A) KONTEMPLASI KEMURNIAN SILA PERTAMA
"Sebuah paradigma mengenai butir-butir Pancasila yang diajarkan Bapak Kyai Tanjung kepada Jatayu supaya dapat tersebar dan dapat diaplikasikan oleh penduduk bumi Nusantara."
| Bapak Kyai Tanjung sedang bersalam-salaman setelah shalat Idul Fitri 1434H/2015 M/03MHD |
Sebagai dasar
negara yang harus dipedomi oleh seluruh bangsa, Pancasila ditetapkan sebagai
arah dan rel kehidupan bangsa Indonesia sejak tahun 1945. Lalu untuk
mengajarkan nilai-nilai Pancasila ke dalam diri bangsa, masa orde baru
melakukan usaha dengan adanya P4 dan penataran-penataran isi, kandungan, dan
nilai Pancasila.
Dalam
sejarahnya, orde baru seolah-olah memaksa mengultuskan Pancasila dan landasan
konstitusional, UUD 1945. Ihwal tersebut dilakukan mengingat banyak peristiwa
yang telah membuat dasar negara Pancasila dan UUD 1945 keruh serta tercemar.
Tidak heran, apabila saat itu wawasan Pancasila benar-benar ditekankan bahkan
“wajib” dimiliki oleh semua manusia di bumi nusantara.
Terdapat
perbedaan di era reformasi, adanya sebuah toleransi yang sangat lebar range-nya
dibandingkan dengan saat masa orde baru. Masa reformasi ̶
apalagi sekarang ̶ memberi kesempatan plularisme berpikir
dalam memaknai ideologi negara, Pancasila. Implementasi nilai Pancasila
terterapkan sesuai dengan kapasitas individu yang dimiliki oleh bangsa, tidak
lagi harus mengacu dengan apa yang ditetapkan oleh pemerintah. Imbasnya, ada
baiknya dan ada buruknya.
Buruknya,
Pancasila dimaknai secara bebas. Padahal Pancasila adalah nilai-nilai luhur
yang seharusnya menjadi pondasi kehidupan berbangsa. Dampaknya terhadap
masyarakat luas. Pikiran yang terlalu bebas tanpa ada batasan, memicu pikiran
yang bias dan terdistorsi. Kemajuan teknologi yang pesat berakibat pada
kecepatan informasi yang meningkat. Tidak ada yang mampu membatasi ide atau
gagasan siapapun ̶ sulit sekali, alih-alih menggunakan alasan
HAM ̶
meskipun lintas negara sekalipun. Probabilitas atau kemungkinan lolosnya
pikiran atau gagasan dari luar sangat besar.
Baiknya,
kebebasan yang saat ini dapat dimanfaatkan untuk menegakkan nilai-nilai
permusyawaratan. Pak Kyai Tanjung sering mengungkap hal-hal yang mungkin
sedikit berbeda dari umumnya. Meski berbeda, justru penjabaran yang diusung
oleh Pak Kyai Tanjung lebih lengkap dan dalam. “Kita kan sharing, bukan
justrifikasi atau mengadili apalagi membuat kesimpulan. Itu hak Tuhan. Cara
kita memaknai Pancasila ya begini, utuh. Kalau ada yang berbeda, ya silakan.
Kami memandang Pancasila sebagai dasar kami dalam berbangsa. Sesuai dengan
makna dan nilai yang kami yakini dari petunjuk Guru kami ̶ alm.
Bapak KH. Mohammad Munawwar Afandi.”
Anda lahir
tahun berapa? Saya tahun 1996. Artinya, saya sudah tidak lagi mengalami “dipaksa”
menghapal nama-nama menteri, sila-sila, pasal-pasal dalam UUD, dan lainnya.
Tapi, saya mengetahui bahwa Pancasila adalah lima dasar negara Indonesia,
negara kita. Begitu yang saya terima dari guru saya sejak saya duduk di sekolah
dasar.
Sudah 21 tahun
ini saya hidup, dan sudah lebih dari 16 tahun saya mendengar Pancasila. Sudah
ratusan kali saya menyanyikan lagu Garuda Pancasila. Pun saya meyakininya
sebagai entitas pendiri negara ini yang memiliki niat dan tujuan luhur. Tapi,
ada hal yang selalu “mengusik” hati saya. Yaitu, pemaknaan sila-sila Pancasila.
Pak Kyai Tanjung lah yang mengetuk hati saya. Beliau menjabarkan sila-sila
Pancasila dengan pendekatan rasional-logis-spriritual-realitas.
“Pada umumnya, pemaknaan
kata esa selama ini dimaknai jumlah, yaitu “satu”. Publik menganggap esa adalah
satu, kuantitas di atas nol dan di bawah dua, ini lah yang membuat publik
bingung.” Ungkap Pak Kyai Tanjung.
“Sudah otomatis
publik akan berebut “klaim” atau saling berebut pengakuan ‘kebenaran’. Individu
tertentu atau golongan tertentu akan sama-sama merasa paling benar. ‘golonganku
lah yang benar, Tuhanku yang benar, kalian salah!’ Begitulah yang akan terjadi
jika kata ‘esa’ diartikan sebagai kuantitas. Hal begitu normal sekali dan
sangat predictable.”
Perihal
kepercayaan syarat pertentangan. Terlebih, agama merupakan hal sensitif yang
jika sedikit saja tersenggol dapat pecah ̶ dan harus bayar akibatnya. Tapi ada
pula yang mengartikan sila pertama Pancasila dengan sangat enteng. “Yang
penting saya beragama, KTP saya Islam.”
“Kita harusnya
kan cermat memaknai sila dalam Pancasila secara masif. ‘ke-tuhan-an’. Dari
bahasa, imbuhan ‘ke-‘ dan ‘-an’ menyatakan sifat-sifat. Penggunaan awalan ke-
dan akhiran –an pada suatu kata dapat merubah makna dari kata itu dan membentuk
makna baru. Penambahan awalan ke- dan akhiran –an dapat memberi makna perubahan
menjadi antara lain: mengalami hal….sifat-sifat…”
Kata ketuhanan
yang berasal dari kata tuhan yang diberi imbuhan ke- dan –an bermakna
sifat-sifat tuhan. Dengan kata lain ketuhanan berarti sifat-sifat tuhan atau
sifat-sifat yang berhubungan dengan tuhan.
Dalam
implementasinya, Jatayu berbuat apapun, menjadi apapun, tidak
diperkenankan untuk menghilangkan entitas “Tuhan” dalam diri. “Manusia bisa
apa? Lhawong yang menggerakkan adalah Tuhan sendiri, kok mau sombong.
Sehebat apapun manusia itu kan karena yang menggerakkan adalah Allah sendiri,
jadi kalau manusia ‘lupa’ dengan ‘esa’-nya Allah sama saja dengan mengabaikan Allah.”
Begitulah petunjuk Pak Kyai Tanjung kepada seluruh Jatayu. “Dengan kita
menghadirkan Tuhan di setiap aktifitas, sama saja dengan menampakkan
sifat-sifat Allah.”
Setelah
mengetahui sumbunya, pertikaian antar agama, aliran, dan lain sebagainya karena
dasar pemahaman sila pertama Pancasila yang bias. Pucuk dari sumbu tersulut
api, berkobar rasa benci, dengki, iri, amarah, dan hasudnya. “Masing-masing
mengklaim berada di pihak yang benar karena memahami Tuhan hanya ‘satu’,
Tuhannya siapa? Itu yang menjadikan runyam selama ini. ‘Tuhanmu salah, yang
benar Tuhanku,’ selalu saja begitu kan?” Dengan tepat sasaran, paradigma klasik
sila pertama Pancasila terpecahkan oleh ungkapan Pak Kyai Tanjung di atas.
![]() |
| Foto: ANTARA NEWS |
Kata Maha
berasal dari bahasa Sansekerta atau Pali yang bisa berarti mulia atau besar (bukan
dalam pengertian bentuk). Kata Maha bukan berarti sangat. Kata “esa” juga
berasal dari bahasa Sansekerta atau Pali. Kata “esa” bukan berarti satu atau
tunggal dalam jumlah. Kata “esa” berasal dari kata “etad” yang lebih mengacu
pada pengertian keberadaan yang mutlak atau mengacu pada kata “ini” (this-
Inggris). Sedangkan kata “satu” dalam pengertian jumlah dalam bahasa
Sansekerta atau bahasa Pali adalah kata
“eka”. Jika yang dimaksud dalam sila pertama adalah jumlah Tuhan yang satu,
maka kata yang seharusnya digunakan adalah “eka” bukan kata “esa”. (https://jockerkosong.wordpress.com/2014/02/03/esa-dan-eka-ahad-dan-wahid-echad-dan-yakhid/)
Mengapa konsep
“ketuhanan Yang Mahaesa” menjadi sila yang pertama karena perihal “ketuhanan”
memang yang utama dan tidak dapat ditoleransi. Ihwal ini tidak sepele dan bukan
sekadar ‘percaya’ ada Tuhan di dunia ini. Tapi mengenali Tuhan. Sejak saya
mendengar “mengenal Tuhan” hati saya selalu bertanya-tanya. Bagaimana mengenal
Tuhan? Sementara saya tidak dapat melihatnya, apalagi menyaksikannya. Tapi, mau
atau tidak mau, saya harus mengenali-Nya, karena kalau tidak mengenal, saya
tidak dapat mengingat-Nya. “Padahal, kita itu diperintah oleh Allah untuk
berzikir. ‘berzikir’ artinya ‘mengingat’ bukan menyebut nama Allah. Mengingat
itu bukan nama, tapi Dzat yang Empunya asma Allah.” Opini saya pribadi pun,
mengenal Tuhan adalah mutlak sebelum kita merasa telah memahami “ketuhanan Yang
Mahaesa”, sila pertama dasar negara Indonesia, Pancasila.
Sebuah logika
sederhana dari Pak Kyai Tanjung yang tersampaikan kepada saya pada tahun 2010 silam.
“Mas tahu SBY?”
Saya jawab,
“tahu betul.”
“Mas kenal
beliau?”
“Saya kenal
beliau.”
“Mas pernah
bertemu dengan SBY?”
“Belum.” Saya
baru tersadar saat pertanyaan terakhir dilontarkan Pak Kyai Tanjung kepada saya.
Ku tegakkan sandaran dudukku.
“Nah, bagaimana
bisa Mas mengaku kenal dengan SBY sementara Anda pun belum pernah bertemu
dengan beliau?”
“Tapi saya
mengenalnya Pak Kyai Tanjung.” Saya masih mengelak kalah.
“Mas Arif, Anda
jangan ke-pede-an, pun bisa jadi Anda pernah bertemu dengan Pak SBY, bisa jadi
Pak SBY masih belum mengenal Anda.” Kalimat terakhir diucapkan Pak Kyai Tanjung
dengan sedikit tertawa.
Terbengong, aku
mulai memahami apa maksud Pak Kyai Tanjung dari percakapan di atas. Kemudian,
percakapan di atas ditutup oleh Pak Kyai Tanjung, “bagaimana mau meniru
sifat-sifat Pak SBY kalau Mas Arif saja belum mengenal beliau, bukan? Apalagi
Mas Arif saja belum pernah bertemu dengan beliau, ha ha ha! Oh iya, cara
mengenal beliau bagaimana? Melalui ajudannya kan? Mana mungkin langsung bisa
bertemu kalau tidak ada perantaranya. Kuncinya, kita mengenal perantaranya,
pasti akan dipertemukan dengan Pak SBY. Begitu lah analogi mengenal Tuhan.”
Jatayu menyebut
fenomena akhir-akhir ini yang beredar dan menjadi polemik seputar agama adalah
akibat miss understanding dari sila pertama dasar negara kita,
Pancasila. Masing-masing merasa paling benar, tidak sadar bahwa yang
mengendalikan pemikirannya adalah nafsu, keegoan, dan keakuan yang membara. Pak
Kyai Tanjung pun pernah berujar tentang itu, “siapa yang berani menjamin kita
masuk surga? Atau bagaimana bisa yakin bahwa diri kita di posisi benar? Emangnya
sampean Gusti Allah?”
Yang terpenting
adalah implementasinya. Tidak mungkin tata kelola negara ini dapat berjalan
dengan baik jika butir-butir Pancasila tidak terimplementasi. Namun, sebelum
menentukan bagaimana metode mengaplikasikan butir-butir tersebut, perlu sebuah design
brief yang otentik. Tafsir-tafsir, perkiraan-perkiraan yang dibawa hanya
karena kepentingan dan formalitas saja tidak akan berdampak apapun. Yang
dibutuhkan adalah nilai murni butir-butir Pancasila dengan kontemplasi yang
dalam dan berimplikasi di kehidupan nyata, kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hal-hal mengenai Pak Kyai Tanjung dapat Anda ketahui melalui channel youtube, profil FB, dan web-web yang dibangun oleh para murid-murid beliau.


Ini hanya tesss saja untuk komentar.
BalasHapus