image1 image2 image3

HELLO I'M MUHAMMAD ARIF|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|WRITING 'N LEARNING IS MY PASSION|I'M PROFESSIONAL WRITER

Mengapa Matahari Terbit dan Terbenam di Kota Lebih Indah?

         
https://www.flickr.com/photos/eyzhamshahfiq/8269952094
 
          Beberapa waktu lalu saya ditanya oleh adik saya, “mas kenapa matahari terbit dan terbenam lebih bagus dilihat dari perkotaan dari pada di pedesaan?” Saat itu saya jadi teringat dengan buku hadiah ulangtahunku dari bapak saya saat usia saya masih 10 tahun. Terdapat penjelasan berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kejadian alam. Bukunya berjudul Einstein Aja Ingin Tahu Jilid Satu yang ditulis oleh Kathy Wollard.
Dilihat dari luar angkasa, seperti yang ditunjukkan foto yang diambil astronot, Bulan kita adalah bola putih keabuan, dinyalakan dengan terang oleh Matahari, dan di langit sehitam tinta di luar angkasa, Matahari itu sendiri tampak berkilau hampir putih.
Namun apabila kita melihat bulan dari bumi,, warnanya tergantung pada di mana letak bulan di langit. Ketika bulan pertama-tama mengintip di atas garis cakrawala, mungkin ia tampak oranye terang. Lambat laun, saat Bumi berputar dan bulan bergerak lebih tinggi di langit, warnanya berangsur-angsur memudar. Oranye berubah menjadi kuning, kemudian memucat menjadi putih kekuningan, sampai akhirnya, ketika berada tepat diatas kepala, Bulan lebih mendekati warna aslinya yang putih keabuan.
Tipuan yang sama terjadi dengan Matahari. Di tengah hari, Matahari biasanya tampak putih kekuningan. Tetapi saat terbit dan terbenam, ia bisa tampak merah, oranye, atau merah jambu. Bagaimana bisa?
Bulan dan Matahari kita sebenarnya tidak berubah warna setiap jam di luar angkasa sana. Warnanya hanya tampak berubah ketika kamu melihat salah satu dari mereka menembus atmosfer Bumi. Melihat Bulan dan Matahari menembus udara mirip melihat menembus cadar. Cahaya, yang harus melewati udara sebelum tiba di mata kita, diubah dalam perjalanannya.
Nitrogen, oksigen, dan gas-gas lain menjadi bagian dari udara kita, ditambah partikel-pertikel kecil debu, asap, dan polutan yang selalu mengambang, memerahkan cahaya yang di mata kita.
Bagaimana cara kerjanya? Cahaya yang dihasilkan di dalam Matahari itu putih. Dan cahaya Bulan, tentu saja hanyalah sinar matahari yang dipantulkan. Tetapi di dalam cahaya putih terkandung banyak warna-spektrum (semua warna pelangi).
Jadi sinar matahari penuh dengan warna yang tidak terlihat saat melesat menembus ruang angkasa dengan kecepatan 300.000 Km per detik. Ketika memasuki atmosfer Bumi, sebagian cahayanya meluncur lancar, tiba di tanah tanpa bertemu dengan molekul udara satu pun-dan tetap putih.
Tetapi karena udara Bumi terdiri dari molekul-molekul gas, sebagian dari cahaya bertabrakan dengan molekul-molekul ini dalam perjalanannya ke bawah. Dan ketika itu terjadi, cahaya terurai.
Cahaya yang biru yang terutama terurai dari berkas sinar putih. Jadi pada saat sinar matahari mencapai mata kita, warna yang tersisa di sinar itu adalah warna-warna hangat. Ini membuat Matahari tampak lebih kuning bagi kita daripada sebenarnya.
Matahari tampak paling mendekati warna aslinya ketika berada tepat di atas kepala. Saat itu, cahayanya hanya perlu melewati udara diatas kepala kita—udara yang menjadi semakin tipis akan semakin tinggi. Jadi sebagian besar cahaya sinar matahari mencapai mata kita tanpa terhalang.
Tetapi ketika Matahari dekat garis cakrawala, warnanya berubah dramatis. Saat itu, cahayanya harus melewati selimut tebal udara dekat tanah yang memanjang dari kita ke garis cakrawala. Bertemu lebih banyak molekul udara daripada biasanya, selain juga lebih banyak debu dan polutan, membuat lebih banyak lagi ujung biru dari spektrum dihamburkan dari berkas cahaya. Pada saat tiba di mata kita, yang tersisa terutama adalah warna oranye dan merah dalam sinar. Jadi kita melihat Matahari sebagai bola api oranye saat terbit dan terbenam.
Hal yang sama terjadi dengan bulan. Ini menjelaskan mengapa kita dapat keluar menjelang malam, ketika Bulan dengan garis cakrawala, dan mengagumi warna oranye cerah Bulan baru terbit. Kemudian, saat malam makin larut dan Bulan bergerak tinggi di langit, warnanya memucat menjadi putih. Kita melihat banyak dari spektrum sinar bulan —dan itu membuatnya putih.

Semakin tercemarnya udara, semakin spektakuler warna terbit dan terbenamnya Bulan dan Matahari. Itulah mengapa Matahari terbit dan tenggelam di kota lebih indah daripada di desa. Kunjungi juga http://ajisaka.pomosda.co.id/ !!!

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar