| KH.Moh. Dzoharul Arifin Alfaqiri Munawwar Abdullah Afandi sedang mengisi pengaosan rutin yang disiarkan BBS TV |
Ja’al Haq Wa Zahaqal Bathil yang berarti munculnya Al-Haq dan tenggelamnya kebathilan telah sering disampaikan oleh bapak Pimpinan KH.Mohammad Dzoharul Arifin Al-Faqiri Munawar Abdullah Afandi. Beliau ngendikan bahwa saat ini zaman sudah methit dan sebentar lagi akan diringkes. Ja’al haq wa zahaqal bathil menjadi tema dalam majalah Ajisaka esisode pertama ini juga sebagai tanda bahwa akan ditampakkannya Al-Haq di permukaan dan tenggelamnya kebathilan.
Pada hari Sabtu 14 An-Nida 02 MHD beliau dhawuh bahwa majalah Ajisaka ini juga bentuk prihatin kita semua para Jamaah Syathoriyah GERJALIBIEN atas keadaan dunia yang kondisinya sudah carut-marut. Harapan dan cita-cita Guru kita adalah digelarnya Ilmu Nubuwah se-pendidikannya yang selama ini sudah ditareqati dan diikhtiari oleh Guru kita dan Guru sebelumnya.
“Menuju peradaban Rubbubiyah Ilahiyah” maksudnya adalah kita semua murid (salik=orang yang berkehendak kuat mati selamat kepada-Nya setelah mati) berikhtiar menjalankan dhawuh Guru kita semua untuk menegakkan ad-diin. Kita bersama-sama menyingkirkan keduniawiaan dan sifat-sifat nafsiyah demi tercapainya peradaban yang semua insannya bertuju pada Tuhannya atas perintah utusan-Nya.
\
Kebathilan hanya dapat disingkirkan dengan laku yang segala niatannya ditujukan kepada Allah SWT semata (ikhlas). Laku yang benar tapi jika tersirat pamrih maka tidak akan berguna apa-apa. Berlaku keras dengan ikhlas tapi diaku ikhlasnya maka sama saja dengan pamrih. Berlaku baik tapi diaku kedekatannya atau kepedean merasa dekat dengan-Nya juga sama saja bahkan lebih buruk di mata Allah. Untuk berlaku ikhlas kita memerlukan sandaran. Logika sederhananya jika kita diutus oleh ibu kita membeli bayam ke warung sebelah maka laku kita membeli bayam tersebut hanya karena diutus ibu kita, kalau tidak karena diutus kita tidak akan berangkat membeli bayam. Sama halnya dengan kita ibadah karena kita diutus oleh utusan-Nya. Jika sudah sadar akan itu, maka segala laku apapun akan dirumangsani karena diutus (ikhlas).
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ
وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
”Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (menyaksikan secara nyata di dalam Bai’at) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Ali-Imran :164)
Kebathilan artinya segala sesuatu yang tidak sejalan dengan kersa-Nya dan utusan-Nya. Pikiran, perilaku, kondisi hati, sifat, watak, laku, dan semuanya jika bergerak karena dorongan nafsun linafsin maka sungguh tengah berada dalam kebathilan yang nyata. Hal-hal itulah yang dimaksud kebathilan dan akan segera ditenggelamkan dari permukaan.
Al-Haq adalah mengenai hakekat tentang segala sesuatu. Munculnya Al-Haq ke permukaan berarti akan segera ditampakkan kebenaran mutlak Tuhan di permuakaan bumi-Nya Allah. Kebenaran tentang ibadah (laku yang diniatkan murni karena merasa fil amr atau diperintah oleh utusan-Nya), shalat, bit’ah (laku yang menananggalkan eksistensi Empu-Nya asma Allah dalam hati), kafir, munafik, fasik, murtad, surga, neraka, dan sejarah kebenaran tentang ajaran tauhid yang sudah diseok-seokkan oleh oknum.
Perlu diketahui juga bahwa kebathilan muncul bukan hanya karena di dalam diri, akan tetapi pemicunya adalah ada pada luar diri. Perlu waspada dan hati-hati akan menyusupnya hawa nafsu. Yang dapat menghentikan bergejolaknya hawa nafsu hanyalah dzikrullahi akbar.
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram”.
Munculnya Al-Haq ke permukaan diwujudkan dengan senang dan selalu berusaha menghadirkan dzikir di dalam hati pada saat kapanpun, dimana pun, dan dalam keadaan apapun. Kesadaran terhadap asal penciptaan manusia adalah intinya. “alastu birabbikum ? Qaaluu balaa syahidnaa” adalah amanah kita semua. Tidak menjadi amanah apabila kita tidak memegang kuat janji dan sumpah kita di hadapan Guru kita saat bai’at (kelahiran yang kedua). Kesadaran ini akan membawa kita ke dalam kebenaran atau Al-Haq sesuai dengan visi hidup ini yaitu mati selamat.
Sekali lagi bapak pimpinan sudah sangat sering memberi arahan dan peringatan-peringatan tentang suatu hal yang akan terjadi sebentar lagi. Oleh karena itu tidak ada waktu lagi untuk bersantai-santai dan sok nyaman dalam kondisi saat ini. Saat ini kita wajib untuk saling erat-mengeratkan, berpegang utuh kepada Guru kita semua bahkan totalitas. Tentunya kita semua mengharapkan mati selamat bukan ?
Terwujudnya gumelar tidak bisa hanya berdiam diri. Gumelarnya Ilmu Tauhid dan Pendidikannya adalah hasil doa dan ikhtiar Guru kita semua. Kita hanya perlu membantu dan tunduk pasrah pada apa yang menjadi dhawuhnya saja tapi bukan berarti kita diam tidak berbuat apa-apa. Demi terangkatnya Al-Haq di permuakaan bumi-Nya Allah dan membalaskan darah Siti Fathimah dan semua Rasul yang telah sedda demi tegaknya ajaran Tauhid mari kita semua bersatu padu menegakkan dzikir dan guyub rukun. Semoga apa yang kita lakukan selalu mendapatkan beberan sawab pangestu Guru Wasithah amiien.

0 komentar:
Posting Komentar