image1 image2 image3

HELLO I'M MUHAMMAD ARIF|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|WRITING 'N LEARNING IS MY PASSION|I'M PROFESSIONAL WRITER

Untuk Sebuah Cita-cita Bersama

“Tidak memandang tua-muda, semua berakal dan sama-sama tahu bagaimana nasib hidup ini kelak”


Diskusi pengabdian Pomosda

Bismillahirrohmaanirrohiim.....

Halo rekan semua ! Maaf karena beberapa hari ini tidak posting lagi karena saya masih terkendala dengan prioritas. Kali ini saya mau share tentang sebuah ulasan atau opini yang tidak mutlak benar. Namanya juga opini kan? Jadi bebas ... hehehe


Cita-cita atau dalam bahasa Inggris dikatakan ‘desire’ (keinginan) dimaknai sebuah keinginan dalam pikiran untuk diraih karena dikira bahwa jika sudah diraih akan mendapat kebahagiaan. Setiap orang pasti mendambakan cita-citanya tercapai. Dulu ketika masih duduk di bangku sekolah, kita sering ditanyai guru kita tentang cita-cita kita. Ada yang ingin menjadi guru, teknisi, wirausahawan, dokter, dan lain-lain. Pastinya kita akan berusaha melakukan apapun untuk tercapainya cita-cita kita.

Berbeda halnya jika bukan cita-cita perorangan. Cita-cita bersama lebih kompleks atau rumit dan berbelit-belit mencapainya. Karena apa? Setiap individu memiliki definisi dan pengalaman sendiri-sendiri. Akhirnya penarikan kesimpulan, pengambilan hikmah, dan pelaksanaan teknis akan berbeda-beda. Jika iseng dan mencoba test case, akan banyak menemui perbedaan definisi sebuah cita-cita yang didambakan bersama. Padahal cita-cita bersama, tapi berbeda visi. Ini sangat sering ditemui. Tapi jika cara memahami cita-cita bersama berbeda, bukan menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah jika membawa definisi sendiri dan pengalamannya sendiri lalu dijadikan sebuah hikmah bersama. Ego yang akan muncul.

Sharing Mahasiswa STT Pomosda dengan santriwati SMA Pomosda
Cara memahami dan melaksanakan cita-cita bersama setiap individu pasti berbeda-beda. Faktor-faktornya adalah keluarga, pendidikan (intelektualitas), lingkungan, kebiasaan, usia, dan pengalaman. Cara menggapai cita-cita (ide, gagasan tentang teknis pelaksanaan) yang beragam ini akan menjadi pembendaharaan yang kaya jika dapat kita koordinasikan menjadi sebuah pondasi bangunan yang mengrucut.

Mengkoordinasikan pembendaharaan ini jika dipandang subjektivitas tidak akan bermanfaat. Justru mudhorot karena tidak menimbulkan dampak negatif berupa dzon (perasangka), adu pendapat, selisih paham, dan lain-lain. Modalnya adalah positive thinking. Positif thinking pada saudaranya dapat menggerus keraguan dan prasangka pada saudaranya. Percaya bahwa saya bukanlah orang yang paling paham tentang cita-cita bersama tersebut. Yakin apa yang saya lakukan bukanlah yang terbaik dari siapapun. Percaya bahwa apa yang dilakukan saudara kita memiliki maksud yang mulia dan demi kemaslahatan bersama.

Koordinasi yang objektif berarti tidak memandang kepentingan diri sendiri. Tidak takut jika posisinya digantikan oleh saudaranya sendiri. Tidak iri jika saudaranya mendapat pujian. Tidak takut jika saudaranya lebih dipercayai. Koordinasi yang objektif berarti saling mendukung ide atau gagasan dari siapapun. Meskipun dari anak usia 12 tahun bahkan dari seorang tukang sampah sekalipun. Memposisikan gelas kosong yang siap diisi oleh air yang jernih.

Yang mengerti kemana nasib akhir hidup ini bukanlah saya seorang. Setiap individu pasti menginginkan keselamatan di akherat kelak. Lalu mengapa kita letakkan keraguan atas tindakan saudara kita untuk meraih cita-cita bersama? Bukankan saudara kita itu juga melakukan tindakan itu karena keinginan mencapai cita-cita bersama? Jika ternyata gagal apakah saudara kita mutlak melakukan kesalahan? Jawabannya tidak. Jika pertanyaan diganti menjadi apakah saya sudah melakukan sesuatu untuk cita-cita bersama? Kenapa saya tidak percaya terhadap saudara saya? Kenapa saya tidak berani melakukan tindakan untuk cita-cita bersama ? Jawaban untuk pertanyaan terakhir adalah karena saya tidak mau dianggaap salah oleh saudara yang lain, tidak mau dipandang memalukan oleh yang lain, merasa terancam kepercayaan saudara saya atas diri saya.

Saya meyakini setiap individu pasti menginginkan surga dan kebaikan. Jika ternyata melakukan kesalahan berarti sedang khilaf itu saja. Menjadi kesalahan jika saudaranya melakukan kesalahan akan tetapi justru hanya memandang kesalahan tersebut tapi tidak mau berbuat apapun. Yang tua tidak memandang remeh yang muda. Yang muda tidak merasa lebih baik dari yang tua. Yang muda dan yang tua saling komunikasi dan saling meyakini bahwa kedua-duanya hendak meraih cita-cita yang sama. Insyaallah akan saling mendukung sesama. Begitu pula yang pintar dan yang bodoh, yang kaya dan yang miskin, dan lain-lain.

Rekanku yang saya hargai, Artikel ini bukanlah sebuah ultimatum. Artikel ini tidak semuanya mengandung kebaikan. Jika setelah membaca artikel ini justru menggoyahkan, buang jauh-jauh artikel ini dan jangan membaca lagi. Terimakasih rekan !

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar