmah bahwa sebaik apapun tindakan dan
seburuk apapun tindakan seseorang yang dapat menilai adalah Allah SWT semata.
Janganlah kita bersuudzon kepada orang lain meskipun tampaknya benar-benar
buruk atau memang benar buruk sekalipun. Barangkali orang yang tampak bodoh dan
buruk itu ternyata lebih cerdas dan piawai dari kita sendiri. Bukan begitu rekan??


Benar sekali, mas Ari. "Innamal a'malu bin niyaat", sesungguhnya amal itu bergantung kepada niatnya. Seperti sebuah kisah sufi yang pernah saya baca tentang anjuran bagi para sufi untuk merendahkan dan mempermalukan diri di depan khalayak ramai seperti berpura-pura mabuk dan berpura-pura gila. Semua semata-mata hanya agar dipandang rendah oleh manusia dan dengan demikian Tuhan akan menaikkan sedikit derajat para sufi tersebut di hadapan-Nya.
BalasHapusDemikian pula dalam sastra Jawa dikenal kisah tentang Satriyo Piningit yang sering berpura-pura bodoh dan pura-pura tidak tahu akan orang yang berniat jahat kepadanya, semata-mata agar keberadaannya tidak diketahui orang banyak.
Sayangnya kita begitu mudah menilai orang dari tampak luarnya saja. Dari "prejengan" dan gerak-gerik yang tampak saja. Padahal dalamnya hati siapa yang tahu. Ada benarnya pepatah luar yang mengatakan "don't judge the book by its cover" karena, sekali lagi, "innamal a'malu bin niyaat".
Benar sekali mbak...
BalasHapus