image1 image2 image3

HELLO I'M MUHAMMAD ARIF|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|WRITING 'N LEARNING IS MY PASSION|I'M PROFESSIONAL WRITER

Manusia Beruntung, Siapa?

Sowan Guru

        Masih bertanya-tanya untuk apa kita hidup di dunia? Untuk apa manusia diciptakan? Pertanyaan-pertanyaan ini kadangkala terbersit di pikiran bukan? Atau rekan pernah menanyakan pertanyaan tersebut kepada guru, ayah, ibu, atau teman-teman rekan? Pertanyaan ini muncul biasanya  saat kita berada pada titik jenuh menghadapi sebuah kehidupan atau setelah membaca buku yang berkaitan dengan penciptaan manusia.

               Al-Qur'an menyatakan bahwa terdapat manusia beruntung dan dalam kerugian. Apakah kata beruntung disini adalah teruntuk orang-orang kaya, terlahir di kalangan terhormat, atau orang-orang yang memiliki kesempurnaan fisik? Jawabannya bukan sama sekali. 'Allah adalah Maha Adil', tidak mungkin Allah memberi ketidakadilan kepada hambaNya bukan? Jika kata beruntung adalah milik orang-orang yang demikian, bukankah Allah tidak adil? apakah ayat Al-Qur'an mengintervensi sebagian orang? Jelas tidak!

Rekanku sekalian,

             Manusia dilahirkan dari sebuah cairan hina 'min nutfatin'. Betapa ringkihnya manusia di dunia. Manusia memiliki kewajiban untuk mensucikan kembali asal fitrah kemanusiaannya supaya dapat kembali kepada 'asal mulane mula niro ono'. Manusia kemudian dididik, ditempa, supaya dapat mengembalikan asal muasal dirinya diciptakan. 

                 Dunia adalah gelap-menggelapkan, terlebih lagi keadaan sekarang. Di dunia manusia diuji. Semua kehidupan adalah ujian yang harus dialami setiap insan di dunia. Menjalani kehidupan dengan pengarahan sang Empu-Nya Nama Allah SWT melalui Rasul-Nya yang membawa Al-Kitab, An-Nubuwah, dan Al-Hikmah. Manusia beruntung adalah bagi mereka yang dapat menemukan 'siratal mustaqiima' dan dapat berjalan diatasnya hingga sampai. 

                 Contoh sederhana : Keberuntungan adalah bagi umat Nabi Muhammad SAW yang percaya kepadanya di zaman ketika Nabi masih hidup. Kenapa beruntung? Bayangkan diri rekan! Apakah rekan tergolong orang-orang yang percaya dengan Nabi jika hidup di zamannya? Padahal Nabi Muhammad tidak dapat membaca dan menulis. Apakah rekan langsung percaya dengan Nabi sementara Nabi terlihat seperti mengaku bahwa dirinyalah utusan Allah? Saya kurang yakin akan hal itu. Saya tutup  "Wa'lamuu anna fiikum Rosuulan" yang berarti "Ketahuilah bahwa selalu ada seorang Rasul (penunjuk Al-Ilmu mengenai Dzat Allah) di tengah-tengahmu (mu-bagi setiap manusia di setiap zamannya masing-masing)." Sudahkah kita termasuk orang-orang yang beruntung?

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar