Lafadz itu merupakan lafadz yang sering kita dengarkan dari imam ketika sebelum takbiratul ihram. Makna dari lafadz tersebut adalah setiap muslimin dan muslimat yang hendak shalat maka luruskan, rapatkan, dan rapikan shaf shalat supaya sempurna dalam shalatnya.
Kemudian ada wacana bahwa jika perintah tersebut tidak dilakukan akan ada setan yang mengisi shaf yang renggang ataupun yang kosong. Oleh kerena itu, kita pasti merapikan barisan atau shaf shalat sebelum takbiratul ihram. Tapi pernahkah anda melihat penampakan setan yang mengisi shaf shalat karena shaf tersebut kosong atau renggang?
Beberapa waktu yang lalu saya menonton stasiun tv lokal yaitu BBS TV kediri, saat itu bapak kyai Tanjung alias bapak Kyai Muhammad Dzoharul Arifin Al-Faqiri Munawwar Abdullah Afandi sedang mengisi program kajian rutin malam minggu pahing di BBS TV. Beliau banyak memberi penjelasan tentang pentingnya shaf shalat untuk ditegakkan, karena merapikan shaf shalat termasuk bagian dari shalat itu sendiri. Shalat tidak akan sempurna jika shaf terperhatikan.
Beliau berkata,”Saya sekarang sering melihat penampakan setan yang berteriak-teriak dengan berbicara kotor mengisi renggang-renggang shaf dalam shalat.” Saat itu saya sedikit menyepelekan. Banyak orang-orang yang takkabur karena bisa melihat penampakan metafisis padahal tidak terbukti benar.
“Shalat adalah ibadah syare’at di dunia, dimana jasad adalah alat untuk melaksanakannya. Shalat adalah tanda-tanda atau ayat-ayat-Nya yang nyata bagi seluruh umat di dunia bahwa selama hidup harus memakai jasadnya untuk beribadah, dalam hal apapun, termasuk menjadi sales, guru, dosen, jenderal, wartawan, presiden, bahkan seorang kyai sekalipun. Semua berkewajiban membuat tata laku syare’at yang dibarengi dengan ingatnya hati kepada Allah yang disebut dengan hakekat.” Lanjut beliau.
“Semua orang mustinya paham, bahwa shaf shalat adalah mutlak harus dipenuhi dan dirapikan, karena kesempurnaan shalat salah satunya dari shaf itu. Kalau tidak ditaati perintah itu, setan akan masuk dalam celah-celah dan mengganggu orang yang sedang shalat. Apa itu benar? Benar itu!” Kata terakhir beliau diucapkan dengan sedikit keras.
Saya semakin heran untuk terus menyimak kajian beliau saat itu. Saya penasaran dengan lanjutan kajian beliau. “Saya benar-benar menyaksikan setan-setan yang berteriak sampai berbuat anarki karena shaf tidak dipenuhi. Apa maksud sebenarnya dari hadits Rasulullah itu? Sebenarnya shaf itu dilambangkan segala sesuatu yang bisa termanfaatkan dengan baik, tapi tidak digunakan. Contohnya waktu luang dan sela-sela rumah yang kosong.” Beliau mulai memberi maksud dari penjelasan beliau, dan aku semakin penasaran.
“Jika seandainya sela-sela rumah kita kosong, atau kita punya ahan kosong, segeralah untuk menanami tanaman untuk memakmurkan Bumi Allah. Jangan dibiarkan kosong! Kreatiflah dan syukuri nikmat Allah dari hal yang paling kecil. Kita diperintah oleh Allah untuk memakmurkan bumi-Nya dalam Al-Qur’an, jangan sampai ada tanah yang menganggur atau lahan yang yang nganggur. Jika bisa mengambil essensi shalat, semua hal di dunia ini ya shalat, bekerjanya, bertanamnya, mengajarnya, menulisnya, semuanya adalah ibadah seprti halnya shalat.”
“Kita bisa menanam tanaman dengan media polybag, paralon, vertikultur, untuk mengisi lahan-lahan yang kosong dan nganggur. Memanfaatkan lahan sela itu juga berarti merapikan shaf atau memenuhi shaf shalat. Justru harusnya dapat teraplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai atsarussujudi (bekas sujud). Kalau masih ada lahan sela di rumah dan belum ada usaha untuk mengisinya, berarti anda-anda masih belum mengisi shaf shalat anda yang sebenarnya, setan akan masuk mengisi.” Mulai itu saya mulai terperangah, dan garuk-garuk kepala, astaghfirullaahaladziim saya belum melakukannya ternyata.
“Bukti setannya menyusupi apa?” Lanjut beliau. “Buktinya adalah ketika harga cabai melonjak, setannya akan berteriak, ‘turunkan harga cabai! Turunkan harga tomat! Turunkan harga bawang! Kalau kita memanfaatkan lahan sela, tidak mungkin akan ada setan yang berteriak begitu kan?” Aku benar-benar tersipu malu.
“Islam itu adalah orang-orang yang perilakunya selamat. Shalatnya rajin tapi kalau harga cabai naik teriak-teriak mencaci maki sana-sini apakah itu bisa dikatakan islam? Allah mengajarkan kita untuk kreatif dan tidak menyia-nyiakan apapun. Memanfaatkan segala sesuatu untuk kemakmuran Bumi. Bumi ini harus dimakmurkan. Jika tanah itu makmur dan subur, dada (jagad soghir) juga akan makmur dan subur akan dzikir.”
Begitulah dhawuh-dhawuh beliau yang menggetarkan hati. Mulai saat ini saya mulai menerapkannya. Memanfaatkan lahan sela dan menggunakannya sebaik-baiknya harus saya lakukan. Ternyata setelah melakukannya, saya justru bisa merukuni tetangga karena saya bisa berbagi hasil panen kepada tetangga-tetangga saya, mulai dari cabai, kol, tomat, terong, dan lain-lain. Semoga Allah menetapkan hati saya untuk selalu istiqomah dan tuma’ninah.


0 komentar:
Posting Komentar