image1 image2 image3

HELLO I'M MUHAMMAD ARIF|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|WRITING 'N LEARNING IS MY PASSION|I'M PROFESSIONAL WRITER

PENTINGNYA MEMBANGUN KESADARAN DIRI DALAM “KESATUAN SISTEM”

“Kebaikan yang tidak tersistem dengan baik 

akan dikalahkan oleh kejahatan yang tersistem dengan baik”

KH. Moh. Dzoharul Arifin Al-Faqiri Munawwar Abdullah Afandi
sedang memaparkan tentang hakekat Tarbiyah (pendidikan)
      Sistem merupakan satu kesatuan komponen atau perangkat yang terangkai dan terhubung untuk menjalankan sebuah fungsi dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Komponen tersebut harus ada dan bekerja, jika salah satunya tidak ada atau tidak berfungsi maka tidak akan bisa mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Sistem juga bisa dimisalkan seperti sebuah perangkat komputer yang memiliki komponen. Adapula bagian pendukung tersebut berupa beberapa perangkat keras maupun lunak, seperti mouse, keyboard, CPU, Motherboard, dan lain-lain. Masing-masing komponen tersebut tidak dapat berfungsi jika tanpa bantuan dari komponen lainnya. Sebab, perangkat itu yang akan menjadikan berjalannya sebuah fungsi secara utuh yang dapat disebut sebagai satu unit komputer.

    Beberapa hari yang lalu, saat kumpulan bersama pimpinan Gerakan Jamaah Lil-Muqorrobien (GERJALIBIEN) Bapak Kyai Mohammad Dzoharul Arifin Al-faqiri Munawwar Abdullah Afandi, secara detil menjelaskan banyak sekali hal yang berhubungan dengan penataan Sumber Daya Manusia terhadap kinerja pendidikan serta penyelesaian masalah potensi Sumber Daya Manusia. Beliau juga menjelaskan tentang penanganan Keadministrasian dan Kemanajemenan.
        Sebuah penataan yang luar biasa dari bapak pimpinan demi terwujudnya cita-cita para Nabi para Rasul yaitu gumelarnya Ilmu se-pendidikannya. Dimulai dari sistem pendidikan, enterpreneurship, serta kediniyahan. Sistem atau tata kelola yang telah bapak pimpinan bentuk sedemikian rupa sebenarnya adalah bentuk kasih sayang beliau terhadap murid (Orang yang bersungguh-sungguh berjihadunnafsi mengembalikan hakekat jati diri manusianya). Jika tanpa manajemen dan sistem yang beliau kelola, kita sebagai murid akan kelunta-lunta atau kesusahan untuk menjalankan sebuah lakon dan pitukon. Oleh karena itu kita harus bersyukur karena kita telah diberi jalan keluar untuk dapat mengembalikan asal kejadian manusia supaya dapat kembali kepada asal hakekat fitrah manusia yang asal fitrahnya dari Tuhan piyambak. Barang siapa yang dapat bersungguh-sungguh menjalankan sistem dan program-program beliau dengan niat dan tekad yang sungguh-sungguh sebagai pancatan mati selamat dan atas kesadaran “wal amru yaumaidin lillaahi” Insyaallah berimannya benar dan mendapatkan keselamatan. Amieen.

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

      ”Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (menyaksikan secara nyata di dalam Bai’at) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Ali-Imran :164)

      Kekuatan sistem diperkuat lagi oleh program-program beliau seperti vertikultur, polo pendem, tanam dengan media polybag, tanaman sela, tambulampot (tanaman buah dalam pot), dan masih banyak lagi program-program beliau yang sudah tersistem dengan baik yang saling kuat-menguatkan satu sama lain. Program-program tersebut sebenarnya juga untuk memberdayakan potensi manusia atas kesadaran fitroh untuk memakmurkan bumi-Nya Tuhan. Sehingga program itu untuk membela, nyengkuyung dan mendukung Guru serta dapat dijadikan alat kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.

      Dalam hal ini, sistem bukan hanya sebagai syarat sebuah tujuan tanpa makna. Sasaran sistem yang beliau kelola dan tata sebenarnya adalah kesadaran serta perbaikan Sumber Daya Manusianya sendiri. Karena didalam diri ini juga terdapat sistem yang harus berfungsi dengan sebagaimana mestinya berfungsi ,yaitu terdiri dari jasad, hati, ruh, dan rasa. Ke-empat sistem itu memiliki potensinya masing-masing. Kita juga harus pandai menata sistem yang ada pada diri kita itu supaya dapat menjadi satu kesatuan sistem yang mempunyai tujuan memproses diri supaya dapat mati dengan selamat sampai tujuan. Yaitu menyatu kembali dengan Tuhan.
     Dalam sebuah sistem pastinya ada yang dinamakan dengan manajemen. Manajemen itu juga butuh dikelola dan diperkuat oleh administrasi. Ruhnya terletak pada komunikasi dan harus siap menanggalkan egonya masing-masing. Seperti apa yang sudah bapak pimpinan dhawuhkan bahwasanya dengan merealisasikan itu dapat menimbulkan kreatifitas kita. sehingga jangan sampai kita menyepelekan hal-hal kecil yang berhubungan dengan administrasi dan data. 

     Kadang kala dalam proses menjalankan sistem tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan sebelumnya. Permasalahan atau konflik pasti ada, maka butuh dilatih, terus belajar, memperkuat komunikasi, dan sungguh-sungguh menjalankannya dengan dasar perintah Guru. Beliau juga menekankan bahwa mulailah berlatih mengidentifikasi, karena orang yang cerdas adalah orang yang pandai menyelami apa yang Tuhan dan utusan-Nya kehendaki. Sedangkan orang yang terampil adalah orang yang tahu prioritas. Sehingga ketika menjalankan sistem yang ada kita tahu untuk siapa, bagaimana kerjanya, dan untuk apa sistem ini kita jalankan. Intinya yaitu untuk mendukung Guru demi gumelarnya ilmu se-pendidikannya.

        Dalam qoidah XI oleh almarhum mbah Kyai Hasan ‘Ulama’ di Takeran pada 16 september 1943 M. Tentang pedoman pendidikan yang bisa di terapkan dalam kehidupan sehari-hari semua tergabung dalam sistem. Bahkan bapak pimpinan juga dhawuh pola asuh anak dan santri harus menggunakan sistem pola asuh anak. Sistem pendidikan atau asuh anak yang benar adalah mendidik anak atau siswa tentang adab dan akhlaq. Karena inti pendidikan adalah adab dan akhlaq. Proses pendidikannya-pun atas dasar kecintaan bukan ketakutan atau kesungkanan. Jika sistem ini dapat kita ikhtiari bersama dengan mengutamakan bebarengan, komunikasi, konsolidasi, tilik-tinilikan insyaallah percikan Jannatul Na’im akan benar-benar ditampakkan di permukaan bumi-Nya Allah. Beliau menyampaikan “kebaikan yang tidak tersistem dengan baik akan dikalahkan oleh kejahatan yang tersistem dengan sangat baik”, kutipan ini menjadi renungan kita bersama. Semoga mendapatkan beberan, berkah, sawab, dan pangestu Guru, amiien. 

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar