| Bapak Kyai Tanjung melakukan rapat program pemberdayaan dengan Jatayu |
BLOG #7
“Hari ini aku mengalami perjalanan panjang sekali.”
Perjalanan identik dengan perpindahan sebuah objek dari titik ke titik yang lain. Bagi manusia, perjalanan memiliki banyak arti, bahkan konotasi. Hari ini, aku mengalami perjalanan yang cukup jauh, tapi jasadku tidak berpindah.
Tiga puluh menit yang lalu ̶ sebelum menulis post ini ̶ aku mengecek halaman Facebook blog dan Nusantara. Aku mendapati postingan dari akun Bapak Jatayu Sulaiman Tanjung yang sangat menggugah hatiku. Hati yang telah lapuk, seperti pelapuk mata yang tengah tersandar pada kapuk. Meskipun aku “masih” baru tergugah, belum tersadar, tapi aku jadi mengerti bagaimana hidup ini harus ku arahkan.
“Hidup dalam keprasangkaan,” bahkan terhadap diriku sendiri saja aku masih prasangka. Apakah aku sudah dalam kebenaran atau justru kesalahan yang berujung fatal. Memang benar, seolah-olah manuisa di bumi ini berjalan tanpa tujuan. Untuk apa aku hidup ini? Pertanyaan standar, tapi jika bertanya ke orang lain, pasti aku mendapat jawaban, “sudah lah hidup jangan dipikir ribet-ribet, nanti gila.” Tapi realitasnya, memang pertanyaan itu tak terjawab. Akhirnya, bimbang terhadap diri sendiri.
Jamaknya, seperti yang lain, aku hidup ini untuk bertahan hidup supaya tidak mati. Buruknya, aku hidup ini untuk mencari uang supaya aku dapat memiliki atau melakukan apapun yang aku mau. Tapi benarkah hidup sesempit itu? Bimbang lagi aku.
Tersindir dengan kutipan, “indikasi salah tujuan”. Aku kira, memiliki rasa ingin diperhatikan, mengharap materi adalah “manusiawi”, tapi justru ternyata pada akun Bapak Jatayu Sulaiman Tanjung, manusia itu adalah makhluk spirit ̶ ruhiyah (yang tidak bisa apa-apa jika tanpa ada Yang Menggerakkan ̶ sehingga justru tidak manusiawi ketika aku memiliki perilaku “salah tujuan”.
“Bagaimanakah aku seharusnya menjalankan keberagamaanku?” Sebuah kutipan yang tepat untuk refleksi diriku. Aku pun hingga kini ternyata hanya semacam percaya dengan dogma keberagaman. Allah, Nabi, surga, neraka, ulama, pahala, dosa, semuanya aku percaya karena doktrin belaka. “Apakah beragamamu karena nenek moyang?” dalam kutipan akun Bapak Jatayu Sulaiman Tanjung. Ternyata, diriku lah penggambaran yang tepat pula untuk kutipan tersebut.
Lantaran beragamaku karena nenek moyang, aku sungguh tidak ingin mencari tahu, “Allah itu siapa? Kok berkuasa sendiri di dunia?” “Nabi Muhammad itu siapa? Kok diagung-agungkan oleh semua manusia Islam?” “Surga dan neraka benarkah adanya? Mengapa orang-orang begitu ingin mengejar surga dan anti terhadap neraka?” “Siapakah ulama itu? Mengapa mereka semena-mena sekali dalam berkomando layaknya Allah, Nabi Muhammad, dan penghuni surga kelak?”
Aku buta akan semua itu. Postingan akun Bapak Jatayu Sulaiman Tanjung sangatlah menggugahku, semoga aku cepat tersadar dan berlaku kebaikan dengan segera.
Setelah aku telisik lebih lanjut, melihat dan menyimak kajian pemilik akun Bapak Jatayu Sulaiman Tanjung di Facebook atau Youtube, aku mengikrarkan diriku bahwa aku adalah murid beliau, sang pemilik akun tersebut, Bapak Kyai Tanjung.
Beragama harus benar dan tidak dalam keprasangkaan. Bagaimana untuk menyatakan kebenaran yang tidak dalam keprasangkaan? Apakah aku harus membangungkan Nabi Muhammad SAW dulu? Kemana rasionalitas kehidupan selama ini?
Aku tersadar, aku teketuk, aku tertampar, beragama bukanlah mata pelajaran. Beragama ternyata bukan konsep dan teori. Beragama bukan sesempit pahala, surga, aurat, dan dosa. Beragama itu ternyata menyeluruh, mencakup umat manusia, bahkan jagad luas. Lintang buana tidak ada yang mampu melebihi keberadaan Sang Empu-Nya Asma Allah.
Terimakasih Bapak Kyai Tanjung, sore hari ini aku banyak mendapat renungan yang sangat mahal. Karena Bapak Kyai Tanjung adalah Guruku, maka aku akan bertanya mengenai kehidupanku ini kepada wakil Allah di muka bumi, supaya tidak dalam keprasangkaan.
Begitulah kontemplasi sore hari ini. Semoga selanjutnya Allah senantiasa menjaga Guruku, keluargaku, aku pribadi, dan seluruh saudara-saudara seiman seperjuangan, dan seluruh umat yang berada dalam cakupan-Nya. Amien....
Tiga puluh menit yang lalu ̶ sebelum menulis post ini ̶ aku mengecek halaman Facebook blog dan Nusantara. Aku mendapati postingan dari akun Bapak Jatayu Sulaiman Tanjung yang sangat menggugah hatiku. Hati yang telah lapuk, seperti pelapuk mata yang tengah tersandar pada kapuk. Meskipun aku “masih” baru tergugah, belum tersadar, tapi aku jadi mengerti bagaimana hidup ini harus ku arahkan.
“Hidup dalam keprasangkaan,” bahkan terhadap diriku sendiri saja aku masih prasangka. Apakah aku sudah dalam kebenaran atau justru kesalahan yang berujung fatal. Memang benar, seolah-olah manuisa di bumi ini berjalan tanpa tujuan. Untuk apa aku hidup ini? Pertanyaan standar, tapi jika bertanya ke orang lain, pasti aku mendapat jawaban, “sudah lah hidup jangan dipikir ribet-ribet, nanti gila.” Tapi realitasnya, memang pertanyaan itu tak terjawab. Akhirnya, bimbang terhadap diri sendiri.
Jamaknya, seperti yang lain, aku hidup ini untuk bertahan hidup supaya tidak mati. Buruknya, aku hidup ini untuk mencari uang supaya aku dapat memiliki atau melakukan apapun yang aku mau. Tapi benarkah hidup sesempit itu? Bimbang lagi aku.
Tersindir dengan kutipan, “indikasi salah tujuan”. Aku kira, memiliki rasa ingin diperhatikan, mengharap materi adalah “manusiawi”, tapi justru ternyata pada akun Bapak Jatayu Sulaiman Tanjung, manusia itu adalah makhluk spirit ̶ ruhiyah (yang tidak bisa apa-apa jika tanpa ada Yang Menggerakkan ̶ sehingga justru tidak manusiawi ketika aku memiliki perilaku “salah tujuan”.
“Bagaimanakah aku seharusnya menjalankan keberagamaanku?” Sebuah kutipan yang tepat untuk refleksi diriku. Aku pun hingga kini ternyata hanya semacam percaya dengan dogma keberagaman. Allah, Nabi, surga, neraka, ulama, pahala, dosa, semuanya aku percaya karena doktrin belaka. “Apakah beragamamu karena nenek moyang?” dalam kutipan akun Bapak Jatayu Sulaiman Tanjung. Ternyata, diriku lah penggambaran yang tepat pula untuk kutipan tersebut.
Lantaran beragamaku karena nenek moyang, aku sungguh tidak ingin mencari tahu, “Allah itu siapa? Kok berkuasa sendiri di dunia?” “Nabi Muhammad itu siapa? Kok diagung-agungkan oleh semua manusia Islam?” “Surga dan neraka benarkah adanya? Mengapa orang-orang begitu ingin mengejar surga dan anti terhadap neraka?” “Siapakah ulama itu? Mengapa mereka semena-mena sekali dalam berkomando layaknya Allah, Nabi Muhammad, dan penghuni surga kelak?”
Aku buta akan semua itu. Postingan akun Bapak Jatayu Sulaiman Tanjung sangatlah menggugahku, semoga aku cepat tersadar dan berlaku kebaikan dengan segera.
Setelah aku telisik lebih lanjut, melihat dan menyimak kajian pemilik akun Bapak Jatayu Sulaiman Tanjung di Facebook atau Youtube, aku mengikrarkan diriku bahwa aku adalah murid beliau, sang pemilik akun tersebut, Bapak Kyai Tanjung.
Beragama harus benar dan tidak dalam keprasangkaan. Bagaimana untuk menyatakan kebenaran yang tidak dalam keprasangkaan? Apakah aku harus membangungkan Nabi Muhammad SAW dulu? Kemana rasionalitas kehidupan selama ini?
Aku tersadar, aku teketuk, aku tertampar, beragama bukanlah mata pelajaran. Beragama ternyata bukan konsep dan teori. Beragama bukan sesempit pahala, surga, aurat, dan dosa. Beragama itu ternyata menyeluruh, mencakup umat manusia, bahkan jagad luas. Lintang buana tidak ada yang mampu melebihi keberadaan Sang Empu-Nya Asma Allah.
Terimakasih Bapak Kyai Tanjung, sore hari ini aku banyak mendapat renungan yang sangat mahal. Karena Bapak Kyai Tanjung adalah Guruku, maka aku akan bertanya mengenai kehidupanku ini kepada wakil Allah di muka bumi, supaya tidak dalam keprasangkaan.
Begitulah kontemplasi sore hari ini. Semoga selanjutnya Allah senantiasa menjaga Guruku, keluargaku, aku pribadi, dan seluruh saudara-saudara seiman seperjuangan, dan seluruh umat yang berada dalam cakupan-Nya. Amien....
Berikut adalah kutipan-kutipan yang ada di akun Facebook Bapak Kyai Tanjung;

















Mantabbb...
BalasHapusLike it 😃👍👍
BalasHapus