[COMFEST 2016 UIN WALISONGO SEMARANG]
Perjalanan panjangku dua hari lalu telah usai kemarin. Berniat mengikuti acara workshop di UIN Walisongo Semarang, aku harus melalui perjalanan selama 8 jam perjalanan. Berangkat hari Selasa (29/11) pukul 02.00 WIB, sampai di Semarang tepatnya di kampus I UIN Walisongo Semarang pukul 11.00 WIB.
Workshop fotografi oleh Arbain Rambey, fotografer profesional Kompas, dimulai pukul 13.00 hingga 17.00 WIB. Terhitung singkat untuk acara workshop, tapi menurutku sudah lumayan bermanfaat untuk aku yang sedang belajar fotografi.
Sebelum to the point, aku ingin share pelajaran yang aku ambil dalam perjalananku ke Semarang dua hari lalu. Aku sampai di Semarang dijemput oleh kawanku, Ari Purnomo Aji (teman kampus STT Pomosda) dan Aditya Zulfikar (kawan SMA Pomosda angkatan 2011). Rasanya sungguh senang sekali bisa melihat mereka berdua lagi. Beda dengan Ari, aku lebih rindu dengan Adit, karena kami jarang bertemu selepas dari SMA Pomosda.
Kini, badanya tambah kurus. “Bayak pikiran mas...! haha..” Kata Adit setelah aku memberinya komentar semakin kurus. Kedua kawanku itu sungguh baik. Mereka rela repot dan mondar-mandir untuk aku dan kawanku dari majalah Nusantara, Khotami.
Kedua kawanku itu terbilang unik sejak SMA. Beberapa catatan buruk tentang mereka berdua tidak sedikit yang mengetahui. Tapi, kini di dunia sungguhan, menurut saya mereka bahkan lebih berhasil ketimbang aku sendiri ̶ pernah menerima penghargaan santri aktif di Pomosda. Ternyata, penilaian sekolah tidak merubah hidup yang dinamis menjadi statis. Kehidupan tetap saja bergulir, yang atas menjadi di bawah, dan seterusnya. Sekali lagi, menurutku mereka berdua telah menjalani hidup ini dengan baik hingga mengalami perubahan yang signifikan. Aku? Justru mengalami penurunan drastis.
Lanjut to the point. Acara dimulai pukul 13.00 WIB tepat, aku datang terlambat sekitar 10 menit. “Yang baru datang silakan menata duduknya dahulu, baru kita lanjutkan lagi.” Ujar Pak Arbain Rambey. Sontak, pandangan mata para hadirin tertuju padaku dan dua temanku, Khotami dan Ari. Tak masalah bagiku, sudah biasa!
Pak Arbain Rambey menjelaskan fotografi dari sisi human interest. Segala hal diceritakan oleh beliau. Mulai dari kiat-kiat menjadi street photographer hingga alat apa yang dibutuhkan oleh seorang fotografer profesional.
Pak Arbain Rambey menjelaskan fotografi dari sisi human interest. Segala hal diceritakan oleh beliau. Mulai dari kiat-kiat menjadi street photographer hingga alat apa yang dibutuhkan oleh seorang fotografer profesional.
Banyak poin yang baru aku ketahui selepas mengikuti workshop tersebut. Ternyata, fotografi itu bebas tapi terikat dengan kode etik. Selama ini, ketika aku ingin mengambil gambar orang di jalan begitu saja, takut jika aku tertuntut, dimarahi, atau terjerat hukum. Tapi kata beliau, seharusnya kita tidak merasa begitu, “free saja lah buat kita yang ingin memotret segala sesuatu, kecuali hal-hal yang menyinggung yang bersangkutan, menghina, atau sengaja ingin menyelakai. Sudah pasti hukum mengintai kita. Pada dasarnya tapi kita bebas kok. Gak usah izin kalau ingin memotret orang, di pasar misalnya, natural saja, langsung jepret!” Kata Pak Arbain Rambey.
Berikut adalah beberapa poin yang aku dapatkan dari Pak Arbain Rambey tentang street photography;
Berikut adalah beberapa poin yang aku dapatkan dari Pak Arbain Rambey tentang street photography;
- Street Photography menonjolkan sisi human interest atau ketertarikan terhadap emosi manusia. Human interest didapat karena manusia senang melihat emosi atau tingkah manusia lain.
- Foto human interest dapat dibuat-buat atau direkayasa untuk memperoleh emosi penikmat fotonya. Banyak contoh human interest photography luar negeri yang hasil rekayasa, atau bukan kejadian asli. Yang terpenting bisa memunculkan emosi penikmat foto.
- Street Photography juga harus memperhatikan kode etik fotografer.
Workshop hari itu, memberi kesempatan bagi seluruh peserta untuk hunting foto sesuai dengan materi yang disampaikan oleh Pak Arbain Rambey. Akan ada hadiah bagi dua foto terbaik.
Aku dan dua temanku langsung memburu momen. Sialnya, aku saat itu tidak membawa kamera. Canon 70d-ku masih diperbaiki di Datascript Surabaya. Lebih sial lagi, selulerku pun juga sedang diperbaiki saat itu di Iphone Care Center Surabaya. Karena tidak ada kamera, aku mengantre kamera milik temanku.
Lima belas menit kemudian, aku dapat ide. Ada seorang ahli kunci sedang sibuk membuat kunci. Ting! Seketika itu aku langsung mengajak temanku, Ari untuk melakukan sesuatu. Yups! Merekayasa momen. Aku meminta Ari untuk mengajak selfie ahli kunci yang ada di seberang jalan tersebut di atas. Jpret! Mantab nih! Tidak lama, aku setor foto yang aku ambil tadi ke panitia.
Aku dan dua temanku langsung memburu momen. Sialnya, aku saat itu tidak membawa kamera. Canon 70d-ku masih diperbaiki di Datascript Surabaya. Lebih sial lagi, selulerku pun juga sedang diperbaiki saat itu di Iphone Care Center Surabaya. Karena tidak ada kamera, aku mengantre kamera milik temanku.
Lima belas menit kemudian, aku dapat ide. Ada seorang ahli kunci sedang sibuk membuat kunci. Ting! Seketika itu aku langsung mengajak temanku, Ari untuk melakukan sesuatu. Yups! Merekayasa momen. Aku meminta Ari untuk mengajak selfie ahli kunci yang ada di seberang jalan tersebut di atas. Jpret! Mantab nih! Tidak lama, aku setor foto yang aku ambil tadi ke panitia.
Pukul 15.30 WIB, kami berkumpul kembali ke hall untuk mengikuti evaluasi dari Pak Arbain Rambey. Banyak hal yang aku dapatkan dari beliau dan pengalaman sore itu.
- Ternyata Pak Arbain Rambey benar-benar profesional dan keraguanku di awal salah.
- Ternyata, banyak sekali fotografer handal di luar sana ̶ di luar lingkunganku sendiri ̶ yang lebih handal dari aku.
- Mendapatkan gambar yang baik, berkualitas, dan mampu menarik emosi penikmat foto adalah tergolong sulit.
- Selain itu semua, aku juga mendapat beberapa teori tentang fotografi.
Pengumuman fotografer terbaik langsung diumumkan oleh Arbain Rambey sore itu juga. Dan hasilnya, aku hanya mendapat peringkat 4 dari 32 foto yang ada. Tidak masalah, karena ini bukan kompetisi, dan predikat bukan lah orientasiku. Tujuanku adalah mendapat pembelajaran.
Aku mengakui kalah kreatif dengan fotografer pertama hingga ketiga. Mereka lebih kreatif ketimbang aku. Malahan, menurutku, aku jauh dengan mereka. Mereka mengetahui momen apa yang seharusnya diambil. Aku masih merekayasa momen, meskipun Pak Arbain Rambey mengakui bahwa fotoku berhasil menarik emosi “lucu”, tapi masih kurang sempurna.
Foto terbaik, mulai dari peringkat pertama hingga ketiga, semua menampilkan hiruk-pikuk transportasi Semarang. Aku? Mengambil gambar unik dan lucu, “seorang pemuda yang mengajak selfie ahli kunci menggunakan kamera DSLR.”
Begitulah pengalamanku di Semarang dua hari lalu. Sungguh berkesan. Selepas acara tersebut, aku langsung memutuskan untuk pulang. Aku diantar oleh Adit dan Ari. Sungguh beruntungnya aku memiliki teman yang tulus baik dan sedia membantuku.
Disinilah poin paling berkesan. Sebelum aku pulang, Adit mengatakan, “mas, masak sih Cuma bentar begini? Udah jauh kesini masak tidak mau foto bareng atau ngobrol-ngobrol dulu?” Aku menangkap dia memberi pesan implisit ingin membicarakan sesuatu. Ternyata benar. Kami; aku, Ari, Khotami, dan Adit berhenti ke salah satu universitas di Semarang untuk berbincang-bincang sembari salat Maghrib.
Setelah shalat, kami berbincang cukup lama. Intinya Adit bertanya tentang kabar Pomosda dan apa yang dapat dilakukannya untuk pondok. Aku menjelaskan kepada dia, Pomosda membutuhkan tindakan, bukan konsep belaka. Ia mengangguk. “Kamu selesaikan kuliahnya dulu, nanti kalau sudah selesai, kalau kamu mau menguatkan hati untuk ikut berperang di Nganjuk, silakan...!” Adit diam dan mengangguk menandakan setuju.
Aku mengulangi kutipan dari Bapak Kyai Tanjung. “Kita diajak berjuang Dit, semuanya yang di sekitar beliau diajak memperjuangkan apa yang seharusnya diperjuangkan. Masak sih kita kemudian menolak dan justru mengabaikan?” “Bener mas!” Adit menjawab dengan tegas.
“Ibarat Nabi Nuh, sekarang kita dihimbau untuk membangun kapal besar, terserah kita menerima atau tidak, mau ikut atau tidak, mati sendiri-sendiri,. Tapi alangkah baiknya kita bersyukur, wujudnya ya kita berjuang bersama. Kamu punya potensi fotografi, sudah kamu gabung dengan kami. Kamu berkontribusi itu saja sudah lebih dari cukup kok Dit.” Adit membenarkan dan ia pun bertekad untuk datang ke Tanjung untuk sowan Bapak Kyai Tanjung.
Hatinya memang sudah jatuh cinta dengan majalah Nusantara. Ia mengaku berniat besar untuk gabung dengan kru Jatayu Media Nusantara, mengembangkan majalah Nusantara untuk membangun paradigma manusia di bumi nusantara ini.
Sungguh senang hatiku, ia mau tergerak untuk “pulang” ke tempat yang seharusnya. Memang sekarng adalah zaman berjuang. Berjihad. Bukan membunuh, merusak, atau memusuhi siapapun. Berjihad maksudnya adalah memerangi nafsuku sendiri. Menegakkan Addiin, nderek himbauan Rasulullah SAAW.
![]() |
| Majalah Nusantara edisi Desember 2016 |
Dapatkan majalah yang bernilai dan menginspirasi, Majalah Nusantara! Hubungi 081357468368; Customer Service, atau langsung ke kantor kami, Jalan Wachid Hasim Nomor 304 Tanjunganom, Nganjuk (Pomosda). Kalau mau pesan ke aku silakan, hubungi 082234505767; Muhammad Arif Asy-Syathori.


Bagus
BalasHapusTes komentar
BalasHapusTst
BalasHapus