![]() |
"Shalat lima kali sehari, puji, dan zikir itu adalah kebijaksanaan dalam hati menurut kehendak pribadi. Benar atau salah pribadi sendiri yang akan menerima, dengan segala keberanian yang dimiliki. Gagasan adanya badan halus itu mematikan kehendak manusia. Dimanakah adanya Hyang Suksma, kecuali hanya diri pribadi. Kelilingilah cakrawala dunia, membumbunglah ke langit yang tinggi, selamilah dalam bumi sampai lapisan ke tujuh, tiada ditemukan ujud yang Mulia."
"Kemana saja sunyi senyap adanya, ke utara, selatan, barat, timur, dan tengah, yang ada di sana-sana hanya di sini adanya. Yang ada di sini bukan ujud saya. Yang ada di dalamku adalah hampa yang sunyi. Isi dalam daging tubuh adalah isi perut yang kotor. Maka bukan jantung bukan otak yang pisah dari tubuh, laju pesat bagaikan anak panah lepas dari busur, menjelajah Mekah dan Medinah."
"Saya ini bukan budi, bukan angan-angan hati, bukan pikiran yang sadar, bukan niat, bukan udara, bukan angin, bukan panas, dan bukan kekosongan atau kehampaan. Ujud saya ini jasad, yang akhirnya menjadi jenazah, busuk bercampur tanah dan debu. Napas saya mengelilingi dunia, tanah, api, air, dan udara kembali ke tempat asalnya atau aslinya, sebab semuanya barang baru, bukan asli."
"Maka saya ini Zat yang sejiwa, menyukma dalam Hyang Widi, Pangeran saya bersifat jalal dan jamal, artinya Maha mulia dan Maha Indah."
"Dialah yang luhur dan sangat sakti, yang berkuasa Maha Besar, lagi pula memiliki dua puluh sipat, kuasa atas segala kehendak-Nya. Dialah yang Maha Kuasa, pangkal mula segala ilmu, Maha Mulia, Mah Indah, Maha Sempurna, Maha Kuasa, Rupa Warna-Nya tanpa cacat, seperti hamba-Nya. Di dalam raga manusia Ia tiada tampak. Ia sangat sakti menguasai segala yang terjadi, dan menjelajahi seluruh alam semesta, Ngindraloka."
"Lain jika kita sejiwa dengan Zat Yang Maha Luhur. Ia gagah berani, Maha Sakti dalam syarak, menjelajahi alam semesta. Dia itu pangeran saya, yang menguasai dan memerintah saya, yang bersifat wahdaniyah, artinya menyatukan diri dengan ciptaan-Nya. Ia dapat abadi mengembara melebihi peluru atau anak sampitan, bukan budi bukan nyawa, bukan hidup tanpa asal dari mana pun, bukan pula kehendak tanpa tujuan."
"Dia itu yang bersatu padu menjadi ujud saya. Tiada susah payah, Kodrat dan kehendak-Nya, pergi kemana saja tiada haus, tiada lelah tanpa penderitaan tiada lapar. Kekuasaan-Nya dan kemampuan-Nya, tiada kenal rintangan, sehingga pikiran keras dan keinginan luluh tiada berdaya. Maka timbullah dari jiwa raga saya kearif-bijaksanaan tanpa saya ketahui keluar dan masuk-Nya, tahu-tahu saya menjumpai Ia sudah di sana."


0 komentar:
Posting Komentar