![]() |
| Gambar dari : http://widhiaanugrah.com/manfaat-merenung/ |
Matahari sangat terik. Aspal pun
mengeluarkan uap sisa Tak kalah dari sebuah danau yang terpajang menawan di
depan masjid Al-Qodha’, masjid satu-satunya di kampung Salam Judeg yang
dijadikan kebanggan kampung kami.
Kata abahku jauh sebelum masjid ini
didirikan kampung sebelah sering mengeluarkan kata-kata indah mengandung majas
ironi semacam mengindahkan tahi yang tak sedap dipandang dan dibau. “Kampung
islam mana yang lebih baik daripada kampung kau ini Qodir? Sejahtera sekali
hingga tak sampai hati membangun sebuah Musholla macam kampung kami yang lebih
miskin.” Kata pak haji Sangiran. Dia suka mengamuk jika haji tak ikut
disebutkan ketika menyebutkan namanya itu yang modern. Emang iya?
Orang-orang tua memang sedikit
terbelakang mentalnya. Maklumlah, kebanyakan hanya merasakan bangku SD saja.
Untuk daftar di SMP mbah-mbah dahulu tak sudi membuka tali ikat kantung
yang berisi banyak koin dan uang kertas hasil panen mereka. Jangankan untuk
sekolah, makan saja sulit. Tak sekolah tak mati!
Karena mental dan pengetahuan yang
tak berkembang inilah sering menjadi penyebab cek-cok dengan kampung
sebelah. Buruh-buruh tani banyak dari kampung kami. Para kyai datang dari
kampung sebelah. Masjid kami baru, baru 2 tahun yang lalu jadi tuntas, jadi
kampung kami tak banyak kyai-kyai pintar macam pak haji Sangiran.
Pernah aku shalat jum’at, sekitar 2
minggu yang lalu. Saat itu masjid kami sangat ramai. Orang-orang datang ke
kampung kami untuk persiapan acara malam nanti. Dalam adat daerah kami, malam
tahun baru dirayakan dengan menghias makam-makam nenek moyang masing-masing
dengan indah pada malam harinya. Setelah itu doa bersama untuk ketenteraman
arwah-arwah nenek moyang yang dipimpin oleh seorang kyai. Selalu kyai dari
kampung sebelah, haji Sangiran. Makanya shalat jumat di masjid kami sangat
ramai. Orang-orang kampung sebelah juga ikut shalat jumat di masjid kami karena
tanah makam adanya di kampung kami.
Shalat jum’at diimami oleh haji
Sangiran. Orang-orang di kampung kami aslinya tak sudi ikut makmum haji
Sangiran, kyai kebanggaan kampung sebelah yang bancak menyindir kampung kami. Agama
adalah sesuatu yang baru buat daerah kami. Orang-orang tua memang pada sok tahu
tentang Tuhan, tak jarang kampung kami bentrok karena berdebat masalah agama.
Setelah shalat jumat selesai, aku
melihat haji sangiran menghampiri seorang anak muda berpakaian rapi, memakai
celana panjang. “Eh kau! Tak tahu kau itu sekarang sedang tidak mengikuti
aturan Rasulullah?” Haji Sangiran bicara dengan ketus dan sedikit sok.
“Maaf pak kyai.”
“Pak HAJI.” Haji Sangiran menyerobot
kata-kata pemuda itu menunjukkan protes karena menyebut namanya tidak disertai
haji.
“Iya, maaf pak haji, tapi saya tidak
mengerti maksud pak haji. Tolong dijelaskan.”Jawab anak muda itu dengan lembut.
“Itu Bit’ah, Rasulullah Salallahualaihiwasallam
(dibaca dengan sok fasih) jelas mengajarkan untuk memakai celana panjang diatas
mata kaki, bukan melebihi mata kaki!” Kata haji Sangiran dengan sok menggurui.
“Tapi saya tidak memiliki celana
seperti yang disebutkan pak haji.”
“Umat Nabi Muhammad saja berperang
berani, masak sih beli celana baru saja kau tak mau!”
“Tapi orangtua saya pun tidak mampu
membeli satu lagi.” Jawab anak muda itu memelas.
“Agama itu tidak ada toleransi, kamu
sudah bit’ah.” Dengan sedikit menggeleng haji Sangiran berkata begitu.
“Kita harus itba’ Nabi total. Kalau
kau merasa ikut agama Nabi, kau harus itba’ kepadanya secara keseluruhan.
Jangan Cuma kau ambil enaknya, kawin saja yang kau pikirkan dan kau banggakan.
Ckckckck....” Lanjut haji Sangiran.
Pemuda itu terlihat sangat malu sekali.
Apalagi haji Sangiran yang sok itu berbicara dengan suara sedikit lantang
ketika beberapa jamaah masih berada dalam masjid.
“Kau ingin masuk surga tidak?” Tanya
haji Sangiran.
“Mau sekali pak haji.”
“Kau beli itu celana baru. Baru masuk
surga.”
“Tapi kalau saya beli celana baru,
orangtua saya tidak bisa membayar SPP bulan ini, saya bisa tidak sekolah.” Anak
muda itu cenderung seperti memohon belas kasihan haji Sangiran.
Mungkinpikirannya sudah kacau dibuat oleh haji Sangiran, kalau sadar pasti dia
tidak memohon belas kasihnya tapi pertolongan Allah.
“Kau ini! Dunia saja yang dipikir,
sekarang harus berpikir akherat! ” Anak muda itu dibentaknya dengan keras.
Anak muda itu menangis. Haji Sangiran
pergi. Label haji itu yang membuatnya berbuat demikian. Dia memang disegani di
kampung sebelah dan sebagian orang di kampun kami, keluargaku tidak termasuk.
Tak kuasa aku berbuat atas kejadian di hari jum’at ini. Aku pun pergi dari
masjid, dan pulang.
Sepanjang perjalanan aku hanya
memikirkan apa yang aku saksikan barusan di masjid. Suara burung-burung kenari
milik pak Romlan yang indah sudah tidak dapat menggetarkan rumah bekicot
telingaku. Tidak berefek. Aku berjalan sembari berpikir pertentanganku kepada
haji Sangiran. Hati ini berani-berani takut sebenarnya untuk berdalih di
dalam hati, apalagi memberontak seorang kyai yang sudah haji. Kata orang-orang
kunci surga ada padanya.
Gejolak batin untuk menentang lebih
kuat. Apasih bit’ah? Kenapa dia membit’ahkan anak muda ingusan yang
orangtuanya hidup atas belas kasihan oranglain itu? Apakah sebutan bit’ah
adalah bagi mereka yang tidak itba’ kepada Rasulullah secara kaaffah? Sungguh
membingungkan bagiku.
Kalau seandainya harus itba’ kepada
Nabi seperti hidup di zamannya, bukannya semua kyai di kota adalah bit’ah?
Apalagi kyai yang sering dakwah lewat radio yang setiap pagi dan sore abahku
menyimaknya. Dulu kan radio tidak ada? Berarti mereka bit’ah. Kalau kyai
sombong itu mengaku dirinya itba’ Nabi kenapa dia bersepeda untuk pulang? Naik
pesawat ketika pergi haji? Bukannya Nabi tidak demikian. Aku mulai mengesampingkan ketakutanku
untuk berkomentar di batin sembari berjalan pulang ke rumah.
Anak muda itu malu. Dilihat banyak
orang ketika dia dilabrak oleh haji sok itu. Biarin, penafsiranku bit’ah
bukanlah hanya sebatas syare’atnya saja. Allah Maha Tahu kondisi dan keadaan
hamba-Nya, kenapa Allah mempermasalahkan celana anak muda miskin, lugu, dan
tidak ada harapan hidup bahagia itu. Toh dia sudah shalat saja Allah pasti
senang. Bit’ah adalah ibadah ritual yang disertai pengakuan dalam diri.
Rasulullah tidak pernah mencela sana-sini, bahkan merukuni umat beda agama,
kalau seorang muslimin membit’ahkan muslimin lainnya bukannya malah lebih bit’ah?
Koreksi, Rasulullah tidak pernah membit’ahkan orang lain.
Aku berjalan lebih cepat, karena aku
ingin segera menceritakan kejadian ini kepada abahku. Memang abahku tidak
pintar, dan belum haji. Setiap mendengar kata haji abah selalu menelan ludah,
membiayai aku untuk sekolah di sekolah tinggi swasta saja harus rela makan
sehari hanya dua kali. Abah rajin mendengarkan kajian-kajian kyai di kota lewat
radio sehingga aku bisa percaya dengan abah. Ah Iya!!! Ada lagi, kalau itba’
Rasulullah bukannya memberi nama atau gelaran haji di depan namannya saja sudah
bit’ah? Koreksi lagi, Nabi sudah haji berapa kali pun tidak pernah meminta
namanya disebut Kanjeng Haji Nabi Muhammad SAW. Anak muda itu yang nantinya
jadi hantu pengisi neraka atau justru yang membit’ahkan? Itu suara hatiku
selama aku berjalan menuju rumah. Sementara ini aku nikmati gejolak ini, nanti
aku ceritakan kepada abah supaya tenang.
TAMAT


0 komentar:
Posting Komentar