image1 image2 image3

HELLO I'M MUHAMMAD ARIF|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|WRITING 'N LEARNING IS MY PASSION|I'M PROFESSIONAL WRITER

Hantunya Dikatanya Calon Aku Nanti

      
Gambar dari : http://widhiaanugrah.com/manfaat-merenung/

        Matahari sangat terik. Aspal pun mengeluarkan uap sisa Tak kalah dari sebuah danau yang terpajang menawan di depan masjid Al-Qodha’, masjid satu-satunya di kampung Salam Judeg yang dijadikan kebanggan kampung kami.

Kata abahku jauh sebelum masjid ini didirikan kampung sebelah sering mengeluarkan kata-kata indah mengandung majas ironi semacam mengindahkan tahi yang tak sedap dipandang dan dibau. “Kampung islam mana yang lebih baik daripada kampung kau ini Qodir? Sejahtera sekali hingga tak sampai hati membangun sebuah Musholla macam kampung kami yang lebih miskin.” Kata pak haji Sangiran. Dia suka mengamuk jika haji tak ikut disebutkan ketika menyebutkan namanya itu yang modern. Emang iya?

Orang-orang tua memang sedikit terbelakang mentalnya. Maklumlah, kebanyakan hanya merasakan bangku SD saja. Untuk daftar di SMP mbah-mbah dahulu tak sudi membuka tali ikat kantung yang berisi banyak koin dan uang kertas hasil panen mereka. Jangankan untuk sekolah, makan saja sulit. Tak sekolah tak mati!

Karena mental dan pengetahuan yang tak berkembang inilah sering menjadi penyebab cek-cok dengan kampung sebelah. Buruh-buruh tani banyak dari kampung kami. Para kyai datang dari kampung sebelah. Masjid kami baru, baru 2 tahun yang lalu jadi tuntas, jadi kampung kami tak banyak kyai-kyai pintar macam pak haji Sangiran.

Pernah aku shalat jum’at, sekitar 2 minggu yang lalu. Saat itu masjid kami sangat ramai. Orang-orang datang ke kampung kami untuk persiapan acara malam nanti. Dalam adat daerah kami, malam tahun baru dirayakan dengan menghias makam-makam nenek moyang masing-masing dengan indah pada malam harinya. Setelah itu doa bersama untuk ketenteraman arwah-arwah nenek moyang yang dipimpin oleh seorang kyai. Selalu kyai dari kampung sebelah, haji Sangiran. Makanya shalat jumat di masjid kami sangat ramai. Orang-orang kampung sebelah juga ikut shalat jumat di masjid kami karena tanah makam adanya di kampung kami.

Shalat jum’at diimami oleh haji Sangiran. Orang-orang di kampung kami aslinya tak sudi ikut makmum haji Sangiran, kyai kebanggaan kampung sebelah yang bancak menyindir kampung kami. Agama adalah sesuatu yang baru buat daerah kami. Orang-orang tua memang pada sok tahu tentang Tuhan, tak jarang kampung kami bentrok karena berdebat masalah agama.

Setelah shalat jumat selesai, aku melihat haji sangiran menghampiri seorang anak muda berpakaian rapi, memakai celana panjang. “Eh kau! Tak tahu kau itu sekarang sedang tidak mengikuti aturan Rasulullah?” Haji Sangiran bicara dengan ketus dan sedikit sok.

“Maaf pak kyai.”

“Pak HAJI.” Haji Sangiran menyerobot kata-kata pemuda itu menunjukkan protes karena menyebut namanya tidak disertai haji.

“Iya, maaf pak haji, tapi saya tidak mengerti maksud pak haji. Tolong dijelaskan.”Jawab anak muda itu dengan lembut.

“Itu Bit’ah, Rasulullah Salallahualaihiwasallam (dibaca dengan sok fasih) jelas mengajarkan untuk memakai celana panjang diatas mata kaki, bukan melebihi mata kaki!” Kata haji Sangiran dengan sok menggurui.

“Tapi saya tidak memiliki celana seperti yang disebutkan pak haji.”
“Umat Nabi Muhammad saja berperang berani, masak sih beli celana baru saja kau tak mau!”
“Tapi orangtua saya pun tidak mampu membeli satu lagi.” Jawab anak muda itu memelas.
“Agama itu tidak ada toleransi, kamu sudah bit’ah.” Dengan sedikit menggeleng haji Sangiran berkata begitu.

“Kita harus itba’ Nabi total. Kalau kau merasa ikut agama Nabi, kau harus itba’ kepadanya secara keseluruhan. Jangan Cuma kau ambil enaknya, kawin saja yang kau pikirkan dan kau banggakan. Ckckckck....” Lanjut haji Sangiran.

Pemuda itu terlihat sangat malu sekali. Apalagi haji Sangiran yang sok itu berbicara dengan suara sedikit lantang ketika beberapa jamaah masih berada dalam masjid.

“Kau ingin masuk surga tidak?” Tanya haji Sangiran.
“Mau sekali pak haji.”
“Kau beli itu celana baru. Baru masuk surga.”

“Tapi kalau saya beli celana baru, orangtua saya tidak bisa membayar SPP bulan ini, saya bisa tidak sekolah.” Anak muda itu cenderung seperti memohon belas kasihan haji Sangiran. Mungkinpikirannya sudah kacau dibuat oleh haji Sangiran, kalau sadar pasti dia tidak memohon belas kasihnya tapi pertolongan Allah.

“Kau ini! Dunia saja yang dipikir, sekarang harus berpikir akherat! ” Anak muda itu dibentaknya dengan keras.

Anak muda itu menangis. Haji Sangiran pergi. Label haji itu yang membuatnya berbuat demikian. Dia memang disegani di kampung sebelah dan sebagian orang di kampun kami, keluargaku tidak termasuk. Tak kuasa aku berbuat atas kejadian di hari jum’at ini. Aku pun pergi dari masjid, dan pulang.

Sepanjang perjalanan aku hanya memikirkan apa yang aku saksikan barusan di masjid. Suara burung-burung kenari milik pak Romlan yang indah sudah tidak dapat menggetarkan rumah bekicot telingaku. Tidak berefek. Aku berjalan sembari berpikir pertentanganku kepada haji Sangiran. Hati ini berani-berani takut sebenarnya untuk berdalih di dalam hati, apalagi memberontak seorang kyai yang sudah haji. Kata orang-orang kunci surga ada padanya.

Gejolak batin untuk menentang lebih kuat. Apasih bit’ah? Kenapa dia membit’ahkan anak muda ingusan yang orangtuanya hidup atas belas kasihan oranglain itu? Apakah sebutan bit’ah adalah bagi mereka yang tidak itba’ kepada Rasulullah secara kaaffah? Sungguh membingungkan bagiku.

Kalau seandainya harus itba’ kepada Nabi seperti hidup di zamannya, bukannya semua kyai di kota adalah bit’ah? Apalagi kyai yang sering dakwah lewat radio yang setiap pagi dan sore abahku menyimaknya. Dulu kan radio tidak ada? Berarti mereka bit’ah. Kalau kyai sombong itu mengaku dirinya itba’ Nabi kenapa dia bersepeda untuk pulang? Naik pesawat ketika pergi haji? Bukannya Nabi tidak demikian. Aku mulai mengesampingkan ketakutanku untuk berkomentar di batin sembari berjalan pulang ke rumah.

Anak muda itu malu. Dilihat banyak orang ketika dia dilabrak oleh haji sok itu. Biarin, penafsiranku bit’ah bukanlah hanya sebatas syare’atnya saja. Allah Maha Tahu kondisi dan keadaan hamba-Nya, kenapa Allah mempermasalahkan celana anak muda miskin, lugu, dan tidak ada harapan hidup bahagia itu. Toh dia sudah shalat saja Allah pasti senang. Bit’ah adalah ibadah ritual yang disertai pengakuan dalam diri. Rasulullah tidak pernah mencela sana-sini, bahkan merukuni umat beda agama, kalau seorang muslimin membit’ahkan muslimin lainnya bukannya malah lebih bit’ah? Koreksi, Rasulullah tidak pernah membit’ahkan orang lain.

Aku berjalan lebih cepat, karena aku ingin segera menceritakan kejadian ini kepada abahku. Memang abahku tidak pintar, dan belum haji. Setiap mendengar kata haji abah selalu menelan ludah, membiayai aku untuk sekolah di sekolah tinggi swasta saja harus rela makan sehari hanya dua kali. Abah rajin mendengarkan kajian-kajian kyai di kota lewat radio sehingga aku bisa percaya dengan abah. Ah Iya!!! Ada lagi, kalau itba’ Rasulullah bukannya memberi nama atau gelaran haji di depan namannya saja sudah bit’ah? Koreksi lagi, Nabi sudah haji berapa kali pun tidak pernah meminta namanya disebut Kanjeng Haji Nabi Muhammad SAW. Anak muda itu yang nantinya jadi hantu pengisi neraka atau justru yang membit’ahkan? Itu suara hatiku selama aku berjalan menuju rumah. Sementara ini aku nikmati gejolak ini, nanti aku ceritakan kepada abah supaya tenang.


TAMAT

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar