| Menulis adalah integrasi dari membaca |
“Sekarang Ganti Sugestinya lagi!”
Semakin aneh saja, sekarang banyak orang takut menjadi pintar.
Banyak alasan logisnya yang menyangkut ranah religi. “Mending saya bodoh
saja, daripada pintar tapi mengaku. Banyak orang pintar tapi justru
kepribadiannya tidak ada butiran iman.” Slogan ini lah yang sedang tren saat
ini hingga banyak orang khawatir akan itu.
Sepertinya sugesti yang ada di dekade ini berbeda jika dibanding
dekade-dekade lalu. Jika dulu sugesti yang terpatri dalam kehidupan masyarakat
adalah “sekolah harus pintar biar ndak kayak orangtuanya. Bernapas
susah, apalagi makan tiga kali.” Sugesti ini lah yang membuat negara ini
berkembang selama kurang lebih 70 tahun. Sugesti ini pula yang banyak
melahirkan koruptor-koruptor negeri ini.
Tidak sedikit masyarakat menyesali sugesti tersebut. Orang-orang
pintar di Senayan malah memainkan orang tidak begitu pintar yang di
desa. Akhirnya sugesti “lebih baik tidak pintar daripada pintar tapi membodohi
orang lain” menjadi tren dewasa ini. Adakalanya sugesti ini benar, tapi apakah
kita meyakininya secara mentah-mentah? Jangan sampai kita digoblokkan oleh
sebuah sugesti. Teruslah waspada, itu kuncinya.
Dalam opini ini, saya ingin memunculkan sugesti baru. “Pintar dan
bodoh sama-sama ada cobaannya. Tidak ada kata bodoh lebih mudah dapat surga
daripada pintar dan sebaliknya. Lebih baik hidup dengan cara yang pintar toh
niatnya adalah untuk mati selamat dan demi kemaslahatan.” Kata pintar saya
definisikan banyak wawasan. Jika cerdas? Saya punya definisi lain menurut
referensi Guru saya, tapi saya tidak akan membahasnya.
Metodologi mendapat wawasan memang bermacam-macam. Salah satunya
adalah dengan membaca buku. Metodologi inilah yang paling saya suka dan menurut
saya lebih akurat daripada yang lain. Mengapa? Karena buku adalah cara penulis
menyampaikan informasi, metode, masalah, solusi, tutorial, opini, pengalaman
yang bertanggungjawab. Langkah selanjutnya tinggal berdiskusi supaya tidak hanya
menjadi intuisi belaka.
Setiap buku pasti menyediakan bagian kata pengantar. Di bagian
inilah dijelaskan kemana buku ini akan berbicara? Data apa saja yang akan tertuang
di dalam buku tersebut? Apa tujuan penulis menulis buku tersebut? Sehingga
siapapun bisa memetakan informasi yang terkandung di dalamnya. Itulah sebab
mengapa buku lebih bertanggungjawab dalam menyampaikan informasi,metodologi,
solusi, data, dan lain-lain. Buku juga
akan tuntas dalam membebeberkan informasinya. Masalah berguna atau tidak
tergantung pada pembacanya.
Meskipun begitu saya tidak mengesampingkan metode untuk memperoleh
semuanya selain dengan membaca buku. Menyimak usulan orang lain, pengalaman
orang lain, saran orang lain, dan teori-teori orang lain juga memiliki andil
besar dalam kemajuan setiap individu. Sering terjadi orang pintar justru merasa
lebih banyak wawasannya sehingga tidak menghiraukan orang lain yang berbicara.
Berarti orang-orang demikian adalah sedang mengalami yang namanya sedang
goblok.
Mengapa sedang goblok? Karena seharusnya dengan membaca
buku, kita dapat sadar bahwa ternyata kita masih bodoh. “Wah ternyata saya
masih bodoh. Saya kira saya sudah pintar tapi ternyata masih banyak yang lebih
pintar daripada saya. Begini saja saya tidak tahu.” Itulah mengapa membaca
sesungguhnya membuat semakin bodoh. Semakin banyak membaca, semakin ia bodoh
karena semakin sering pula ia menyadari bahwa dirinya masih lebih bodoh
daripada orang lain. Jika demikian, maka membaca, menulis, dan belajar menjadi
sebuah kebutuhan bagi setiap individu. Menyelami hikmahnya akan lebih bijak
daripada hanya melihat kulit hingga berbuah “ke-prasangkaan”.
Jangan khawatir jika kita akan pintar dengan banyak membaca buku. Banyaknya
wawasan tidak mempengaruhi keselamatan kita. Yang mempengaruhi adalah watak dan
perilaku kita. Tidak ada ayat orang yang berwawasan sempit lebih mudah masuk
surga. Selama kita menyelami kedalaman makna syukur, kita akan merasa butuh
dengan belajar, membaca, dan menulis.
Tunggu apalagi? Buktikan praduga kita jika ‘pintar’ justru
menyesatkan kita. Saya adalah orang yang menentang akan hal itu. Opini saya ini
adalah untuk semua manusia yang menduga bahwa orang sesat karena ‘pintar’.
Sekali lagi, semakin banyak membaca berarti semakin kita tahu kebodohan kita.
Tunggu apalagi? Buktikan! Artikel-artikel menggugah lainnya klik disini! dan kunjungi tulisan saya yang lainnya disini!

Setuju,, tambah malu tambah bodoh. Gak akan pernah pintar kalo gak gitu
BalasHapusThankyou bro...
BalasHapusTerimakasih......................
BalasHapussama-sama pak
BalasHapusTerimakasih mas.....
BalasHapus