image1 image2 image3

HELLO I'M MUHAMMAD ARIF|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|WRITING 'N LEARNING IS MY PASSION|I'M PROFESSIONAL WRITER

Makan Kepala



Melangkah dengan pasti, hujan hanyalah warna-warni kehidupan


"Kematian yang pasti dan tak enggan lekang dari jasad. Bukan mauku apalagi mau orangtuaku........"


Apa dayaku memakan kepalaku sendiri.

Ibu-ibu di depan warung itu mengamatiku seperti para suster yang mengamati kelamin bayi baru lahir, lalu berteriak dengan girang, “Ah! Anak ibu laki-laki!”

Sayang, aku bukan bayi.

Aku sudah hidup sekian tahun lamanya, tapi tak ubah isi kepalaku dari semula. Tak kuracuhkan perubahan dan kenyataan yang terpampang di depan mata.

Mati.

Kematian yang pasti dan tak enggan lekang dari jasad. Bukan mauku apalagi mau orangtuaku. Mereka berharap cucu dariku.

Ini mau Tuhan. Ini kersa Allah. Sang Maha Adil, Sang Pembuat keputusan dan alur kehidupan seseorang. Juga diriku.

Aku manusia biasa. Pernah merasakan cinta, sayang, kecewa, putus asa, marah, dan sedih. Pertanyaanku, kapan ragaku beramah-tamah kepadaku. Setidaknya jika dalam sehari ada 24 jam, berikan aku kebebasan dari belitan ‘nafsu’ yang mencengkeram akal sehatku.

Apa yang aku pikirkan sekarang sungguh tidak rasional. Aku melupakan bagaimana seharusnya aku memperjuangkan kehidupanku yang baru ‘mulai’ ini. Peluh mataku, gatalnya telingaku, dan kelu hatiku seharusnya tak ubah janjiku pada masa depanku. Kebahagiaan.

Sekali lagi, adakah dukun yang mampu memisahkan kepalaku dari ragaku? Aih! Aku lupa, Allah justru murka kepada manusia yang meletakkan kepalanya di almari lalu pergi ke sekolah. Hahahaha...! Mau berpikir dengan apa si manusia itu tanpa kepalanya?

Kepala.... kepala.... oh kepalaku. Ingin ku simpan kau di tepian surga. Tapi mengapa kau ini sungguh sulit bersimpuh tertekuk di depan suara Jibril? Kau lebih memilih terbakar si jago merah, meletup-letup, menjilati barang-barang berguna.

Namanya juga api. Tak tahu diri dan tidak tahu waktu. Temperatur minus, angin badai, bahkan hujan es pun tak akan mampu menghentikannya. Kecuali ada campur tangan orang ketiga, Tanganku sendiri. Tangan manusia. Dengan mengubah 'nafasku', itu dari Guruku, Bapak Kyai Tanjung.

Ah, satu lagi. Tanganku. Dua belas tahun lalu, aku membayangkan impianku aku genggam dengan tanganku. Namun, existing  tak menunjukkan demikian.  “Kau bukan tangan jiwa ini, kamu seharusnya terpasang di pemilik jiwa yang krasan dengan sepi, kotor, dan suara deru kereta api. Tak pantas kau terpasang di pemilik raga ini.” Ujar kepalaku dengan penuh empati. Sayangnya, telinga adanya di kepala, bukan tangan.

Janji, janji, dan janji. Jarak Bumi ke Matahari cukup untuk menghitung berapa kali aku berjanji pada Allah tentang tekadku memperjuangkan impianku. Terhitung ada satu milyar kali, itu pun yang terhitung, yang tidak terhitung ada dua milyar kali. Hahaha....! Aku bercanda, kau jangan tertawa. Aku serius. Kepalaku menggeleng.

Kepalaku menunduk kala wahyu-wahyu setiap malam Jumat mengalun pelan ke hati. Tapi, kepalaku menolak menyimpannya dengan rapi di folder lalu diletakkan dalam rak khusus bertuliskan, “Patuhi Gurumu, Bapak Kyai Tanjung”.

Genderang sanubari berdentum. Hati memanas. Tanganku reflek mengambil gergaji mesin di samping tikar tempatku bengong sejak seminggu lalu. “Troooong!!!!!!!” Gergaji sudah siap memenggal kepala. Apa yang diperbuat tanganku adalah atas perintah sanubari, jangan menyalahkan gerak tanganku.

“Hei! Ini bukan kah putus asa?”

Darah memuncrat dari leher. Kepalaku tergeletak memandangi tubuhku. Ku ambil kepalaku, lalu kumakan isinya.

Hujan deras pagi ini seperti lukisan rindu yang tertanam dalam kalbu. Rindu, ruang pemisah antara pertemuan dan perpisahan. Jarak hati. Pernah memiliki perasaan nyaman yang lalu pergi karena lekang oleh waktu. Tepatnya sebuah momentum yang probabilitas terulang sangat lah kecil. Hampir musykil terjadi lagi atau kumiliki lagi.

Rupanya hujan telah berlatih bermain musik di kahyangan bersama dewa udara. Ia pandai sekali memainkan nada. Hujan selalu mampu masuk dimensi empati manusia di dunia. Seperti pagi ini barusan. Aku rindu bercelanadalam biru, berkaoskaki coklat, merapikan jenggot dan kumisku, menenteng laptop, menyemprot wangi-wangian beraroma 'jarang', membasahi rambutku, memakai sepatu mahal bermerek internasional, dan bertemu dengan kawan-kawan kantor. Sayang, sekali lagi hujan tahu apa yang harus aku lakukan.

Memakan kepalaku.


Selamat malam siang.

Genting mengintipku dari kejauhan, berbisik supaya aku tak putus asa

Langit tertawa terbahak, melihat anak adam merasa lebih melas dari Adam As yang hidup sendiri kala itu

Terjerembab dalam basahnya hujan, membuat rumit mata untuk memandang peluang
Para dewi menumpahkan anggur supaya manusia di bumi ikut merasakan kebahagiaan pesta mereka

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar