“Tidak memandang tua-muda, semua berakal dan sama-sama tahu bagaimana nasib hidup ini kelak”
| Diskusi pengabdian Pomosda |
Bismillahirrohmaanirrohiim.....
Halo rekan semua ! Maaf karena beberapa hari ini tidak posting lagi
karena saya masih terkendala dengan prioritas. Kali ini saya mau share tentang
sebuah ulasan atau opini yang tidak mutlak benar. Namanya juga opini kan? Jadi
bebas ... hehehe
Cita-cita atau dalam bahasa Inggris dikatakan ‘desire’ (keinginan)
dimaknai sebuah keinginan dalam pikiran untuk diraih karena dikira bahwa jika
sudah diraih akan mendapat kebahagiaan. Setiap orang pasti mendambakan
cita-citanya tercapai. Dulu ketika masih duduk di bangku sekolah, kita sering
ditanyai guru kita tentang cita-cita kita. Ada yang ingin menjadi guru,
teknisi, wirausahawan, dokter, dan lain-lain. Pastinya kita akan berusaha
melakukan apapun untuk tercapainya cita-cita kita.
Berbeda halnya jika bukan cita-cita perorangan. Cita-cita bersama
lebih kompleks atau rumit dan berbelit-belit mencapainya. Karena apa?
Setiap individu memiliki definisi dan pengalaman sendiri-sendiri. Akhirnya
penarikan kesimpulan, pengambilan hikmah, dan pelaksanaan teknis akan
berbeda-beda. Jika iseng dan mencoba test case, akan banyak menemui
perbedaan definisi sebuah cita-cita yang didambakan bersama. Padahal cita-cita
bersama, tapi berbeda visi. Ini sangat sering ditemui. Tapi jika cara memahami
cita-cita bersama berbeda, bukan menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah
jika membawa definisi sendiri dan pengalamannya sendiri lalu dijadikan sebuah
hikmah bersama. Ego yang akan muncul.
| Sharing Mahasiswa STT Pomosda dengan santriwati SMA Pomosda |
Cara memahami dan melaksanakan cita-cita bersama setiap individu
pasti berbeda-beda. Faktor-faktornya adalah keluarga, pendidikan
(intelektualitas), lingkungan, kebiasaan, usia, dan pengalaman. Cara menggapai
cita-cita (ide, gagasan tentang teknis pelaksanaan) yang beragam ini akan
menjadi pembendaharaan yang kaya jika dapat kita koordinasikan menjadi sebuah
pondasi bangunan yang mengrucut.
Mengkoordinasikan pembendaharaan ini jika dipandang subjektivitas tidak
akan bermanfaat. Justru mudhorot karena tidak menimbulkan dampak negatif
berupa dzon (perasangka), adu pendapat, selisih paham, dan lain-lain.
Modalnya adalah positive thinking. Positif thinking pada saudaranya
dapat menggerus keraguan dan prasangka pada saudaranya. Percaya bahwa saya
bukanlah orang yang paling paham tentang cita-cita bersama tersebut. Yakin apa
yang saya lakukan bukanlah yang terbaik dari siapapun. Percaya bahwa apa yang
dilakukan saudara kita memiliki maksud yang mulia dan demi kemaslahatan
bersama.
Koordinasi yang objektif berarti tidak memandang kepentingan diri
sendiri. Tidak takut jika posisinya digantikan oleh saudaranya sendiri. Tidak
iri jika saudaranya mendapat pujian. Tidak takut jika saudaranya lebih dipercayai.
Koordinasi yang objektif berarti saling mendukung ide atau gagasan dari
siapapun. Meskipun dari anak usia 12 tahun bahkan dari seorang tukang sampah
sekalipun. Memposisikan gelas kosong yang siap diisi oleh air yang jernih.
Yang mengerti kemana nasib akhir hidup ini bukanlah saya seorang.
Setiap individu pasti menginginkan keselamatan di akherat kelak. Lalu mengapa
kita letakkan keraguan atas tindakan saudara kita untuk meraih cita-cita
bersama? Bukankan saudara kita itu juga melakukan tindakan itu karena keinginan
mencapai cita-cita bersama? Jika ternyata gagal apakah saudara kita mutlak
melakukan kesalahan? Jawabannya tidak. Jika pertanyaan diganti menjadi apakah
saya sudah melakukan sesuatu untuk cita-cita bersama? Kenapa saya tidak percaya
terhadap saudara saya? Kenapa saya tidak berani melakukan tindakan untuk
cita-cita bersama ? Jawaban untuk pertanyaan terakhir adalah karena saya tidak
mau dianggaap salah oleh saudara yang lain, tidak mau dipandang memalukan oleh
yang lain, merasa terancam kepercayaan saudara saya atas diri saya.
Saya meyakini setiap individu pasti menginginkan surga dan
kebaikan. Jika ternyata melakukan kesalahan berarti sedang khilaf itu
saja. Menjadi kesalahan jika saudaranya melakukan kesalahan akan tetapi justru
hanya memandang kesalahan tersebut tapi tidak mau berbuat apapun. Yang tua
tidak memandang remeh yang muda. Yang muda tidak merasa lebih baik dari yang
tua. Yang muda dan yang tua saling komunikasi dan saling meyakini bahwa
kedua-duanya hendak meraih cita-cita yang sama. Insyaallah akan saling mendukung
sesama. Begitu pula yang pintar dan yang bodoh, yang kaya dan yang miskin,
dan lain-lain.
Rekanku yang saya hargai, Artikel ini bukanlah sebuah ultimatum.
Artikel ini tidak semuanya mengandung kebaikan. Jika setelah membaca artikel
ini justru menggoyahkan, buang jauh-jauh artikel ini dan jangan membaca lagi.
Terimakasih rekan !

0 komentar:
Posting Komentar