image1 image2 image3

HELLO I'M MUHAMMAD ARIF|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|WRITING 'N LEARNING IS MY PASSION|I'M PROFESSIONAL WRITER

MEWUJUDKAN JANNATUL NAIM, CITA-CITA PARA NABI PARA RASUL

“Pilih apa ? Susu utawa Khamr ?”
Sumber : Bapak Mohammad Dzoharul Arifin Al-Faqiri Munawwar Abdullah Afandi

Lillaahiridhoillaahi ta’ala syai’un lillaahi alfatihah....
Ilaa Hadrati Nabi Muhammad SAWW syai’un lillaahi lahu alfatihah ....
Ilaa hadratina syaikhoti Dewi Fatimah binti Rasulullah SAWW wa syekh Imam Ali   Rodhiallahu ‘anhu syai’un lillahi lahumal fatihah...
Ilaa hadrati jami’il arwahi masyayikh wa masyayikhinaa wa masyakhihim fil silsilati sunnatil ajma’in syaiun lillaahi lahumul fatihah...
Ila hadroti jami’il arwaahi ambiyaa’i allahi syai’un lillaahi lahumul fatihah...
Ilaa hadrati jami’il arwahi masyayikh wa masyayikhinaa wa masyakhihim alladzi fi dawaamil akhirah wal malaikatil muqorrobiin wal kauni syai’un lillaahi lahumul fatihah ...
Ilaa hadroti jami’il Al-Qoim Al-Mahdi, Syekh mBah Kyai Imam Mursyid Muttaqien bim mBah Kyai Haji Imam Muttaqien wa Syekh mBah Kyai Moh.Khusnun Malibari bin mBah Kyai Imam Diharjo Tanjung, tsumma ilaa hadroti Syekh mBah Kyai Moh. Munawwar Afandi bin mBah Kyai Abdullah Afandi As, Syaiun lillaahi lahumul faatihah....
Ilaa hadroti Guru Wasithah Bapak KH. Mohammad Dzoharul Arifin Alfaqiri Munawwar Abdullah Afandi syai’un lillahi lahu alfatihah ...


KH.Moh. Dzoharul Arifin Alfaqiri Munawwar
 Abdullah Affandi mengisi tausyiah di POLRES Nganjuk

Bismillahirrohmanirrohiim .....

        Pernahkan anda teringat cerita Isra’ Mi’raj yang sering diceritakan oleh guru kita di sekolah atau orangtua kita ? Ada bagian cerita yang meceritakan bahwa Malaikat Jibril memberi tiga gelas dengan isinya yang berbeda. Gelas pertama berisi Madu, gelas kedua berisi Khamr, dan yang ketiga berisi susu. Nabi muhammad memilih susu. Malaikat Jibril pun berkomentar, “Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan umat engkau.” Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur’an surat An-Najm (1-18).

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى (١) مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (٢) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣) إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤) عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى (٥) ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى (٦) وَهُوَ بِالأفُقِ الأعْلَى (٧) ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى (٨) فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى (٩) فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى (١٠) مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى    (١١) أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى (١٢) وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى (١٣) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (١٤) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (١٥) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى (١٦) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى (١٧) لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى (١٨)

“Demi bintang ketika terbenam (1), Kawanmu ( Muhammad ) tidak sesat dan tidak (pula) keliru (2), Dan tidaklah yang diucapkannya itu ( Al-Ilmu=Ilmu para Nabi para Rasul yang menunjukkan tentang hakekat fitrah jati diri manusianya ) menurut keinginannya (3), Tidak lain ( Al-Ilmu itu ) adalah wahyu yang diwahyukan ( kepadanya ) (4),  Yang diajarkan kepadanya oleh ( Jibril ) yang sangat kuat (5), Yang mempunyai keteguhan; maka ( Jibril itu ) menampakkan diri dengan rupa yang asli ( rupa yang bagus dan perkasa ) (6),  Sehingga dia berada di ufuk yang tinggi (7), Kemudian dia mendekat \( pada Muhammad ), lalu bertambah dekat (8), Sehingga jaraknya       ( sekitar ) dua busur panah atau lebih dekat ( lagi )(9),  Lalu disampaikannya wahyu kepada hamba-Nya ( Muhammad ) apa yang telah diwahyukan Allah (10), Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya (11), Maka apakah kamu ( musyrikin Mekah ) hendak membantahnya tentang apa yang dilihatnya itu ?(12), Dan sungguh, dia ( Muhammad ) telah melihatnya ( dalam rupanya yang asli ) pada waktu yang lain (13), ( yaitu ) di Sidratil Muntaha (14), Di dekatnya ada surga tempat tinggal (15), ( Muhammad melihat Jibril ) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya (16), Penglihatannya ( Muhammad ) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak ( pula ) melampauinya (17), Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda ( kebesaran ) Tuhannya yang paling besar (18).”
      Dalam sebuah wacana umum ayat tersebut diturunkan oleh Allah dengan hujjah Nabi Muhammad SAWW mengalami proses Isra Mi’raj. Menurut para ulama ayat tersebut adalah bukti bahwa Nabi Muhammad pernah melakukan perjalanan mulia Isra’ Mi’raj. Tapi hakekatnya ayat tersebut sangat sepele jika Allah menurunkan ayat tersebut hanya untuk menunjukkan bahwa Rasulullah SAWW pernah melakukan perjalanan dari Masjidil Haram hingga Masjdil Aqsha hanya dalam semalam saja. Pasti ada yang tersirat di balik yang tersurat, apalagi itu “al-ayah”.

  Menurut penjelasan Pimpinan Gerakan Jamaah Lil-Muqorrobien (GERJALIBIEN) bapak Mohammad Dzoharul Arifin Al-Faqiri Munnawar Abdullah Afandi ketika pengaosan mujadahan Perjalanan Isra’ Mi’raj adalah tidak sekedar untuk menunjukkan bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi yang paling disegani oleh para Nabi lainnya dan pernah bertemu dan berhadap-hadapan dengan Tuhannya langung. Isra’ Mi’raj merupakan proses pergantian kiblat yang semula dari ‘Jibril’ berpindah pada diri Rasulullah SAWW. Nabi Muhammad ditugasi Gurunya untuk melanjutkan tugas Gurunya membawa risalah kenabian ( berhubungan dengan Dzat Tuhan) dan menjadi saksi atas apa yang dilakukan muridnya di bumi ini.

     Proses Bai’at merupakan hal yang luar biasa dan tidak sepele sama sekali. Bahkan sejatinya Allah telah berhasil menggambarkan dengan sangat jelas bahwa prosesi Bai’at adalah sesuatu yang mutlak harus dialami oleh setiap Insan (Insan=Berasal dari kata ‘nasiya-yansaa’ yang berarti lupa (Orang lupa akan persaksian mengenai keberadaan Wujud Al-Haq-Nya Tuhan)) di muka bumi ini melalui ayat-ayat dalam Surah An-Najm itu. Tidak hanya bai’at saja, Isra’ Mi’raj adalah penggambaran proses panggulawentahan yang luar biasa yang dialami Nabi dengan mengalami gejolak batin yang sangat mengiris hati. Allah memutus tali kecintaan terhadap istrinya Siti Khodijah yang sangat kaya raya dan dermawan yang siap melayani Nabi Muhammad kapanpun dan dimanapun, tali kekuasaan dari pamannya Abu Tholib yang saat itu menjadi tokoh dan tidak ada yang berani menentang Abu Tholib, dan tali harta benda karena kaum Quraisy memboikot ekonomi habis-habisan Nabi Muhammad selama 2 tahun. Nabi Muhammad dan sahabat setia beliau mengganjal perut dengan batu untuk menahan rasa lapar. Ini adalah penggambaran Isra’ Mi’raj yang selama ini hanya dianggap kisah petualangan atau legenda saja. 

      Sungguh bagi orang-orang yang telah melakukan sumpah dan janji setia kepada Gurunya (Hamba yang ditunjuk oleh Guru sebelumnya meneruskan tugas dan fungsinya melalui proses gulawentah yang tidak pernah terputus sama sekali) adalah orang-orang yang beruntung dan dapat melihat surga dengan mata hatinya.

وَلَذِكْرُاللهِ اَكْبَرُ

“Sungguh Berdzikir (Mengingat-ingati Dzat Al-Ghaibullah) adalah sesuatu yang teramat besar”

      Berdzikir adalah momen atau saat ketika seorang hamba disatukan oleh Tuhan dengan DiriNya, ketika itu pula seorang hamba dapat melihat hakekat surga dalam dirinya sendiri yang sangat nikmat dan nyaman. Di dalam hati terdapat baabal rohmah, titik temu antara hamba-Nya dan Tuhannya. Bertemunya kedua dzat inilah yang disebut anugerah dan cicilan kenikmatan surga di dunia. Allah SWT akan melapangkan dada bagi orang-orang yang berpegang teguh kepada dzikir dan selalu mengingati Diri-Nya kapanpun dan dimanapun.

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ

“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (berlaku) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (Qs. Al-An’am 125).

      Kembali ke cerita Isra’ Mi’raj Rasulullah SAWW, ketika Nabi Muhammad disuguhkan tiga gelas tersebut Nabi memilih gelas yang berisi susu. Makna aslinya adalah Nabi Muhammad totalitas memilih jalan hidup dan niat hidupnya semata-mata untuk hijrah kepada Allah dan utusan-Nya. Susu itu melambangkan fitrah jati diri manusia yang asal fitrahnya dari fitrahNya Allah piyambak. Jika begitu maka dapatlah ia merasakan Jannatul Na’im dalam dadanya (Jagad Saghir).
   
Santri Pomosda mengikuti kegiatan memakmurkan Bumi-Nya Allah
     Konsep surga selama ini telah disalah pahami oleh semua kalangan, dari ulama hingga umat Islam awam. Makna surga digemborkan adalah sebuah tempat yang luar biasa damai dan sejahtera. Kolam susu putih mengalir dibawah dan siapapun dapat mengambil susu tersebut sepuasnya. Selain itu penghuni surga juga diperbolehkan untuk minum Khamr yang memabukkan dan nikmat hingga 7 kali lipat Khamr di dunia.  Padahal susu yang dimaksud adalah kemurnian hakekat jadi diri manusia yang asalnya dari Allah SWT sedangkan Rasulullah menolak Khamr adalah pasemon bahwa Khamr berarti  nikmat dunia yang memabukkan dan membuat lupa para Insan di muka bumi ini. Pengertian hakekat surga inilah yang disalah artikan oleh semua kalangan.
   
”Akan ditampakkan Jannatul Naim di muka Bumi-Nya Allah 
di penghujung Zaman Imam Mahdi”
.
     Teringat dhawuh bapak pimpinan dalam pertemuan-pertemuan cabang dan pengaosan, suatu saat nanti akan ditampakkan Jannatul Naim di muka bumi-Nya Allah. Jannatul Na’im adalah percikan Jannah (Surga) di dunia. Dunia yang tidak ada kata mencela, menjatuhkan, mengejek, menyindir, ngrasani, misuh, malas-malasan, dan lain-lain. Bismillahirrohmanirohiim semoga kita termasuk orang yang pantas menghuni surga, amiin.

    Perlu diketahui bagi semua murid (Salik=Orang yang berkehendak dengan niat dan tekad kuat hijrah kepada Tuhan dan utusanNya) bahwa Jannatul Na’im tidak dapat terwujud jika tanpa ikhtiar. Dalam pengaosan, beliau menjelaskan bahwa Jannatul Na’im bukan untuk ditunggu terwujud, tapi diikhtiari. Tidak hanya diam tapi segera bergetar hatinya kemudian nindhaake Dhawuh Guru dengan sungguh-sungguh dalam kehidupan sehari-hari. 

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.”

   “Wajilat qulubuhum” yang berarti bergetar hati mereka, maknanya adalah respon, respek, dan tanggap seorang murid yang beriman dengan sebenar-benarnya beriman dalam menjalankan dhawuh Gurunya. Ketika Guru dhawuh seperti itu segera murid tersebut melakukan seperti itu juga, itulah bergetar hatinya karena mendengar suara adzan (panggilan untuk mendekat). Bergetar hatinya karena sadar bahwa fiddunya adalah wal amru yauma’idin lillaahi (beraktivitas di dunia karena sadar dibawah perintah utusan-Nya di muka bumi).

     Selalu interopeksi diri dan memarahi diri sendiri adalah modal seseorang untuk menjadi penghuni surga dunia dan akherat kelak. Interopeksi diri sendiri juga tidak berarti semata-mata hanya melihat kotoran dalam hatinya saja, interopeksi diri tidak akan berarti apa-apa jika kita tidak berikhtiar untuk memperbaiki diri kita demi subhaanaka (memahasucikan hakekat fitrah jati dirinya sendiri).

     Saat ini saatnya kita semua memperbaiki pola pikir kita. Kita ganti pola pikir patrialis dan primitif menjadi pola pikir yang modern. Pola pikir yang patrialis adalah pola pikir yang dangkal, merasa cukup, ‘saya begini saja sudah cukup’, tidak mau maju, dan cuek terhadap perkembangan zaman. Ubah kebiasaan lama yang buruk dan diganti dengan yang baik. Dimulai dari hal-hal yang kecil dan sepele, contohnya memungut sendok yang berserakan, memungut sampah yang tidak pada tempatnya, membuang sampah pada tempatnya, mengerjakan tugas sekolah atau kuliah tepat waktu, tidak menggosip, menjaga aurat masing-masing, dan bergaul dengan lawan jenis sesuai porsi yang telah tertata dalam fiqih.

    Mari kita hayati kembali tentang syahadatain. Syahadat adalah persaksian langsung melalui pintu hati yang bening. Oleh karenanya syahadat dari perspektif makrifat bukanlah sekedar syahadat lisan yang diucpkan menggunakan bahasa arab saja, akan tetapi suatu kesadaran dari apa yang disaksikan oleh hati terhadap realitas tertinggi yang terjadi dalam dirinya.

     Syahadat yang pertama adalah perngakuan bahwa manusia itu sejiwa dengan Gusti Dzat Maulana, Tuhan Yang Maha Rohmaan Rohiim. Yang kedua, diri manusia yang sudah dapat merasakan keberadaan Dzat Gusti Maulana merupakan perwujudan dari Nur Muhammad. Syahadat yang kedua merupakan konsekuensi logis dari syahadat yang pertama. Wajar jika yang pertama disebut sebagai “syahadat Tauhid”, yakni tauhid Al-Wujud, kemanunggalan. Lalu yang kedua sebagai efek langsung di dunia fisik adalah “syahadat rasul” persaksian dan kesaksian manusia terhadap diturunkannya Nur Muhammad yang juga sebagai khalifah, wujud pangejawantahan Allah di Bumi.

    Pemahaman syahadat kemanunggalan yang demikian kemudian mendatangkan implikasi bagi terwujudnya teori aplikatif. Mewujudnyatakan dhawuh-dhawuh Guru sebagai ibadah. Supaya benar ‘mukhlisnya’ (Bersandar, totalitas patuh, taat, dan tunduk kepada utusan-Nya) sebagai saalik atau murid (yang membutuhkan Allah, bukan sebaliknya) harus menyelami dhawuh-dhawuh Guru Wasithah pada tingkat praktek atau aplikatif.

     Sebagai manusia yang faqir dan membutuhkan pertolongan Allah SWT, tentunya kita benar-benar membutuhkan lakon dan pitukon sebagai pancatan kita mendekatkan diri kepada Allah. Nafsu yang yang wujudnya adalah jasad ini harus dapat ditaklukkan, dijinakkan, dan dijadikan kendaraan menjadi nafsu muthmainnah yang justru mendukung terlaksananya ibadah syare’at dan hakekat.

    Jannatul Na’im yang sesuai dengan gambaran bapak pimpinan adalah dunia yang isinya justru manusia-manusia yang tunduk dan patuh terhadap iradah-Nya Tuhan yang disampaikan melalui utusan-Nya (karena Tuhan tidak ngejawantah langsung di muka bumi maka Allah mengutus wakil untuk mewakili DiriNya menyebar ilmu tauhid, ilmu tentang mengada-Nya DiriNya Yang Al-Ghaib, tiket menuju keselamatan yang abadi-abadan).

      Bagi siapapun yang tidak dapat mengaplikasikan pemahaman sebuah dhawuh atau hanya dalam tahap teori di dalam otak, hanya akan menjadi belenggu bagi dirinya sendiri. Karena nafsu itu sangat lembut datangnya bahkan tidak terasa, bisa jadi paham teori tentang agama yang tinggi dapat menjadikan subur ego dan watak aku pada diri pelaku. Oleh karena itu sesuatu yang batin yang juga bukan tentang Allah harus dilahirkan. Karena hal itu dapat menjadi hijab atau gelincir bagi seseorang. Kebersandaran kepada Rasul atau Guru harus praktek langsung, tidak bisa di angan-angan saja. Jika di angan-angan lakunya di dunia akan bathil.

      “Meskipun kalian mengetahui dan secara teoritis tahu caranya melakukan, tentu kalian akan salah mengamalkannya. Sebab kalian masih tenggelam dalam kesesatan. Melihat barang berupa permata emas yang berkilauan, harta kekayaan serta makanan yang beraneka warna, kalian menjadi terpikat. Jelas bahwa perilaku kalian itu salah. Sudah banyak ilmu yang kalian tuntut, bahkan kadang-kadang kalian bermimpi dalam alam ilmu. Tetapi dasarnya kalian santri gundul yang memburu hasil akal yang busuk, maka kalian senang kalau ada yang sedekah”.
        Demikian pernyataan Syekh Siti Jenar tentang bagaimana umumnya orang terhalang dengan akalnya sendiri yang terlalu mengapresiasi hasil dari pemikiran-pemikirannya sendiri yang dianggap sebagai kitab suci lalu dilakukannya dengan wajah menengadah ke atas (congkak).

        Biar bagaimanapun Jannatul Na’im harus diwujudkan. Oleh karena itu mari kita semua berusaha semaksimal mungkin demi tercapainya cita-cita Guru kita bersama. Kita awali dengan dengan yang sederhana, menghilangkan ego, malas, menyindir, menjatuhkan, saling mencela, dan jangan memanggil nama saudara kita dengan nama julukan. Karena setiap nama memiliki arti, makna, dan maksud yang mulia Itulah ‘hijrah’(menggeser perilaku lalim dan dholim kepada keselamatan.  Sangat membutuhkan niat yang lurus dan tekad kuat semata-mata demi Tuhannya dan utusan-Nya) yang sebenarnya.

        Karena Jannatul Na’im adalah cita-cita Guru kita, maka kita juga turut merasa memiliki cita-cita mulia Guru kita. Kita harus semangat menghapus kebiasaan lama yang buruk. Kita bangun pola pikir kita melalui tafakkur, sharing terhadap sesama, membaca buku atau ayat-ayat Tuhan, membaca surat kabar, memperbanyak wawasan, menulis data, dan lain-lain. Selain menyuburkan apa yang berada dalam batin, kita juga harus memakmurkan otak kita. Menyambungkan antara dada dan otak (pikiran) supaya tunduk dan mau patuh dijadikan kendaraan menuju Allah SWT.

       Sebagai pikukuh, saat ini bapak pimpinan sudah mulai mengisi tausyiah-tausyiah atau pengaosan di beberapa instansi ke-pemerintahan. Pada tanggal 21 Mei 2015 lalu, beliau mengisi tausyiah di Polres Nganjuk untuk membuka makna hakekat Isra’ Mi’raj. Sekarang media televisi pun sudah mulai meliput kegiatan pengaosan beliau melalui stasiun tv BBS TV Kediri. Para jamaah dapat mengakses pengaosan secara via televisi di channel BBS TV wilayah Kediri. Itulah sedikit pikukuh dari sekian banyak pikukuh yang sekarang mulai ditampakkan oleh Allah SWT bahwa zaman sudah sangat methit, sudah saatnya kita memperkuat iman dalam diri kita hingga tahap aplikasi.

  “Sekedar mengutip dhawuh bapak Pimpinan Kyai Mohammad Dzoharul Arifin Al-Faqiri Munawwar Abdullah Afandi, Mari kita saling bebarengan, tilik-tinilikan, puji-pinuji, gotong-royong, saling membantu demi ndukung, nyengkuyung, bela cita-cita mulyaNe Guru. Mugi kita tansah pikanthuk berberan, berkah, sawab, pangestu Guru Wasithah, Amiin.” (Red : Muhammad Arif Asy-Syathori).


Share this:

CONVERSATION

2 komentar: