![]() |
| Melangkah dengan pasti, hujan hanyalah warna-warni kehidupan |
"Kematian yang pasti dan tak enggan lekang dari jasad. Bukan mauku apalagi mau orangtuaku........"
Apa dayaku memakan kepalaku sendiri.
Ibu-ibu di depan warung itu mengamatiku seperti para suster yang
mengamati kelamin bayi baru lahir, lalu berteriak dengan girang, “Ah! Anak ibu
laki-laki!”
Sayang, aku bukan bayi.
Aku sudah hidup sekian tahun lamanya, tapi tak ubah isi kepalaku
dari semula. Tak kuracuhkan perubahan dan kenyataan yang terpampang di depan
mata.
Mati.
Kematian yang pasti dan tak enggan lekang dari jasad. Bukan mauku
apalagi mau orangtuaku. Mereka berharap cucu dariku.
Ini mau Tuhan. Ini kersa Allah. Sang Maha Adil, Sang Pembuat
keputusan dan alur kehidupan seseorang. Juga diriku.
Aku manusia biasa. Pernah merasakan cinta, sayang, kecewa, putus
asa, marah, dan sedih. Pertanyaanku, kapan ragaku beramah-tamah kepadaku.
Setidaknya jika dalam sehari ada 24 jam, berikan aku kebebasan dari belitan ‘nafsu’
yang mencengkeram akal sehatku.
Apa yang aku pikirkan sekarang sungguh tidak rasional. Aku
melupakan bagaimana seharusnya aku memperjuangkan kehidupanku yang baru ‘mulai’
ini. Peluh mataku, gatalnya telingaku, dan kelu hatiku seharusnya tak ubah
janjiku pada masa depanku. Kebahagiaan.
Sekali lagi, adakah dukun yang mampu memisahkan kepalaku dari
ragaku? Aih! Aku lupa, Allah justru murka kepada manusia yang meletakkan
kepalanya di almari lalu pergi ke sekolah. Hahahaha...! Mau berpikir dengan apa
si manusia itu tanpa kepalanya?
Kepala.... kepala.... oh kepalaku. Ingin ku simpan kau di tepian
surga. Tapi mengapa kau ini sungguh sulit bersimpuh tertekuk di depan suara
Jibril? Kau lebih memilih terbakar si jago merah, meletup-letup, menjilati
barang-barang berguna.
Namanya juga api. Tak tahu diri dan tidak tahu waktu. Temperatur
minus, angin badai, bahkan hujan es pun tak akan mampu menghentikannya. Kecuali
ada campur tangan orang ketiga, Tanganku sendiri. Tangan manusia. Dengan mengubah 'nafasku', itu dari Guruku, Bapak Kyai Tanjung.
Ah, satu lagi. Tanganku. Dua belas tahun lalu, aku membayangkan
impianku aku genggam dengan tanganku. Namun, existing tak menunjukkan demikian. “Kau bukan tangan jiwa ini, kamu seharusnya
terpasang di pemilik jiwa yang krasan dengan sepi, kotor, dan suara deru
kereta api. Tak pantas kau terpasang di pemilik raga ini.” Ujar kepalaku dengan
penuh empati. Sayangnya, telinga adanya di kepala, bukan tangan.
Janji, janji, dan janji. Jarak Bumi ke Matahari cukup untuk
menghitung berapa kali aku berjanji pada Allah tentang tekadku memperjuangkan
impianku. Terhitung ada satu milyar kali, itu pun yang terhitung, yang tidak
terhitung ada dua milyar kali. Hahaha....! Aku bercanda, kau jangan tertawa.
Aku serius. Kepalaku menggeleng.
Kepalaku menunduk kala wahyu-wahyu setiap malam Jumat mengalun
pelan ke hati. Tapi, kepalaku menolak menyimpannya dengan rapi di folder lalu
diletakkan dalam rak khusus bertuliskan, “Patuhi Gurumu, Bapak Kyai Tanjung”.
Genderang sanubari berdentum. Hati memanas. Tanganku reflek
mengambil gergaji mesin di samping tikar tempatku bengong sejak seminggu lalu. “Troooong!!!!!!!”
Gergaji sudah siap memenggal kepala. Apa yang diperbuat tanganku adalah atas
perintah sanubari, jangan menyalahkan gerak tanganku.
“Hei! Ini bukan kah putus asa?”
Darah memuncrat dari leher. Kepalaku tergeletak memandangi tubuhku.
Ku ambil kepalaku, lalu kumakan isinya.
Hujan deras pagi ini seperti lukisan rindu yang tertanam dalam
kalbu. Rindu, ruang pemisah antara pertemuan dan perpisahan. Jarak hati. Pernah
memiliki perasaan nyaman yang lalu pergi karena lekang oleh waktu. Tepatnya sebuah
momentum yang probabilitas terulang sangat lah kecil. Hampir musykil terjadi
lagi atau kumiliki lagi.
Rupanya hujan telah berlatih bermain musik di kahyangan bersama
dewa udara. Ia pandai sekali memainkan nada. Hujan selalu mampu masuk dimensi
empati manusia di dunia. Seperti pagi ini barusan. Aku rindu bercelanadalam
biru, berkaoskaki coklat, merapikan jenggot dan kumisku, menenteng laptop, menyemprot wangi-wangian beraroma 'jarang', membasahi rambutku, memakai sepatu mahal bermerek internasional, dan
bertemu dengan kawan-kawan kantor. Sayang, sekali lagi hujan tahu apa yang
harus aku lakukan.
Memakan kepalaku.
Selamat malam siang.






0 komentar:
Posting Komentar