“ Komunikasi kok mung syarat tok ?? Berarti termasuk bagian dari kelucuan negeri ini "
Bismillaahirrohmaanirrohiim, Syukur alhamdulillah kita munajatkan kepada Allah SWT Yang telah menggerakkan kita menuju RasulNya. Shalawat dan salam selalu kita curahkan kehadirat Nabi Agung Muhammad SAWW (sholluu ‘alaih... ) dan para keturunan-keturunan yang datang dari sulbinya Ali dengan rantai silsilah gulowentah yang tidak pernah terputus hingga yaumul qiyamah nanti.
Kita semua bergerak, berjalan, menginjak, berkegiatan di atas Bumi-Nya Allah. Kita hidup di dunia ini bukan karena kebetulan atau kesalahan Tuhan, akan tetapi kita hidup di dunia ini memang kehendak Tuhan yang ingin menjadikan hamba-hambaNya menjadi suci seputih Fitrah-Nya Allah untuk bisa menyatu kembali kepada Allah SWT. Biar bagaimanapun, faktanya kita hidup di dunia yang serba gegirisi ini. Dunia ini semakin mengerikan dan bukan semakin menuju titik terang akan tetapi justru semakin gelap dan menggelapkan. Oleh karena itu bapak kyai Moh. Dzoharul Arifin Al-Faqiri Munawwar Abdullah Afandi saat ini sering mengadakan pertemuan-pertemua sebagai ikhtiar untuk mengangkat Hak junjungan Nabi kembali yang telah lama dicabik-cabik dan terseok-seok ra karuan.
Dalam Qoidah IX tertulis dengan jelas bahwa sebuah organisasi bagi mereka yang berkehendak kembali menuju Tuhannya (murid / saalik) adalah bangunan keluarga yang saling kuat-menguatkan dengan dasar rasa cinta (mahabbah birauhillah) bukan paham atasan-bawahan, jabatan, senior-junior, dan lain-lain. Maka komunikasinya akan komunikatif.
| Berdiskusi untuk saling memberi informasi |
Komunikasi adalah ruhnya sebuah organisasi. Tanpa komunikasi, aplikasi dasar syukur merasa bersaudara sinorowedi tidak akan terasa. Bahkan penyelaman kata ‘dimaukan, digerakkan, ditumbuhkan, dibuat, disadarkan’ tidak akan bisa dilakukan. Karena ummatan wakhidah maka harus komunikasi. Hanya dengan komunikasi ummatan wakhidah akan terbangun kembali untuk menjadi ‘amanah’.
Sayangnya istilah komunikasi ini belum diterapkan dengan baik oleh kita semua. Pada kenyatannya, kita justru kadang memainkan kata komunikasi. Komunikasi hanya sebagai syarat untuk melangkah lebih jauh. Contohnya : Ketika hendak matur kepada bapak pimpinan kita memang harus komunikasi, tapi komunikasinya harus sehat dan baik. Jangan sampai matur “dalem sampun komunikasi kaleh si Bolang bapak, niki hasilipun. Insyaallah niki sae bapak hambokbilih dilampahi, niki sampun hasil koordinasi kaleh rencang-rencang estu”. Inilah contoh komunikasi yang tidak baik dengan beliau. Kemudian contoh yang lain, “pangapunten bapak, hambokbilih dalem kepareng matur, niki pun hasil musyawarah ngeten, dalem ugi sampun komunikasi kaleh si Aspal. Si Aspal setuju bapak, insyaallah Jama’ah ugi setuju amargi niki langkung sae bapak.” Jika seandainya terjadi jangan salahkan kalau tiba-tiba *Plak !!
Jika kita bisa mencari hal yang tidak pas dari contoh diatas maka dapat memunculkan pertanyaan “Kita memposisikan Beliau sebagai apa ? Padahal beliau itu sebagai apa di muka Bumi ini ? Beliau itu adalah siapa di hadapan Allah ?”. Kesalahan-kesalahan kecil tapi bisa fatal inilah yang kadang terjadi pada kita sebagai murid beliau.
| Saling komunikasi supaya tercipta kebersamaan |
Kenapa bisa kurang tepat ? Karena seolah-olah kita menutup atau membatasi argumen atau pendapat beliau dengan kata “niki sampun hasil rapat lan koordinasi, langkung sae niki bapak”. Ini contoh kecil komunikasi yang sama sekali tidak komunikatif. Contoh ini tidak menyamankan lawan bicara atau pendengar. Padahal komunikasi itu harus saling menyamankan, terbuka, dan tanpa batasan tertentu. Dalam contoh di atas sama saja kita tidak memposisikan Beliau sebagai ‘tempat bergantung, tempat mengadu, tempat berkonsultasi’. Sekali lagi fatal !
Mungkin yang dapat dilakukan adalah “Pangapunten bapak, niki wonten usulan saking rencang-rencang ngeten bapak, dalem perwakilan nyuwun pitedahipun pripun ?” Sebisanya kita membuka diri untuk menerima usulan, kritisi, masukan-masukan dari lawan bicara atau pendengar.
Jamaah rohimakumullah. Bukan berarti artikel ini melarang siapapun untuk matur kepada beliau. Justru beliau sangat menekankan kepada murid untuk memberanikan matur jika terjadi sesuatu. Tidak ada yang berhak melarang murid untuk sowan kepada Gurunya. Hanya saja kita harus berkomunikasi dengan benar dan baik supaya mendapat kenyamanan. Artikel ini tidak mutlak benar, segala sesuatu juga disesuaikan dengan kontekstual (situasi dan kondisi) yang ada. Lagi pula kita dapat menyimpulkan dari dua contoh diatas, “komunikasi bukan hanya prasyarat untuk matur atau melangkah lebih maju, akan tetapi memang sebagai kebutuhan”. Saatnya kita merevolusi semuanya, cara bicaranya, cara mendengarnya, berlakunya, tandhang gawene, berkeluarganya, berumah-tangganya, dan lain-lain untuk pemurnian.
“Sekedar mengutip dhawuh bapak Pimpinan Kyai Mohammad Dzoharul Arifin Al-Faqiri Munawwar Abdullah Afandi, Mari kita saling bebarengan, tilik-tinilikan, puji-pinuji, gotong-royong, saling membantu demi ndukung, nyengkuyung, bela cita-cita mulyaNe Guru. Mugi kita tansah pikanthuk berberan, berkah, sawab, pangestu Guru Wasithah, Amiin.”
>> Untuk artikel lebih lengkap tentang tauhid, dapat membeli majalah Ajisaka di POMOSDA. CP : Risma Lailiya Mas’udah - 085231162111

0 komentar:
Posting Komentar