BAB 1
“Saat Pak Kyai
Tanjung menjabarkan arti kalimat ‘tan hana dharma mangrwa tungga dhewa’ adalah
titik balik kesadaran orang-orang yang hendak menjadikan bangsa maju secara
masif”
1.1. NYIGAR JERU DADA, GARUDA
Sebuah kata
yang yang seling terucap dan tersebut di kalangan manapun, bahkan saat saya
masih duduk di kelas paling dasar pun doktrin ideologi bangsa sudah ditanamkan.
Tapi, benarkah arti sempit retoris tentang garuda yang ditanamkan dalam pikiran
saya mulai saat itu hingga sekarang sesuai dengan pembuat konsep ideologi?
Suatu pagi yang
cerah, pada tanggal 15 Nopember 2015, Pak Kyai Tanjung mengisi acara Sarasehan
Pemurnian Paradigma Berideologi Garuda Pancasila Sebagai Wujud Gerakan
An-Nubuwah Demi Baldatun Toyyibatun Wa Rabbun Ghofur. Banyak yang disampaikan
oleh Pak Kyai Tanjung saat itu, termasuk bagaimana bangsa nusantara seharusnya
berideologi dan implementasinya.
“Garuda, Nyigar
Jeru Dada.” Sebuah kalimat yang terus ditekan oleh Pak Kyai Tanjung. Dalam
bahasa Indonesianya, artinya “membelah isi dada.” Pak Kyai Tanjung melanjutkan,
“Keberanian berjihaddunnafsi, memerangi nafsunya sendiri-sendiri
sehingga tunduk dan patuh dijadikan kendaraan hati nurani, ruh, dan rasa, dapat
pulang kepada asal-usulnya, kejadian diri manusia.”
Tentu ini hal
baru untuk saya. Dalam rekam jejak knowledge yang saya dapatkan dari
pelbagai sumber; buku, dosen, guru, materi sekolah/kuliah, tidak ada penjelasan
yang sedemikian rupa berbeda dari umumnya, anti-mainstream.
Nyigar jeru
dada
memancarkan sebuah konsekuensi logis atas arti dan pemaknaannya, implikasinya
pada sikap, watak, dan perilaku. Pantas saja, jika GARUDA menjadi lambang
ideologi negara kita, Pancasila.
Garuda atas
penjelasan nyigar jeru dada bukan lah benda atau berarti makhluk hidup
yang bisa terbang ̶ seperti bayangan kita, burung yang bisa
terbang seperti Elang atau yang lainnya. Garuda adalah manusia, karena proses
kehidupan manusia tersebut pandai mengadili diri sendiri, berlaku apapun, di manapun,
dan kapanpun, hanya untuk kemaslahatan,
memelihara, menjaga dan memakmurkan bumi Allah. Akhirnya, jagad raya menjadi
damai dan tenteram ̶ suatu hal yang menjadi idaman setiap manusia
di bumi.
Penjelasan ini
terus ditanamkan oleh Pak Kyai Tanjung kepada seluruh warga Jatayu.
Dalam beberapa pertemuannya, refleksi aktualnya nyigar jeru dada adalah
sebuah watak atau kepribadian ke-nusantaraan; berperang melawan nafsu-nafsu ego
keakuan, menyingkirkan kepentingan diri, keluarga, golongan, partai, bahkan
perbedaan keyakinan pun tidak menjadi penghalang dalam membangun kedamaian,
kesejahteraan, keguyubrukunan, kekeluargaan antar pemeluk agama di bumi ini.
Pemahaman
Garuda yang tidak masif, artinya berhenti pada “doktrin” tidak akan berefek
pada bangsa, bahkan saya sendiri skeptis terhadap kemajuan bangsa ini jika
wawasan kebangsaan khususnya tentang Garuda hanya diartikan sebagai “burung”
layaknya Beo dan Kakaktua.
Menurut Andreas
Harefa dalam bukunya, Mindset Therapy,“perubahan mindset memang
sekelumit hal yang menentukan jalannya kehidupan.” Begitu pula dengan mindset
berideologi. Implikasinya sangat kompleks dan fatal. Apa yang ditetapkan dalam
hati dan pikiran akan menentukan metode dan sikap yang diberikan, sehingga
mindset berideologi tidak boleh meleset dari makna aslinya.
Sudah benarkah
pengertian Garuda selama ini? Atau hanya sebuah penafsiran yang entah
kebenarannya karena sumbernya pun tidak diketahui, atau ada, tapi sudah
meninggal. Bagaimana makna Garuda yang sesuai dengan konteks berbangsa dan
bernegara sehingga bangsa ini tidak terkoyak-koyak dalam menjalani kehidupan
berbangsa?
Banyak
peristiwa yang terjadi di Indonesia dewasa ini. Di akhir tahun 2016 saja,
terjadi banyak pertikaian, perdebatan, saling merasa atau mengklaim benarnya
sendiri, demonstrasi atas perbedaan, politisasi yang over, saling fitnah, dan
banyak hal yang terjadi dan berkembang di media nusantara ini. Peristiwa-peristiwa
itu adalah mozaik buram sikap dan perilaku atas pemaknaan ideologi yang
terdistrorsi.
Jauh ke dalam,
Pak Kyai Tanjung sering menyampaikan saat kajian al-ilmu tauhid, An-Nubuwah
setiap malam Jumat dan malam minggu pahing, bahwa nyigar jeru dada menunjukkan
bahwa setiap manusia memiliki hal terdalam di dirinya. Maka, “perlu” membelah
sedalam-dalamnya hingga menyentuh intinya. Bapak Kyai Tanjung menjelaskan,
“dada dibelah hingga menyentuh rasa bahagia yang abadi melihat Diri Dzat Allah
karena mengetahui pintunya mati.” Nyigar jeru dada berimplikasi pada
ketuhanan.
SEJARAH GARUDA
Garuda dalam khasanah sejarah
Nusantara muncul dalam berbagai mitologi yang diajarkan kala Nusantara kuno.
Garuda merupakan burung gagah perkasa yang diyakini sebagai tunggangan Dewa
Wisnu. Pada masa pemerintahan Raja Airlangga di Kahuripan, untuk mengokohkan
kedudukan politiknya, Airlangga dianggap sebagai titisan Dewa Wisnu. Kemudian
digambarkanlah Airlangga sebagai titisan Wisnu yang sedang mengendarai Garuda.
Garuda Wisnu Kencana, simbolisasi itulah yang dipergunakan sebagai simbol
Kerajaan Kahuripan. Lalu bagaimana asal-usul Garuda dalam kisah mitologi Nusantara
kuno?
Alkisah di negeri dongeng,
tersebutlah seorang guru nan bijaksana bernama Resi Kasyapa. Resi ini memiliki dua orang istri yang
bernama Kadru dan Winata. Masing-masing dikaruniai anak-anak berupa Naga dan
Garuda. Meskipun sang resi sangat bijaksana dan bersikap adil terhadap kedua
istrinya, namun Kadru senantiasa merasa cemburu terhadap Winata. Maka dalam
setiap kesempatan ia senantiasa ingin menyingkirkan Winata dari perhatian dan
lingkaran keluarga. Segala tabiat dan niat jahat seringkali dijalankan untuk
menjauhkan Winata dari suami mereka.
Pada suatu ketika, para dewa
mengaduk samudra purba dengan air suci amertha sari, air suci yang membawa
keabadian bagi siapapun makhluk yang meminumnya. Bersamaan dengan peristiwa itu
muncullah kuda yang bernama Ucaihsrawa. Didorong oleh rasa kecemburuan yang
telah menahun, Kadru menantang Winata untuk bertaruh mengenai warna kuda
Ucaihsrawa. Barang siapa yang kalah dalam pertaruhan tersebut, maka ia harus
menjadi budak seumur hidup yang harus taat dan patuh terhadap apapun kehendak
dan perintah sang pemenang. Dalam taruhan, Kadru bertaruh Ucaihsrawa berwarna
hitam. Sedangkan Winata memilih warna putih.
Para Naga tahu bahwa kuda
Ucaihsrawa sebenarnyalah berwarna putih. Mereka kemudian melaporkan hal tersebut
kepada Kadru, ibunda mereka. atas pelaporan para Naga, putranya, Kadru secara
licik memerintahkan para Naga untuk menyemburkan bisa mereka ke tubuh kuda
putih agar nampak seperti kuda hitam. Pada saat Ucaihsrawa tiba di hadapan
Kadru dan Winata, nampaklah kuda yang dipertaruhkan berwarna hitam, bukan putih
sebagaimana aslinya. Singkat cerita, Winata harus menjadi budak dan melayani
segala perintah Kadru seumur hidupnya yang tersisa.
Sebagai anak yang sangat
berbakti kepada ibundanya, Garuda merasa sangat marah atas kelicikan para Naga
yang telah membuat kebohongan besar atas diri Winata. Dengan kemarahan meluap,
diseranglah para Naga. Terjadilah pertempuran yang sangat dahsyat di atas
langit, antara Garuda dan para Naga. Dikarenakan kekuatan dan kesaktian
diantara kedua kubu sama dan seimbang, maka perang itupun berlangsung sepanjang
saat sebagai simbol keabadian pertempuran antara nilai kebaikan dan kebatilan.
Karena pertempuran berlangsung
sekian lama panjangnya, para Naga bersedia memberikan pengampunan atas
perbudakan terhadap Winata asalkan Garuda mampu memberikan tirta suci amertha
sari yang dapat memberikan keabadian hidup mereka dan ibunya. Akhirnya sang
Garuda menyanggupi apapun yang harus ia lakukan asalkan ia dapat membebaskan
ibundanya.
Dalam pengembaraan pencarian
tirta suci amertha sari, Garuda berjumpa dengan Dewa Wisnu. Ketika dimintakan air suci tersebut,
Wisnu mempersyaratkan akan memberikan air tersebut, asalkan sang Garuda menyanggupi diri untuk menjadi
tunggangan bagi Dewa Wisnu. Garuda selanjutnya mendapatkan tirta suci amertha
sari yang ditempatkannya dalam wadah kamandalu bertali rumput ilalang.
Dengan air suci amertha sari,
para Naga berniat mandi untuk segera mendapatkan keabadian hidup. Bersamaan
dengan itu, Dewa Indra yang kebetulan melintas mengambil alih air suci. Dari
wadah Kamandalu, tersisalah percikan air pada sisa tali ilalang. Tanpa berpikir
panjang, percikan air pada ilalang tersebut dijilati oleh para Naga. Tali
ilalang sangatlah tajam bagaikan sebuah mata pisau. Tatkala menjilati ilalang
tersebut, terbelahlah lidah para Naga menjadi dua bagian. Inilah asal-usul
kenapa seluruh keluarga besar Naga dan semua keturunannya memiliki lidah
bercabang.
Kegigihan Garuda dalam
membebaskan ibunda tercintanya dari belenggu perbudakan yang tidak mengenal
rasa peri kemanusiaan inilah yang kemudian oleh para founding fathers kita
diadopsi secara filosofis dan disimbolisasikan dalam lambang negara kita.
Garuda bermakna sebagai simbol pembebasan ibu pertiwi dari belenggu perbudakan
dan penjajahan. Dengan lambang Garuda yang gagah perkasa, para pendahulu
berharap Indonesia akan menjadi bangsa besar yang bebas dalam menentukan nasib
dan masa depannya sendiri.
Unsur kesejarahan Garuda Wisnu
Kencana ini mengilhami akan dibangunnya patung raksasa Garuda Wisnu Kencana di
ujung selatan Pulau Dewata. Dengan rencana ketinggian patung sekitar 120 meter,
patung tersebut kelak akan menjadi patung landmark tertinggi di dunia. Garuda
Wisnu Kencana merupakan ikon dan landmark Pulau Bali, bahkan sudah tentu
landmark bagi Indonesia. Megaproyek yang sudah dimulai di akhir masa Orde Baru
ini hingga kini masih tersendat pembangunannya. Dari keseluruhan tubuh Garuda
Wisnu Kencana baru beberapa bagian yang selesai terakit, diantaranya kepala
Wisnu, kepala Garuda dan bagian tangan Wisnu.
Entah sampai kapan perwujudan
landmark Garuda Wisnu Kencana itu dapat terwujud menjadi satu kesatuan yang
utuh sehingga menampilkan kegagahan lambang negara kita yang bisa mengilhami
anak bangsa untuk lebih mencintai tanah ibu pertiwinya? Biarlah waktu yang
angkat bicara. (https://sangnanang.com/2013/09/13/asal-usul-sang-garuda)
Sebuah cerita
asal-usul Garuda di atas memiliki filosofi yang mendalam. “Garuda adalah
seseorang yang memiliki tekad yang kuat mewujudkan niatan dan tujuan
keselamatan dan terwujudnya merdeka sejati, merdeka lahir dan batin sehingga
dalam kedamaian, ketenteraman, dan kemerdekaan sesungguhnya.” Ungkapan ini
beberapa kali diucapkan oleh Pak Kyai Tanjung saat pertemuan-pertemuan rutin Jatayu.
Implikasi
sejarah atau cerita di atas terhadap keyakinan entitas Garuda sebagai lambang
negara Indonesia sangat lah erat dengan pernyataan Pak Kyai Tanjung. Dalam
cerita di atas, Garuda merupakan sosok pejuang tangguh yang memerdekakan
kebenaran dari kungkungan kebatilan. Tipu muslihat yang dipraktikkan oleh kaum
ular ̶
simbol fitnah, keprasangkaan, kebatilan, nafsu-nafsu ego dan keakuan
diri ̶
dibasmi dan dimusnahkan oleh sosok Garuda.
Pemaparan
Garuda secara detil juga telah dituliskan oleh Pak Kyai Tanjung dalam buku
Membangun Kesadaran Penghambaan yang terbit pada tanggal 15 Nopember 2015
silam. “Keberanian berjihaddunnafsi, memerangi nafsunya sendiri sehingga tunduk
dan patuh dijadikan kendaraan hati nurani, ruh, dan rasa pulang kepada
asal-usul kejadian diri. Keberanian membelah dada, berjihaddunnafsi, memerangi
nafsunya sendiri sebagai perang terbesar dalam hidup. Jihad memerangi diri,
memohon ampunan dan rahmat Allah. Demikian lah Nyigar jeru dada.
Garuda.”
Saya menangkap
apa yang disampaikan Pak Kyai Tanjung merupakan impementasi dari Garuda. Dalam
hikayat cerita di atas pun, Garuda adalah perlambang sosok, bukan sekedar
“burung” yang dapat terbang seperti jenis-jenis yang lainnya. Sayang, hakikat
pemaknaan Garuda selama ini belum terjabarkan sedemikian rupa, sehingga Garuda
masih lah sebatas mitos. Ihwal ini pula serentetan kejadian “memilukan”
baru-baru ini bersumber. Bangsa yang tidak mengerti hakikat makna ideologinya
akan tersesat dan terkoyak saat menjalankan kehidupan berbangsanya. “Bangsa
Indonesia wajib menghayati makna inti Garuda,” begitulah penekanan dari Pak
Kyai Tanjung.
Cerita di atas
masih lah secuplik cerita dari yang utuh. “Garuda berperang melawan kebatilan
sepanjang hayatnya, karena dalam diri manusia terdapat qolbaini,
berongga dada dua, nurani dan sanubari. Apabila nuraninya hidup maka
sanubarinya mati, dan apabila sanubarinya yang hidup, nuraninya akan mati.
Padahal, sanubari adalah sumber bala tentara nafsu yang bersifat jinniyah
dan iblisiyah.” Kata Pak Kyai Tanjung. Manusia-manusia yang hidup di
atas bumi memiliki dua kemungkinan menjadi apa di dunia. Garuda atau Naga ̶
simbol kebatilan.
Dengan
demikian, perlu adanya kontemplasi berkenaan dengan lambang negara Indonesia
yang telah hidup di benak bangsa selama hampir satu abad.
Sedang, tirta
suci amertha sari, merupakan perlambang Ilmu An-Nubuwah, ilmu yang
menyucikan manusia dan memberikan “kebadian” bagi yang mendapatkannya. tirta
suci amertha sari selalu diperebutkan hingga terjadi pertumpahan darah. Dan
yang “berhak” melestarikannya selalu menjadi bulan-bulanan yang “batal”.
“Makannya, Naga perlambang sosok yang licik yang diselimuti iri dan dengki yang
luar biasa hingga berniat menyingkirkan dan membunuh sosok yang ‘berhak’
melestarikan tirta suci amertha sari.” Ujar Pak Kyai Tanjung.
Jatayu, Kader Garuda Nusantara
Jamaah Tatanan
Wahyu (Jatayu) adalah ormas di bawah naungan Yayasan Lil-Muqorrobien yang
terbentuk secara formal pada tahun 2015 setelah adanya perubahan nama yang
mulanya adalah Gerjalibien (Gerakan Jamaah Lil-Muqorrobien).
Dilatabelakangi
keinginan yang kuat dari Pak Kyai Tanjung untuk membangun masyarakat yang
memiliki kesadaran spiritual; beradab, berakhlak mulia, sosial yang tinggi, dan
memberdayakan potensi diri. “Sekarang saatnya kita bergerak lebih cepat untuk
memberdayakan masyarakat, berpartisipasi mencerdaskan kehidupan bangsa,
mendorong terjaganya kedaulatan NKRI.” Dengan semangat beliau menyampaikannya.
Zaman milenium,
berseraknya gadget membuat masalah bangsa dari yang mulanya hanya
sekelumit, menjadi semakin rumit dan sulit. Polemik yang hari ke hari menjadi
semakin parah. Mulai dari permasalahan rumah tangga hingga korupsi terus
bergulir, artinya tidak ada hentinya. Justru terus bertambah dari hari ke hari.
Puncaknya, intoleransi memuncak, semuanya terpolitisasi. Ideologi bangsa sudah
basi.
Dari keadaan
bangsa yang mengalami “serba dekadensi”, Pak Kyai Tanjung justru memiliki
cita-cita terwujudnya tegaknya kebenaran, keadilan, kedamaian, ketentraman,
kesejahteraan, dan kemerdekaan yang sejati murni. Kebenaran al-haq min
Robbika, addiin, tertegakkan dengan wujud kesadaran penghambaan; tidak
berpecah belah, kuat dalam memaklumi, saling menghargai, menghormati,
toleransi, gotong royong, saling membantu, dan saling menyamankan saudaranya;
nyaman dan aman dalam menjalankan kehidupan beragama sesuai dengan keyakinan,
jauh dari keprasangkaan, menghargai dan menghormati perbedaan, dan kehidupannya
berorientasi pada keselamatan; perilaku islam. Terwujudnya baldatun
thoyyibatun wa rabun ghafur. Kehidupan bermasyarakat yang tata titi
tentrem karta raharjo, gemah ripah loh jinawi, penuh ampunan Allah.
Apapun di Jatayu
tidak akan lepas dari orientasi “keselamatan”. Pak Kyai Tanjung telah
menanamkan orientasi dalam berdunia harus lah tetap sasaran. Yang dikejar
adalah keselamatan setelah mati. Sehingga operasional yang dilakukan Jatayu sejak
dulu tidak akan melepas koridor keselamatan.
Keselamatan
yang dimaksud adalah ketentraman hati karena saat berkehidupan berbangsa dan
bernegara, berumahtangganya, semuanya dilakukan dengan orientasi keselamatan.
Sesuai dengan visi dan misi Jatayu; “Keselamatan lahir dan batin,
keselamatan dunia akhirat.”
Nyigar jeru
dada sangat
dekat dengan Jatayu. Sekaligus sebagai ideologi bangsa dan negara,
Garuda bukan lagi hanya sebatas semboyan, apalagi tempelan dinding. Garuda
telah diwujudkan dalam bentuk “sosok-sosok” pejuang yang siap berkorban demi
apapun asalkan kebenaran tertegakkan dan kebatilan tenggelam. “Apa yang harus
kamu percayai adalah kehidupan selalu ada akhirnya. Garuda, nyigar jeru dada,
membuka hakikat jati diri manusia dengan kesadaran jiwa al-faqir, antumul
fuqara ila Allah, hamba yang merasa kuat butuh Allah.”
Jatayu berusaha
menanamkan anti-sekuleris dalam bertindak. Kami memahami agama dan duniawi
bukan lah hal yang berbeda. Sesuai dengan petunjuk Pak Kyai Tanjung selama ini,
“berdunia untuk akhirat, bagi kita jelas, bahwa dunia ini adalah ladang
akhirat.” Kata Pak Kyai Tanjung. Yang dimaksud islami bagi kami bukan sempit,
hanya melakukan ibadah “ritual” saja, tapi bekerja ̶ menulis, mengobati orang sakit, bertani,
berkebun, mengajar, menjahit, dan lain-lain ̶
dengan niat ibadah serta menjalankannya dengan kebersandaran total ̶
menjalankan sesuatu karena atas dasar “perintah” ̶ sehingga duniawi ini benar-benar untuk
akhirat.
Indonesia
adalah salah satu negara islam terbesar di dunia. Sayang, dengan segala konsep
beragama, bangsa masih gagap dalam mewujudnyatakannya. Penduduk Indonesia tahun
2016, 256,511,495 juta jiwa, jumlah tenaga kerjanya adalah 127,8 juta jiwa,
sedangkan yang menganggur adalah sekitar 7 juta jiwa, artinya dari jumlah
tenaga kerja yang ada, hanya 120,8 juta yang produktif. Selain angka pengangguran
yang tinggi, angka wirausaha negeri ini adalah (hanya) 1,65 persen dari total
penduduk ̶ persentase tersebut jauh tertinggal dibandingkan Singapura,
Malaysia, atau Thailand, yang masing-masing memiliki persentase pengusaha
sebanyak 7 persen, 5 persen dan 3 persen. Informasi ini merupakan konsekuensi
logis saja dari pemahaman ideologi yang terdistorsi.
Nyigar jeru
dada,
Garuda, perlambang kesaktian dan kebersihan sosok pejuang yang menegakkan addiin.
Dua paradoks yang seolah-olah tak terpisahkan telah dihubungkan dan dijembatani
oleh Pak Kyai Tanjung. Bekerja dengan sungguh-sungguh dan profesional,
seolah-olah mengejar dunia, tapi hatinya tidak bertempat tinggal pada materi
dan kebendaan semata. Sekali lagi, paradigma Garuda ditanamkan kepada seluruh Jatayu
yang tersebar di seluruh gugus pulau nusantara ini.
![]() |
| Majalah Nusantara edisi 03 |
Semua opini dan pendapat Pak Kyai Tanjung dapat didapatkan di link berikut; youtube, facebook, web. Serta dapatkan majalah Nusantara dengan menghubungi ke 081357468368.


Luar biasa, semoga semua warga Indonesia dapat membaca tulisan ini.
BalasHapus