image1 image2 image3

HELLO I'M MUHAMMAD ARIF|WELCOME TO MY PERSONAL BLOG|WRITING 'N LEARNING IS MY PASSION|I'M PROFESSIONAL WRITER

Deviasi Perspektif Addiin sebagai Agama untuk Beragama

Membuka perspektif keberagamaan

“Islam adalah kemurnian Addin, bukan budaya, kebiasaan, status, komunitas, dan golongan. Islam adalah murni Addin, Addin milik Allah Yang Maha Ahadiyat.”.

Assalamualaikum,

            Tidak bisa dipungkiri bahwa agama menjadi salah satu yang sangat fundamental di Negara ini. Dalam dasar negara pun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa telah tertuang. Setiap manusia penghuni negara ini harus memiliki kepercayaan terhadap Tuhan. Tidak boleh dua tapi harus satu, karena dipahami bahwa Tuhan adalah satu. Pemahaman selama ini ‘Tuhan Yang Maha Satu’, kata satu di sini dimaknai jumlah atau angka setelah angka ‘nol’ dan sebelum angka ‘dua’. Mestinya ini menjadi tanda tanya besar, kenapa ? Karena banyak ulama mengungkap bahwa Tuhan ada dimana-mana, Tuham ada pada setiap diri manusia, Tuhan lebih dekat daripada urat nadi leher, dan lain-lain. Kalu kita jeli ungkapan itu kan justru membingungkan kita. Katanya Tuhan itu satu tapi kok di setiap manusia ada Tuhan ?? Berarti .... Nah pasti akan terbersit pikiran radikalis seperti itu bukan ?
           
Dengan relax beliau menyampaikan
tentang sejatinya beragama
 

          KH. Moh. Dzoharul Arifin Al-faqiri Munawwar Abdullah Afandi menyampaikan Allah bersifat wujud ahadiyat. Ahadiyat bukan berarti jumlah, akan tetapi menunjukkan keberwujudan Tuhan. Ahadiyat merupakan sifat Allah yang mutlak dan tidak bisa dimaknai dengan angka ‘satu’. Makna ahadiyat sangat luas sekali, tidak sesederhana angka atau jumlah ‘satu’ saja. Ketuhanan Yang Maha Esa, maksud ‘esa’ bukan kita harus memercayai satu Tuhan atau kita tidak boleh memercayai dua Tuhan sekaligus saja, maksudnya kita harus dapat mengaplikasikan kebersaksian kita terhadap ahadiyat Allah dalam berperilaku sehari-hari.

            Itu sekilas terkait ke-Esaan Tuhan. Negara kita adalah negara pemeluk agama Islam terbesar di dunia, akan tetapi apakah negara kita sudah baik dan sudah Islam ? Negara kita itu lucu sekali, membusungkan dada dengan bangga sembari bicara ke khalayak bahwa Indonesia adalah negara Islam sedunia, akan tetapi korupsi, pencurian, pemerkosaan, teror, fitnah, gosip, dan lain-lain ada dimana-mana. Tidak hanya itu, kemiskinan merajalela, yang kaya memamerkan kekayaan yang miskin terlantar dan teraniaya. Islam yang bagaimana negara kita ??

            Pemaknaan agama sudah menyeleweng dari makna yang Haq. Agama bukanlah kelompok atau golongan tertentu. Agama juga bukanlah kelompok pendukung Muhammad, Isa, Musa, Ibrahim, dan lain-lain. Agama adalah berasal dari kata ‘a-geman’ yang berarti pakaian. Jika kita mengaku islam hanya cukup mengucapkan syahadat kemudian mendapat jaminan surga di akherat kelak, sangatlah sepele. Agama Islam adalah tentang persaksian kepada Allah dan utusan-Nya dengan sebenar-benarnya bersaksi, bukan hanya melisankan saja.

            Kesadaran persaksian akan mengintegrasi sebuah sikap dan perilaku Islam Kaaffah ( disebut dengan istilah ‘amanah’). Jangan dipikir kalau Islam itu tentang shalat, puasa, zakat, haji saja. Jika masih berpikir seperti itu, berarti rekan masih memahami Islam merupakan budaya nenek moyang.

            Dalam sebuah ayat disebutkan Innaddiina ‘indallahi al-Islam yang artinya “sesungguhnya agama (totalitas amal perbuatannya di-orientasikan untuk Allah dan utusan-Nya bukan berarti sebuah organisasi atau komunitas tertentu) milik Allah adalah ‘keselamatan’. Addiin bukanlah ‘agama’. Addiin adalah kemurnian hati dalam berperilaku yang selamat. Berbicaranya selamat, mendengarnya selamat, komunikasinya selamat, tidurnya selamat, semua yang dilakukan serba selamat-menyelamatkan.

Membangun bebarengan dan kebersamaan
            Kesalahan fatal saat ini, agama dimaknai sebuah budaya dan kebiasaan semata. Orangtuanya islam, maka anak pun mengaku islam. Apa bedanya dengan sebuah budaya ? Padahal Islam tidak serendah itu. Jika pemahaman ini terus menjalar dan mengakar maka selamanya Islam dimaknai sebuah aliran, golongan, dan komunitas belaka. Nyatanya Indonesia menjadi tidak pernah berkembang karena masih tabu dengan perbedaan. Berbeda syare’at sudah adu mulut, berbeda paham sudah mengatakan bit’ah, berbeda cara shalat sudah membakar sana-sini. Padahal jelas dalam ayat-Nya ‘Haadza ummatukum ummatu wakhidah’. Manusia berasal dari Yang Maha Satu dan akan kembali kepada-Nya. Maka berdunianya juga harus menyatu dengan saudara-saudaranya.


            Percayalah Indonesia selamanya akan tetap mengalami kemunduran jika pemahaman ini tidak segera digeser. Negara kita masih sangat berpecah-belah, tabu dengan perbedaan, asing dengan perubahan, takut dengan tantangan, dan banyak bacot saja. Rasanya malu menjadi umat islam di Indonesia. Bangga menunjukkan kepada semua bahwa negara Indonesia adalah negara yang paling layak masuk surga karena banyak ulama-ulama dari Indonesia dan dikenal sebagai negara Islam terbesar di dunia. Ironisnya justru teror, korupsi, bombardir, pembunuhan, ekonomi berbelit-belit, bangkrut, dan demostrasi brutal yang menonjol di negara Indonesia yang mayoritas Islam ini

Share this:

CONVERSATION

0 komentar:

Posting Komentar