Beberapa waktu lalu saya ditanya oleh
adik saya, “mas kenapa matahari terbit dan terbenam lebih bagus dilihat dari
perkotaan dari pada di pedesaan?” Saat itu saya jadi teringat dengan buku hadiah ulangtahunku dari bapak saya saat usia saya masih 10 tahun. Terdapat penjelasan berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kejadian alam. Bukunya berjudul Einstein Aja Ingin Tahu Jilid Satu yang ditulis oleh Kathy Wollard.
Dilihat dari luar angkasa, seperti
yang ditunjukkan foto yang diambil astronot, Bulan kita adalah bola putih
keabuan, dinyalakan dengan terang oleh Matahari, dan di langit sehitam tinta di
luar angkasa, Matahari itu sendiri tampak berkilau hampir putih.
Namun apabila kita melihat bulan dari
bumi,, warnanya tergantung pada di mana letak bulan di langit. Ketika bulan
pertama-tama mengintip di atas garis cakrawala, mungkin ia tampak oranye
terang. Lambat laun, saat Bumi berputar dan bulan bergerak lebih tinggi di
langit, warnanya berangsur-angsur memudar. Oranye berubah menjadi kuning,
kemudian memucat menjadi putih kekuningan, sampai akhirnya, ketika berada tepat
diatas kepala, Bulan lebih mendekati warna aslinya yang putih keabuan.
Tipuan yang sama terjadi dengan
Matahari. Di tengah hari, Matahari biasanya tampak putih kekuningan. Tetapi saat
terbit dan terbenam, ia bisa tampak merah, oranye, atau merah jambu. Bagaimana
bisa?
Bulan dan Matahari kita sebenarnya
tidak berubah warna setiap jam di luar angkasa sana. Warnanya hanya tampak
berubah ketika kamu melihat salah satu dari mereka menembus atmosfer Bumi.
Melihat Bulan dan Matahari menembus udara mirip melihat menembus cadar. Cahaya,
yang harus melewati udara sebelum tiba di mata kita, diubah dalam
perjalanannya.
Nitrogen, oksigen, dan gas-gas lain
menjadi bagian dari udara kita, ditambah partikel-pertikel kecil debu, asap,
dan polutan yang selalu mengambang, memerahkan cahaya yang di mata kita.
Bagaimana cara kerjanya? Cahaya yang
dihasilkan di dalam Matahari itu putih. Dan cahaya Bulan, tentu saja hanyalah
sinar matahari yang dipantulkan. Tetapi di dalam cahaya putih terkandung banyak
warna-spektrum (semua warna pelangi).
Jadi sinar matahari penuh dengan
warna yang tidak terlihat saat melesat menembus ruang angkasa dengan kecepatan
300.000 Km per detik. Ketika memasuki atmosfer Bumi, sebagian cahayanya
meluncur lancar, tiba di tanah tanpa bertemu dengan molekul udara satu pun-dan
tetap putih.
Tetapi karena udara Bumi terdiri dari
molekul-molekul gas, sebagian dari cahaya bertabrakan dengan molekul-molekul
ini dalam perjalanannya ke bawah. Dan ketika itu terjadi, cahaya terurai.
Cahaya yang biru yang terutama terurai
dari berkas sinar putih. Jadi pada saat sinar matahari mencapai mata kita,
warna yang tersisa di sinar itu adalah warna-warna hangat. Ini membuat Matahari
tampak lebih kuning bagi kita daripada sebenarnya.
Matahari tampak paling mendekati
warna aslinya ketika berada tepat di atas kepala. Saat itu, cahayanya hanya
perlu melewati udara diatas kepala kita—udara yang menjadi semakin tipis akan
semakin tinggi. Jadi sebagian besar cahaya sinar matahari mencapai mata kita
tanpa terhalang.
Tetapi ketika Matahari dekat garis
cakrawala, warnanya berubah dramatis. Saat itu, cahayanya harus melewati
selimut tebal udara dekat tanah yang memanjang dari kita ke garis cakrawala.
Bertemu lebih banyak molekul udara daripada biasanya, selain juga lebih banyak
debu dan polutan, membuat lebih banyak lagi ujung biru dari spektrum
dihamburkan dari berkas cahaya. Pada saat tiba di mata kita, yang tersisa
terutama adalah warna oranye dan merah dalam sinar. Jadi kita melihat Matahari
sebagai bola api oranye saat terbit dan terbenam.
Hal yang sama terjadi dengan bulan.
Ini menjelaskan mengapa kita dapat keluar menjelang malam, ketika Bulan dengan
garis cakrawala, dan mengagumi warna oranye cerah Bulan baru terbit. Kemudian,
saat malam makin larut dan Bulan bergerak tinggi di langit, warnanya memucat
menjadi putih. Kita melihat banyak dari spektrum sinar bulan —dan itu membuatnya
putih.
Semakin tercemarnya udara, semakin spektakuler warna terbit dan terbenamnya Bulan dan Matahari. Itulah mengapa
Matahari terbit dan tenggelam di kota lebih indah daripada di desa. Kunjungi
juga http://ajisaka.pomosda.co.id/ !!!


0 komentar:
Posting Komentar