| Membuka perspektif keberagamaan |
“Islam adalah kemurnian Addin, bukan budaya, kebiasaan, status, komunitas, dan golongan. Islam adalah murni Addin, Addin milik Allah Yang Maha Ahadiyat.”.
Assalamualaikum,
Tidak bisa
dipungkiri bahwa agama menjadi salah satu yang sangat fundamental di Negara
ini. Dalam dasar negara pun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa telah
tertuang. Setiap manusia penghuni negara ini harus memiliki kepercayaan
terhadap Tuhan. Tidak boleh dua tapi harus satu, karena dipahami bahwa Tuhan
adalah satu. Pemahaman selama ini ‘Tuhan Yang Maha Satu’, kata satu di
sini dimaknai jumlah atau angka setelah angka ‘nol’ dan sebelum angka ‘dua’.
Mestinya ini menjadi tanda tanya besar, kenapa ? Karena banyak ulama mengungkap
bahwa Tuhan ada dimana-mana, Tuham ada pada setiap diri manusia, Tuhan lebih
dekat daripada urat nadi leher, dan lain-lain. Kalu kita jeli ungkapan itu kan
justru membingungkan kita. Katanya Tuhan itu satu tapi kok di setiap manusia
ada Tuhan ?? Berarti .... Nah pasti akan terbersit pikiran radikalis seperti
itu bukan ?
| Dengan relax beliau menyampaikan tentang sejatinya beragama |
KH. Moh. Dzoharul Arifin Al-faqiri Munawwar Abdullah Afandi menyampaikan Allah bersifat wujud ahadiyat. Ahadiyat bukan berarti jumlah, akan tetapi menunjukkan keberwujudan Tuhan. Ahadiyat merupakan sifat Allah yang mutlak dan tidak bisa dimaknai dengan angka ‘satu’. Makna ahadiyat sangat luas sekali, tidak sesederhana angka atau jumlah ‘satu’ saja. Ketuhanan Yang Maha Esa, maksud ‘esa’ bukan kita harus memercayai satu Tuhan atau kita tidak boleh memercayai dua Tuhan sekaligus saja, maksudnya kita harus dapat mengaplikasikan kebersaksian kita terhadap ahadiyat Allah dalam berperilaku sehari-hari.
Itu sekilas
terkait ke-Esaan Tuhan. Negara kita adalah negara pemeluk agama Islam terbesar
di dunia, akan tetapi apakah negara kita sudah baik dan sudah Islam ? Negara
kita itu lucu sekali, membusungkan dada dengan bangga sembari bicara ke
khalayak bahwa Indonesia adalah negara Islam sedunia, akan tetapi korupsi,
pencurian, pemerkosaan, teror, fitnah, gosip, dan lain-lain ada dimana-mana.
Tidak hanya itu, kemiskinan merajalela, yang kaya memamerkan kekayaan yang
miskin terlantar dan teraniaya. Islam yang bagaimana negara kita ??
Pemaknaan
agama sudah menyeleweng dari makna yang Haq. Agama bukanlah kelompok atau
golongan tertentu. Agama juga bukanlah kelompok pendukung Muhammad, Isa, Musa,
Ibrahim, dan lain-lain. Agama adalah berasal dari kata ‘a-geman’ yang berarti
pakaian. Jika kita mengaku islam hanya cukup mengucapkan syahadat kemudian
mendapat jaminan surga di akherat kelak, sangatlah sepele. Agama Islam adalah
tentang persaksian kepada Allah dan utusan-Nya dengan sebenar-benarnya
bersaksi, bukan hanya melisankan saja.
Kesadaran
persaksian akan mengintegrasi sebuah sikap dan perilaku Islam Kaaffah ( disebut
dengan istilah ‘amanah’). Jangan dipikir kalau Islam itu tentang shalat, puasa,
zakat, haji saja. Jika masih berpikir seperti itu, berarti rekan masih memahami
Islam merupakan budaya nenek moyang.
Dalam sebuah
ayat disebutkan Innaddiina ‘indallahi al-Islam yang artinya “sesungguhnya
agama (totalitas amal perbuatannya di-orientasikan untuk Allah dan utusan-Nya
bukan berarti sebuah organisasi atau komunitas tertentu) milik Allah adalah ‘keselamatan’.
Addiin bukanlah ‘agama’. Addiin adalah kemurnian hati dalam berperilaku yang
selamat. Berbicaranya selamat, mendengarnya selamat, komunikasinya selamat,
tidurnya selamat, semua yang dilakukan serba selamat-menyelamatkan.
| Membangun bebarengan dan kebersamaan |
Kesalahan
fatal saat ini, agama dimaknai sebuah budaya dan kebiasaan semata. Orangtuanya
islam, maka anak pun mengaku islam. Apa bedanya dengan sebuah budaya ? Padahal
Islam tidak serendah itu. Jika pemahaman ini terus menjalar dan mengakar maka
selamanya Islam dimaknai sebuah aliran, golongan, dan komunitas belaka.
Nyatanya Indonesia menjadi tidak pernah berkembang karena masih tabu dengan
perbedaan. Berbeda syare’at sudah adu mulut, berbeda paham sudah mengatakan bit’ah,
berbeda cara shalat sudah membakar sana-sini. Padahal jelas dalam ayat-Nya ‘Haadza
ummatukum ummatu wakhidah’. Manusia berasal dari Yang Maha Satu dan akan
kembali kepada-Nya. Maka berdunianya juga harus menyatu dengan
saudara-saudaranya.
Percayalah
Indonesia selamanya akan tetap mengalami kemunduran jika pemahaman ini tidak
segera digeser. Negara kita masih sangat berpecah-belah, tabu dengan perbedaan,
asing dengan perubahan, takut dengan tantangan, dan banyak bacot saja.
Rasanya malu menjadi umat islam di Indonesia. Bangga menunjukkan kepada semua
bahwa negara Indonesia adalah negara yang paling layak masuk surga karena
banyak ulama-ulama dari Indonesia dan dikenal sebagai negara Islam terbesar di
dunia. Ironisnya justru teror, korupsi, bombardir, pembunuhan, ekonomi
berbelit-belit, bangkrut, dan demostrasi brutal yang menonjol di negara
Indonesia yang mayoritas Islam ini

0 komentar:
Posting Komentar