“Mbalekne Asal Jeladrene Dhewe-dhewe Yo Kudu Digembleng Nganthi Nyatu ”
| KH. Moh. Dzoharul Arifin Al-Faqiri Munawwar Abdullah Afandi dalam kegaitan survival 2015 |
Lillaahiridhoillaahi ta’ala syai’un lillaahi alfatihah....
Ilaa Hadrati Nabi Muhammad SAWW syai’un lillaahi lahu alfatihah ....
Ilaa hadratina syaikhoti Dewi Fatimah binti Rasulullah SAWW wa syekh Imam Ali Rodhiallahu ‘anhu syai’un lillahi lahumal fatihah...
Ilaa hadrati jami’il arwahi masyayikh wa masyayikhinaa wa masyakhihim fil silsilati sunnatil ajma’in syaiun lillaahi lahumul fatihah...
Ila hadroti jami’il arwaahi ambiyaa’i allahi syai’un lillaahi lahumul fatihah...
Ilaa hadrati jami’il arwahi masyayikh wa masyayikhinaa wa masyakhihim alladzi fi dawaamil akhirah wal malaikatil muqorrobiin wal kauni syai’un lillaahi lahumul fatihah ...
Ilaa hadroti jami’il Al-Qoim Al-Mahdi, Syekh mBah Kyai Imam Mursyid Muttaqien bim mBah Kyai Haji Imam Muttaqien wa Syekh mBah Kyai Moh.Khusnun Malibari bin mBah Kyai Imam Diharjo Tanjung, tsumma ilaa hadroti Syekh mBah Kyai Moh. Munawwar Afandi bin mBah Kyai Abdullah Afandi As, Syaiun lillaahi lahumul faatihah....
Ilaa hadroti Guru Wasithah Bapak KH. Mohammad Dzoharul Arifin Alfaqiri Munawwar Abdullah Afandi syai’un lillahi lahu alfatihah ...
Bismillahirrohmanirrohiim .....
Dengan mengucap syukur alhamdulillahirobbil’aalamiin kita masih diberi kesempatan menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan 1436 Hijriah ini. Bulan Ramadhan akan menjadi penuh berkah bagi hambaNya yang mau sadar diri menempatkan pada penghambaan untuk kembali kepada Tuhannya. Hanya bagi mereka yang melakukan ibadah dengan kesadaran penghambaanlah yang tidak sia-sia amalnya di hadapan Allah SWT.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ
عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَالْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
“Dan diantara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi; maka jika dia memperoleh kebaikan, dia merasa puas, dan jika dia ditimpa suatu cobaan, dia berbalik ke belakang. Dia rugi di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata (Al-Hajj : 11)”.
Bapak Kyai Mohammad Dzoharul Arifin Al-faqiri Munawwar Abdullah Afandi selalu menekankan dasar syukur kepada para muridnya. Karena orang-orang yang bersyukur (mensyukuri nikmat berupa dipertemukannya dengan seorang Rasul yang menunjukkan ilmu pintunya mati selamat) akan menggantung dengan kuat. Jika diberi berupa cobaan dia akan nyegoro, nerimo ing pandum yang artinya dia akan tetap menjadikan cobaan itu sebagai pendidikan dari Allah untuk membuat dirinya semakin tangguh dan kuat menghadapi ketetapan-Nya yang enak dan tidak mengenakkan buat nafsu.
Dalam ayat diatas dapat kita ambil sebuah hikmah, manusia yang tidak bersyukur akan berpaling dari Allah jika menghadapi suatu bencana. Bencana yang mengerikan adalah bencana batin. Batin yang kemrungsung dikejar-kejar oleh perasaan berdosa, bersalah, dan keinginan-keinginan duniawi berupa fisik semata. Maka orang-orang demikianlah yang tergolong orang-orang yang merugi. Kenapa merugi ? Karena sudah ditunjukkan jalan yang benar untuk menujuNya akan tetapi justru acuh dan bergantung kepada ketidakpastian daripada bergantung kepada yang pasti dan Maha Kuat mengangkat hamba-Nya yang lemah. Maka dia berpaling dan memilih kerugian yang besar.
“Hakekat Puasa Adalah Memerangi Nafsu dan Menumbuhkan Dasar Gerakan Uswah “
Ibadah puasa merupakan rukun islam yang ketiga. Puasa di bulan Ramadhan adalah wajib hukumnya bagi setiap kaum muslimin dan muslimat. Ibadah ini essensinya terletak pada memerangi nafsu pribadi berupa abaa wastakbaraa, ana khoiru minhu, ego, malas, kesenangan dan lain-lain untuk menumbuhkan adab sebagai dasar gerakan uswah.
قٌلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِى يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"Katakanlah: “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian, dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS Ali’Imrân [3]: 31)
Rasulullah memerintahkan kita untuk melaksanakan ibadah puasa supaya si murid dapat menempa dirinya menjadi hamba yang taat dan patuh karena rasa cinta kepada Gurunya melebihi siapapun di dunia. Puasa juga ibadah yang senantiasa dilakukan oleh Rasulullah di bulan suci Ramadhan, maka jika status kita sebagai murid harus bagaimana ? jelas harus mengikutinya.
| Mengerjakan hal positif di bulan suci Ramadhan |
Puasa sendiri sebenarnya tidak hanya sekedar tentang menahan nafsu makan dan minum dari terbitnya fajar hingga tenggelamnya matahari, akan tetapi puasa adalah tentang belajar ngempet dan mengendalikan diri. Nabi Muhammad dan penerusnya puasa setiap hari, maksudnya menahan dari hal-hal yang dapat merusak amal-amal shalehnya. Lalu apa yang kita lakukan ? Harus mengikutinya. Mengikuti apapun yang didhawuhkan Guru adalah ibadah jika menempatkan kesadaran wal amru yaumaidzillillah (yang dilakukan adalah semata-mata nderekke dhawuh Gurunya).
Jika manusia diibaratkan roti, roti berasal dari bahan-bahan baku seperti tepung, telur, kentang, mentega, dan lain-lain. Bahan baku tersebut akan diproses supaya bisa menyatu. Proses penyatuan inilah yang membutuhkan energi. Adonan roti harus dikeplek-keplekke, dibanting, diuleg, diremas, diaduk, digoreng, dioven, dan lain-lain supaya bisa menyatu dan menjadi roti yang siap dihidangkan kepada tuannya. Sama halnya dengan manusia. Manusia juga berasal dari adonan berupa jasad, hati, ruh, dan rasa. Keempat jladrenan manungsa inilah yang dibanting-banting di dunia ini supaya bisa saling komunikasi dan bisa menyatu. Menghadapi masalah rumah tangga, sekolah, kuliah, ekonomi, mempunyai anak nakal, atasan yang tidak menyenangkan, dan lain-lain. Semua problematik di dunia adalah proses penyatuan diri untuk kembali kepada Yang Menciptakan jladrenane manungsane (asal-muasal manusia). Bapak pimpinan menyampaikan “mbalekne asal jeladrene dhewe-dhewe yo kudu digembleng nganthi nyatu ”.
Di dalam ibadah puasa Ramadhan terdapat ibadah Zakat Fitrah. Zakat Fitrah dimaknai oleh kalangan pada umumnnya adalah zakat wajib yang ditunaikan di bulan suci Ramadhan untun membantu para faqir miskin dengan memberi para faqir berupa beras minimum sekian dan uang minimum sekian. Hakekatnya karena manusia itu memiliki kewajiban untuk mencapai fitrah maka ditunaikanlah Zakat Fitrah litazkiyatunnafs atau supaya tidak kumanthil pada dunia.
Allah hanya akan menerima puasanya orang-orang yang bisa memunculkan sifat kemurnian ibadah (al-ikhlas) karena pandangannya bahwa waridhwanun mina-Llahi akbar (dan keridhaan Allah lebih besar dari segala-galanya). Puasa itu juga bisa mendatangkan pembersihan diri dalam pencarian takwa, yakni pembersihan seluruh anggota badan dari maksiat; puasa juga harus mampu mendatangkan keihsanan dan semakin menambah khusyuk ibadah (mandheng Dzatullah/mengingatiNya kapan saja, dimana saja, dan dalam kondisi apa saja). Puasa yang diterima adalah puasa yang didalamnya tidak menyakiti saudaranya dengan kata-kata yang tercela dan menyakitkan hati.
| Berdiskusi untuk memajukan pemahaman dan pola pikir |
Perspektif bahwa bulan puasa ini adalah penuh berkah harus benar-benar dibuktikan. Hadits yang mengungkapkan bahwa “tidur adalah ibadah di bulan Ramadhan” telah salah dimaknai oleh khalayak. Jika seandainya tidur saja ibadah apalagi bekerja, gawe pitukon dan lakon, geguyuban dengan saudaranya, memakmurkan bumi-Nya Allah, dan lain-lain. Dalam bulan suci Ramadhan ini harusnya kita bisa menambah kerekatan dengan saudara kita. Kita harus bisa menyamakan rasa, niat, tekad, dan tujuan. Mencapai kesatuan visi itu tidak bisa jika hanya diam, harus aplikatif.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183).
Mencapai ketaqwaan dengan ngempet. Menahan diri dan mengendalikan diri supaya dapat dikendalikan dan dijadikan modal untuk kembali kepada Allah SWT. “Ngempet sampek dadane arep pecah kudu isa ngempet”. Dalam beberapa waktu yang lalu dalam pertemuan, bapak pimpinan menyampaikan belajar menahan meskipun sampai dadanya sampai mau pecah harus tetap ditahan dan dikendalikan. Dan bagi siapapun yang dapat berbuat demikian maka dia telah menjauhkan dirinya dari bara api neraka dan didekatkan dengan surga Allah (tawakkal). Perspektif neraka dan surga yang telah dijelaskan beliau.
Menempa diri supaya dapat merasakan surga (ketika dua dzat bertemu dalam satu titik yang disebut baabal rohmah dalam diri sendiri di dadanya sendiri-sendiri), sehingga matinya tidak mengalami Naza’ atau rohnya keluar dari jasad. Mati yang selamat rohnya tidak cepot (keluar dari tubuh) melainkan masuk kedalam baabal rohmah. Demikianlah orang-orang yang bertaqwa dan tidak merugi di kemudian hari kelak.
Mari kita jadikan ibadah puasa kita untuk berlatih memaksa diri menahan dari segala hal yang dapat membatalkan puasa. Menahan diri dari ngrasani atau menggosip, mencela, malas-malasan, putus asa, dan lain-lain. Kita jadikan ibadah puasa ini ajang untuk mendekat kepada Allah. Kita jadikan bulan Ramadhan ini benar-benar penuh berkah untuk mencapai fitrah (Idul Firi=mencapai fitrah kembali).
“Sekedar mengutip dhawuh bapak Pimpinan Kyai Mohammad Dzoharul Arifin Al-Faqiri Munawwar Abdullah Afandi, Mari kita saling bebarengan, tilik-tinilikan, puji-pinuji, gotong-royong, saling membantu demi ndukung, nyengkuyung, bela cita-cita mulyaNe Guru. Mugi kita tansah pikanthuk berberan, berkah, sawab, pangestu Guru Wasithah, Amiin.”

0 komentar:
Posting Komentar